11. Jum'at

【1】

Shahih Bukhari 827: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Az Zinad] banwa ['Abdurrahman bin Hurmuz Al A'raj] mantan budak Rabi'ah bin Al Harits, menceritakan kepadanya bahwasanya dia mendengar Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kita datang terakhir dan pertama pada hari kiamat, meskipun mereka diberi Kitab sebelum kita. Dan ini adalah hari dimana mereka mendapat kewajiban, namun kemudian mereka berselisih di dalamnya. Allah lalu memberi hidayah kepada kita, maka semua manusia akan mengikuti kita (hari ini), besok hari untuk Yahudi dan Nashrani hari setelahnya lagi."

【2】

Shahih Bukhari 828: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Nafi'] dari 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika salah seorang dari kalian mendatangi shalat jum'at hendaklah ia mandi."

【3】

Shahih Bukhari 829: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Muhammad bin Asma'] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Juwairiyah bin Asma'] dari [Malik] dari [Az Zuhri] dari [Salim bin 'Abdullah bin 'Umar] dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhuma, bahwa Ketika ['Umar bin Al Khaththab] berdiri khuthbah pada hari Jum'at, tiba-tiba ada seorang laki-laki Muhajirin Al Awwalin (generasi pertama), sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, masuk (ke dalam Masjid). Maka 'Umar pun bertanya: "Jam berapakah ini?" Sahabat tersebut menjawab: "Aku sibuk, dan aku belum sempat pulang ke rumah hingga akhirnya aku mendengar adzan dan aku hanya bisa berwudlu." Umar berkata: "Hanya berwudlu' saja! Sungguh kamu sudah mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk mandi (di hari Jum'at)."

【4】

Shahih Bukhari 830: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Shafwan bin Sulaim] dari ['Atha' bin Yasar] dari [Abu Sa'id Al Khudri] radliallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Mandi pada hari Jum'at adalah wajib bagi setiap orang yang sudah baligh."

【5】

Shahih Bukhari 831: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah bin Ja'far] berkata: telah menceritakan kepada kami [Harami bin 'Umarah] berkata: telah menceritakan kepadaku [Syu'bah] dari [Abu Bakar bin Al Munkadir] berkata: telah menceritakan kepadaku ['Amru bin Sulaim Al Anshari] berkata: Aku bersaksi atas [Abu Sa'id Al Khudri] ia berkata: Aku bersaksi atas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: "Mandi pada hari Jum'at merupakan kewajiban bagi orang yang sudah bermimpi (baligh), dan agar bersiwak (menggosok gigi) dan memakai wewangian bila memilikinya." 'Amru berkata: "Adapun mandi, aku bersaksi bahwa itu adalah wajib. Sedangkan bersiwak dan memakai wewangian -dan Allah yang lebih tahu- aku tidak tahu ia wajib atau tidak, tapi begitulah yang ada dalam hadits." Abu 'Abdullah -yaitu saudara Muhammad bin Al Munkadir, dan tidak disebut dengan nama Abu Bakar- berkata: "Hadits ini diriwayatkan darinya oleh [Bukair bin Al Asyaj] dan [Sa'id bin Abu Hilal] dan masih banyak lagi." Dan Muhammad bin Al Munkadir punya nama panggilan Abu Bakar dan 'Abdullah.

【6】

Shahih Bukhari 832: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Sumayya] mantan budak Abu Bakar bin 'Abdurrahman, dari [Abu Shalih As Saman] dari [Abu Hurairah], bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mandi pada hari Jum'at sebagaimana mandi janabah, lalu berangkat menuju Masjid, maka dia seolah berkurban seekor unta. Dan barangsiapa datang pada kesempatan (saat) kedua maka dia seolah berkurban seekor sapi. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) ketiga maka dia seolah berkurban seekor kambing yang bertanduk. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) keempat maka dia seolah berkurban seekor ayam. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) kelima maka dia seolah berkurban sebutir telur. Dan apabila imam sudah keluar (untuk memberi khuthbah), maka para Malaikat hadir mendengarkan dzikir (khuthbah tersebut)."

【7】

Shahih Bukhari 833: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syaiban] dari [Yahya] -yaitu Ibnu Abu Katsir- dari [Abu Salamah] dari [Abu Hurairah] bahwa Ketika 'Umar radliallahu 'anhu berdiri memberikah khuthbah pada hari Jum'at, tiba-tiba ada seorang laki-laki masuk (Masjid). Lalu 'Umar bertanya: "Kenapa anda terlambat shalat?" Laki-laki itu menjawab: "Aku tidak tahu hingga aku mendengar adzan, maka aku pun hanya berwudlu." Maka 'Umar berkata: Bukankah kamu sudah mendengar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika salah seorang dari kalian berangkat shalat jum'at hendaklah mandi."

【8】

Shahih Bukhari 834: Telah menceritakan kepada kami [Adam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Dzi'b] dari [Sa'id Al Maqburi] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Bapakku] dari [Ibnu Wadi'ah] dari [Salman Al Farsi] berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jum'at lalu bersuci semaksimal mungkin, memakai wewangian miliknya atau minyak wangi keluarganya, lalu keluar rumah menuju Masjid, ia tidak memisahkan dua orang pada tempat duduknya lalu dia shalat yang dianjurkan baginya dan diam mendengarkan khutbah Imam, melainkan dia akan diampuni dosa-dosanya yang ada antara Jum'atnya itu dan Jum'at yang lainnya."

【9】

Shahih Bukhari 835: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri], [Thawus] berkata: Aku berkata kepada Ibnu 'Abbas: Orang-orang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Mandilah pada hari Jum'at dan basuhlah kepala kalian sekalipun tidak sedang junub, dan pakailah wewangian." Ibnu 'Abbas berkata: "Adapun mandi, memang benar bahwa itu adalah wajib, sedangkan memakai wewangian aku tidak tahu."

【10】

Shahih Bukhari 836: Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Musa] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Hisyam] bahwa [Ibnu Juraij] telah mengabarkan kepada mereka, ia katakan: telah mengabarkan kepadaku [Ibrahim bin Maisarah] dari [Thawus] dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma, bahwa Dia menyebutkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam perihal mandi pada hari Jum'at. Maka aku pun bertanya kepada Ibnu 'Abbas: "Apakah beliau memakai wewangian ketika berada bersama keluarga Beliau?" ia menjawab: "Aku tidak tahu."

【11】

Shahih Bukhari 837: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Nafi'] dari ['Abdullah bin 'Umar], bahwa 'Umar bin Al Khaththab melihat pakaian sutera di depan pintu masjid, maka ia pun berkata: "Wahai Rasulullah, seandainya tuan beli pakaian ini lalu tuan kenakan pada hari Jum'at atau saat menyambut utusan (delegasi) bila datang menghadap tuan." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menjawab: "Sesungguhnya orang yang memakai pakaian seperti ini tidak akan mendapat bagian di akhirat." Kemudian datang hadiah untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diantaranya ada pakain sutera. Lalu beliau memberikan pakaian sutera tersebut kepada 'Umar bin Al Khaththab radliyallahu 'anhu, maka berkatalah 'Umar: "Wahai Rasulullah, tuan telah memberikan pakaian ini untukku, padahal tuan telah menjelaskan konsekuensi orang yang memakainya!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku memberikannya kepadamu bukan untuk kamu pakai." Maka 'Umar bin Al Khaththab memberikan pakaian sutera tersebut kepada saudaranya yang musyrik di kota Makkah.

【12】

Shahih Bukhari 838: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sekiranya tidak memberatkan ummatku atau manusia, niscaya aku akan perintahkan kepada mereka untuk bersiwak (menggosok gigi) pada setiap kali hendak shalat."

【13】

Shahih Bukhari 839: Telah menceritakan kepada kami [Abu Ma'mar] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdul Warits] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'aib bn Al Habhab] telah menceritakan kepada kami [Anas] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku telah terlalu sering memperingatkan kalian untuk selalu bersiwak."

【14】

Shahih Bukhari 840: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Katsir] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Sufyan] dari [Manshur] dan [Hushain] dari [Abu Wa'il] dari [Hudzifah] ia berkata: "Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bangun untuk shalat malam, beliau menggosok mulutnya."

【15】

Shahih Bukhari 841: Telah menceritakan kepada kami [Isma'il] berkata: telah menceritakan kepada saya [Sulaiman bin Bilal] berkata: [Hisyam bin 'Urwah] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Bapakku] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha, ia berkata: 'Abdurrahman bin Abu Bakar datang dengan membawa siwak yang dia gunakan untuk membersihkan giginya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu memandang ke arahnya. Maka aku pun berkata kepadanya: "Wahai 'Abdurrahman, berikanlah siwak itu kepadaku." 'Abdurrahman kemudian memberikannya kepadaku, kemudian aku pecahkan dengan gigiku dan mengunyahnya (hingga lembut). Setelah itu siwak tersebut aku berikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Rasulullah menggosok giginya dengan menyandar pada dadaku.

【16】

Shahih Bukhari 842: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Sa'd bin Ibrahim] dari ['Abdurrahman] -yaitu Ibnu Hurmuz Al A'raj dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam shalat Fajar membaca: ALIF LAAM MIIM TANZIIL (Surah As Sajadah) dan HAL ATAA 'ALAL INSAANI HIINUM MINAD DAHRI (Surah Al Insaan).

【17】

Shahih Bukhari 843: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu 'Amir Al 'Aqadi] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Thahman] dari [Abu Jamrah Adl Dluba'i] dari [Ibnu 'Abbas] bahwa dia berkata: "Sesungguhnya (shalat) Jum'at yang pertama kali dilaksanakan setelah (shalat) Jum'at di Masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah di Masjid 'Abdul Qais di kampung Juwatsa, negeri Bahrain."

【18】

Shahih Bukhari 844: Telah menceritakan kepada kami [Bisyr bin Muhammad Al Marwazi] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Yunus] dari [Az Zuhri] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Salim bin 'Abdullah] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin." [Al Laits] menambahkan: [Yunus] berkata: Ruzaiq bin Hukaim menulis surat kepada [Ibnu Syihab], dan pada saat itu aku bersamanya di Wadi Qura (pinggiran kota): "Apa pendapatmu jika aku mengumpulkan orang untuk shalat Jum'at?" -Saat itu Ruzaiq bertugas di suatu tempat dimana banyak jama'ah dari negeri Sudan dan yang lainnya, yaitu di negeri Ailah-. Maka Ibnu Syihab membalasnya dan aku mendengar dia memerintahkan (Ruzaiq) untuk mendirikan shalat Jum'at. Lalu mengabarkan bahwa [Salim] telah menceritakan kepadanya, bahwa ['Abdullah bin 'Umar] berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut." Aku menduga Ibnu 'Umar menyebutkan: "Dan seorang laki-laki adalah pemimpin atas harta bapaknya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya."

【19】

Shahih Bukhari 845: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] berkata: telah menceritakan kepadaku [Salim bin 'Abdullah] bahwa dia mendengar ['Abdullah bin 'Umar] radliallahu 'anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa di antara kalian yang mendatangi shalat Jum'at, maka hendaklah dia mandi?"

【20】

Shahih Bukhari 846: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Shafwan bin Sulaim] dari ['Atha' bin Yaar] dari [Abu Sa'id Al Khudri], bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Mandi pada hari Jum'at adalah wajib bagi setiap orang yang sudah baligh."

【21】

Shahih Bukhari 847: Telah menceritakan kepada kami [Muslim bin Ibrahim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Thawus] dari [Bapaknya] dari [Abu Hurairah] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kita datang terakhir dan akan pertama pada hari kiamat. Mereka diberi Kitab sebelum kita dan kita diberi sesudah mereka. Inilah hari (Jum'at) dimana mereka berselisih tentangnya namun Allah memberi petunjuk kepada kita. Maka esok hari untuk Yahudi dan lusa untuk Nashrani." Lalu beliau diam, setelah itu beliau bersabda lagi: "Sudah menjadi kewajiban bagi setiap Muslim untuk mandi pada satu hari dari setiap tujuh hari, pada hari itu dia basuh kepala dan tubuhnya." Diriwayatkan oleh [Aban bin Shalih] dari [Mujahid] dari [Thawus] dari [Abu Hurairah] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bagi setiap Muslim sudah menjadi kewajiban karena Allah Ta'ala untuk mandi pada satu hari dari setiap tujuh hari."

【22】

Shahih Bukhari 848: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Muhammad] telah menceritakan kepada kami [Syababah] telah menceritakan kepada kami [Warqa'] dari ['Amru bin Dinar] dari [Mujahid] dari [Ibnu 'Umar] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Izinkanlah para wanita (bila minta izin) pergi ke masjid di malam hari."

【23】

Shahih Bukhari 849: Telah menceritakan kepada kami [Yusuf bin Musa] telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin 'Umar] dari [Nafi'] dari Ibnu 'Umar: Isteri Umar ikut menghadiri shalat Shubuh dan 'Isya berjama'ah di masjid." Lalu dikatakan kepadanya: "Kenapa kamu pergi ke masjid padahal kamu telah mengetahui bahwa 'Umar tidak menyukainya?" Wanita itu berkata: "Apa yang menghalangi dia untuk melarangku?" Penanya itu berkata: Yang mencegahnya adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Janganlah kalian larang para wanita mendatangi masjid-masjid Allah."

【24】

Shahih Bukhari 850: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Isma'il] berkata: telah mengabarkan kepadaku ['Abdul Hamid] sahabatnya Az Ziyadi, berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Al Harits] anak pamannya Muhammad bin Sirin, [Ibnu 'Abbas] berkata kepada Mu'adzinnya saat hari turun hujan: "Jika kamu sudah mengucapkan ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH, janganlah kamu sambung dengan HAYYA 'ALASH SHALAAH (Marilah mendirikan shalat). Tapi serukanlah SHALLUU FII BUYUUTIKUM (Shalatlah di rumah-rumah kalian)." Lalu orang-orang seakan mengingkarinya. Maka Ibnu 'Abbas pun berkata: "Sesungguhnya hal yang demikian ini pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku. Sesungguhnya shalat Jum'at adalah kewajiban dan aku tidak suka untuk mengeluarkan kalian, sehingga kalian berjalan di tanah yang penuh dengan air dan lumpur."

【25】

Shahih Bukhari 851: Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Shalih] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Wahab] berkata: telah mengabarkan kepadaku ['Amru bin Al Harits] dari ['Ubaidullah bin Abu Ja'far] bahwa [Muhammad bin Ja'far bin Az Zubair] menceritakan kepadanya dari ['Urwah bin Az Zubair] dari ['Aisyah] isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata: "Orang-orang datang berbondong-bondong pada hari Jum'at dari tempat tinggal mereka dan pinggiran kota yang jauh, mereka datang melewati padang pasir yang berdebu sehingga mereka pun berdebu dan berkeringat. Lalu seorang dari mereka mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang saat itu beliau sedang bersamaku, lantas beliau bersabda: "Seandainya kalian mandi dahulu."

【26】

Shahih Bukhari 852: Telah menceritakan kepada kami ['Abdan] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Yahya bin Sa'id] bahwa Dia bertanya kepada ['Amrah] tentang mandi pada hari Jum'at. Maka dia menjawab: 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Orang-orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri mereka masing-masing, ketika menghadiri shalat Jum'at, mereka tetap dalam keadaan mereka masing-masing (dengan pakaian kerjanya), maka dikatakan kepada mereka: "Seandainya kalian mandi terlebih dahulu."

【27】

Shahih Bukhari 853: Telah menceritakan kepada kami [Suraij bin An Nu'man] berkata: telah menceritakan kepada kami [Fulaih bin Sulaiman] dari ['Utsman bin 'Abdurrahman bin 'Utsman At Taimi] dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Jum'at ketika matahari sudah tergelincir.

【28】

Shahih Bukhari 854: Telah menceritakan kepada kami ['Abdan] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Humaid] dari [Anas bin Malik] berkata: "Kami bersegera (berpagi-pagi dan awal waktu) dalam mengerjakan shalat Jum'at, dan tidur siang setelahnya."

【29】

Shahih Bukhari 855: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abu Bakar Al Muqaddami] berkata: telah menceritakan kepada kami [Harami bin 'Umarah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Khaldah] -yaitu Khalid bin Dinar- berkata: Aku mendengar [Anas bin Malik] berkata: "Jika hari terasa sejuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyegerakan pelaksanaan shalat, dan bila udara panas beliau mengakhirkannya, yakni shalat Jum'at." [Yunus bin Bukair] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Abu Khaldah] menyebutkan dengan lafadh "shalat" saja dan tidak menyebutkan kata "jum'at". Bisyr bin Tsabit berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Khaldah] ia berkata: Ada seorang amir (pemimpin) shalat bersama kami kemudian bertanya kepada Anas radliyallahu 'anhu: "Bagaimana cara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Dhuhur?"

【30】

Shahih Bukhari 856: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Walid bin Muslim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Abu Maryam Al Anshari] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abayah bin Rifa'ah] berkata: Abu 'Absin berjumpa denganku saat aku sedang berangkat untuk shalat Jum'at, lalu ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang kedua kakinya berdebu di jalan Allah, maka Allah mengharamkan orang itu untuk masuk neraka."

【31】

Shahih Bukhari 857: Telah menceritakan kepada kami [Adam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Dzi'b], [Az Zuhri] berkata dari [Sa'id] dan [Abu Salamah] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. (dalam jalur lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Abu Salamah bin 'Abdurrahman] bahwa [Abu Hurairah] berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika shalat sudak ditegakkan (iqamahnya) janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa. Datangilah dengan berjalan tenang. Maka apa yang kalian dapatkan shalatlah, dan mana yang ketinggalan sempurnakanlah."

【32】

Shahih Bukhari 858: Telah menceritakan kepada kami ['Amru bin 'Ali] berkata: telah menceritakan kepadaku [Abu Qutaibah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Al Mubarak] dari [Yahya bin Abu Katsir] dari ['Abdullah bin Abu Qatadah] yang aku tidak mengetahuinya kecuali dari [Bapaknya] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Janganlah kalian berdiri hingga kalian melihat aku. Dan wajib bagi kalian (mengerjakannya dengan) tenang."

【33】

Shahih Bukhari 859: Telah menceritakan kepada kami ['Abdan] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Abu Dzi'b] dari [Sa'id Al Maqburi] dari [Bapaknya] dari [Ibnu Wadi'ah] telah menceritakan kepada kami [Salman Al Farsi] berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mandi pada hari Jum'at lalu bersuci semaksimal mungkin, lalu memakai minyak atau wewangian lalu keluar rumah menuju masjid, ia tidak memisahkan antara dua orang pada tempat duduknya, kemudian ia mengerjakan shalat yang dianjurkan baginya, lalu bila imam sudah datang dia berdiam mendengarkan, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang ada antara Jum'atnya itu dan Jum'at yang lainnya."

【34】

Shahih Bukhari 860: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad] -yaitu Ibnu Salam- berkata: telah mengabarkan kepada kami [Makhlad bin Yazid] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Juraij] berkata: Aku mendengar [Nafi'] berkata: Aku mendengar [Ibnu 'Umar] berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang seseorang meminta kawannya berdiri dari tempat duduknya lalu dia menempati tempat duduk tersebut." Aku bertanya kepada Nafi': "Apakah ini berlaku pada saat shalat Jum'at?" Dia menjawab: "Untuk shalat Jum'at dan yang lainnya."

【35】

Shahih Bukhari 861: Telah menceritakan kepada kami [Adam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Dzi'b] dari [Az Zuhri] dari [As Sa'ib bin Yazid] berkata: "Adzan panggilan shalat Jum'at pada mulanya dilakukan ketika imam sudah duduk di atas mimbar. Hal ini dipraktekkan sejak zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar dan 'Umar radliyallahu 'anhuma. Ketika masa 'Utsman radliyallahu 'anhu dan manusia sudah semakin banyak, maka dia menambah adzan ketiga di Az Zaura'." Abu 'Abdullah berkata: "Az Zaura' adalah bangunan yang ada di pasar di Kota Madinah."

【36】

Shahih Bukhari 862: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdul 'Aziz bin Abu Salamah Al Majisyun] dari [Az Zuhri] dari As Sa'ib bin Yazid, bahwa "Sesungguhnya orang yang menambah adzan ketiga pada shalat Jum'at adalah 'Utsman bin 'Affan radliyallahu 'anhu, ketika penduduk Madinah semakin banyak. Dan tidak ada mu'adzin bagi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali satu. Dan adzan shalat Jum'at dilaksanakan ketika Imam sudah duduk, yakni duduk di atas mimbar."

【37】

Shahih Bukhari 863: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Muqatil] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Abu Bakar bin 'Utsman bin Sahl bin Hunaif] dari [Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif] berkata: Aku mendengar [Mu'awiyyah bin Abu Suyan] ketika dia sedang duduk di atas mimbar dan mu'adzin sedang mengumandangkan adzan: 'Allahu Akbar Allahu Akbar', Mu'awiyyah mengucapkan: 'Allahu Akbar Allahu Akbar'. Ketika mu'adzin membaca 'Asyhadu anlaa ilaaha illallah', Mu'awiyyah dan aku mengucapkan seperti yang diucapkan mu'adzin. Dan ketika mu'adzin membaca 'Asyhadu anna Muhammadar rasulullah', Mu'awiyyah dan aku mengucapkan seperti yang diucapkan mu'adzin. Ketika adzan sudah selesai Mu'awiyyah berkata: "Wahai manusia, sungguh ketika adzan dikumandangkan aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan dari tempat ini seperti yang kalian dengar dari (bacaan) ucapanku tadi."

【38】

Shahih Bukhari 864: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari ['Uqail] dari [Ibnu Syihab] bahwa [As Sa'ib bin Yazid] mengabarkan kepadanya, bahwa Adzan yang kedua pada hari Jum'at diperintahkan oleh 'Utsman bin 'Affan radliyallahu 'anhu ketika penduduk Madinah semakin banyak. Adapun sebelumnya, adzan hari Jum'at dikumandangkan ketika Imam sudah duduk.

【39】

Shahih Bukhari 865: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Muqatil] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Yunus] dari [Az Zuhri] berkata: Aku mendengar [As Sa'ib bin Yazid] berkata: "Pada mulanya adzan pada hari Jum'at dikumandangkan ketika Imam sudah duduk di atas mimbar. Yaitu apa yang biasa dipraktekkan sejak zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar dan 'Umar radliyallahu 'anhuma. Pada masa Khilafah 'Utsman bin 'Affan radliyallahu 'anhu ketika manusia sudah semakin banyak, maka pada hari Jum'at dia memerintahkan adzan yang ketiga. Sehingga dikumandangkanlah adzan (ketiga) tersebut di Az Zaura'. Kemudian berlakulah urusan tersebut menjadi ketetapan."

【40】

Shahih Bukhari 866: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin 'Abdurrahman bin Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul Qari Al Qurasyi Al Iskandarani] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Hazim bin Dinar] bahwa Ada orang-orang mendatangi [Sahl bin Sa'd As Sa'idi] yang berdebat tentang mimbar dan bahan membuatnya. Mereka menanyakan hal itu kepadanya. Sahl lalu berkata: "Demi Allah, akulah orang yang paling mengerti tentang masalah ini. Sungguh aku telah melihat hari pertama mimbar tersebut dipasang dan hari saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di atasnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus orang untuk menemui seorang wanita Anshar, yang namanya sudah disebutkan oleh Sahl, lalu Sahl berkata: "Perintahkanlah budak lelakimu yang tukang kayu itu untuk membuat mimbar bertangga, sehingga saat berbicara dengan orang banyak aku bisa duduk di atasnya." Maka kemudian wanita itu memerintahkan budak lelakinya membuat mimbar yang terbuat dari batang kayu hutan. Setelah diberikan kepada wanita itu, lalu wanita itu mengirimnya untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Beliau memerintahkan orang untuk meletakkan mimbar tersebut di sini. Lalu aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat diatasnya. Beliau bertakbir dalam posisi di atas mimbar lalu rukuk dalam posisi masih di atas mimbar. Kemudian Beliau turun dengan mundur ke belakang, lalu sujud di dasar mimbar, kemudian Beliau mengulangi lagi (hingga shalat selesai). Setelah selesai, beliau menghadap kepada orang banyak lalu bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku berbuat seperti tadi agar kalian mengikuti dan agar kalian dapat mengambil pelajaran tentang tata cara shalatku."

【41】

Shahih Bukhari 867: Telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Abu Maryam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Yahya bin Sa'id] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Anas] bahwa dia mendengar [Jabir bin 'Abdullah] berkata: "Pada mulanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan batang kayu sebagai tongkat yang biasa beliau gunakan untuk bersandar. Ketika sudah dibuatkan mimbar untuk Beliau, kami mendengar sesuatu dari batang kayu tersebut seperti suara unta hendak beranak, hingga akhirnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam turun lalu meletakkan tangan Beliau pada kayu tersebut." [Sulaiman] berkata: dari [Yahya] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Hafsh bin 'Ubaidullah bin Anas] bahwa dia mendengar dari [Jabir bin 'Abdullah].

【42】

Shahih Bukhari 868: Telah menceritakan kepada kami [Adam bin Abu Iyas] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Dzi'b] dari [Az Zuhri] dari [Salim] dari [Bapaknya] berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda saat sedang berkhuthbah di atas mimbar: "Siapa yang mendatangi shalat Jum'at, hendaklah dia mandi."

【43】

Shahih Bukhari 869: Telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin 'Umar Al Qawariri] berkata: telah menceritakan kepada kami [Khalid bin Al Harits] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin 'Umar] dari [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhuthbah sambil berdiri, kemudian duduk lalu berdiri kembali seperti yang kalian lakukan di zaman sekarang ini."

【44】

Shahih Bukhari 870: Telah menceritakan kepada kami [Mu'adz bin Fadlalah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hisyam] dari [Yahya] dari [Hilal bin Abu Maimunah] telah menceritakan kepada kami ['Atha' bin Yasar] bahwasanya dia mendengar Abu Sa'id Al Khudri radliyallahu 'anhu berkata: "Pada suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di atas mimbar dan kami duduk di sekitarnya."

【45】

Shahih Bukhari 871: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ma'mar] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu 'Ashim] dari [Jarir bin Hazim] berkata: aku mendengar [Al Hasan] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Amru bin Taghlib], bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah diberi hadiah berupa harta atau tawanan wanita, beliau lalu membagi-bagikannya. Ada orang yang diberi dan ada yang tidak. Kemudian sampai berita kepada beliau bahwa orang-orang yang tidak diberi, mereka mencela (beliau). Maka beliau mengucapkan puja dan puji kepada Allah lalu bersabda: "Amma ba'du. Demi Allah, memang aku telah memberi seseorang dan tidak kepada yang lain. Orang yang tidak aku beri sesungguhnya lebih aku cintai dari pada orang yang aku beri. Namun aku memberi sekelompok kaum karena aku melihat hati-hati mereka masih sangat bersedih dan punya rasa takut. Dan aku biarkan sekelompok orang karena Allah telah menjadikan hati-hati mereka penuh dengan perasaan cukup dan penuh kebaikan. Di antara mereka adalah 'Amru bin Taghlib." 'Amru bin Taghlib berkata: "Demi Allah, tidak ada yang lebih aku sukai dari unta yang paling baik dibandingkan ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepadaku tadi." Hadits ini dikuatkan oleh [Yunus].

【46】

Shahih Bukhari 872: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Al Laits] dari ['Uqail] dari [Ibnu Syihab] berkata: telah mengabarkan kepadaku ['Urwah] bahwa 'Aisyah radliyallahu 'anha mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid, orang-orang kemudian mengikuti beliau dan shalat dibelakangnya. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan Beliau. Dan pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar untuk shalat dan mereka shalat bersama beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama'ah hingga akhirnya beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap kepada orang banyak membaca syahadat lalu bersabda: "Amma ba'du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut shalat tersebut akan diwajibkan atas kalian, sementara kalian tidak mampu." Abu 'Abdullah Al Bukhari berkata: "Hadits ini dikuatkan oleh [Yunus]."

【47】

Shahih Bukhari 873: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] berkata: telah mengabarkan kepadaku ['Urwah] dari [Abu Humaid As Sa'idi] bahwasanya dia mengabarkan kepadanya, bahwa Setelah melaksanakan shalat di awal malam (Isya) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri, lalu membaca syahadah dan puja pujinya kepada Allah dengan pujian yang layak (bagi Allah), lalu beliau mengucapkan: "Amma ba'du." Hadits ini dikuatkan oleh [Abu Mu'awiyyah] dan [Abu Usamah] dari [Hisyam] dari [Bapaknya] dari [Abu Humaid As Sa'idi] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Amma ba'du." Dikuatkan juga oleh [Al 'Adani] dari [Sufyan] tentang ucapan "Amma ba'du."

【48】

Shahih Bukhari 874: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] berkata: telah mengabarkan kepadaku ['Ali bin Husain] dari [Al Miswar bin Makhramah] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri, lalu ketika beliau mengucapkan syahadat, aku mendengar beliau mengucapkan: "Amma ba'du". Hadits ini dikuatkan oleh [Az Zubaidi] dari [Az Zuhri].

【49】

Shahih Bukhari 875: Telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Aban] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Al Ghasil] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Ikrimah] dari [Ibnu 'Abbas] berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menaiki mimbar -yang merupakan kali terakhir beliau duduk di situ- dalam keadaan berselimut yang diletakkannya di atas kedua pundaknya dan mengikat kepalanya dengan ikat kepala berwarna hitam. Setelah memuji Allah dan mensucikan-Nya, beliau bersabda: "Amma ba'du, wahai sekalian manusia berkumpullah di hadapanku." Maka orang-orang berkumpul mengelilingi beliau. Kemudian beliau melanjutkan: "Amma ba'du, sesungguhnya orang yang masih hidup dari kalangan Anshar semakin sedikit, sedangkan orang-orang lain (selain Anshar) terus bertambah banyak. Maka barangsiapa mengurus sesuatu dari urusan ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam lalu dia mampu mendatangkan madlarat kepada seseorang atau memberi manfaat kepada seseorang, maka terimalah orang-orang baik mereka (kaum Anshar) dan maafkanlah orang yang keliru dari kalangan mereka."

【50】

Shahih Bukhari 876: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Bisyir bin Al Mufadldlal] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin 'Umar] dari [Nafi'] dari 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhuma, ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkhuthbah dengan dua kali khuthbah dan duduk di antara keduanya."

【51】

Shahih Bukhari 877: Telah menceritakan kepada kami [Adam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Dzi'b] dari [Az Zuhri] dari [Abu 'Abdullah Al Aghar] dari [Abu Hurairah] berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Pada hari Jum'at para Malaikat hadir di pintu Masjid mencatat siapa orang yang datang paling awal dan seterusnya. Orang yang paling awal datang ke Masjid seperti orang yang berkurban dengan seekor unta, kemudian seperti orang yang berkurban dengan seekor sapi, kemudian seperti orang yang berkurban seekor kambing yang bertanduk, kemudian seperti orang yang berkurban seekor ayam, kemudian seperti orang yang berkurban sebutir telur. Dan apabila Imam sudah keluar (untuk memberi khutbah), maka para Malaikat menutup buku catatan mereka kemudian mendengarkan dzikir (khutbah)."

【52】

Shahih Bukhari 878: Telah menceritakan kepada kami [Abu An Nu'man] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari ['Amru bin Dinar] dari [Jabir bin 'Abdullah] berkata: Seorang laki-laki datang saat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang memberikan khutbah di hadapan orang banyak pada hari Jum'at. Lalu beliau bertanya: "Wahai fulan, apakah kamu sudah shalat?" Orang itu menjawab: "Belum." Maka beliau bersabda: "Bangun dan shalatlah dua rakaat."

【53】

Shahih Bukhari 879: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Amru] bahwa dia telah mendengar [Jabir] berkata: Pada hari Jum'at seorang laki-laki datang ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang memberikan khutbah. Lalu beliau bertanya: "Apakah kamu sudah shalat?" Orang itu menjawab: "Belum." Maka beliau pun bersabda: "Bangun dan shalatlah dua rakaat."

【54】

Shahih Bukhari 880: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari ['Abdul 'Aziz bin Shuhaib] dari [Anas] dan dari [Yunus] dari [Tsabit] dari [Anas] berkata: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang menyampaikan khutbah pada hari Jum'at, tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah, telah binasa binatang ternak (unta) dan telah binasa kehidupan (telah menjadi sulit), maka berdo'alah kepada Allah agar menurunkan air untuk kami." Rasulullah lalu menengadahkan kedua telapak tangan dan berdo'a.

【55】

Shahih Bukhari 881: Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Al Mundzir] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Walid bin Muslim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu 'Amru Al Auza'i] berkata: telah menceritakan kepadaku [Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah] dari [Anas bin Malik] berkata: Pasa masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam manusia tertimpa paceklik. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang memberikan khutbah pada hari Jum'at, tiba-tiba ada seorang Arab badui berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan telah terjadi kelaparan, maka berdo'alah kepada Allah untuk kami." Lalu beliau mengangkat kedua telapak tangan berdoa, dan saat itu kami tidak melihat sedikitpun ada awan di langit. Namun demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh beliau tidak menurunkan kedua tangannya kecuali gumpalan awan telah datang membumbung tinggi laksana pegunungan. Dan beliau belum turun dari mimbar hingga akhirnya aku melihat hujan turun membasahi jenggot Beliau. Maka pada hari itu, keesokan harinya dan lusa kami terus-terusan mendapatkan guyuran hujan dan hari-hari berikutnya hingga hari Jum'at berikutnya. Pada Jum'at itulah orang Arab badui tersebut, atau orang yang lain berdiri seraya berkata: "Wahai Rasulullah, banyak bangunan yang roboh, harta benda tenggelam dan hanyut, maka berdo'alah kepada Allah untuk kami." Lalu beliau mengangkat kedua telapak tangannya dan berdoa: ALLAHUMMA HAWAALAINAA WA LAA 'ALAINAA (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan sampai menimbulkan kerusakan kepada kami). Belum lagi beliau memberikan isyarat dengan tangannya kepada gumpalan awan, melainkan awan tersebut hilang seketika. Saat itu kota Madinah menjadi seperti danau dan aliran-aliran air, Madinah juga tidak mendapatkan sinar matahari selama satu bulan. Dan tidak seorang pun yang datang dari segala pelosok kota kecuali akan menceritakan tentang terjadinya hujan yang lebat tersebut.

【56】

Shahih Bukhari 882: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari ['Uqail] dari [Ibnu Syihab] berkata: telah menceritakan kepadaku [Sa'id bin Al Musayyab] bahwa [Abu Hurairah] mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jum'at 'diamlah', padahal Imam sedang memberikan khutbah maka sungguh kamu sudah berbuat sia-sia (tidak mendapat pahala)."

【57】

Shahih Bukhari 883: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah], bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membicarakan perihal hari Jum'at. Beliau mengatakan: "Pada hari Jum'at itu ada satu saat, tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan shalat lalu dia berdo'a tepat pada saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkan do'anya tersebut." Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya saat tersebut.

【58】

Shahih Bukhari 884: Telah menceritakan kepada kami [Mu'awiyah bin 'Amru] berkata: telah menceritakan kepada kami [Za'idah] dari [Hushain] dari [Salim bin Abu Al Ja'd] berkata: telah menceritakan kepada kami [Jabir bin 'Abdullah] berkata: "Ketika kami sedang shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba-tiba datang rombongan dagang yang membawa makanan. Orang-orang pun melirik (dan berhamburan pergi) mendatangi rombongan tersebut, hingga tidak ada orang yang tersisa bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali hanya dua belas orang. Maka turunlah ayat ini: {Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, maka mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka meninggalkan kamu ketika kamu sedang berdiri (shalat)} (Al Jumu'ah: 12).

【59】

Shahih Bukhari 885: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Nafi'] dari ['Abdullah bin 'Umar], bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa melaksanakan dua rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah Maghrib di rumahnya, dan dua rakaat sesudah Isya. Dan beliau tidak mengerjakan shalat setelah Jum'at hingga beliau pulang, lalu shalat dua rakaat.

【60】

Shahih Bukhari 886: Telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Abu Maryam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Ghassan] berkata: telah menceritakan kepadaku [Abu Hazim] dari [Sahl bin Sa'd] berkata: "Di tempat kami ada seorang wanita yang menanam ubi di sela-sela selokan kebunnya. Jika hari Jum'at tiba, dia mencabut pohon ubinya lalu direbusnya dalam periuk yang dicampur dengan segenggam gandum. Rebusan ubi dijadikan sebagai makanan pengganti sepotong daging. Setelah kami selesai melaksanakan shalat Jum'at, kami datang ke rumah wanita itu. Kami masuk mengucapkan salam lalu dia menyuguhkan makanan ubinya itu kepada kami, maka kami pun memakannya. Kami selalu mengharapkan kehadiran hari Jum'at karena ada makanan yang disuguhkannya itu."

【61】

Shahih Bukhari 887: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Hazim] dari [Bapaknya] dari [Sahl] dengan riwayat seperti di atas, lalu dia berkata: "Kami tidaklah beristirahat siang maupun makan siang kecuali setelah shalat Jum'at."

【62】

Shahih Bukhari 888: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Uqbah 'Asy Syaibani Al Kufi] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Ishaq Al Fazari] dari [Humaid] berkata: Aku mendengar [Anas] berkata: "Kami lebih awal mendatangi shalat Jum'at lalu beristirahat siang (qailulah) setelahnya."

【63】

Shahih Bukhari 889: Telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Abu Maryam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Ghassan] berkata: telah menceritakan kepadaku [Abu Hazim] dari [Sahl bin Sa'd] berkata: "Kami shalat Jum'at bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian kami beristirahat siang (qailulah) setelahnya."

【64】

Shahih Bukhari 890: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] berkata: Aku bertanya kepadanya: "Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat khauf?" Ia berkata: [Salim] telah mengabarkan kepadaku bahwa 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhuma berkata: "Aku pernah ikut suatu peperangan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ke arah Najed, kami menghadap ke arah musuh dan membuat barisan untuk mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berdiri mengimami kami. Sekelompok orang yang bersama beliau melaksanakan shalat sementara sekelompok yang lain menghadap musuh. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu rukuk dan sujud dua kali bersama kelompok yang bersamanya, lalu mereka (kelompok yang telah shalat) bergeser menempati posisi kelompok yang belum shalat. Kemudian kelompok yang belum shalat tersebut datang dan masuk ke dalam shaf, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu rukuk bersama kelompok yang baru dan sujud dua kali, lalu beliau salam. Maka setiap kelompok dari kami menyelesaikan shalat mereka masing-masing dengan rukuk dan sujud dua kali."

【65】

Shahih Bukhari 891: Telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Yahya bin Sa'id Al Qurasyi] berkata: telah menceritakan kepadaku [Bapakku] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Juraij] dari [Musa bin 'Uqbah] dari [Nafi'] dari [Ibnu 'Umar] seperti ucapan Mujahid: "Bila mereka dalam keadaan genting, mereka shalat dengan berdiri." Ibnu 'Umar menambahkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Apabila musuh lebih banyak dari mereka (pasukan kaum Muslimin), maka mereka shalat dengan berdiri dan di atas kendaraan."

【66】

Shahih Bukhari 892: Telah menceritakan kepada kami [Haiwah bin Syuraih] berkata: telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Harb] dari [Az Zubaidi] dari [Az Zuhri] dari ['Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah] dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma, berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat dan diikuti sekelompok orang bersamanya. Lalu beliau bertakbir dan mereka pun bertakbir bersama beliau. Kemudian beliau rukuk dan orang-orang yang bersamanya ikut rukuk. Kemudian beliau sujud dan orang-orang yang bersamanyanya pun sujud. Kemudian beliau berdiri untuk rakaat kedua, maka orang-orang yang sujud bersama beliau berdiri dan berjaga-jaga untuk saudara mereka. Kemudian datanglah sekelompok yang lain (yang sebelumnya berjaga dan belum shalat), lalu mereka rukuk dan sujud bersama beliau. Dan masing-masing orang melanjutkan shalat mereka namun dengan tetap berjaga-jaga satu sama lain."

【67】

Shahih Bukhari 893: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ja'fat Al Bukhari] berkata: telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari ['Ali bin Mubarak] dari [Yahya bin Abu Katsir] dari [Abu Salamah] dari [Jabir bin 'Abdullah] berkata: Pada hari peperangan Khandaq 'Umar bin Al Khaththab datang sambil mencaci orang-orang kafir Quraisy, ia katakan: "Wahai Rasulullah, aku belum melaksanakan shalat 'Ashar hingga matahari sudah terbenam!" Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Demi Allah, akupun belum melaksanakannya." Maka kemudian beliau berdiri menuju aliran air (sungai), lalu berwudlu dan melaksanakan shalat 'Ashar setelah matahari terbenam, kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Maghrib.

【68】

Shahih Bukhari 894: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Muhammad bin Asma'] berkata: telah menceritakan kepada kami [Juwairiyah] dari [Nafi'] dari [Ibnu 'Umar] berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada kami ketika beliau kembali dari perang Ahzab: "Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian shalat 'Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah." Lalu tibalah waktu shalat ketika mereka masih di jalan, sebagian dari mereka berkata: "Kami tidak akan shalat kecuali telah sampai tujuan." dan sebagian lain berkata: "Bahkan kami akan melaksanakan shalat, sebab beliau tidaklah bermaksud demikian." Maka kejadian tersebut diceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau tidak mencela seorang pun dari mereka.

【69】

Shahih Bukhari 895: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari ['Abdul 'Aziz bin Shuhaib] dan [Tsabit Al Banani] dari [Anas bin Malik], bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Shubuh dalam keadaan masih gelap, kemudian beliau mengendarai tunggangannya seraya bersabda: "Allahu Akbar, hancurlah Khaibar! Sesungguhnya kami apabila mendatangi perkampungan suatu kaum, {Maka amat buruklah pagi hari yang dialami orang-orang yang diperingatkan tersebut} (Ash Shaaffaat: 177). Orang-orang Khaibar keluar seraya berkata: "Muhammad dan Al Khamis!" Tabit berkata: "Al Khamis artinya pasukan." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengalahkan mereka, membunuh pasukan dan menawan tawanan. Maka Shafiah menjadi bagian Dihyah Al Kalbi, kemudian ia menjadi milik Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. kemudian beliau menikahinya, dan maharnya adalah pembebasannya." 'Abdul 'Azizi berkata kepada Tsabit: "Wahai Abu Muhammad, apakah kamu bertanya kepada Anas bin Malik, apa yang Beliau jadikan mahar untuk wanita tersebut?" Tsabit menjawab: "Maharnya adalah pembebasannya." Ia pun tersenyum.

【70】

Shahih Bukhari 896: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Salim bin 'Abdullah] bahwa ['Abdullah bin 'Umar] berkata: 'Umar membawa baju jubah terbuat dari sutera yang dibelinya di pasar, jubah tersebut kemudian ia diberikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata: "Wahai Rasulullah, belilah jubah ini sehingga tuan bisa memperbagus penampilan saat shalat 'Id atau ketika menyambut para delegasi." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata kepadanya: "Ini adalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian (di akhirat)." Kemudian Umar tidak nampak untuk beberapa waktu lamanya menurut apa yang Allah kehendaki, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian mengirimkan kepada 'Umar sebuah jubah yang terbuat dari sutera. Maka Umar pun membawanya menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata: "Wahai Rasulullah, engkau telah memberikan pakaian ini untukku, padahal engkau telah berkata: 'Ini adalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian (di akhirat)'. Lalu mengapa engkau mengirimnya kepada saya?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun berkata kepadanya: "Juallah!" atau beliau mengatakan: "Dengannya engkau bisa memenuhi kebutuhanmu."

【71】

Shahih Bukhari 897: Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin 'Isa] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Wahb] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Amru] bahwa [Muhammad bin 'Abdurrahman Al Asadi] menceritakan kepadanya dari ['Urwah] dari ['Aisyah] ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk menemuiku saat ketika di sisiku ada dua budak wanita yang sedang bersenandung dengan lagu-lagu (tentang perang) Bu'ats. Maka beliau berbaring di atas tikar lalu memalingkan wajahnya, kemudian masuklah Abu Bakar mencelaku, ia mengatakan: "Seruling-seruling setan (kalian perdengarkan) di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lantas memandang kepada Abu Bakar seraya berkata: "Biarkanlah keduanya." Setelah beliau tidak menghiraukan lagi, aku memberi isyarat kepada kedua sahaya tersebut agar lekas pergi, lalu keduanya pun pergi. Saat Hari Raya 'Id, biasanya ada dua budak Sudan yang memperlihatkan kebolehannya mempermainkan tombak dan perisai. Maka adakalanya aku sendiri yang meminta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, atau beliau yang menawarkan kepadaku: "Apakah kamu mau melihatnya?" Maka aku jawab: "Ya, mau." Maka beliau menempatkan aku berdiri di belakangnya, sementara pipiku bertemu dengan pipinya sambil beliau berkata: "Teruskan hai Bani Arfadah!" Demikianlah seterusnya sampai aku merasa bosan lalu beliau berkata: "Apakah kamu merasa sudah cukup?" Aku jawab: "Ya, sudah." Beliau lalu berkata: "Kalau begitu pergilah."

【72】

Shahih Bukhari 898: Telah menceritakan kepada kami [Hajjaj] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Zubaid] berkata: Aku mendengar ['Asy Sya'bi] dari [Al Bara'] berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan khutbah, sabdanya: "Pertama kali yang akan kita kerjakan pada hari ini adalah shalat, kemudian kembali pulang dan menyembelih hewan kurban. Maka barangsiapa mengerjakan seperti ini bararti dia telah memenuhi sunnah kami."

【73】

Shahih Bukhari 899: Telah menceritakan kepada kami ['Ubaid bin Isma'il] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] dari [Hisyam] dari [Bapaknya] dari ['Aisyah] berkata: Abu Bakar masuk menemui aku saat itu di sisiku ada dua orang budak tetangga Kaum Anshar yang sedang bersenandung, yang mengingatkan kepada peristiwa pembantaian kaum Anshar pada perang Bu'ats. 'Aisyah menlanjutkan kisahnya: Kedua sahaya tersebut tidaklah begitu pandai dalam bersenandung. Maka Abu Bakar pun berkata: "Seruling-seruling setan (kalian perdengarkan) di kediaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam!" Peristiwa itu terjadi pada Hari Raya 'Id. Maka bersabdalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan sekarang ini adalah hari raya kita."

【74】

Shahih Bukhari 900: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Abdurrahim] telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Sulaiman] berkata: telah menceritakan kepada kami [Husyaim] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Ubaidullah bin Abu Bakar bin Anas] dari [Anas bin Malik] berkata: "Pada hari raya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berangkat untuk melaksanakan shalat hingga beliau makan beberapa butir kurma." [Murajja' bin Raja'] berkata: telah menceritakan kepadaku ['Ubaidullah] berkata: telah menceritakan kepadaku [Anas] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Beliau makan beberapa kurma dengan bilangan ganjil."

【75】

Shahih Bukhari 901: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Isma'il] dari [Ayyub] dari [Muhammad bin Sirin] dari [Anas] berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa menyembelih sebelum shalat hendaklah dia mengulanginya." Lalu berdirilah seorang laki-laki seraya berkata: "Ini adalah hari yang daging sangat diharap." Laki-laki itu kemudian menyebut-nyebut tentang tetangga-tetangganya, dan seakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membenarkan orang itu. Lelaki itu berkata: "Sungguh aku berkurban dengan seekor jadza'ah lebih aku sukai dari dua ekor kambing." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan keringanan untuk orang tersebut. Aku (Anas) tidak tahu apakah keringanan itu juga berlaku untuk yang lain atau tidak.

【76】

Shahih Bukhari 902: Telah menceritakan kepada kami ['Utsman] berkata: telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Manshur] dari [Asy Sya'bi] dari Al Bara' bin 'Azib radliyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan khutbah pada hari Raya Qurban ('Idul Adlha) setelah melaksanakan shalat. Beliau bersabda: "Barangsiapa melaksanakan shalat seperti shalat kami dan melaksanakan manasik seperti manasik kami maka dia telah melaksanakan manasik (menyembelih kurban). Dan barangsiapa menyembelih kurban sebelum shalat berarti dia malaksanakannya sebelum shalat, dan berarti dia belum melaksanakan manasik (berkurban)." Abu Burdah bin Niyar, paman Al Bara', berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih dua ekor kambing sebelum shalat, dan yang aku ketahui bahwa hari ini adalah hari kita bergembira dengan makan dan minum. Dan aku menyukai bila dua ekor kambingku itu menjadi yang pertama disembelih di rumahku lalu aku memasaknya dan menikmatinya sebelum aku berangkat untuk shalat!" Beliau bersabda: "Kambingmu setatusnya adalah kambing yang disembelih untuk diambil dagingnya (bukan daging kurban)." Laki-laki itu berkata lagi: "Wahai Rasulullah, kami masih memiliki anak kambing yang dia lebih kami cintai dari dua ekor kambing tadi. Apakah aku dibolehkan berkurban dengannya?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ya, akan tetapi tidak boleh untuk seorangpun setelah kamu."

【77】

Shahih Bukhari 903: Telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Abu Maryam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] berkata: telah menceritakan kepadaku [Zaid bin Aslam] dari ['Iyadl bin 'Abdullah bin Abu Sarah] dari [Abu Sa'id Al Khudri] berkata: Pada hari raya Idul Fithri dan Adlha Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menuju tempat shalat (lapangan), dan pertama kali yang beliau kerjakan adalah shalat hingga selesai. Kemudian beliau berdiri menghadap orang banyak sedangkan mereka dalam keadaan duduk di barisan mereka. Beliau memberi pengajaran, wasiat dan memerintahkan mereka. Dan apabila beliau ingin mengutus pasukan, maka beliau sampaikan atau beliau perintahkan (untuk mempersiapkannya), setelah itu beliau berlalu pergi." Abu Sa'id Al Khudri berkata: "Manusia senantiasa melaksanakan (tata cara shalat hari raya) seperti apa yang beliau laksanakan, hingga pada suatu hari aku keluar bersama Marwan -yang saat itu sebagai Amir di Madinah- pada hari raya Adlha atau Fithri. Ketika kami sampai di tempat shalat, ternyata di sana sudah ada mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Ash Shalt. Ketika Marwan hendak menaiki mimbar sebelum pelaksanaan shalat, aku tarik pakaiannya dan dia balik menariknya, kemudian ia naik dan khuthbah sebelum shalat. Maka aku katakan kepadanya: "Demi Allah, kamu telah merubah (sunnah)!" Lalu dia menjawab: "Wahai Abu Sa'id! Apa yang engkau ketahui itu telah berlalu." Aku katakan: "Demi Allah, apa yang aku ketahui lebih baik dari apa yang tidak aku ketahui." Lalu dia berkata: "Sesungguhnya orang-orang tidak akan duduk (mendengarkan khutbah kami) setelah shalat. Maka aku buat (khutbah) sebelum shalat."

【78】

Shahih Bukhari 904: Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Al Mundzir] berkata: telah menceritakan kepada kami [Anas bin 'Iyadl] dari ['Ubaidullah] dari [Nafi'] dari ['Abdullah bin 'Umar] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat 'Idul Adlha dan 'Idul Fithri kemudian berkhutbah setelah shalat.

【79】

Shahih Bukhari 905: Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Musa] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Hisyam] bahwa [Ibnu Juraij] telah mengabarkan kepada mereka, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku ['Atha'] dari [Jabir bin 'Abdullah] berkata: Aku mendengarnya berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar pada hari Raya 'Idul Fithri, beliau memulainya dengan shalat kemudian khutbah."

【80】

Shahih Bukhari 906: (Masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya) perawi berkata: telah menceritakan kepadaku ['Atha'] bahwa [Ibnu 'Abbas] menyampaikan kepada Ibnu Az Zubair pada awal dia dibai'at sebagai khalifah, bahwa tidak ada adzan dalam shalat Hari Raya 'Idul Fithri (di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), dan bahwasanya khutbah dilaksanakan setelah shalat.

【81】

Shahih Bukhari 907: (Masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya), telah mengabarkan kepadaku ['Atha'] dari [Ibnu 'Abbas], dan dari [Jabir bin 'Abdullah] keduanya berkata: "Dalam shalat 'Idul Fithri dan 'Idul Adlha tidak ada adzan."

【82】

Shahih Bukhari 908: Dan (masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya) dari [Jabir bin 'Abdullah] ia berkata: aku mendengarnya berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri dan memulai dengan shalat, kemudian berkhutbah di hadapan manusia setelahnya. Setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selesai, beliau mendatangi tempat jama'ah wanita dan mengingatkan mereka. Beliau menyandar pada tangan Bilal, sementara Bilal sendiri membentangkan kain miliknya dimana para wanita memasukkan sedekahnya ke dalam kain tersebut." Aku (perawi) bertanya kepada 'Atha: "Bagaimana menurutmu apakah boleh jika sekarang Imam mendatangi para wanita untuk memberi peringatan kepada mereka setelah selesai dari khutbah?" 'Atha menjawab: "Itu adalah hak mereka, dan mengapa mereka tidak diperbolehkan melakukannya?"

【83】

Shahih Bukhari 909: Telah menceritakan kepada kami [Abu 'Ashim] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Juraij] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Al Hasan bin Muslim] dari [Thawus] dari [Ibnu 'Abbas] berkata: "Aku menghadiri shalat Hari Raya bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman radliyallahu 'anhum, bahwa mereka semua melaksanakan shalat sebelum khutbah."

【84】

Shahih Bukhari 910: Telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Ibrahim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah] dari [Nafi'] dari [Ibnu 'Umar] berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan 'Umar radliyallahu 'anhuma mereka melaksanakan shalat dua Hari Raya sebelum khutbah."

【85】

Shahih Bukhari 911: Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Harb] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari ['Adi bin Tsabit] dari [Sa'id bin Jubair] dari [Ibnu 'Abbas], bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Hari Raya 'Idul Fithri dua rakaat dan tidak shalat sebelum atau sesudahnya. Kemudian beliau mendatangi para wanita dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka para wanita memberikan sedekah hingga ada seorang wanita yang memberikan anting dan kalungnya.

【86】

Shahih Bukhari 912: Telah menceritakan kepada kami [Adam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Zubaid] berkata: aku mendengar [Asy Sya'bi] dari [Al Bara' bin 'Azib] berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya yang pertama kali kami lakukan pada hari Raya ini adalah shalat. Kemudian kami pulang dan menyembelih kurban. Maka barangsiapa mengerjakan seperti itu berarti dia telah memenuhi sunnah kami. Dan barangsiapa menyembelih kurban sebelum pelaksanaan shalat 'Id, maka itu hanyalah daging yang dipersembahkan untuk keluarganya dan tidak sedikitpun mendapatkan (pahala) ibadah kurban." Tiba-tiba ada seorang lelaki Anshar yang dipanggil dengan nama Abu Burdah bin Niyar berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih hewan dan aku masih memiliki anak unta yang lebih baik dari unta yang lebih besar." Maka beliau bersabda: "Jadikanlah ia sebagai pengganti dari apa yang telah kamu sembelih sebelum shalat, dan kamu akan mendapatkan bagian pahala yang cukup yang tidak akan didapati oleh orang selainmu."

【87】

Shahih Bukhari 913: Telah menceritakan kepada kami [Zakaria bin Yahya Abu As Sukain] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Muharibi] berkata: telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Suqah] dari [Sa'id bin Jubair] berkata: Aku pernah besama Ibnu 'Umar saat dia terkena ujung panah pada bagian lekuk telapak kakinya. Lalu dia merapatkan kakinya pada tunggangannya, lalu aku turun dan melepaskannya. Kejadiaan itu terjadi di Mina. Kemudian peristiwa ini didengar oleh Al Hajjaj, maka dia pun menjenguknya seraya berkata: "Seandainya kami ketahui siapa yang membuatmu terkena mushibah ini!" Maka Ibnu 'Umar berkata: "Engkaulah yang membuat aku terkena mushibah ini." Al Hajjaj berkata: "Bagaimana bisa?" Ibnu 'Umar menjawab: "Engkau yang membawa senjata di hari yang tidak diperbolehkan membawanya. Dan engkau pula yang membawa masuk senjata ke dalam Masjidil Haram padahal tidak diperbolehkan membawa masuk senjata ke dalam Masjidil Haram pada hari ini."

【88】

Shahih Bukhari 914: Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Ya'qub] berkata: telah menceritakan kepadaku [Ishaq bin Sa'id bin Al 'Ash] dari [Bapaknya] berkata: Al Hajjaj datang menemui Ibnu 'Umar, dan saat itu aku sedang bersamanya. Al Hajjaj lalu bertanya: "Bagaimana keadaannya?" Ibnu 'Umar menjawab: "Baik." Al Hajjaj bertanya lagi: "Siapa yang melukaimu?" Ibnu 'Umar menjawab: "Yang melukai aku adalah orang yang memerintahkan membawa senjata pada suatu hari yang mana pada hari itu dilarang membawanya, yaitu Al Hajjaj."

【89】

Shahih Bukhari 915: Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Harb] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Zubaid] dari [Asy Sya'bi] dari [Al Bara'] berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberi khutbah kepada kami pada hari Nahr (penyembelihan kurban), beliau bersabda: "Sesungguhnya yang pertama kali kami lakukan pada hari Raya kami ini adalah shalat. Kemudian kami pulang dan melaksanakan penyembelihan kurban. Maka barangsiapa mengerjakan seperti itu berarti dia telah memenuhi sunnah kami. Dan barangsiapa menyembelih kurban sebelum pelaksanaan shalat 'Id maka itu hanyalah daging yang dipersembahkan untuk keluarganya dan tidak sedikitpun mendapatkan (pahala) ibadah kurban." Tiba-tiba pamanku, Abu Burdah bin Niyar, berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih hewan sebelum aku shalat, namun aku masih memiliki anak kambing yang lebih baik dari kambing yang telah berumur dua tahun." Maka beliau pun bersabda: "Jadikanlah ia sebagai pengganti (dari apa yang telah kamu sembelih sebelum shalat)." Atau beliau mengatakan: "Sembelihlah, namun hal itu tidak mencukupi oleh orang selainmu."

【90】

Shahih Bukhari 916: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Ar'arah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Sulaiman] dari [Muslim Al Bathin] dari [Sa'id bin Jubair] dari [Ibnu 'Abbas] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Tidak ada amal pada suatu hari yang lebih utama dari amal pada hari-hari (tasyriq) ini." Para sahabat berkata: "Tidak juga jihad?" Beliau menjawab: "Tidak juga jihad. Kecuali seseorang yang keluar dari rumahnya dengan mengorbankan diri dan hartanya (di jalan Allah), lalu dia tidak kembali lagi."

【91】

Shahih Bukhari 917: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Malik bin Anas] berkata: telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Abu Bakar Ats Tsaqafi] berkata: Aku bertanya kepada [Anas bin Malik] -saat itu kami berdua sedang berangkat dari Mina menuju 'Arafah- tentang talbiyyah: "Bagaimana kalian melaksanakannya bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam?" Dia menjawab: "Di antara kami ada seorang yang membaca talbiyyah, namun hal itu tidak diingkari, dan ada yang bertakbir namun hal itu juga tidak diingkari."

【92】

Shahih Bukhari 918: Telah menceritakan kepada kami ['Umar bin Hafsh] berkata: telah menceritakan kepada kami [Bapakku] dari ['Ashim] dari [Hafshah] dari [Ummu 'Athiyyah] berkata: "Pada hari Raya 'Id kami diperintahkan untuk keluar sampai-sampai kami mengajak para anak gadis dari kamarnya dan juga para wanita yang sedang haid. Mereka duduk di belakang barisan kaum laki-laki dan mengucapkan takbir mengikuti takbirnya kaum laki-laki, dan berdoa mengikuti doanya kaum laki-laki dengan mengharap barakah dan kesucian hari raya tersebut."

【93】

Shahih Bukhari 919: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdul Wahhab] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah] dari [Nafi'] dari [Ibnu 'Umar], bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menancapkan tombak pada hari Raya Fithri dan hari Raya kurban, kemudian beliau shalat.

【94】

Shahih Bukhari 920: Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Al Mundzir Al Hizami] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Walid] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Amru Al Auza'i] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Nafi'] dari [Ibnu 'Umar], bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat menuju tempat shalat sedang di tangan beliau ada sebuah tongkat, tongkat tersebut beliau tancapkan di depannya lalu shalat menghadap ke arahnya.

【95】

Shahih Bukhari 921: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin 'Abdul Wahhab] berkata: [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Muhammad] dari [Ummu 'Athiyyah] berkata: "Nabi kami shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengeluarkan para gadis remaja kami dan wanita-wanita yang dipingit di rumah." Dan dari [Ayyub] dari [Hafshah] seperti riwayat ini juga. Dalam hadits Hafshah ditambahkan: beliau bersabda. Atau Ummu 'Athiyyah berkata: "Para gadis remaja kami dan wanita-wanita yang dipingit di rumah, dan wanita-wanita haid menjauhi tempat shalat."

【96】

Shahih Bukhari 922: Telah menceritakan kepada kami ['Amru bin 'Abbas] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdurrahman] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Abdurrahman bin 'Abis] berkata: Aku mendengar [Ibnu 'Abbas] berkata: "Aku pernah keluar bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk shalat Hari Raya Fithri atau Adlha. Beliau melaksanakan shalat kemudian menyampaikan khutbah. Setelah itu, beliau mendatangi para wanita dan memberi pelajaran kepada mereka, mengingatkan dan memerintahkan agar bersedekah."

【97】

Shahih Bukhari 923: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Thalhah] dari [Zubaid] dari [Asy Sya'bi] dari [Al Bara'] berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar pada hari Raya kurban menuju Baqi', lalu beliau melaksanakan shalat dua rakaat, setelah itu beliau menghadap ke arah kami dan bersabda: "Sesungguhnya yang pertama dari 'ibadah kita pada Hari Raya kita ini adalah memulai dengan melaksanakan shalat, kemudian kembali ke rumah dan menyembelih hewan kurban. Barangsiapa melaksanakan seperti itu berarti telah sesuai dengan sunnah kita. Dan barangsiapa menyembelih kurban sebelum shalat, maka itu hanyalah sesuatu yang dipersembahkan untuk keluarganya dan tidak ada sedikitpun termasuk dari ibadah kita ini." Lalu berdirilah seorang laki-laki dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih (sebelum shalat), namun aku masih memiliki anak kambing yang lebih baik dari kambing yang telah berumur dua tahun?" Beliau pun bersabda: "Sembelihlah! Namun ini tidak berlaku bagi seorang pun setelahmu."

【98】

Shahih Bukhari 924: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] berkata: telah menceritakan kepadaku ['Abdurrahman bin 'Abis] berkata: Aku mendengar [Ibnu 'Abbas] ketika dikatakan kepadanya: "Apakah engkau pernah menghadiri shalat 'Id bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam?" Dia menjawab: "Ya. Kalau seandainya bukan karena kedudukanku yang masih kecil, tentu aku tak akan turut serta, hingga beliau mendatangi tanda yang ada di sisi rumah Katsir bin Ash Shalt. Lalu beliau shalat dan memberikan khutbah. Setelah itu beliau mendatangi jama'ah para wanita bersama Bilal, beliau memberi pelajaran kepada para wanita tersebut, mengingatkan mereka dan memerintahkan agar bersedekah. Maka aku menyaksikan para wanita tersebut memberikan apa yang ada pada tangan mereka (emas perhiasan), mereka meletakkannya ke dalam kain yang di bawa oleh Bilal. Setelah itu beliau dan Bilal pergi menuju rumahnya."

【99】

Shahih Bukhari 925: Telah menceritakan kepadaku [Ishaq bin Ibrahim bin Nashr] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Juraij] berkata: telah mengabarkan kepadaku ['Atha'] dari [Jabir bin 'Abdullah] berkata: Aku mendengarnya berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri untuk melaksanakan shalat pada hari Raya 'Idul Fithri, dan yang pertama kali beliau kerjakan adalah shalat, baru kemudian menyampaikan khutbah. Selesai khutbah beliau turun (dari mimbar) dan mendatangi jama'ah wanita untuk mengingatkan mereka dengan bersandar pada tangan Bilal, sementara Bilal sendiri membentangkan kain miliknya hingga para wanita tersebut memasukkan sedekahnya ke dalam kain tersebut." Aku bertanya kepada 'Atha: "Apakah itu zakat Fithri?" ia menjawab: "Bukan, tetapi sedekah yang mereka keluarkan pada saat itu, mereka memberikan anting dan gelang mereka." Aku bertanya lagi: "Bagaimana pendapatmu jika masa sekarang ini seorang Imam mendatangi jama'ah para wanita lalu mengingatkan mereka tentang itu?" 'Atha menjawab: "Yang demikian itu merupakan hak mereka (para Imam), dan apa alasanya mereka tidak boleh melakukannya?"

【100】

Shahih Bukhari 926: [Ibnu Juraij] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Al Hasan bin Muslim] dari [Thawus] dari [Ibnu 'Abbas] radliallahu 'anhuma, ia berkata: "Aku pernah menghadiri shalat 'Idul Fithri bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman radliyallahu 'anhum. Mereka semua melaksanakan shalat sebelum khutbah, dan menyampaikan khutbah setelah shalat. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian pergi dan aku melihat seakan beliau memberi isyarat dengan tangannya agar jama'ah tetap duduk di tempatnya. Kemudian beliau melewati dan membelah shaf-shaf mereka hingga sampai pada jama'ah para wanita, dan saat itu Bilal juga bersama beliau. Kemudian beliau membaca ayat: {Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia} (Al Mumtahanah: 12), selesai membaca ayat tersebut beliau mengatakan: "Apakah kalian siap untuk itu?" salah seorang wanita dari mereka -dan tidak ada yang berani menjawab selain dia- berkata: "Ya." -Namun Hasan tidak tahu siapa wanita tersebut- Perawi berkata: "Kemudian mereka bersedekah dan Bilal membentangkan selembar kain, kemudian Bilal berkata: "Demi bapak dan ibuku, kemarilah! Sungguh, itu akan menjadi tebusan bagi kalian." Mereka kemudian melemparkan gelang (besar) dan cincin mereka ke dalam kain yang dibawa oleh Bilal." [Abdurrazaq] berkata: "Al Fatakh adalah cincin besar (gelang) yang bisa mereka pakai pada masa jahiliyyah."

【101】

Shahih Bukhari 927: Telah menceritakan kepada kami [Abu Ma'mar] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdul Warits] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ayyub] dari [Hafshah binti Sirin] berkata: "Dahulu kami melarang anak-anak gadis remaja kami keluar untuk ikut melaksanakan shalat di Hari Raya 'Id. Lalu datanglah seorang wanita ke kampung Bani Khalaf, maka aku pun menemuinya. Lalu ia menceritakan bahwa suami dari saudara perempuannya pernah ikut perang bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak dua belas peperangan, dan saudara perempuannya itu pernah mendampingi suaminya dalam enam kali peperangan." Ia (saudara wanitanya itu) berkata: "Kami merawat orang yang sakit dan mengobati orang-orang yang terluka." Saudara perempuanku bertanya kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, apakah berdosa bila seorang dari kami tidak keluar karena tidak memiliki jilbab?" Beliau menjawab: "Hendaklah temannya meminjamkan jilbabnya, sehingga mereka dapat menyaksikan kebaikan dan mendo'akan Kaum Muslimin." Hafshah berkata: Ketika [Ummu 'Athiyyah] datang, aku menemuinya dan kutanyakan kepadanya: "Apakah kamu pernah mendengar tentang ini dan ini?" Dia menjawab: "Iya. Demi bapakku." Dan setiap kali dia menceritakan tentang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dia selalu mengatakan "Demi bapakku". Beliau bersabda: "Keluarkanlah para gadis remaja yang dipingit dalam rumah." Atau beliau bersabda: "Para gadis remaja dan wanita-wanita yang dipingit dalam rumah -Ayyub masih ragu- dan wanita yang sedang haid. Dan hendaklah wanita yang sedang haid dijauhkan dari tempat shalat, agar mereka dapat menyaksikan kebaikah dan mendo'akan Kaum Muslimin." Hafshah berkata: "Aku bertanya kepadanya: "Wanita yang sedang haid juga?" Dia menjawab: "Bukankah mereka juga hadir di 'Arafah dan menyaksikan ini dan itu?"

【102】

Shahih Bukhari 928: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu 'Adi] dari [Ibnu 'Aun] dari [Muhammad] berkata: Ummu 'Athiyyah berkata: "Kami diperintahkan untuk keluar, maka kami keluarkan pula para wanita yang sedang haid, gadis remaja dan wanita-wanita yang dipingit dalam rumah." Ibnu Aun menyebutkan: "Atau gadis-gadis remaja yang dipingit. Adapun wanita haid, maka mereka dapat menyaksikan (menghadiri) jama'ah kaum Muslimin dan mendo'akan mereka, dan hendaklah mereka menjauhi tempat shalat mereka (kaum laki-laki)."

【103】

Shahih Bukhari 929: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Laits] berkata: telah menceritakan kepadaku [Katsir bin Farqad] dari [Nafi'] dari [Ibnu 'Umar], bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berkurban atau menyembelih hewan kurban di tempat shalat.

【104】

Shahih Bukhari 930: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Al Ahwash] berkata: telah menceritakan kepada kami [Manshur bin Al Mutamir] dari [Asy Sya'bi] dari [Al Bara' bin 'Azib] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan khutbah pada hari kurban setelah shalat. Beliau bersabda: "Barangsiapa shalat seperti shalat kita dan melaksanakan manasik (penyembelihan kurban) seperti kita berarti telah mendapatkan pahala berkurban. Dan barangsiapa menyembelih kurban sebelum shalat maka itu hanyalah kambing yang dinikmati dagingnya." Maka Abu Burdah bin Niyar berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih sebelum aku keluar untuk shalat, dan aku mengetahui bahwa hari ini adalah hari makan dan minum, lalu aku menyegerakan penyembelihannya, kemudian aku berikan kepada keluarga dan para tetanggaku." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda: "Itu hanyalah kambing yang dinikmati dagingnya." Abu Burdah bertanya lagi: "Namun aku masih memiliki anak kambing yang lebih baik dari kambing yang telah aku sembelih itu. Apakah dibenarkan kalau aku menyembelihnya?" Beliau menjawab: "Ya, akan tetapi tidak boleh untuk seorangpun setelah kamu."

【105】

Shahih Bukhari 931: Telah menceritakan kepada kami [Hamid bin 'Umar] dari [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Muhammad] bahwa [Anas bin Malik] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat hari Raya kurban kemudian menyampaikan khutbah, beliau katakan: "Barangsiapa menyembelih hewan sebelum shalat, maka dia harus menyembelih ulang." Lalu berdirilah seorang laki-laki Anshar seraya berkata: "Wahai Rasulullah, para tetanggaku!" Orang itu entah berkata: "Mereka sangat membutuhkan." atau "Mereka orang-orang miskin. Dan aku telah menyembelih kurban sebelum shalat. Namun aku masih punya anak kambing yang lebih aku cintai dari pada kambing yang telah aku sembelih?" Maka beliau pun memberikan keringanan untuk orang itu.

【106】

Shahih Bukhari 932: Telah menceritakan kepada kami [Muslim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Al Aswad] dari [Jundub] berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Hari Raya kurban lalu menyampaikan khutbah, beliau katakan: "Barangsiapa menyembelih hewan sebelum shalat maka dia harus menyembelih hewan kurban lain sebagai penggantinya. Dan siapa yang belum menyembelihnya maka sembelihlah atas nama Allah."

【107】

Shahih Bukhari 933: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad] -yaitu Ibnu Salam- berkata: telah mengabarkan kepada kami [Abu Tumailah Yahya bin Wadlih] dari [Fulaih bin Sulaiman] dari [Sa'id bin Al Harits] dari Jabir bin 'Abdullah radliyallahu 'anhuma, ia berkata: "Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat 'Id, beliau mengambil jalan yang berbeda (antara berangkat dan kembali)." Hadits ini dikuatkan oleh [Yunus bin Muhammad] dari [Fulaih]. Dan [Muhammad bin Ash Shalt] berkata dari [Fulaih] dari [Sa'id] dari [Abu Hurairah]. Dan hadits Jabir lebih shahih.

【108】

Shahih Bukhari 934: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari ['Uqail] dari [Ibnu Syihab] dari ['Urwah] dari ['Aisyah], bahwa Abu Bakar radliyallahu 'anhu pernah masuk menemuinya pada hari-hari saat di Mina (Tasyriq). Saat itu ada dua budak yang sedang bermain rebana, sementara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menutupi wajahnya dengan kain. Kemudian Abu Bakar melarang dan menghardik kedua sahaya itu, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melepas kain yang menutupi wajahnya seraya bersabda: "Biarkanlah wahai Abu Bakar. Karena ini adalah Hari Raya 'Id." Hari-hari itu adalah hari-hari Mina (Tasyriq). 'Aisyah berkata: "Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menutupi aku dengan (badannya) sedangkan aku menyaksikan budak-budak Habasyah yang sedang bermain di dalam masjid. Tiba-tiba 'Umar menghentikan mereka, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda: "Biarkanlah mereka dengan jaminan Bani Arfidah, yaitu keamanan."

【109】

Shahih Bukhari 935: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Walid] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] berkata: telah menceritakan kepadaku ['Adi bin Tsabit] berkata: aku mendengar [Sa'id bin Jubair] dari [Ibnu 'Abbas], bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar pada Hari Raya 'Idul Fithri, beliau melaksanakan shalat dua rakaat, tanpa melaksanakan shalat baik sebelum atau sesudahnya. Dan saat itu beliau bersama Bilal."

【110】

Shahih Bukhari 936: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Nafi'] dan ['Abdullah bin Dinar] dari [Ibnu 'Umar], bahwa Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya." Dan dari Nafi' bahwa 'Abdullah bin 'Umar memberi salam di antara satu rakaat dan dua rakaat witir hingga dia menuntaskan sebagian keperluannya.

【111】

Shahih Bukhari 937: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] dari [Malik bin Anas] dari [Makhramah bin Sulaiman] dari [Kuraib] bahwa [Ibnu 'Abbas] mengabarkan kepadanya, bahwa Dia pernah bermalam di rumah Maimunah, bibinya dari pihak ibu. Ia mengatakan: "Aku tidur pada sisi tikar sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan isterinya berbaring pada bagian tengahnya. Beliau tidur hingga pertengahan malam atau kurang sedikit, kemudian beliau bangun dan mengusap sisa tidur pada wajahnya, membaca sepuluh ayat dari surah Ali 'Imran. Kemudian beliau berdiri mengambil geriba berisi air yang digantung, beliau berwudlu dengan wudlu yang sempurna lalu mendirikan shalat. Aku kemudian mengerjakan seperti apa yang beliau kerjakan, lantas aku berdiri disampingnya. Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku, meraih telingaku dan menariknya (menggeser). Kemudian beliau shalat dua rakaat, lalu dua rakaat, lalu dua rakaat, lalu dua rakaat, lalu dua rakaat, lalu dua rakaat, lalu shalat witir. Kemudian Beliau berbaring hingga seorang mu'adzin mendatanginya, kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat lalu keluar melaksanakan shalat subuh."

【112】

Shahih Bukhari 938: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sulaiman] berkata: telah menceritakan kepadaku ['Abdullah bin Wahb] berkata: telah mengabarkan kepadaku ['Amru bin Al Harits] bahwa ['Abdurrahman bin Al Qasim] menceritakan kepadanya dari [Bapaknya] dari ['Abdullah bin 'Umar] berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Shalat malam dua rakaat dua rakaat, jika kamu hendak mengakhirinya, maka shalatlah satu rakaat sebagai penutup dari shalatmu sebelumnya." Al Qasim berkata: "Semenjak kami ketahui, kami melihat orang-orang mengerjakan witir dengan tiga rakaat. Sesungguhnya urusan ini adalah kelonggaran yang aku berharap bukan menjadi perkara yang salah."

【113】

Shahih Bukhari 939: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] berkata: telah menceritakan kepadaku ['Urwah] bahwa ['Aisyah] mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat sebelas rakaat, begitulah cara beliau shalat -yakni shalat tahajjud-. Dalam shalat tersebut beliau sujud seperti lamanya kalian membaca sekitar lima puluh ayat sebelum mengangkat kepalanya. Dan beliau mengerjakan shalat dua rakaat sebelum melaksanakan shalat subuh. Kemudian beliau berbaring pada tubuh sebelah kanan hingga datang mu'adzin (membangunkan) untuk shalat.

【114】

Shahih Bukhari 940: Telah menceritakan kepada kami [Abu An Nu'man] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] berkata: telah menceritakan kepada kami [Anas bin Sirin] berkata: Aku bertanya kepada [Ibnu 'Umar]: "Apakah shalat dua rakaat sebelum shalat Fajar bacaannya dipanjangkan?" Maka dia menjawab: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam dua rakaat dua rakaat lalu witir dengan satu rakaat, dan beliau mengerjakan shalat dua rakaat sebelum melaksanakan shalat Fajar, seakan adzan ada di sisi telinganya." Hammad berkata: "Maksudnya beliau melaksanakan dua rakaat tersebut dengan cepat."

【115】

Shahih Bukhari 941: Telah menceritakan kepada kami ['Umar bin Hafsh] berkata: telah menceritakan kepada kami [Bapakku] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] berkata: telah menceritakan kepadaku [Muslim] dari [Masyruq] dari ['Aisyah] ia berkata: "Sepanjang malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat witir dan berhenti pada waktu sahur."

【116】

Shahih Bukhari 942: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hisyam] berkata: telah menceritakan kepadaku [Bapakku] dari ['Aisyah] berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdiri shalat malam sedangkan aku berbaring membentang di atas tikarnya. Apabila akan melaksanakan shalat witir, beliau membangunkan aku hingga aku pun mengerjakan shalat witir."

【117】

Shahih Bukhari 943: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] dari ['Ubaidullah] telah menceritakan kepadaku [Nafi'] dari ['Abdullah bin 'Umar] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Jadikanlah akhir shalat malam dengan ganjil (witir)."

【118】

Shahih Bukhari 944: Telah menceritakan kepada kami [Isma'il] berkata: telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Abu Bakar bin 'Umar bin 'Abdurrahman bin 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab] dari [Sa'd bin Yasar] bahwa dia berkata: Aku bersama 'Abdullah bin 'Umar pernah berjalan di jalanan kota Makkah. Sa'id berkata: Ketika aku khawatir akan (masuknya waktu) Shubuh, maka aku pun singgah dan melaksanakan shalat witir. Kemudian aku menyusulnya, maka Abdullah bin Umar pun bertanya: "Dari mana saja kamu?" Aku menjawab: "Tadi aku khawatir akan (masuknya waktu) Shubuh, maka aku singgah dan melaksanakan shalat witir." 'Abdullah bin 'Umar berkata: "Bukankah kamu telah memiliki suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?" Aku menjawab: "Ya. Demi Allah." Abdullah bin Umar berkata: "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat witir di atas untanya."

【119】

Shahih Bukhari 945: Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il] berkata: telah menceritakan kepada kami [Juwairiyyah bin Asma'] dari [Nafi'] dari [Ibnu 'Umar] berkata: "Jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam perjalanan, maka beliau mengerjakan shalat di atas tunggangannya kemana saja hewan itu menghadap, beliau mengerjakannya dengan isyarat, kecuali shalat fardlu. Dan beliau juga mengerjakan shalat witir di atas kendaraannya."

【120】

Shahih Bukhari 946: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Muhammad bin Sirin] berkata: Anas bin Malik pernah ditanya: "Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan qunut dalam shalat Shubuh?" Dia berkata: "Ya." Lalu dikatakan kepadanya: "Apakah beliau melakukannya sebelum rukuk?" Dia menjawab: "Terkadang setelah rukuk."

【121】

Shahih Bukhari 947: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdul Wahid bin Ziyad] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Ashim] berkata: Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik tentang qunut. Maka dia menjawab: "Qunut itu benar adanya." Aku bertanya lagi: "Apakah pelaksanaannya sebelum atau sesudah rukuk?" Dia menjawab: "Sebelum rukuK." Ashim berkata: "Ada orang yang mengabarkan kepadaku bahwa engkau mengatakan bahwa pelaksanaannya setelah rukuk?" Anas bin Malik menjawab: "Orang itu dusta. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakannya setelah rukuk selama satu bulan. Hal itu Beliau lakukan karena Beliau pernah mengutus sekelompok orang (ahli Al Qur'an) yang berjumlah sekitar tujuh puluh orang kepada Kaum Musyrikin selain mereka. Saat itu antara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum musyrikin ada perjanjian. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan doa qunut selama satu bulan untuk berdoa atas mereka (karena telah membunuh para utusannya)."

【122】

Shahih Bukhari 948: Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Yunus] berkata: telah menceritakan kepada kami [Za'idah] dari [At Taimi] dari [Abu Mijlaz] dari [Anas bin Malik] ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakan qunut selama satu bulan untuk mendo'akan (kebinasaan) atas suku Ri'la dan Dzakwan."

【123】

Shahih Bukhari 949: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Isma'il] berkata: telah menceritakan kepada kami [Khalid] dari [Abu Qilabah] dari [Anas bin Malik] berkata: "Qunut itu dilakukan pada shalat Maghrib dan Shubuh."

【124】

Shahih Bukhari 950: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Abdullah bin Abu Bakar] dari ['Abbad bin Tamim] dari [Pamannya] ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar melaksanakan shalat istisqa' dengan membalik selendangnya."

【125】

Shahih Bukhari 951: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami [Mughirah bin 'Abdurrahman] dari [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah], bahwa Jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kepalanya dari rukuk yang akhir, beliau membaca: "ALLAHUMMA ANJI 'AYYASY IBNA ABII RABI'AH ALLAHUMMA ANJI SALAMAH IBNA HISYAM ALLAHUMMA ANJIL WALIDA IBNAL WALIID ALLAHUMMA ANJIL MUSTADL'AFIINA MINAL MU`MINIINA ALLAHUMMASYDUD WATH`ATAKA 'ALAA MUDLAR ALLAHUMMAJ-ALHAA SINIINA KASINII YUSUF (Ya Allah selamatkanlah 'Ayyasy bin Abu Rabi'ah, Ya Allah selamatkanlah Salamah bin Hisyam, Ya Allah selamatkanlah Al Walib bin Al Walid, Ya Allah selamatkanlah orang-orang yang lemah dari orang-orang beriman. Ya Allah keraskanlah sikaan-Mu atas suku Mudlar dan timpakanlah kepada mereka musim paceklik sebagaimana terjadi di zaman Yusuf)." Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga berdoa: "Suku Ghifar, semoga Allah mengampuni mereka. Suku Aslam, semoga Allah menyelamatkan mereka." [Ibnu Abu Az Zinad] menyebutkan dari [Bapaknya]: "Semua ini dilakukan pada shalat Shubuh."

【126】

Shahih Bukhari 952: Telah menceritakan kepada kami ['Utsman bin Abu Syaibah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Manshur] dari [Abu Adl Dluha] dari [Masyruq] berkata: Kami pernah bersama ['Abdullah] ketika dia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika melihat orang-orang berpaling (dari Islam): "Ya Allah, timpakanlah kepada mereka masa paceklik tujuh tahun seperti kejadian zaman Yusuf." Maka terjadilah masa paceklik tersebut dimana tidak ada tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh sehingga mereka memakan kulit, bangkai dan barang-barang busuk. Kemudian ada seorang dari mereka yang memandang ke langit melihat awan lantaran lapar. Lalu Abu Sufyan menemui beliau seraya berkata: "Ya Muhammad, kamu adalah orang yang memerintahkan untuk taat kepada Allah dan menyambung silaturrahim, kaummu telah binasa, maka mintalah kepada Allah untuk mereka." Lalu Allah berfirman: {Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata} hingga firman-Nya: {Sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar). (Ingatlah) hari (ketika) kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya kami adalah pemberi balasan} (Ad Dukhaan: 10-16). Siksaan (hantaman yang keras) adalah saat mereka terbunuh dalam perang Badar. Dan saat awan gelap sudah berlalu.

【127】

Shahih Bukhari 953: Telah menceritakan kepada kami ['Amru bin 'Ali] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Qutaibah] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdurrahman bin 'Abdullah bin Dinar] dari [Bapaknya] berkata: Aku mendengar [Ibnu 'Umar] menirukan sya'irnya Abu Thalib: "Wajahnya yang putih mengharap turunnya awan (hujan), sumber kehidupan anak-anak yatim dan pelindung para janda." Dan [Umar bin Hamzah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Salim] dari [Bapaknya], barangkali aku sebutkan kepadanya perkataan syair -sementara aku lihat wajah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meminta turunnya hujan. Maka beliau belum selesai, setiap aliran air telah penuh dengan air- Wajahnya yang putih mengharap turunnya awan (hujan), sumber kehidupan anak-anak yatim dan pelindung para janda." Itulah perkataan Abu Thalib.

【128】

Shahih Bukhari 954: Telah menceritakan kepada kami [Al Hasan bin Muhammad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Abdullah Al Anshari] berkata: telah menceritakan kepadaku bapakku ['Abdullah bin Al Mutsanna] dari [Tsumamah bin 'Abdullah bin Anas] dari [Anas bin Malik] bahwa 'Umar bin Al Khaththab radliyallahu 'anhu ketika kaum muslimin tertimpa musibah, ia meminta hujan dengan berwasilah kepada 'Abbas bin 'Abdul Muththalib seraya berdo'a: "Ya Allah, kami meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami." Anas berkata: "Mereka pun kemudian mendapatkan hujan."

【129】

Shahih Bukhari 955: Telah menceritakan kepada kami [Ishaq] berkata: telah menceritakan kepada kami [Wahb bin Jarir] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'bah] dari [Muhammad bin Abu Bakar] dari ['Abbad bin Tamim] dari ['Abdullah bin Zaid], bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdoa meminta hujan dengan membalik selendangnya.

【130】

Shahih Bukhari 956: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Abdullah bin Abu Bakr] bahwa dia mendengar ['Abbad bin Tamim] menceritakan kepada bapaknya dari pamannya ['Abdullah bin Zaid], bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar menuju tempat shalat kemudian melaksanakan shalat istisqa' (meminta hujan). Beliau menghadap kiblat dan membalik posisi selendangnya, lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Abu 'Abdullah berkata: Ibnu 'Uyainah berkata: "Dia adalah seorang mu'adzin tetapi dia ragu, karena orang ini -'Abdullah bin Zaid bin 'Ashim Al mazini- adalah Mazin Al Anshar."

【131】

Shahih Bukhari 957: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad] berkata: telah mengabarkan kepada saya [Abu Dlamrah Anas bin 'Iyadl] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syarik bin 'Abdullah bin Abu Namir] bahwa dia mendengar [Anas bin Malik] menceritakan, bahwa Ada seorang laki-laki masuk ke dalam Masjid pada hari Jum'at dari pintu yang berhadapan dengan mimbar, sedangkan saat itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang menyampaikan khutbah. Orang itu kemudian menghadap ke arah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam serata berkata: "Wahai Rasulullah, harta benda telah habis dan jalan-jalan terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami!" Anas berkata: Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: "Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan." Anas melanjutkan kisahnya: "Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan baik yang tebal maupun yang tipis. Juga tidak ada antara tempat kami dan bukit itu rumah atau bangunan satupun. Tiba-tiba dari bukit itu tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itupun menyebar dan hujan pun turun." Anas melanjutkan: "Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari. Kemudian pada Jum'at berikutnya, orang itu masuk kembali dari pintu yang sama dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berdiri menyampaikan khutbahnya. Kemudian orang itu menghadap beliau seraya berkata: "Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalan pun terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan!" Anas berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: "Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan." Anas berkata: Maka hujan berhenti. Lalu kami keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari. Syarik berkata: "Aku bertanya kepada Anas bin Malik: Apakah laki-laki itu adalah laki-laki yang pertama? Anas menjawab: Aku tak tahu.

【132】

Shahih Bukhari 958: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] berkata: telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Ja'far] dari [Syarik] dari [Anas bin Malik] bahwa Ada seorang laki-laki memasuki masjid pada hari Jum'at dari pintu yang menghadap Darul Qadla' (rumah 'Umar bin Al Khaththab). Saat itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berdiri menyampaikan khutbah, lalu orang itu berdiri menghadap Rasulullah seraya berkata: "Wahai Rasulullah, harta benda telah habis dan jalan-jalan terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami!" Anas bin Malik berkata: Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: "Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan." Anas bin Malik melanjutkan: Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan baik yang tebal maupun yang tipis. Juga tidak ada antara tempat kami dan bukit itu rumah atau bangunan satupun. Tiba-tiba dari bukit itu tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itupun menyebar lalu turunlah hujan. Anas bin Malik berkata: Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari. Kemudian pada Jum'at berikutnya, ada seorang laki-laki masuk kembali dari pintu yang sama sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berdiri menyampaikan khutbahnya. Orang itu lalu berdiri menghadap beliau seraya berkata: "Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalan pun terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan dari kami!" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: "Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah di atas bukit-bukit, dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan." Anas bin Malik berkata: Maka hujan pun berhenti. Lalu kami keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari. Syarik berkata: Aku bertanya kepada Anas bin Malik: "Apakah laki-laki tadi juga laki-laki yang pertama?" Dia menjawab: "Aku tak tahu."

【133】

Shahih Bukhari 959: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu 'Awanah] dari [Qatadah] dari [Anas bin Malik] berkata: Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berkhutbah pada hari Jum'at, tiba-tiba ada seorang laki-laki mendatangi beliau seraya berkata: "Wahai Rasulullah, hujan sudah lama tidak turun, berdo'alah kepada Allah agar menurunkan hujan buat kita." Maka beliau pun berdoa hingga hujan pun turun, dan hampir-hampir kami tidak bisa pulang ke rumah kami. Dan hujan terus turun hingga hari Jum'at berikutnya. Anas bin Malik berkata: "Laki-laki itu atau lelaki lain berdiri lalu berkata: "Wahai Rasulullah, berdo'alah kepada Allah agar hujan segera dialihkan dari kami." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa: "Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami." Anas bin Malik berkata: Sungguh aku melihat awan berpencar ke kanan dan kiri, lalu hujan turun namun tidak menghujani penduduk Madinah.

【134】

Shahih Bukhari 960: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Syarik bin 'Abdullah] dari [Anas bin Malik] berkata: Ada seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Harta benda telah rusak dan jalan-jalan terputus, maka mintalah kepada Allah agar menurunkan air hujan." Maka beliau pun berdo'a hingga turun hujan kepada kami dari hari Jum'at ke Jum'at berikutnya. Laki-laki itu kemudian datang lagi seraya berkata: "Rumah-rumah telah roboh, jalan-jalan terputus dan harta benda rusak. Maka berdo'alah kepada Allah agar menahan hujan." Kemudian beliau berdiri dan berdoa: "Ya Allah turunkanlah di atas bukit-bukit, dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan." Maka awan pun menjauh dari Madinah seperti kain.

【135】

Shahih Bukhari 961: Telah menceritakan kepada kami [Isma'il] berkata: telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Syarik bin 'Abdullah bin Abu Namir] dari [Anas bin Malik] berkata: Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Wahai Rasulullah, harta benda telah rusak dan jalan-jalan terputus, maka berdo'alah kepada Allah." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berdoa hingga hujan pun turun kepada kami dari hari Jum'at ke Jum'at berikutnya. Kemudian datang lagi seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata: "Wahai Rasulullah, rumah-rumah telah roboh, jalan-jalan terputus dan harta benda rusak!" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun berdoa: "Ya Allah turunkanlah di puncak-puncak gunung, perbukitan, jurang-jurang yang dalam serta tempat-tempat tumbuhnya pepohonan." Maka awan itu pun menjauh dari Madinah seperti kain.

【136】

Shahih Bukhari 962: Telah menceritakan kepada kami [Al Hasan bin Bisyr] berkata: telah menceritakan kepada kami [Mu'afa bin 'Imran] dari [Al Auza'i] dari [Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah] dari [Anas bin Malik], bahwa Ada seorang laki-laki mengadu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Harta benda telah binasa dan sanak keluarga sudah kesusahan!" Kemudian beliau berdoa kepada Allah meminta hujan. Namun Anas tidak menyebutkan bahwa beliau membalik selendang dan menghadap kiblat.

【137】

Shahih Bukhari 963: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Syarik bin 'Abdullah bin Abu Namir] dari [Anas bin Malik] bahwa dia berkata: Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Wahai Rasulullah, harta benda telah rusak dan jalan-jalan terputus, maka berdo'alah kepada Allah!" Lalu beliau berdoa sehingga hujan pun turun kepada kami dari hari Jum'at ke Jum'at berikutnya. Kemudian datang lagi seseorang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, rumah-rumah telah roboh, jalan-jalan terputus dan harta benda menjadi rusak!" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa: "Ya Allah turunkanlah di puncak-puncak gunung, perbukitan, jurang-jurang yang dalam dan tempat-tempat tumbuhnya pepohonan." Maka awan menjauh dari Madinah seperti kain.

【138】

Shahih Bukhari 964: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Katsir] dari [Sufyan] telah menceritakan kepada kami [Manshur] dan [Al A'masy] dari [Abu Adl Dluha] dari [Masyruq] berkata: Aku pernah menemui [Ibnu Mas'ud], lalu ia berkata: Orang-orang Quraisy telah berpaling dari Islam, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa agar mereka terkena adzab. Maka terjadilah masa paceklik dimana tidak ada tumbuhan-tumbuhan yang hidup sehingga mereka memakan kulit, bangkai dan barang-barang yang telah busuk. Kemudian datang Abu Sufyan kepada beliau seraya berkata: "Wahai Muhammad, kamu telah datang untuk memerintahkan orang agar menyambung silaturrahim, sekarang kaummu telah binasa. Maka mintalah kepada Allah!" Kemudian beliau membaca ayat: {Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata} (Adl Dlukhaan: 10). Namun kemudian mereka kembali kepada kekafiran mereka. Maka terjadilah seperti dalam firman-Nya: {(Ingatlah) hari (ketika) kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya kami adalah pemberi balasan} (Adl Dlukhaan: 16). Yakni pada saat perang Badar. Abu 'Abdullah berkata: [Asbath] menambahkan dari [Manshur]: "Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdo'a hingga mereka mendapatkan air hujan, dan hujan tersebut menyelimuti mereka selama tujuh hari. Kemudian orang-orang mengeluh karena hujan yang lebat terus menerus. Kemudian beliau berdoa: "Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami." Maka awan pun menyingkir dari atas kepala beliau, lalu orang-orang mendapatkan air dari sekeliling mereka.

【139】

Shahih Bukhari 965: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abu Bakar] telah menceritakan kepada kami [Mu'tamir] dari ['Ubaidullah] dari [Tsabit] dari [Anas bin Malik] berkata: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah pada hari Jum'at, lalu orang-orang berdiri dan berseru: "Wahai Rasulullah, hujan sudah tidak turun hingga pepohonan memerah dan hewan-hewan banyak yang mati. Maka mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan buat kami!" Lalu beliau berdoa: "Ya Allah, berilah kami air hujan." dua kali. Demi Allah, sebelumnya kami tidak melihat ada awan yang tipis sekalipun hingga muncul awan tebal, kemudian hujan pun turun. Setelah itu beliau turun dari mimbar dan melaksanakan shalat. Setelah selesai, hujan masih terus turun bahkan hingga Jum'at berikutnya. Maka ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri menyampaikan khutbah, orang-orang kembali berseru kepada beliau: "Rumah-rumah telah hancur, jalan-jalan terputus, berdo'alah kepada Allah agar menahan hujan dari kami!" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu tersenyum seraya berdoa: "Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami." Maka Madinah menjadi terang kembali dan hujan hanya turun di sekitarnya, bahkan tidak ada hujan setetespun di Madinah. Kemudian aku melihat langit Madinah, dan nampak hujan hanya turun disekitarnya.

【140】

Shahih Bukhari 966: Telah berbicara kepada kami [Abu Nu'aim] dari [Zuhair] dari [Abu Ishaq], 'Abdullah bin Yazid Al Anshari keluar menuju lapangan bersama Al Bara' bin 'Azib dan Zaid bin Arqam radliyallahu 'anhum untuk melaksanakan shalat istisqa' (minta hujan). 'Abdullah bin Yazid Al Anshari lalu berdiri di atas kedua kakinya dan tidak di atas mimbar. Lalu dia beristighfar dan melaksanakan shalat dua rakaat dengan mengeraskan bacaannya, tanpa dengan adzan atau pun iqamah." Abu Ishaq berkata: "'Abdullah bin Yazid Al Anshari pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (melaksanakan seperti itu)."

【141】

Shahih Bukhari 967: Telah berbicara kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] berkata: telah menceritakan kepadaku ['Abbad bin Tamim] bahwa [Pamannya] -salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam- mengabarkan kepadanya, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar bersama manusia (melaksanakan shalat istisqa') memintakan hujan untuk mereka. Kemudian beliau berdiri menghadap kiblat dan berdoa dalam keadaan berdiri sambil membalikkan kain selendangnya. Setelah itu mereka pun mendapatkan hujan.

【142】

Shahih Bukhari 968: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Dzi'b] dari [Az Zuhri] dari ['Abbad bin Tamim] dari [Pamannya] berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar untuk melaksanakan shalat istisqa', lalu beliau berdoa dengan menghadap ke arah kiblat sambil membalikkan kain selendangnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat dengan mengeraskan bacaannya pada kedua rakaat itu."

【143】

Shahih Bukhari 969: Telah menceritakan kepada kami [Adam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Dzi'b] dari [Az Zuhri] dari ['Abbad bin Tamim] dari [Pamannya] berkata: "Aku pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di hari ketika beliau keluar minta turunnya hujan. Kemudian beliau menghadap ke arah kiblat dengan menghadapkan punggungnya ke arah manusia, lalu beliau berdoa sambil membalikkan kain selendangnya. Setelah itu beliau mengimami kami shalat dua rakaat dengan mengeraskan bacaan."

【144】

Shahih Bukhari 970: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Abdullah bin Abu Bakar] bahwa dia mendengar ['Abbad bin Tamim] dari [Pamannya], bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat istisqa' (meminta hujan). Lalu beliau melaksanakan shalat dua rakaat dan membalik selendangnya.

【145】

Shahih Bukhari 971: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Muhammad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Abdullah bin Abu Bakar] bahwa dia mendengar ['Abbad bin Tamim] dari [Pamannya] ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar untuk melaksanakan shalat istisqa' (meminta hujan). Lalu beliau menghadap kiblat dan melaksanakan shalat dua rakaat sambil membalik selendangnya." [Sufyan] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Al Mas'udi] dari [Abu Bakar] berkata: "Maksudnya selendangnya dipindah dari posisi pundak kanan ke pundak kiri."

【146】

Shahih Bukhari 972: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Salam] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Abdul Wahhab] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Abu Bakar bin Muhammad] bahwa ['Abbad bin Tamim] mengabarkan kepadanya bahwa ['Abdullah bin Zaid Al Anshari] mengabarkan kepadanya, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar menuju tempat shalat untuk melaksanakan shalat (istisqa'). Ketika beliau berdoa, atau akan berdoa, beliau menghadap ke arah kiblat dan membalik selendangnya. Abu 'Abdullah berkata: "'Abdullah bin Zaid ini adalah dari suku Al Maazini. Sedangkan yang pertama (rawi pada hadits ke 966) adalah dari Kufah, yaitu Ibnu Yazid."

【147】

Shahih Bukhari 973: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] telah menceritakan kepada kami [Yahya] dan [Ibnu Abi 'Adi] dari [Sa'id] dari [Qatadah] dari [Anas bin Malik] berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengangkat tangannya saat berdoa kecuali ketika berdoa dalam shalat istisqa'. Beliau mengangkat tangannya hingga terlihat putih kedua ketiaknya."

【148】

Shahih Bukhari 974: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad] -yaitu Ibnu Muqatil Abu Al Hasan Al Marwazi- berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Ubaidullah] dari [Nafi'] dari [Al Qasim bin Muhammad] dari ['Aisyah], bahwa Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat hujan, maka beliau berdoa: ALLAHUMMA SHAYYIBAAN NAAFI'AN (Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat). Hadits ini juga dikuatkan oleh [Al Qasim bin Yahya] dari ['Ubaidullah], dan diriwayatkan pula oleh [Al Auza'i] dan ['Uqail] dari [Nafi'].

【149】

Shahih Bukhari 975: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Muqatil] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah bin Al Mubarak] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Al Auza'i] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah Al Anshari] berkata: telah menceritakan kepadaku [Anas bin Malik] berkata: Di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam manusia pernah terkena musibah paceklik kekeringan. Pada hari Jum'at ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang memberikan khutbah, tiba-tiba seorang Arab badui berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan telah terjadi kelaparan, maka berdo'alah kepada Allah agar menurunkan hujan untuk kita!" Anas bin Malik berkata: Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berdoa dengan mengangkat kedua telapak tangannya. Dan saat itu tidak sedikitpun ada awan di langit. Anas bin Malik melanjutkan perkataannya: Maka awan seperti gunung bergerak. Beliau belum lagi turun dari mimbarnya hingga aku melihat air hujan membasahi jenggotnya. Maka pada hari itu kami mendapatkan hujan hingga esok harinya dan lusa, hingga hari Jum'at berikutnya. Pada hari Jum'at berikut itulah orang Arab badui tersebut, atau orang yang lain berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah, banyak bangunan yang roboh, harta benda tenggelam dan hanyut, maka berdo'alah kepada Allah untuk kami!" Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa dengan mengangkat kedua telapak tangannya: "ALLAHUMMA HAWAALAINAA WA LAA 'ALAINAA" (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeling kami saja dan jangan sampai menimbulkan kerusakan kepada kami). Belum lagi beliau memberikan isyarat dengan tangannya ke langit, awan tersebut telah hilang. Saat itu kota Madinah menjadi seperti danau dan aliran-aliran air, bahkan tidak mendapatkan sinar matahari selama satu bulan. Anas bin Malik berkata: Tidak ada satupun orang yang datang dari segala pelosok kota kecuali akan menceritakan tentang terjadinya hujan yang lebat tersebut.

【150】

Shahih Bukhari 976: Telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Abu Maryam] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Humaid] bahwa dia mendengar [Anas bin Malik] berkata: "Jika akan terjadi angin yang berhembus kencang, maka hal itu dapat diketahui pada wajah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam."

【151】

Shahih Bukhari 977: Telah menceritakan kepada kami [Muslim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Al Hakam] dari [Mujahid] dari [Ibnu 'Abbas], bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku ditolong dengan perantaraan angin yang berhembus dari timur (belakang pintu Ka'bah) sedangkan kaum 'Aad dibinasakan dengan angin yang berhembus dari barat."

【152】

Shahih Bukhari 978: telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Abu Az Zinad] dari ['Abdurrahman Al A'raj] dari [Abu Hurairah] ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali setelah hilangnya ilmu, banyak terjadi gempa, waktu seakan berjalan dengan cepat, timbul berbagai macam fitnah, Al Haraj -yaitu pembunuhan- dan harta melimpah ruah kepada kalian."

【153】

Shahih Bukhari 979: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] berkata: telah menceritakan kepada kami [Husain bin Al Hasan] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu 'Aun] dari [Nafi'] dari [Ibnu 'Umar] berkata: Beliau berdoa: "Ya Allah, berkatilah kami pada negeri Syam kami dan negeri Yaman kami." Ibnu 'Umar berkata: "Para sahabat berkata: "Juga untuk negeri Najed kami." Beliau kembali berdoa: "Ya Allah, berkatilah kami pada negeri Syam kami dan negeri Yaman kami." Para sahabat berkata lagi: "Juga untuk negeri Najed kami." Ibnu 'Umar berkata: Lalu beliau berdoa: "Disanalah akan terjadi bencana dan fitnah, dan di sana akan muncul tanduk setan."

【154】

Shahih Bukhari 980: Telah menceritakan kepada kami [Isma'il] telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Shalih bin Kaisan] dari ['Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud] dari [Zaid bin Khalid Al Juhaini] bahwa dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memimpin kami shalat Shubuh di Hudaibiyyah pada suatu malam sehabis turun hujan. Selesai shalat beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak lalu bersabda: "Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb kalian?" Orang-orang menjawab: "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui." Lalu beliau bersabda: "Allah berfirman: 'Di pagi ini ada hamba-hamba Ku yang menjadi Mukmin kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Orang yang berkata: 'Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya', maka dia adalah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun yang berkata: 'Hujan turun disebabkan bintang ini dan itu', maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang'."

【155】

Shahih Bukhari 981: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Yusuf] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Abdullah bin Dinar] dari [Ibnu 'Umar] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ada lima kunci ghaib yang tidak diketahui seorang pun kecuali oleh Allah, tidak seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, dan tidak seorang pun yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam rahim, dan tak satu jiwa pun yang tahu apa yang akan diperbuatnya esok, dan tak satu jiwa pun yang tahu di bumi mana dia akan mati serta tidak seorang pun yang mengetahui kapan turunnya hujan."

【156】

Shahih Bukhari 982: Telah menceritakan kepada kami ['Amru bin 'Aun] berkata: telah menceritakan kepada kami [Khalid] dari [Yunus] dari [Al Hasan] dari [Abu Bakrah] berkata: Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu terjadi gerhana matahari. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri menjulurkan selendangnya hingga masuk ke dalam masjid, kami pun ikut masuk ke dalam Masjid, lalu beliau mengimami kami shalat dua rakaat hingga matahari kembali nampak bersinar. Setelah itu beliau bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena matinya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka dirikanlah shalat dan banyaklah berdoa hingga selesai gerhana yang terjadi pada kalian."

【157】

Shahih Bukhari 983: Telah menceritakan kepada kami [Syihab bin 'Abbad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Humaid] dari [Isma'il] dari [Qais] berkata: Aku mendengar [Abu Mas'ud] berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena matinya seorang dari manusia, tetapi keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Jika kalian melihat gerhana keduanya maka berdirilah untuk shalat."

【158】

Shahih Bukhari 984: Telah menceritakan kepada kami [Ashbagh] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Ibnu Wahb] berkata: telah mengabarkan kepadaku ['Amru] dari ['Abdurrahman bin Al Qasim] menceritakan dari [Bapaknya] dari [Ibnu 'Umar], bahwa dia mengabarkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan mati atau hidupnya seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Maka jika kalian melihat gerhana keduanya, maka shalatlah."

【159】

Shahih Bukhari 985: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Muhammad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hasyim bin Al Qasim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syaiban Abu Mu'awiyyah] dari [Ziyad bin 'Alaqah] dari [Al Mughirah bin Syu'bah] berkata: Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari, yaitu di hari meninggalnya putera beliau, Ibrahim. Orang-orang lalu berkata: "Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Ibrahim!" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka shalat dan berdoalah kalian kepada Allah."

【160】

Shahih Bukhari 986: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Hisyam bin 'Urwah] dari [Bapaknya] dari ['Aisyah] bahwasanya dia berkata: Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu mendirikan shalat bersama orang banyak. Beliau berdiri dalam shalatnya dengan memanjangkan lama berdirinya, kemudian rukuk dengan memanjangkan rukuknya, kemudian berdiri dengan memanjangkan lama berdirinya, namun tidak selama yang pertama. Kemudian beliau rukuk dan memanjangkan lama rukuknya, namun tidak selama rukuknya yang pertama. Kemudian beliau sujud dengan memanjangkan lama sujudnya, kemudian beliau mengerjakan rakaat kedua seperti pada rakaat yang pertama. Saat beliau selesai melaksanakan shalat, matahari telah nampak kembali. Kemudian beliau menyampaikan khutbah kepada orang banyak, beliau memulai khutbahnya dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya, lalu bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka banyaklah berdoa kepada Allah, bertakbirlah, dirikan shalat dan bersedekahlah." Kemudian beliau meneruskan sabdanya: "Wahai ummat Muhammad! Demi Allah, tidak ada yang melebihi kecemburuan Allah kecuali saat Dia melihat hamba laki-laki atau hamba perempuan-Nya berzina. Wahai ummat Muhammad! Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis."

【161】

Shahih Bukhari 987: Telah menceritakan kepada kami [Ishaq] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Yahya bin Shalih] berkata: telah menceritakan kepada kami [Mu'awiyah bin Salam bin Abu Salam Al Habasyi Ad Dimsyqi] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Abu Katsir] berkata: telah mengabarkan kepadaku [Abu Salamah bin 'Abdurrahman bin 'Auf Az Zuhri] dari ['Abdullah bin 'Amru] berkata: "Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka panggilannya dengan seruan: 'Ash shalaatul jaami'ah' (Marilah mendirikan shalat secara bersama-sama)."

【162】

Shahih Bukhari 988: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] berkata: telah menceritakan kepadaku [Al Laits] dari ['Uqail] dari [Ibnu Syihab]. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Shalih] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Anbasah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yunus] dari [Ibnu Syihab] telah menceritakan kepadaku ['Urwah] dari ['Aisyah] isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata: "Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau keluar menuju masjid, lalu orang-orang membuat barisan di belakang beliau, lalu beliau takbir dan membaca surat yang panjang. Lalu beliau takbir dan rukuk dengan rukuk yang panjang, lalu mengucapkan SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH dan berdiri tanpa sujud. Kemudian beliau membaca bacaan yang panjang namun tidak sebagaimana bacaan yang pertama, lalu takbir dan rukuk dengan rukuk yang panjang namun tidak sebagaimana rukuk yang pertama, lalu mengucapkan SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH kemudian sujud. Setelah itu beliau melakukannya sepeti itu pada rakaat yang akhir hingga sempurnalah empat rukuk dalam empat sujud. Dan matahari nampak kembali sebelum shalat beliau selesai. Setelah itu beliau berdiri (menyampaikan khutbah) dengan memuji Allah dengan pujian yang patas untuk-Nya, beliau bersabda: "Keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan gerhana tidak akan terjadi hanya karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat (gerhan) keduanya, maka bersegeralah mendirikan shalat." [Katsir bin 'Abbas] menceritakan bahwa 'Abdullah bin 'Abbas radliyallahu 'anhuma menceritakan tentang hari terjadinya gerhana marahari seperti hadits 'Urwah dari 'Aisyah ini. Lalu aku berkata kepada 'Urwah: "Sesungguhnya ketika terjadi gerhana di Madinah, saudaramu tidak pernah menambah lebih dari dua rakaat, seperti shalat shubuh." Dia menjawab: "Benar. Dia telah menyelisihi sunnah."

【163】

Shahih Bukhari 989: Telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin 'Ufair] berkata: telah menceritakan kepadaku [Al Laits] telah menceritakan kepadaku ['Uqail] dari [Ibnu Syihab] berkata: telah mengabarkan kepadaku ['Urwah bin Az Zubair] bahwa ['Aisyah] isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika hari terjadinya gerhana matahari, beliau berdiri melaksanakan shalat. Beliau takbir, kemudian membaca dengan bacaan surah yang panjang, lalu rukuk dengan rukuk yang panjang, lalu mengangkat kepalanya seraya membaca SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH. Lalu beliau kembali berdiri sebagaimana sebelumnya dan membaca bacaan yang panjang, namun tidak sepanjang yang pertama, lalu rukuk dengan rukuk yang panjang, namun tidak sebagaimana rukuk yang pertama. Kemudian beliau sujud dengan sujud yang panjang. Kemudian beliau mengerjakan seperti itu pada rakaat yang akhir, lalu beliau salam sementara matahari sudah tampak kembali. Setelah itu beliau menyampaikan khutbah di hadapan manusia dan menyebutkan tentang gerhana matahari dan bulan, beliau katakan: "Keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah yang tidak akan terjadi gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Maka jika kalian melihat gerhana keduanya, hendaklah kalian segera mendirikan shalat."

【164】

Shahih Bukhari 990: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Yunus] dari [Al Hasan] dari [Abu Bakrah] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan keduanya tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Akan tetapi dengan peristiwa itu Allah Ta'ala ingin membuat para hamba-Nya takut (dengan siksa-Nya)." Abu 'Abdullah berkata: "'Abdul Warits dan [Syu'bah] dan [Khalid bin 'Abdullah] dan [Hammad bin Salamah] dari [Yunus] tidak menyebutkan lafadh: 'Akan tetapi dengan peristiwa tersebut Allah Ta'ala ingin membuat para hamba-Nya takut (dengan siksa-Nya)." Riwayat ini dikuatkan oleh ['Asy'ats] dari [Al Hasan], dan dikuatkan juga oleh [Musa] dari [Mubarak] dari [Al Hasan] ia berkata: telah mengabarkan kepadaku [Abu Bakrah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala dengan peristiwa itu Allah ingin membuat takut para hamba-Nya (dari siksa-Nya)."

【165】

Shahih Bukhari 991: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Yahya bin Sa'id] dari ['Amrah binti 'Abdurrahman] dari ['Aisyah] isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Ada seorang wanita Yahudi datang bertanya kepadanya, ia katakan: "Apakah Allah akan melindungi anda dari siksa kubur?" Maka Aisyah menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Apakah manusia akan disiksa dalam kubur mereka?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menjawab: "Aku berlindung darinya." Kemudian di pagi hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pergi mengendarai tunggangannya, tiba-tiba terjadi gerhana matahari. Lalu beliau segera kembali saat masih waktu dluha, beliau melewati di antara kamar-kamar (isterinya), kemudian beliau mendirikan shalat dengan diikuti oleh orang-orang di belakangnya. Beliau berdiri dengan lama, lalu rukuk dengan rukuk yang panjang, lalu mengangkat (kepala) kemudian berdiri dengan panjang, namun tidak sepanjang yang pertama. Kemudian rukuk kembali dengan panjang namun tidak sepanjang rukuk yang pertama, kemudian beliau mengangkat kepalanya dan sujud. Kemudian beliau kembali berdiri dengan panjang namun tidak sepanjang yang pertama, lalu rukuk dengan panjang namun tidak sepanjang rukuk yang pertama, lalu mengangkat (kepala) dan berdiri dengan panjang namun tidak sepanjang yang pertama. Kemudian beliau rukuk dengan panjang namun tidak sepanjang rukuk yang pertama. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu sujud dan mengakhiri shalatnya. Kemudian beliau bersabda sebagaimana yang dikehendaki Allah, kemudian memerintahkan orang-orang agar mereka memohon perlindungan dari siksa kubur.

【166】

Shahih Bukhari 992: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syaiban] dari [Yahya] dari [Abu Salamah] dari ['Abdullah bin 'Amru] bahwa dia berkata: Saat terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka diserukan dengan panggilan: "Ash shalaatul jaami'ah" (Marilah mendirikan shalat secara bersama-sama). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu rukuk dua kali dalam satu kali sujud, kemudian berdiri kembali dan rukuk dua kali dengan satu kali sujud. Kemudian beliau duduk sementara matahari telah nampak kembali." 'Abdullah bin 'Amru berkata: 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Tidak pernah aku melaksanakan satu sujud pun yang lebih panjang darinya."

【167】

Shahih Bukhari 993: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Zaid bin Aslam] dari ['Atha bin Yasar] dari ['Abdullah bin 'Abbas] ia berkata: Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian melaksanakan shalat, beliau berdiri dengan sangat panjang (lama) sekadar bacaan surah Al Baqarah. Lalu beliau rukuk dengan rukuk yang panjang, lalu mengangkat (kepala) berdiri dengan panjang namun tidak sepanjang yang pertama. Kemudian rukuk kembali dengan panjang namun tidak sepanjang rukuk yang pertama. Kemudian sujud. Kemudian beliau kembali berdiri dengan panjang namun tidak sepanjang yang pertama, lalu rukuk dengan rukuk yang panjang namun tidak sepanjang rukuk yang pertama, lalu mengangkat (kepala) berdiri dengan panjang namun tidak sepanjang yang pertama. Kemudian beliau rukuk kembali dengan panjang namun tidak sepanjang rukuk yang pertama. Kemudian sujud. Kemudian beliau berlalu pergi sementara matahari sudah nampak kembali. Kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan keduanya tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihatnya maka banyaklah mengingat Allah." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, kami melihat engkau merasakan sesuatu pada posisimu dan kami melihat seakan engkau menahan perasaan takut?" Beliau menjawab: "Sungguh aku melihat surga, dan didalamnya aku memperoleh setandan anggur. Seandainya aku mengambilnya tentu kalian akan memakannya sehingga urusan dunia akan terabaikan. Kemudian aku melihat neraka, dan aku belum pernah melihat suatu pemandangan yang lebih mengerikan dibanding hari ini, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita." Para sahabat bertanya lagi: "Mengapa begitu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Karena mereka sering kufur (mengingkari)." Ditanyakan kepada beliau: "Apakah mereka mengingkari Allah?" Beliau menjawab: "Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap salah seorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata: 'Aku belum pernah melihat kebaikan darimu sedikit pun'."

【168】

Shahih Bukhari 994: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Hisyam bin 'Urwah] dari isterinya [Fatimah binti Al Mundzir] dari [Asma' binti Abu Bakar] radliallahu 'anhuma, bahwasanya dia berkata: Aku pernah datang menemui 'Aisyah radliyallahu 'anha, isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika terjadi gerhana matahari. Ternyata orang-orang sedang melaksanakan shalat dan saat itu ia juga ikut melaksanakannya. Setelah itu aku bertanya kepadanya: "Apa yang dilakukan orang-orang?" Aisyah memberi isyarat dengan tangannya ke langit seraya berkata: "Maha suci Allah!" Aku bertanya: "Satu tanda saja?" Lalu dia memberi isyarat tanda mengiyakan. Maka akupun ikut shalat sementara timbul perkara yang membingungkanku, hingga aku siram kepalaku dengan air. Selesai shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memuji Allah dan mensucikan-Nya, lalu bersabda: "Tidak ada sesuatu yang belum diperlihatkan kepadaku, kecuali aku sudah melihatnya dari tempatku ini, hingga surga dan neraka. Kemudian diwahyukan kepadaku, bahwa Kalian akan terkena fitnah dalam kubur kalian seperti atau seupa dengan fitnah Dajjal -Aku sendiri tidak tahu mana dari keduanya yang dikatakan oleh Asma'-. Salah seorang dari kalian akan dihadapkan lalu ditanya: 'Apa yang kamu ketahui tentang laki-laki ini?' Orang beriman atau orang yang yakin -Aku tidak tahu mana dari keduanya yang dikatakan oleh Asma'- akan menjawab: 'Dia adalah Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dia datang kepada kami membawa penjelasan dan petunjuk. Maka kami sambut, kami beriman kepadanya dan kami ikuti (ajarannya).' Maka kepada orang itu dikatakan: 'Tidurlah kamu dengan baik, sungguh kami telah mengetahui bahwa kamu adalah orang yang yaqin.' Adapun orang Munafiq atau orang yang ragu -aku tidak tahu mana dari keduanya yang dikatakan oleh Asma'- akan menjawab: 'Aku tidak tahu siapa dia, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka aku pun ikut mengatakannya'."

【169】

Shahih Bukhari 995: Telah menceritakan kepada kami [Rabi' bin Yahya] berkata: telah menceritakan kepada kami [Za'idah] dari [Hisyam] dari [Fatimah] dari [Asma'] berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk membebaskan budak ketika terjadi gerhana matahari."

【170】

Shahih Bukhari 996: Telah menceritakan kepada kami [Isma'il] berkata: telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Yahya bin Sa'id] dari ['Amrah binti 'Abdurrahman] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha, bahwa Ada seorang wanita Yahudi datang bertanya kepadanya: "Apakah Allah akan melindungi anda dari siksa kubur?" Lalu Aisyah menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Apakah manusia akan disiksa dalam kubur mereka?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menjawab: "Aku berlindung darinya." Kemudian di pagi hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pergi mengendarai tunggangannya, tiba-tiba terjadi gerhana matahari. Lalu beliau segera kembali saat masih waktu dluha, beliau melewati di antara kamar-kamar (isterinya). Kemudian beliau mendirikan shalat dengan diikuti oleh orang-orang di belakangnya. Beliau berdiri dengan lama, lalu rukuk dengan rukuk yang panjang, lalu mengangkat (kepala) kemudian berdiri dengan panjang namun tidak sepanjang yang pertama. Kemudian rukuk kembali dengan yang panjang namun tidak sepanjang rukuk yang pertama, kemudian beliau mengangkat kepalanya dan sujud dengan sujud yang panjang. Kemudian beliau kembali berdiri dengan panjang namun tidak sepanjang yang pertama, lalu rukuk dengan panjang namun tidak sepanjang rukuk yang pertama, lalu mengangkat (kepala) dan berdiri dengan panjang namun tidak sepanjang yang pertama. Kemudian beliau rukuk dengan panjang namun tidak sepanjang rukuk yang pertama. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu sujud dan mengakhiri shalatnya. Kemudian beliau bersabda sebagaimana yang dikehendaki Allah, kemudian memerintahkan orang-orang agar mereka memohon perlindungan dari siksa kubur.

【171】

Shahih Bukhari 997: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] dari [Isma'il] berkata: telah menceritakan kepadaku [Qais] dari [Ibnu Mas'ud] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Jika kalian melihat gerhana keduanya maka shalatlah."

【172】

Shahih Bukhari 998: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Muhammad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hisyam] telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhri] dan [Hisyam bin 'Urwah] dari 'Urwah dari ['Aisyah] berkata: Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka beliau berdiri melaksanakan shalat bersama orang banyak, beliau memanjangkan bacaan, lalu rukuk dengan memanjangkan rukuk, kemudian mengangkat kepalanya, lalu membaca lagi dengan memanjangkan bacaannya namun tidak sebagaimana panjang bacaan yang pertama. Kemudian beliau rukuk lagi dengan memanjangkan rukuk, namun tidak sepanjang rukuk yang pertama, lalu mengangkat kepalanya kemudian sujud dua kali. Kemudian beliau berdiri kembali dan mengerjakan seperti pada rakaat pertama. Setelah itu beliau bangkit dan bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, yang Dia perlihatkan kepada hamba-hambaNya. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka segeralah mendirikan shalat."

【173】

Shahih Bukhari 999: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al 'Ala] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] dari [Buraid bin 'Abdullah] dari [Abu Burdah] dari [Abu Musa] berkata: Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri dengan tergesa-gesa seolah akan terjadi hari kiamat. Lantas beliau mendatangi masjid dan shalat dengan berdiri, rukuk dan sujud yang paling panjang, yang pernah aku lihat dari yang beliau pernah lakukan. Kemudian beliau bersabda: "Inilah dua tanda-tanda yang Allah kirimkan, ia tidak terjadi karena hidup atau matinya seseorang, tetapi {Dia, Allah mempertakuti hamba-hambaNya dengannya} (Az ZUmar: 16). Maka jika kalian melihat sesuatu padanya (gerhana), maka segeralah untuk mengingat Allah, berdo'a dan minta ampunan."

【174】

Shahih Bukhari 1000: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Walid] berkata: telah menceritakan kepada kami [Zaidah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ziyad bin 'Alaqah] berkata: Aku mendengar [Al Mughirah bin Syu'bah] berkata: Telah terjadi gerhana matahari ketika wafatnya Ibrahim. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan ia tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka berdo'alah kepada Allah dan dirikan shalat hingga (matahari) kembali nampak."

【175】

Shahih Bukhari 1001: Telah menceritakan kepada kami [Mahmud bin Ghoilan] berkata: telah telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin 'Amir] dari [Syu'bah] dari [Yunus] dari [Al Hasan] dari Abu Bakrah radliyallahu 'anhu berkata: "Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian Beliau mendirikan shalat dua raka'at."

【176】

Shahih Bukhari 1002: Telah menceritakan kepada kami [Abu Ma'mar] berkata: telah telah menceritakan kepada kami ['Abdul Warits] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yunus] dari [Al Hasan] dari [Abu Bakrah] berkata: Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu Beliau keluar dengan menyingsingkan selendangnya hingga tiba di masjid. Maka orang-orang berkumpul mengelilingi Beliau. Lalu Beliau memimpin shalat bersama mereka dua raka'at hingga matahari kembali nampak. Kemudian Beliau bersabda: "Matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah dan keduanya tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena kematian seseorang. Jika terjadi gerhana, maka dirikanlah shalat dan banyaklah berdo'a hingga selesai gerhana yang terjadi pada kalian." Peristiwa ini berkenaan ketika putra Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang bernama Ibrahim wafat yang manusia kemudian memperbincangkannya.

【177】

Shahih Bukhari 1003: Telah menceritakan kepada kami [Mahmud bin Ghoilan] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Ahmad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Yahya] dari ['Amrah] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat bersama mereka (para sahabat) ketika terjadi gerhana matahari dengan empat ruku' dalam dua kali sujud, dan rakaat yang pertama lebih panjang.

【178】

Shahih Bukhari 1004: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Mihran] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Walid bin Muslim] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Namir], dia mendengar [Ibnu Syihab] dari ['Urwah] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengeraskan bacaan dalam shalat gerhana. Jika selesai dari bacaan, beliau membaca takbir kemudian ruku'. Jika mengangkat kepalanya dari ruku' Beliau membaca "sami'allahu liman hamidah Rabbanaa lakal hamd". Kemudian Beliau mengulang bacaannya dalam shalat gerhana dengan empat kali ruku' dalam dua raka'at dan empat kali sujud." Berkata Al Awza'iy dan selainnya aku mendengar [Az Zuhriy] dari ['Urwah] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha bahwa Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Beliau mengutus seorang mu'adzin untuk menyerukan "Ash shalaatul Jaami'ah". Maka kemudian Beliau maju dan shalat dengan empat kali ruku' dalam dua raka'at dan empat kali sujud. Dan telah mengabarkan kepada saya ['Abdurrahman bin Namir] bahwasanya dia mendengar [Ibnu Syihab] seperti ini. Berkata Az Zuhriy: Aku bertanya: "Apa alasan saudaramu 'Abdullah bin Az Zubair yang tidak melaksanakan shalat (gerhana) kecuali dengan dua raka'at seperti shalat Shubuh ketika shalat di Madinah?" Dia menjawab: "Benar begitu adanya dan itu adalah menyalahi sunnah". Riwayat ini juga diikuti oleh [Sufyan bin Husain], [Sulaiman bin Katsir] dari [Az Zuhri] dalam (shalat) jahar (shalat yang bacaan Al Fatihah dan surat sesudahnya dibaca keras).

【179】

Shahih Bukhari 1005: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ghundar] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Abu Ishaq] berkata: aku mendengar [Al Aswad] dari ['Abdullah radliallahu 'anhu] berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surah An Najm ketika berada di Makkah. Maka Beliau sujud tilawah begitu juga orang-orang yang bersama Beliau. Kecuali ada seorang yang tua, dia hanya mengambil segenggam kerikil atau tanah lalu menempelkannya pada mukanya seraya berkata: "Bagiku cukup begini". Di kemudian hari aku melihat orang itu terbunuh dalam kekafiran."

【180】

Shahih Bukhari 1006: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Yusuf] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Sa'ad bin Ibrahim] dari ['Abdurrahman] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca pada shalat Shubuh hari Jum'at surah As Sajadah dan Al Insan."

【181】

Shahih Bukhari 1007: Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Harb] dan [Abu an-Nu'man] keduanya berkata:, telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari ['Ikrimah] dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: Pada surat Shad tidak ada kewajiban untuk sujud tilawah, namun aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan sujud ketika membacanya.

【182】

Shahih Bukhari 1008: Telah menceritakan kepada kami [Hafsh bin 'Umar] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Abu Ishaq] dari [Al Aswad] dari 'Abdullah radliyallahu 'anhu berkata: Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surah An Najm lalu Beliau sujud dan tidak ada seorang pun dari kaum saat itu melainkan mengikuti beliau untuk sujud. Kecuali ada seseorang dari mereka yang ia hanya mengambil segenggam kerikil atau tanah lalu menempelkannya pada mukanya seraya berkata: "Bagiku cukup begini". berkata 'Abdullah: Di kemudian hari aku melihat orang itu terbunuh dalam kekafiran.

【183】

Shahih Bukhari 1009: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdul Warits] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ayyub] dari ['Ikrimah] dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma: Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan sujud tilawah ketika membaca surah An Najm. Begitu juga ikut sujud bersama Beliau dari kalangan Kaum Muslimin, Musyrikin, bangsa jin dan manusia. Hadits ini juga diriwayatkan oleh [Ibrahim bin Thahman] dari [Ayyub].

【184】

Shahih Bukhari 1010: Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Daud Abu Ar-Rabi'] berkata: telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Ja'far] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Yazid bin Khushaifah] dari [Ibnu Qusaith] dari ['Atho' bin Basar] bahwa dia mengabarkannya, bahwa Dia pernah bertanya kepada Zaid bin Tsabit radliyallahu 'anhu (tentang sujud tilawah pada surah An Najm). Maka dia menceritakan bahwa dia pernah membaca surah An Najm untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam namun Beliau tidak melakukan sujud tilawah padanya.

【185】

Shahih Bukhari 1011: Telah menceritakan kepada kami [Adam bin Abu Iyas] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Dza'bi] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yazid bin 'Abdullah bin Qusaith] dari ['Atho' bin Basar] dari Zaid bin Tsabit radliyallahu 'anhu berkata: "Aku pernah membaca surah An Najm untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan Beliau tidak melakukan sujud tilawah padanya."

【186】

Shahih Bukhari 1012: Telah menceritakan kepada kami [Muslim bin Ibrahim] dan [Mu'adz bin Fadhalah] keduanya berkata: telah mengabarkan kepada kami [Hisyam] dari [Yahya] dari [Abu Salamah] berkata: Aku melihat Abu Hurairah radliyallahu 'anhu membaca idzas samaa-unsyaqqat (Al Insyiqaq) lalu dia sujud tilawah. Kemudian aku bertanya kepadanya: "Wahai Abu Hurairah mengapa anda melakukan sujud?" Maka dia menjawab: "Seandainya aku tidak melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sujud, tentu aku tidak akan sujud."

【187】

Shahih Bukhari 1013: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya] telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah] berkata: telah menceritakan kepada saya [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membacakan untuk kami satu surat yang berisi ayat sajadah. Kemudian Beliau sujud. Lalu kami pun sujud hingga ada seorang diantara kami yang tidak mendapatkan tempat untuk meletakkan keningnya."

【188】

Shahih Bukhari 1014: Telah menceritakan kepada kami [Bisyir bin Adam] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Ali bin Mushir] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Ubaidullah] dari [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca ayat sajadah. Saat itu kami sedang berkumpul bersama Beliau. Maka Beliau pun sujud. Lalu kami pun sujud bersama Beliau dengan berebut berdesakan, hingga ada seorang diantara kami yang tidak mendapatkan tempat untuk keningnya untuk bersujud."

【189】

Shahih Bukhari 1015: Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Musa] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Hisyam bin Yusuf] bahwa [Ibnu Juraij] mengabarkan mereka katanya telah mengabarkan kepada saya [Abu Bakar bin Abu Mulaikah] dari 'Utsman bin 'Abdurrahman At Taimiy dari Rabi'ah bin 'Abdullah Al Hudair At Taimiy. berkata Abu Bakar: "Rabi'ah adalah orang yang paling baik dalam mengisahkan segala hal yang berasal dari majelis 'Umar bin Al Khaththab radliyallahu 'anhu, Saat hari Jum'at, 'Umar bin Al Khaththab radliyallahu 'anhu membaca surah An Nahl dari atas mimbar hingga ketika sampai pada ayat sajadah, dia turun dari mimbar lalu melakukan sujud tilawah. Maka orang-orang pun turut melakukan sujud. Kemudian pada waktu shalat Jum'at berikutnya dia membaca surat yang sama hingga ketika sampai pada ayat sajadah dia berkata: "Wahai sekalian manusia, kita telah membaca dan melewati ayat sajadah. Maka barangsiapa yang sujud, benarlah dia. Namun yang tidak melakukan sujud tidak ada dosa baginya." Dan 'Umar bin Al Khaththab radliyallahu 'anhu tidak melakukan sujud. Nafi' menambahkan dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma: "Allah subhanahu wata'ala tidaklah mewajibkan sujud tilawah. Kecuali siapa yang mau silakan melakukannya."

【190】

Shahih Bukhari 1016: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Mu'tamir] berkata: aku mendengar [bapakku] berkata: telah menceritakan kepada saya [Bakar] dari [Abu Rafi'] berkata: Aku pernah shalat 'Atmah ('Isya di penghujung malam) bersama Abu Hurairah radliyallahu 'anhu. Dia membaca idzas samaa-unsyaqqat (Al Insyiqaq) lalu dia sujud tilawah. Kemudian aku bertanya kepadanya: "Mengapa anda melakukan ini?" Maka dia menjawab: "Aku pernah sujud di belakang Abul Qasim shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan senantiasa aku melakukan sujud ketika membacanya sampai akhir hayatku."

【191】

Shahih Bukhari 1017: Telah menceritakan kepada kami [Shadaqah bin Al Fadhal] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Yahya bin Sa'id] dari ['Ubaidullah] dari [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca satu surat yang berisi ayat sajadah. Kemudian Beliau sujud. Lalu kami pun sujud bersama Beliau, hingga ada seorang diantara kami yang tidak mendapatkan tempat untuk meletakkan keningnya."

【192】

Shahih Bukhari 1018: Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu 'Awanah] dari ['Ashim] dari [Hushain] dari ['Ikrimah] dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menetap (dalam bepergian) selama sembilan belas hari dengan mengqashar (meringkas) shalat. Maka kami bila bepergian selama sembilan belas hari mengqashar shalat. Bila lebih dari itu, kami menyempurnakan shalat."

【193】

Shahih Bukhari 1019: Telah menceritakan kepada kami [Abu Ma'mar] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdul Warits] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Abu Ishaq] berkata: Aku mendengar Anas radliyallahu 'anhu berkata: "Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari kota Madinah menuju kota Makkah, selama kepergian itu Beliau melaksanakan shalat dua raka'at dua raka'at hingga kami kembali ke Madinah." Aku tanyakan: "Berapa lama kalian menetap di Makkah?" Dia menjawab: "Kami menetap disana selama sepuluh hari."

【194】

Shahih Bukhari 1020: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari ['Ubaidullah] berkata: telah mengabarkan kepada saya [Nafi'] dari 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhuma berkata: "Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di kota Mina dua raka'at. Begitu juga ketika aku shalat bersama Abu Bakar, 'Umar dan juga bersama 'Utsman pada awal pemerintahannya. Namun beliau di kemudian hari menyempurnakannya (empat raka'at)."

【195】

Shahih Bukhari 1021: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Walid] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] telah memberitakan kepada kami [Abu Ishaq] berkata: Aku mendengar [Haritsah bin Wahb] berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat bersama kami, sebagaimana Beliau selalu lakukan seperti saat di Mina hanya dua raka'at."

【196】

Shahih Bukhari 1022: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdul Wahid bin Ziyad] dari [Al A'masy] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibrahim] berkata: Aku mendengar ['Abdurrahman bin Yazid] berkata: 'Usman bin 'Affan radliyallahu 'anhu pernah shalat bersama kami di Mina sebanyak empat raka'at. Kemudian hal ini disampaikan kepada Ibnu Mas'ud radliyallahu 'anhu maka dia mengucapkan istirja' (innaa lillahi wa innaa ilahi raji'un) kemudian berkata: "Sungguh aku selalu shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Mina sebanyak dua raka'at. Begitu juga aku shalat bersama Abu Bakat Ash Shiddiq radliyallahu 'anhu di Mina sebanyak dua raka'at. Juga aku pernah shalat bersama 'Umar bin Al Khaththab radliyallahu 'anhu di Mina sebanyak dua raka'at. Namun aku berharap shalat yang empat raka'at maupun dua raka'at keduanya diterima."

【197】

Shahih Bukhari 1023: Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il] berkata: telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ayyub] dari [Abu Al 'Aliyah Al Barra'] dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: "Pernah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya datang pada shubuh keempat yang ketika itu mereka niyatkan untuk haji, lantas Beliau memerintahkan mereka agar menjadikannya sebagai 'umrah kecuali bagi siapa yang membawa hewan sembelihan." Hadits ini juga diikuti oleh ['Atho'] dari [Jabir].

【198】

Shahih Bukhari 1024: Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim Al Hanzholah] berkata: Aku berkata kepada [Abu Usamah] apakah ['Ubaidullah] telah menceritakan kepada kalian dari [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seorang wanita tidak boleh mengadakan perjalanan diatas tiga hari kecuali bersama mahramnya."

【199】

Shahih Bukhari 1025: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari ['Ubaidullah] telah mengabarkan kepada saya [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seorang wanita tidak boleh mengadakan perjalanan diatas tiga hari kecuali bersama mahramnya." Hadits ini diikuti pula oleh [Ahmad] dari [Ibnu Al Mubarak] dari ['Ubaidullah] dari [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

【200】

Shahih Bukhari 1026: Telah menceritakan kepada kami [Adam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Dza'bi] berkata: [Said Al Maqbariy] dari [bapaknya] dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu ia berkata: Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Tidak halal seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengadakan perjalanan selama satu hari satu malam tanpa didampingi mahramnya." Hadits ini diikuti pula oleh [Yahya bin Abu Katsir], [Suhail] dan [Malik] dari [Al Maqburiy] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

【201】

Shahih Bukhari 1027: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Muhammad bin Al Munkadir] dan [Ibrahim bin Maisarah] dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: "Aku shalat Dhuhur bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah sebanyak empat raka'at sedangkan ketika di Dzul Hulaifah dua raka'at."

【202】

Shahih Bukhari 1028: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Muhammad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Az Zuhriy] dari ['Urwah] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Awal mula diwajibkannya shalat sebanyak dua raka'at. Kemudian ketentuan ini ditetapkan untuk shalat safar (dalam bepergian) dan disempurnakan bagi shalat di tempat tinggal (mukim)." Berkata Az Zuhriy: "Aku bertanya kepada 'Urwah: "Mengapa 'Aisyah radliyallahu 'anha menyempurnakan?" 'Urwah menjawab: "Dia mengikuti seperti yang dilakukan 'Utsman."

【203】

Shahih Bukhari 1029: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhriy] berkata: telah mengabarkan kepada saya [Salim] dari 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhu berkata: "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jika perjalanan mendesak, Beliau menangguhkan shalat Maghrib dan menggabungkannya bersama shalat 'Isya'." Berkata Salim: "Dan 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhu mengerjakannya juga bila terdesak (tergesa-gesa) dalam perjalanan." [Al Laits] menambahkan dan berkata: telah menceritakan kepada saya [Yunus] dari [Ibnu Syihab]: [Salim] berkata: Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma menggabungkan antara shalat Maghrib dan 'Isya' saat berada di Muzdalifah. Salim berkata lagi: "Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma mengakhirkan shalat Maghrib karena hendak menolong isterinya Shafiyah binti Abu 'Ubaid (yang sedang sakit). Aku katakan kepadanya: "Mari kita dirikan shalat?!" Dia menjawab: "Terus saja berjalan." Aku katakan lagi: "Mari kita dirikan shalat?!" Dia menjawab: "Terus saja berjalan." Hingga ketika perjalanan sudah mencapai dua atau tiga mil, dia turun lalu mendirikan shalat. Setelah selesai dia berkata: "Beginilah, aku pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat bila dalam keadaan terdesak dalam perjalanannya." Dan berkata 'Abdullah: "Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika perjalanan mendesak, Beliau menangguhkan shalat Maghrib, kemudian Beliau mengerjakan tiga raka'at lalu salam. Kemudian diam sejenak lalu mengerjakan shalat 'Isya' dengan dua raka'at lalu salam. Beliau tidak bertasbih (mengerjakan shalat sunnah) setelah shalat 'Isya' hingga Beliau bangun di penghujung malam".

【204】

Shahih Bukhari 1030: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdul 'Abdullah'laa] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhriy] dari ['Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah] dari [bapaknya] berkata: "Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat diatas hewan tunggangannya ke arah mana saja hewan tunggangannya berjalan."

【205】

Shahih Bukhari 1031: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syaiban] dari [Yahya] dari [Muhammad bin 'Abdurrahman] bahwa [Jabir bin 'Abdullah] telah mengabarkan kepadanya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendirikan shalat sunnah sambil mengendarai hewan tunggangannya dalam keadaan tidak menghadap qiblat.

【206】

Shahih Bukhari 1032: Telah menceritakan kepada kami ['Abdul 'a'laa bin Hammad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] berkata: telah menceritakan kepada kami [Musa bin 'Uqbah] dari [Nafi'] berkata: "Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma pernah mengerjakan shalat diatas hewan tunggangannya dan juga shalat witir dan dia mengabarkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakannya pula."

【207】

Shahih Bukhari 1033: Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdul 'Aziz bin Muslim] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Dinar] berkata: 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhu pernah mengerjakan shalat dalam safarnya diatas hewan tunggangannya ke arah manapun ia menghadap dengan cara memberi isyarat. Dan dia memberitakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah mengerjakan seperti itu.

【208】

Shahih Bukhari 1034: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari ['Uqail] dari [Ibnu Syihab] dari ['Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah] bahwa 'Amir bin Rabi'ah mengabarkannya berkata: "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di atas hewan tunggangannya bertasbih dengan memberi isyarat dengan kepala beliau ke arah mana saja hewan tunggangannya menghadap. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah melakukan seperti ini untuk shalat-shalat wajib." Dan berkata Al Laits telah menceritakan kepada saya [Yunus] dari [Ibnu Syihab] berkata: Telah berkata Salim: 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhuma ketika bepergian pernah shalat malam diatas tunggangannya ke arah mana saja tunggangannya menghadap. berkata Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat sunnah diatas tunggangan Beliau ke arah mana saja menghadap dan juga melaksanakan shalat witir di atasnya. Hanya saja Beliau tidak melaksanakan yang demikian untuk shalat wajib."

【209】

Shahih Bukhari 1035: Telah menceritakan kepada kami [Mu'adz bin Fadhalah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hisyam] dari [Yahya] dari [Muhammad bin 'Abdurrahman bin Tsauban] berkata: telah menceritakan kepada saya [Jabir bin 'Abdullah], bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendirikan shalat diatas hewan tunggangannya menghadap ke Timur. Jika Beliau hendak melaksanakan shalat wajib, maka Beliau turun dan melaksanakannya dengan menghadap qiblat.

【210】

Shahih Bukhari 1036: Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Sa'id] berkata: telah menceritakan kepada kami [Habban] berkata: [Hammam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Anas bin Sirin] berkata: Kami menemui Anas bin Malik radliyallahu 'anhu sekembalinya dia dari negeri Syam di daerah 'Ainu Tamar. Aku melihat dia sedang shalat di atas keledai dan menghadap ke samping yaitu sebelah kiri arah qiblat. Maka aku tanyakan kepadanya: "Aku melihat anda shalat tidak menghadap qiblat?" Maka dia menjawab: "Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan seperti itu pasti aku pun tidak akan mengerjakannya." Dan diriwayatkan oleh [Ibrahim bin Thahman] dari [Hajjaj] dari [Anas bin Sirin] dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

【211】

Shahih Bukhari 1037: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sulaiman] berkata: telah menceritakan kepada saya [Ibnu Wahb] berkata: telah menceritakan kepada saya ['Umar bin Muhammad] bahwa [Hafsh bin 'Ashim] menceritakan kepadanya berkata: Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma mengadakan perjalanan lalu berkata: "Aku pernah menemani Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan aku tidak melihat Beliau melaksanakan shalat sunnah dalam safarnya." Dan Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman: {Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu}. (Ahzab: 21)

【212】

Shahih Bukhari 1038: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari ['Isa bin Hafsh bin 'Ashim] berkata: telah menceritakan kepada saya [Bapakku] bahwasanya dia mendengar Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma berkata: "Aku pernah menemani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika safar (bepergian), selama kepergian itu Beliau tidak lebih melaksanakan shalat kecuali dua raka'at. Begitu juga dengan Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman radliyallahu 'anhum."

【213】

Shahih Bukhari 1039: Telah menceritakan kepada kami [Hafsh bin 'Umar] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari ['Amru bin Murrah] dari [Ibnu Abu Laila] berkata: telah mengabarkan kepada kami seseorang bahwasanya Dia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan shalat dluha. Sedangkan [Ummu Hani'] menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saat hari Penaklukan Makkah, Beliau mandi di rumahnya kemudian shalat delapan raka'at. (Katanya): "Aku belum pernah sekalipun melihat Beliau melaksanakan shalat yang lebih ringan dari pada saat itu, namun Beliau tetap menyempurnakan ruku' dan sujudnya." Berkata Al Laits: telah menceritakan kepada saya Yunus dari Ibnu Syihab berkata: telah menceritakan kepada saya 'Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah bahwa bapaknya mengabarkan kepadanya bahwa dia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah dalam perjalanan (safarnya) di atas punggung hewan tunggangannya ke mana saja arah menghadapnya.

【214】

Shahih Bukhari 1040: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhriy] berkata: telah mengabarkan kepada saya [Salim bin 'Abdullah] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah diatas punggung hewan tunggangannya ke arah manapun ia menghadap dengan cara memberi isyarat dengan kepala Beliau. Dan Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma juga melakukan hal yang demikian itu.

【215】

Shahih Bukhari 1041: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] berkata: Aku mendengar [Az Zuhriy] dari [Salim] dari [bapaknya] berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menggabungkan (menjama') shalat Maghrib dan shalat 'Isya' bila terdesak (tergesa-gesa) dalam perjalanan." Dan berkata Ibrahim bin Thohman dari [Al Husain Al Mu'alim] dari [Yahya bin Abu Katsir] dari ['Ikrimah] dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menggabungkan shalat Dhuhur dan shalat 'Ashar bila sedang dalam perjalanan dan menggabungkan shalat Maghrib dan shalat 'Isya'." Dan dari [Husain] dari [Yahya bin Abu Katsir] dari [Hafsh bin 'Ubaidullah bin Anas] dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menggabungkan shalat Maghrib dan shalat 'Isya' dalam perjalanan." Hadits ini diikuti pula oleh ['Ali bin Al Mubarak] dan [Harb] dari [Yahya] dari [Hafsh] dari [Anas] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjama'.

【216】

Shahih Bukhari 1042: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhriy] berkata: telah mengabarkan kepada saya [Salim] dari 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhu berkata: "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jika perjalanan mendesak, Beliau menangguhkan shalat Maghrib dan menggabungkannya bersama shalat 'Isya'." Berkata Salim: "Dan 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhuma mengerjakannya juga bila terdesak (tergesa-gesa) dalam perjalanan. Beliau hanya melaksanakan shalat Maghrib sebanyak tiga raka'at lalu salam. Kemudian berdiam sejenak lalu melaksanakan shalat 'Isya' sebanyak dua raka'at dan dia tidak menyelingi diantara keduanya dengan shalat sunnah satu raka'at pun dan juga tidak sesudahnya hingga Beliau bangun di penghujung malam (untuk shalat malam).

【217】

Shahih Bukhari 1043: Telah menceritakan kepada kami [Ishaq] telah menceritakan kepada kami ['Abdush Shamad bin 'Abdul Warits] telah menceritakan kepada kami [Harb] telah menceritakan kepada kami [Yahya] berkata: telah menceritakan kepada saya [Hafsh bin 'Ubaidullah bin Anas] bahwa Anas radliyallahu 'anhu menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjama' (menggabungkan) dua shalat ini ketika dalam perjalanan, yaitu shalat Maghrib dan 'Isya'.

【218】

Shahih Bukhari 1044: Telah menceritakan kepada kami [Hassan Al Waasithiy] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Mufadhdhal bin Fadhalah] dari ['Uqail] dari [Ibnu Syihab] dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bila berangkat bepergian sebelum matahari condong, Beliau mengakhirkan pelaksanaan shalat Dhuhur hingga waktu shalat 'Ashar lalu menggabungkan (jama') keduanya. Dan bila berangkat setelah matahari condong, Beliau laksanakan shalat Dhuhur terlebih dahulu kemudian setelah itu berangkat."

【219】

Shahih Bukhari 1045: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Mufadhdhal bin Fadhalah] dari ['Uqail] dari [Ibnu Syihab] dari [Anas bin Malik radliallahu 'anhu] berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bila berangkat bepergian sebelum matahari condong, Beliau mengakhirkan pelaksanaan shalat Dhuhur hingga waktu shalat 'Ashar, lantas beliau singgah lalu menggabungkan (jama') keduanya. Dan bila matahari condong sebelum berangkat, Beliau laksanakan shalat Dhuhur terlebih dahulu kemudian setelah itu berangkat."

【220】

Shahih Bukhari 1046: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] dari [Malik] dari [Hisyam bin 'Urwah] dari [bapaknya] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat di rumahnya ketika Belliau sedang sakit hingga shalat dengan duduk. Saat itu di belakang Beliau ada orang-orang mengikuti shalat dengan berdiri. Maka Beliau memnberi isyarat kepada mereka agar shalat dengan duduk. Setelah selesai Beliau bersabda: "Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti. Maka bila dia ruku', ruku'lah kalian dan bila dia mengangkat (kepala), maka angkatlah (kepala) kalian."

【221】

Shahih Bukhari 1047: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu 'Uyainah] dari [Az Zuhriy] dari [Anas bin Malik radliallahu 'anhu] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terjatuh dari kudanya dan mengalami cedera pada bagian kanan badan Beliau. Saat kami datang menjemput Beliau, tiba-tiba masuk waktu shalat. Maka Beliau melaksanakan shalat dengan duduk, maka kami pun turut shalat dengan duduk. Maka Beliau bersabda: "Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti. Bila ia telah membaca takbir maka bertakbirlah kalian dan bila ia telah ruku', ruku'lah kalian dan bila dia telah bangkit berdiri, bangkitlah kalian dan bila ia berkata: sami'allahu liman hamidah, ucapkanlah oleh kalian: rabbanaa wa lakal hamdu."

【222】

Shahih Bukhari 1048: Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Manshur] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Rauh bin 'Ubadah] telah mengabarkan kepada kami [Husain] dari ['Abdullah bin Buraidah] dari ['Imran bin Hushain radliallahu 'anhu] bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan telah mengabarkan kepada kami [Ishaq] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Abdush Shamad] berkata: Aku mendengar [Bapakku] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al husain] dari [Abu Buraidah] berkata: telah menceritakan kepada saya 'Imran bin Hushain radliyallahu 'anhu yang saat itu sedang menderita sakit wasir berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang seseorang yang melaksanakan shalat dengan duduk. Maka Beliau menjawab: "Jika ia shalat dengan berdiri maka itu lebih utama. Dan siapa yang melaksanakan shalat dengan duduk maka baginya setengah pahala dari orang yang shalat dengan berdiri dan siapa yang shalat dengan tidur (berbaring) maka baginya setengah pahala orang yang shalat dengan duduk."

【223】

Shahih Bukhari 1049: Telah menceritakan kepada kami [Abu Ma'mar] berkata: telah menceritakan kepada kami ["Abdul Warits] berkata: telah menceritakan kepada kami [Husain Al Mu'alim] dari ['Abdullah bin Buraidah] bahwa 'Imran bin Hushain radliyallahu 'anhu adalah seorang yang pernah menderita sakit wasir. Dan suatu kali Abu Ma'mar berkata: dari Hushain yang berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang seseorang yang melaksanakan shalat dengan duduk. Maka Beliau menjawab: "Siapa yang shalat dengan berdiri maka itu lebih utama. Dan siapa yang melaksanakan shalat dengan duduk maka baginya setengah pahala dari orang yang shalat dengan berdiri dan siapa yang shalat dengan tidur (berbaring) maka baginya setengah pahala orang yang shalat dengan duduk." berkata Abu 'Abdullah: "Menurutku yang dimaksud dengan tidur adalah berbaring."

【224】

Shahih Bukhari 1050: Telah menceritakan kepada kami ['Abdan] dari ['Abdullah] dari [Ibrahim bin Thohman] berkata: telah menceritakan kepada saya [Al Husain Al Muktib] dari [Abu Buraidah] dari ['Imrah bin Hushain radliallahu 'anhu] berkata: Suatu kali aku menderita sakit wasir lalu aku tanyakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang cara shalat. Maka Beliau menjawab: "Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak sanggup lakukanlah dengan duduk dan bila tidak sanggup juga lakukanlah dengan berbaring pada salah satu sisi badan."

【225】

Shahih Bukhari 1051: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Hisyam bin 'Urwah] dari [Bapaknya] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha Ummul Mukminin bahwasanya ia mengabarinya bahwa Ia tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sekalipun mendirikan shalat malam dengan duduk hingga beliau beranjak tua. Saat tua itulah Beliau membaca surat dengan duduk, hingga jika Beliau akan ruku' maka Beliau berdiri dan Beliau baca sekitar tiga puluh atau empat puluh ayat kemudian Beliau ruku'.

【226】

Shahih Bukhari 1052: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari ['Abdullah bin Yazid] dan [Abu An-Nadhir] sahaya 'Umar bin 'Ubaidullah dari [Abu Salamah bin 'Abdurrahman] dari 'Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat dengan duduk dan Beliau membaca surat sambil duduk. Bila sedikit tersisa dari bacaannya sekitar tiga puluh atau empat puluh ayat, maka Beliau berdiri dan melanjutkan bacaannya itu dengan berdiri. Kemudian Beliau ruku' lalu sujud', Kemudian Beliau melakukan seperti itu pada raka'at kedua. Bila Beliau telah menyelesaikan shalatnya, Beliau melihat (kepadaku). Bila aku telah bangun maka Beliau mengajak aku berbincang dan bila aku masih tidur, maka Beliau berbaring.

【227】

Shahih Bukhari 1053: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Abu Muslim] dari [Thawus] bahwa dia mendengar Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bila berdiri melaksanakan shalat malam, Beliau memulainya dengan membaca doa (istiftah: "Allahumma lakal hamdu. Anta qayyimus samaawaati wal ardli wa man fiihinna. Wa lakal hamdu lakal mulkus samaawaati wal ardli wa man fiihinna. Wa lakal hamdu anta nuurus samaawaati wal ardli wa man fiihinna. Wa lakal hamdu anta malikus samaawaati wal ardli. Wa lakal hamdu antal haqq wa wa'dukal haqq wa liqaa-uka haqq wa qauluka haqq wal jannatu haqq wan naaru haqq wan nabiyyuuna haqq wa muhammadun shallallhu wa salam haqq was saa'atu haq. Allahumma laka aslamtu wa bika aamantu wa 'alaika tawakkaltu wa ilaika anabtu wa bika khashamtu wa ilaika haakamtu, faghfirlii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wa maa asrartu wa maa a'lantu. Antal muqaddimu wa antal mu'akhiru laa ilaaha illaa anta" aw "laa ilaaha ghoiruka". (Ya Allah bagi-Mu lah segala pujian. Engkaulah Yang Maha Memelihara langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu lah segala pujian, milikMu kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMu segala pujian, Engkau cahaya langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMu segala pujian, Engkaulah raja di langit dan di bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMulah segala puian, Engkaulah Al Haq (Yang Maha Benar), dan janjiMu haq (benar adanya), dan perjumpaan dengaMu adalah benar, firmanMu benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, dan para nabiMu benar, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam benar dan hari qiyamat benar. Ya Allah, kepada-Mu lah aku berserah diri, kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku bertawakal, kepada-Mu lah aku bertaubat (kembali), karena hujah yang Kau berikan kepadaku aku memusuhi siapapun yang menentang (syariat-Mu) dan kepadaMu aku berhukum. Ampunilah aku dari dosa yang lalu maupun yang akan datang, yang aku sembunyikan atau yang aku tampakkan. Engkaulah yang Awal dan yang Akhir dan tidak ada ilah yang berhaq disembah selain Engkau atau tidak ada ilah selainMu) Berkata Sufyan: Dan ditambahkan oleh ['Abdul Karim Abu Umayah]: "Wa laa haula wa laa quwwata illaa billah" (Tidak ada daya dan upaya kecuali Engkau). Berkata Sufyan dari [Sulaiman bin Abu Muslim] dia mendengarnya dari [Thawus] dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

【228】

Shahih Bukhari 1054: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Muhammad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hisyam] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar]. Dan diceritakan juga, telah menceritakan kepada saya [Mahmud] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdur Razaaq] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhriy] dari [Salim] dari Bapaknya radliyallahu 'anhu berkata: Sudah menjadi kebiasaan seseorang pada masa hidup Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bila bermimpi, biasanya dia menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku pun berharap bermimpi hingga aku dapat mengisahkannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Saat itu aku masih remaja. Pada suatu hari di jaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam aku tidur di masjid lalu aku bermimpi ada dua malaikat memegangku lalu membawaku ke dalam neraka, aku melihat neraka yang ternyata adalah lubang besar bagaikan lubang sumur (atau jurang). Neraka itu memiliki dua emperan dan aku melihat di dalamnya ada orang-orang yang sebelumnya aku sudah mengenal mereka. Dengan melihat mereka, membuat aku berkata: "Aku berlindung kepada Allah dari neraka" Dia berkata: "Kemudian kami berjumpa dengan malaikat lain lalu dia berkata kepadaku: "Janganlah kamu takut". Kemudian aku ceritakan mimpiku itu kepada [Hafshah], lalu Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Beliau pun bersabda: "Sungguh 'Abdullah (bin 'Umar) adalah seorang yang beruntung (bahagia) bila dia mendirikan shalat malam." Setelah peristiwa ini 'Abdullah bin 'Umar tidak tidur malam kecuali sedikit.

【229】

Shahih Bukhari 1055: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhriy] berkata: telah mengabarkan kepada saya ['Urwah] bahwa 'Aisyah radliyallahu 'anha mengabarkannya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan shalat sebelas raka'at, satu sujud shalat Beliau lamanya sepanjang bacaan lima puluh ayat dari kalian sebelum Beliau mengangkat kepalanya, dan beliau melakukan ruku' dua raka'at (shalat sunnah) sebelum shalat Subuh kemudian Beliau berbaring pada sebelah kanan badan Beliau hingga datang mu'adzin menyerukan shalat.

【230】

Shahih Bukhari 1056: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Al Aswad] berkata: Aku mendengar [Jundab] berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menderita sakit hingga Beliau tidak mendirikan shalat malam selama satu atau dua malam."

【231】

Shahih Bukhari 1057: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Katsir] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Sufyan] dari [Al Aswad bin Qais] dari Jundab bin 'Abdullah radliyallahu 'anhu berkata: Malaikat Jibril Alaihis salam sekian lama tidak datang menyampaikan wahyu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hingga kemudian ada seorang wanita Quraisy berkata: "Setannya telah meninggalkannya." Maka turunlah surah Adl-Dluha: {Wadl dluhaa wal laili idza sajaa. Maa wadda'aka rabbuka wa maa qalaa} (Demi waktu dluha (matahari sepenggalahan naik) dan demi malam apabila telah sunyi (gelap). Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu). (Adl dluha: 1-3)

【232】

Shahih Bukhari 1058: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Muqatil] telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah] telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhri] dari [Hind binti Al Harits] dari [Ummu Salamah radliallahu 'anha] bahwa Pada suatu malam Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terbangun lalu bersabda: "Subhaanallah (Maha suci Allah), fitnah apakah yang diturunkan pada malam ini? Dan apa yang diturunkan pada dua perbendaharaan/kekayaan (Ramawi dan Parsi)?" Siapa yang membangunkan orang-orang yang ada di kamar-kamar (maksudnya isteri-isterinya)?, karena betapa banyak orang hidup menikmati nikmat-nikmat dari Allah di dunia ini namun akan telanjang nanti di akhirat (tidak mendapatkan kebaikan)."

【233】

Shahih Bukhari 1059: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhriy] berkata: telah mengabarkan kepada saya ['Ali bin Husain] bahwa [Husain bin 'Ali] mengabarkannya bahwa 'Ali bin Abu Tholib radliyallahu 'anhu menceritakan kepadanya bahwa Pada suatu malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membangunkan dia dan Fathimah putri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Mengapa kalian tidak shalat malam?" Maka aku (Ali) menjawab: "Wahai Rasulullah, jiwa-jiwa kami ada di tangan Allah, jika Dia menghendaki membangunkan kami pasti kami akan bangun juga." Maka Beliau berpaling pergi ketika kami mengatakan seperti itu dan Beliau tidak berkata sepatah katapun. Kemudian aku mendengar ketika Beliau pergi sambil memukul pahanya berkata: {Memang manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah}. (Al Kahfi: 54)

【234】

Shahih Bukhari 1060: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Ibnu Syihab] dari ['Urwah] dari ['Aisyah radliallahu 'anha] berkata: "Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggalkan suatu amal padahal Beliau mencintai amal tersebut melainkan karena Beliau khawatir nanti orang-orang akan ikut mengamalkannya sehingga diwajibkan buat mereka. Dan tidaklah Beliau melaksanakan shalat Dluha sekalipun kecuali pasti aku ikut melaksanakannya."

【235】

Shahih Bukhari 1061: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Ibnu Syihab] dari ['Urwah bin Az Zubair] dari 'Aisyah Ummul Mu'minin radliyallahu 'anha berkata: Pada suatu malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat di masjid, maka orang-orang mengikuti shalat Beliau. Pada malam berikutnya Beliau kembali melaksanakan shalat di masjid dan orang-orang yang mengikuti bertambah banyak. Pada malam ketiga atau keempat, orang-orang banyak sudah berkumpul namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar untuk shalat bersama mereka. Ketika pagi harinya, Beliau bersabda: "Sungguh aku mengetahui apa yang kalian lakukan tadi malam dan tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar shalat bersama kalian. Hanya saja aku khawatir nanti diwajibkan atas kalian." Kejadian ini di bulan Ramadlan.

【236】

Shahih Bukhari 1062: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Mis'ar] dari [Ziyad] berkata: aku mendengar Al Mughirah radliyallahu 'anhu berkata: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bangun untuk mendirikan shalat (malam) hingga tampak bengkak pada kaki atau betis, Beliau dimintai keterangan tentangnya. Maka Beliau menjawab: "Apakah memang tidak sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?"

【237】

Shahih Bukhari 1063: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] telah menceritakan kepada kami ['Amru bin Dinar] bahwa ['Amru bin Aus] mengabarkannya bahwa 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash radliyallahu 'anhuma mengabarkannya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata kepadanya: "Shalat yang paling Allah cintai adalah shalatnya Nabi Daud 'alaihis salam dan shaum (puasa) yang paling Allah cintai adalah shaumnya Nabi Daud 'alaihis salam. Nabi Daud 'alaihis salam tidur hingga pertengahan malam lalu shalat pada sepertiganya kemudian tidur kembali pada seperenam akhir malamnya. Dan Nabi Daud 'alaihis salam shaum sehari dan berbuka sehari."

【238】

Shahih Bukhari 1064: Telah menceritakan kepada saya ['Abdan] berkata: telah mengabarkan kepada saya [Bapakku] dari [Syu'bah] dari [Asy'ats]: Aku mendengar [Bapakku] berkata: Aku mendengar [Masruq] berkata: Aku pernah bertanya kepada 'Aisyah radliyallahu 'anha, amal apakah yang paling disukai oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam? 'Aisyah radliyallahu 'anha menjawab: "Amal yang ditekuni secara terus menerus." Aku bertanya lagi: "Kapan Beliau bangun malam?" 'Aisyah radliyallahu 'anha menjawab: "Beliau bangun malam bila mendengar suara kokok ayam." Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Salam] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Abu Al Ahwash] dari [Al 'Asy'ats] berkata: "Jika Beliau mendengar suara kokok ayam Beliau bangun lalu shalat."

【239】

Shahih Bukhari 1065: Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Sa'ad] berkata: [bapakku] menceritakan dari [Abu Salamah] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Tidaklah aku mendapatkan dia di sampingku saat datang waktu sahar (akhir malam menjelang Shubuh) kecuali dia dalam keadaan tidur." Yang dimaksud oleh 'Aisyah adalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

【240】

Shahih Bukhari 1066: Telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Ibrahim] berkata: telah menceritakan kepada [Rauh] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Abu 'Urubah] dari [Qatadah] dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit radliyallahu 'anhu makan sahur bersama. Setelah keduanya selesai makan sahurnya, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bangkit untuk segera melaksanakan shalat, lalu Beliau mendirikan shalat. Kami bertanya kepada Anas radliyallahu 'anhu: "Berapa tenggang waktu antara selesai makan sahur keduanya dengan awal shalatnya?" Anas bin Malik berkata: "Kira-kira selama seorang membaca lima puluh ayat."

【241】

Shahih Bukhari 1067: Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Harb] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Al A'masy] dari [Abu Wa'il] dari 'Abdullah bin Mas'ud radliyallahu 'anhu berkata: "Pada suatu malam aku pernah shalat malam bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Saat shalat itu Beliau terus saja berdiri hingga aku terbetik perasaan yang jelek." Kami tanyakan: "Apa perasaan jelekmu itu?" Dia menjawab: "Aku berkeinginan untuk duduk dan meninggalkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam."

【242】

Shahih Bukhari 1068: Telah menceritakan kepada kami [Hafsh bin 'Umar] berkata: telah menceritakan kepada kami [Khalid bin 'Abdullah] dari [Hushain] dari [Abu Wa'il] dari [Hudzaifah radliallahu 'anhu] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila bangun malam untuk shalat tahajjud, Beliau menggosok dan membersihkan mulut Beliau dengan siwak.

【243】

Shahih Bukhari 1069: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhriy] berkata: telah mengabarkan kepada saya [Salim bin 'Abdullah] bahwa 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhu berkata: Ada seseorang bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana cara shalat malam?" Beliau menjawab: "Dua dua (raka'at) dan jika kamu khawatir masuk waktu Shubuh witirlah dengan satu raka'at."

【244】

Shahih Bukhari 1070: Telah menceritakan kepada kami [Musadad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Syu'bah] berkata: telah menceritakan kepada saya [Abu Jamrah] dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: "Shalat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah tiga belas raka'at, yaitu shalat malamnya."

【245】

Shahih Bukhari 1071: Telah menceritakan kepada kami [Ishaq] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin Musa] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Isra'il] dari [Abu Hushain] dari [Yahya bin Watstsab] dari [Masruq] berkata: Aku bertanya kepada 'Aisyah radliyallahu 'anha tentang shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di waktu malam. Maka dia menjawab: "Tujuh atau sembilan atau sebelas raka'at selain dua raka'at sunnah Fajar."

【246】

Shahih Bukhari 1072: Telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin Musa] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Hanzholah] dari [Al Qasim bin Muhammad] dari ['Aisyah radliallahu 'anha] berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat malamnya sebanyak tiga belas raka'at, termasuk witir dan dua raka'at sunnah Fajar."

【247】

Shahih Bukhari 1073: Telah menceritakan kepada kami ['Abdul 'Aziz bin 'Abdullah] berkata: telah menceritakan kepada saya [Muhammad bin Ja'far] dari [Humaid] bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berbuka (tidak shaum sunnah) selama satu bulan hingga kami menduganya Beliau tidak pernah shaum selama itu, dan bila shaum seakan Beliau terus menerus shaum hingga kami menduganya Beliau tidak pernah berbuka sekalipun dalam bulan itu. Dan jika kamu hendak melihat Beliau pada suatu malam dalam keadaan shalat maka pasti kamu akan melihatnya dan tidak pula dalam posisi tertidur melainkan pasti kalian akan melihatnya pula dalam keadaan tertidur." Hadits ini diikuti pula oleh [Sulaiman] dan [Abu Khalid Al Ahmar] dari [Humaid].

【248】

Shahih Bukhari 1074: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Abu Az Zanad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan dan syaitan mengikatkannya sedemikian rupa sehingga setiap ikatan diletakkan pada tempatnya lalu (dikatakan) kamu akan melewati malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak. Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan. Jika kemudian dia berwudlu' maka lepaslah tali yang lainnya dan bila ia mendirikan shalat lepaslah seluruh tali ikatan dan pada pagi harinya ia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan seperti itu, maka pagi harinya jiwanya merasa tidak segar dan menjadi malas beraktifitas."

【249】

Shahih Bukhari 1075: Telah menceritakan kepada kami [Mu'ammal bin Hisyam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin 'Ulayyah] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Auf] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Raja'] berkata: telah menceritakan kepada kami [Samurah bin Jundab radliallahu 'anhu] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Tentang masalah mimpi. Beliau bersabda: "Adapun ta'wil mimpi seseorang yang memecahkan kepalanya dengan batu adalah dia mengambil Al Qur'an lalu ditinggalkannya kemudian dia tidur sehingga melalaikan shalat wajib."

【250】

Shahih Bukhari 1076: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Al Ahwash] berkata: telah menceritakan kepada kami [Manshur] dari [Abu Wa'il] dari 'Abdullah radliyallahu 'anhu berkata: Diceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang seseorang yang dia terus tertidur sampai pagi hari hingga tidak mengerjakan shalat. Maka Beliau bersabda: "Setan telah mengencingi orang itu pada telinganya."

【251】

Shahih Bukhari 1077: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Ibnu Syihab] dari [Abu Salamah] dan [Abu 'Abdullah Al Aghor] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Rabb Tabaaraka wa Ta'ala kita turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: "Siapa yang berdo'a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni."

【252】

Shahih Bukhari 1078: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Walid] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dan diriwayatkan pula telah menceritakan kepada saya [Sulaiman] berkata: telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Abu Ishaq] dari [Al Aswad] berkata: Aku bertanya kepada 'Aisyah radliyallahu 'anha tentang cara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam. Ia menjawab: "Beliau tidur di awal malam dan bangun untuk shalat di akhir malam dan shalat, lalu beliau kembali ke tempat tidurnya. Bila mu'adzin sudah mengumandangkan adzan, maka Beliau bersegera. Bila saat itu Beliau punya hajat (kepada isterinya), maka Beliau mandi. Bila tidak, maka Beliau hanya berwudlu' lalu keluar untuk shalat."

【253】

Shahih Bukhari 1079: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Sa'id bin Abu Sa'id Al Maqbariy] dari [Abu Salamah bin 'Abdurrahman] bahwasanya dia mengabarkan kepadanya bahwa Dia pernah bertanya kepada 'Aisyah radliyallahu 'anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di bulan Ramadlan. Maka 'Aisyah menjawab: "Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam di bulan Ramadlan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at, Beliau shalat empat raka'at, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka'at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat tiga raka'at." 'Aisyah berkata: Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?" Beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur."

【254】

Shahih Bukhari 1080: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] dari [Hisyam] berkata: [bapakku] telah mengabarkan kepadaku dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Tidak pernah aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surat dalam shalat malam dalam keadaan duduk kecuali ketika Beliau sudah berusia lanjut, ketika usia tua itu Beliau membaca dalam keadaan duduk. Namun bila surat yang dibacanya tinggal tersisa sekitar tiga puluh atau empat puluh ayat, maka Beliau berdiri dan melanjutkan bacaannya itu dengan berdiri. Kemudian Beliau ruku'."

【255】

Shahih Bukhari 1081: Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Nashr] telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] dari [Abu Hayyan] dari [Abu Zur'ah] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Bilal radliyallahu 'anhu ketika shalat Fajar (Shubuh): "Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara sandalmu dalam surga." Bilal berkata: "Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudlu') pada suatu kesempatan malam ataupun siang melainkan aku selalu shalat dengan wudlu' tersebut disamping shalat wajib." Berkata (Abu 'Abdullah): Istilah "Daffa na'laika maksudnya gerakan sandal.

【256】

Shahih Bukhari 1082: Telah menceritakan kepada kami [Abu Ma'mar] telah menceritakan kepada kami ['Abdul Warits] telah menceritakan kepada kami ['Abdul 'Aziz bin Shuhaib] dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: Pada suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masuk (ke masjid), kemudian Beliau mendapati tali yang diikatkan antara dua tiang. Kemudian Beliau berkata: "Apa ini?" Orang-orang menjawab: "Tali ini milik Zainab, bila dia shalat dengan berdiri lalu merasa letih, dia berpegangan tali tersebut." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jangan ia lakukan sedemikian itu. Hendaklah seseorang dari kalian tekun dalam ibadah shalatnya dan apabila dia merasa letih, shalatlah sambil duduk."

【257】

Shahih Bukhari 1083: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Hisyam bin 'Urwah] dari [Bapaknya] dari 'Aisyah radliyallahu 'anhu berkata: Suatu hari seorang wanita dari Bani Asad bersamaku saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangiku. Lalu Beliau bertanya: "Siapa dia?" Aku jawab: "Si anu, orang yang tidak tidur di waktu malam." Lantas diberitakan kepada Beliau tentang shalat wanita tersebut. Kemudian Beliau bersabda: "Celakalah kalian, mengapa kalian memaksakan amalan yang kalian tidak mampu? Sungguh Allah tidak bosan (memberi ganjaran) hingga kalian merasa bosan sendiri (jika terlalu memaksakan diri)."

【258】

Shahih Bukhari 1084: Telah menceritakan kepada kami ['Abbas bin Al Husain] telah menceritakan kepada kami [Mubasysyir bin Isma'il] dari [Al Awza'iy] dan diriwayatkan telah menceritakan kepada saya [Muhammad bin Muqatil Abu Al Hasan] berkata: telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah] telah mengabarkan kepada kami [Al Awza'iy] berkata: telah menceritakan kepada saya [Yahya bin Abu Katsir] berkata: telah menceritakan kepada saya [Abu Salamah bin 'Abdurrahman] berkata: telah menceritakan kepada saya 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash radliyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda kepadaku: "Wahai 'Abdullah, janganlah kamu seperti fulan, yang dia biasa mendirikan shalat malam namun kemudian meninggalkan shalat malam." Dan berkata Hisyam telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abi Al 'Isyrin] telah menceritakan kepada kami [Al Awza'iy] berkata: telah menceritakan kepada saya [Yahya] dari ['Umar bin Al Hakam bin Tsauban] telah menceritakan kepada saya [Abu Salamah] seperti ini juga. Dan diikuti pula oleh ['Amru bin Abu Salamah] dari [Al Awza'iy].

【259】

Shahih Bukhari 1085: Bab telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Amru] dari [Abu Al 'Abbas] berkata: Aku mendengar 'Abdullah bin 'Amru radliyallahu 'anhuma berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku: "Benarkah kabar bahwa kamu selalu mendirikan shalat di malam hari dan shaum pada siang harinya? Aku jawab: "Benar." Beliau bersabda: "Sungguh jika kamu lakukan terus menerus maka nanti matamu letih dan jiwamu lemah. Sungguh untuk dirimu ada haknya, juga keluargamu punya hak, maka shaumlah dan juga berbukalah, bangun untuk shalat malam dan juga tidurlah."

【260】

Shahih Bukhari 1086: Telah menceritakan kepada kami [Shadaqah bun AL Fadhal] telah mengabarkan kepada kami [Al Walid], dia adalah anak dari Muslim telah menceritakan kepada kami [Al Awza'iy] berkata: telah menceritakan kepada saya ['Umair bin Hani'] berkata: telah menceritakan kepada saya [Junadah bin Abu Umayyah] telah menceritakan kepada saya 'Ubadah bin Ash Shamit dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang bangun di malam hari lalu membaca "laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai-in qadiir. Alhamdulillahi wa subhaanallah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billah" (Tidak ada ilah yang berhaq disembah kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya. Dialah yang memiliki kerajaan dan baginNya segala pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah dan Maha Suci Allah dan tidak ada ilah kecuali Allah dan Allah Maha Besar dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Dia) Kemudian dilanjutkan dengan membaca "Allahummaghfirlii" (Ya Allah ampunilah aku) atau berdo'a, maka akan dikabulkan baginya. Jika dia berwudlu' lalu shalat maka shalatnya diterima."

【261】

Shahih Bukhari 1087: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] berkata: telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Yunus] dari [Ibnu Syuihab] telah mengabarkan kepada saya [Al Haitsam bin Abu Sinan] bahwasanya dia mendengar Abu Hurairah radliyallahu 'anhu mengisahkan pengalamannya, dia menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Sesungguhnya saudara kalian ini tidak pernah berkata rafats (kotor)." Yang dimaksud Beliau adalah 'Abdullah bin Rawahah yang penah bersya'ir: "Bersama kita ada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang membacakan Al Qur'an, ketika fajar yang sudah dikenal itu menyingsing, Kita melihat petunjuk setelah sebelumnya kita buta, hati kita meyakini bahwa apa yang disabdakannya adalah benar adanya. Di malam hari Beliau menjauhkan diri dari tempat tidurnya, saat orang-orang musyrik tertidur lelap." Hadits ini dikuatkan oleh ['Uqail] dan berkata Az Zubaidiy telah mengabarkan kepada saya [Az Zuhriy] dari [Sa'id] dan [Al A'raj] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu.

【262】

Shahih Bukhari 1088: Telah menceritakan kepada kami [Abu An-Nu'man] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma berkata: Pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam aku pernah bermimpi, ditanganku ada sehelai kain sutera dan seakan tidaklah aku menginginkan satu tempat di surga kecuali akan segera nampak buatku. Aku juga mengalami mimpi yang lain, aku melihat dua malaikat yang membawaku ke dalam neraka, disana keduanya ditemui oleh malaikat yang lain seraya berkata: "Jangan kamu takut, tolong biarkan orang ini leluasa." Kemudian [Hafshah] menceritakan salah satu mimpiku itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh 'Abdullah menjadi orang yang paling berbahagia jika mau shalat malam." 'Abdullah radliyallahu 'anhu adalah orang yang senantiasa mendirikan shalat malam sementara para sahabat selalu menceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang mimpi-mimpi mereka bahwa pelaksanaan Lailatul Qadar terjadi pada malam ketujuh dari sepuluh malam yang akhir, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh aku melihat bahwa mimpi kalian benar bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam yang akhir. Maka siapa yang mau mencari Lailatul Qadar, carilah pada sepuluh malam yang akhir (dari Ramadlan)."

【263】

Shahih Bukhari 1089: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yazid] telah menceritakan kepada kami [Said] dia adalah anak dari Abu Ayyub berkata: telah menceritakan kepada saya [Ja'far bin Rabi'ah] dari ['Irak bin Malik] dari [Abu Salamah] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa mengerjakan shalat 'Isya' kemudian shalat malam delapan raka'at dan dua raka'at dengan duduk dan dua raka'at antara dua adzan dan tidaklah Beliau pernah meninggalkannya."

【264】

Shahih Bukhari 1090: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yazid] telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Abu Ayyub] berkata: telah menceritakan kepada saya [Abu Al Aswad] dari ['Urwah bin Az Zubair] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bila selesai mendirikan dua raka'at shalat sunnah Fajar, Beliau berbaring dengan bertumpu pada sisi badannya yang sebelah kanan."

【265】

Shahih Bukhari 1091: Telah menceritakan kepada kami [Bisyir bin Al Hakam] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] berkata: telah menceritakan kepada saya [Salim Abu An-Nadhir] dari [Abu Salamah] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika selesai dari shalat malam dan aku sudah terbangun Beliau mengajak aku berbincang-bincang dan jika tidak, Beliau akan berbaring hingga datang seruan untuk shalat (Shubuh).

【266】

Shahih Bukhari 1092: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] berkata: [Abu An-Nadhir] telah menceritakan kepada saya [Abu Salamah] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan shalat dua raka'at. Jika aku sudah terbangun Beliau mengajak aku berbincang-bincang dan jika tidak, Beliau akan berbaring. Aku ('Ali bin 'Abdullah) bertanya kepada Sufyan: "Sebagian orang meriwayatkan bahwa shalat yang dimaksud itu adalah dua raka'at Fajar?" Sufyan berkata: "Ya benar."

【267】

Shahih Bukhari 1093: Telah menceritakan kepada kami [Bayan bin 'Amru] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Juraij] dari ['Atho'] dari ['Ubaid bin 'Umair] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Tidak ada shalat sunnah yang lebih Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tekuni dari pada dua raka'at Fajar."

【268】

Shahih Bukhari 1094: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Hisyam bin 'Urwah] dari [bapaknya] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam tiga belas raka'at kemudian bila sudah mendengar seruan adzan Shubuh Beliau mengerjakan dua raka'at shalat sunnah yang ringan."

【269】

Shahih Bukhari 1095: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] berkata: telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Muhammad bin 'Abdurrahman] dari bibinya ['Amrah] dari 'Aisyah radliyallahu 'anhu berkata: "Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam." -lewat jalur periwayatan lain- Hadits ini diriwayatkan pula oleh [Ahmad bin Yunus] telah menceritakan kepada kami [Zuhair] telah menceritakan kepada kami [Yahya] dia adalah anak dari Sa'id dari [Muhammad bin 'Abdurrahman] dari ['Amrah] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meringankan dua raka'at ini sebelum shalat Shubuh hingga aku bertanya: "Apakah anda membaca Ummul Kitab (Al Fatihah)?"

【270】

Shahih Bukhari 1096: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] berkata: telah menceritakan kepada kami ['Abdurrahman bin Abu Al Mawaliy] dari [Muhammad bin Al Munkadir] dari Jabir bin 'Abdullah radliyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajari kami shalat istikharah dalam setiap urusan yang kami hadapi sebagaimana Beliau mengajarkan kami Al Qur'an, yang Beliau bersabda: "Jika seorang dari kalian menghadapi masalah maka ruku'lah (shalat) dua raka'at yang bukan shalat wajib kemudian berdo'alah: "Allahumma inniy astakhiiruka bi 'ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as-aluka min fadl-likal 'adhim, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta'lamu wa laa a'lamu wa anta 'allaamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta'lamu anna haadzal amra khairul liy fiy diiniy wa ma'aasyiy wa 'aaqibati amriy" atau beliau berkata: "'Aajili amriy wa aajilihi faqdurhu liy wa yassirhu liy tsumma baarik liy fiihi. Wa in kunta ta'lamu anna haadzal amra syarrul liy fiy diiniy wa ma'aasyiy wa 'aaqibati amriy" atau beliau berkata: "fiy 'aajili amriy wa aajilihi fashrifhu 'anniy washrifniy 'anhu waqdurlil khaira haitsu kaana tsumma ardliniy." (Ya Allah aku memohon pilihan kepadaMu dengan ilmuMu dan memohon kemampuan dengan kekuasaanMu dan memohon kepadaMu dengan karuniaMu yang Agung, karena Engkau Maha berkuasa sedang aku tidak berkuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui karena Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini. Atau Beliau bersabda: Di waktu dekat atau di masa nanti maka takdirkanlah buatku dan mudahkanlah kemudian berikanlah berkah padanya. Namun sebaliknya, ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini. Atau Beliau bersabda: Di waktu dekat atau di masa nanti maka jauhkanlah urusan dariku dan jauhkanlah aku darinya dan tetapkanlah buatku urusan yang baik saja dimanapun adanya kemudian paskanlah hatiku dengan ketetapanMu itu). Beliau bersabda: "Dan sebutlah keperluannya."

【271】

Shahih Bukhari 1097: Telah menceritakan kepada kami [Al Makkiy bin Ibrahim] dari ['Abdullah bin Sa'id] dari ['Amir bin 'Abdullah bin Az Zubair] dari ['Amru bin Sulaim Az Zuraqiy] dia mendengar Abu Qatadah bin Rib'iy Al Anshariy radliyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika seorang dari kalian masuk ke dalam masjid maka janganlah dia duduk sebelum shalat dua raka'at."

【272】

Shahih Bukhari 1098: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Tholhah] dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memimpin shalat bersama kami dua raka'at lalu pergi berlalu."

【273】

Shahih Bukhari 1099: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari ['Uqail] dari [Ibnu Syihab] berkata: telah mengabarkan kepada saya [Salim] dari 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhuma berkata: "Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dua raka'at sebelum shalat Dhuhur, dua raka'at sesudah shalat Dhuhur, dua raka'at sesudah shalat Jum'at, dua raka'at sesudah shalat Maghrib dan dua raka'at sesudah shalat 'Isya'."

【274】

Shahih Bukhari 1100: Telah menceritakan kepada kami [Adam] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Syu'bah] telah mengabarkan kepada kami ['Amru bin Dinar] berkata: Aku mendengar Jabir bin 'Abdullah radliyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika Beliau sedang menyampaikan khuthbah: "Jika seorang dari kalian memasuki masjid sedang imam sedang berkhuthbah atau dia telah keluar (kemudian masuk lagi) maka hendaklah dia shalat dua raka'at."

【275】

Shahih Bukhari 1101: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sayf bin Sulaiman] aku mendengar [Mujahid] berkata: Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma ditemui di rumahnya lalu dikatakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk Ka'bah. Dia berkata: "Maka aku susul Beliau namun Beliau sudah keluar dari dalam Ka'bah dan aku hanya mendapatkan Bilal sedang berdiri di depan pintu. Aku tanyakan kepadanya: "Wahai Bilal, apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendirikan shalat dalam Ka'bah?" Bilal menjawab: "Iya." Aku berkata lagi: "Dimana beliau shalat?" Dia menjawab: "Diantara dua tiang, kemudian keluar dan mendirikan shalat dua raka'at di depan Ka'bah." Berkata Abu 'Abdullah: berkata: Abu Hurairah radliyallahu 'anhu: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewasiatkan aku agar melaksanakan shalat Dluha dua raka'at." Dan berkata: 'Utban bin Malik: "Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar radliyallahu 'anhu di waktu pagi hari hingga siang mulai meninggi, lalu Beliau membariskan kami di belakangnya kemudian shalat dua raka'at."

【276】

Shahih Bukhari 1102: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] dari ['Ubaidullah] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma berkata: "Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dua sujud (raka'at) sebelum shalat Dhuhur dan dua raka'at sesudah shalat Dhuhur, dua raka'at sesudah shalat Maghrib, dua raka'at sesudah shalat 'Isya', dan dua raka'at sesudah shalat Jum'at. Adapun untuk Maghrib dan 'Isya' Beliau melaksanakannya di rumah Beliau." Dan telah menceritakan kepadaku saudara perempuanku [Hafshah] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat dua raka'at dengan ringan setelah terbitnya fajar dan ketika itu aku tidak menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam." Dan berkata: [Ibnu Abu Az Zanad] dari [Musa bin 'Uqbah] dari [Nafi']: "Beliau mengerjakan shalat sunnah setelah 'Isya di rumah keluarganya." Hadits ini diperkuat pula oleh [Katsir bin Farqad] dan [Ayyub] dari [Nafi'].

【277】

Shahih Bukhari 1103: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Amru] berkata: Aku mendengar Abu Asy Sya'tsa' Jabir berkata: Aku mendengar Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: "Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam delapan raka'at dengan dijamak dan tujuh raka'at dengan di jamak." Aku tanyakan: "Wahai Abu Asy Sya'tsa', dugaanku Beliau mengakhirkan Dhuhur dan menyegerakan 'Ashar (jama' takhir) dan menyegerakan 'Isya mengakhirkan Maghrib" (jamak takhir). Dia berkata: "Aku juga menduga begitu."

【278】

Shahih Bukhari 1104: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Syu'bah] dari [Taubah] dari [Muwarriq] berkata: Aku bertanya kepada Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma: "Apakah anda melaksanakan shalat Dluha?" Dia menjawab: "Tidak." Aku tanyakan lagi: "Bagaimana dengan 'Umar?" Dia menjawab: "Tidak." "Bagaimana dengan Abu Bakar?" Dia menjawab: "Tidak." "Bagaimana dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam?" Dia menjawab: "Juga tidak, menurut dugaanku."

【279】

Shahih Bukhari 1105: Telah menceritakan kepada kami [Adam] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari ['Amru bin Murrah] Aku mendengar ['Abdurrahman bin Abu Laila] berkata: Tidak ada dari orang yang pernah menceritakan kepada kita bahwa dia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Dluha kecuali [Ummu Hani'] yang dia menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memasuki rumahnya pada saat penaklukan Makkah, kemudian Beliau mandi lalu shalat delapan raka'at seraya menjelaskan: "Aku belum pernah sekalipun melihat Beliau melaksanakan shalat yang lebih ringan dari pada saat itu, namun Beliau tetap menyempurnakan ruku' dan sujudnya."

【280】

Shahih Bukhari 1106: Telah menceritakan kepada kami [Adam] berkata: telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Dza'bi] dari [Az Zuhriy] dari ['Urwah] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Aku belum pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat sunnah Dluha. Adapun aku mengerjakannya."

【281】

Shahih Bukhari 1107: Telah menceritakan kepada kami [Muslim bin Ibrahim] telah mengabarkan kepada kami [Syu'bah] telah menceritakan kepada kami ['Abbas Al Jurairiy] dia adalah anak dari Farrukh dari Abu 'Utsman An Nahdiy dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata: "Kekasihku (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal dunia, yaitu shaum tiga hari pada setiap bulan, shalat Dluha dan tidur dengan shalat witir terlebih dahulu."

【282】

Shahih Bukhari 1108: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin Al Ja'di] telah mengabarkan kepada kami [Syu'bah] dari [Anas bin Sirin] berkata: aku mendengar Anas bin Malik Al Anshariy berkata: Ada seorang laki-laki yang berbadan besar dari Kaum Anshar berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Aku tidak dapat shalat bersama anda." Kemudian ia menyiapkan makanan untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu dia mengundang Beliau ke rumahnya, kemudian Beliau memercikkan air pada sisi tikar lalu Beliau shalat dua raka'at diatasnya." Berkata fulan bin fulan bin Jarud kepada Anas radliyallahu 'anhu: "Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tadi melaksanakan shalat Dluha'?" Anas menjawab: "Aku belum pernah melihat Beliau mengerjakannya kecuali pada hari itu."

【283】

Shahih Bukhari 1109: Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Harb] berkata: telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Nafi'] dari 'Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhu berkata: "Aku menghafal sesuatu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berupa shalat sunnah sepuluh raka'at yaitu: dua raka'at sebelum shalat Dhuhur, dua raka'at sesudahnya, dua raka'at sesudah shalat Maghrib di rumah Beliau, dua raka'at sesudah shalat 'Isya' di rumah Beliau dan dua raka'at sebelum shalat Shubuh, dan pada pelaksanaan shalat ini tidak ada waktu senggang buat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Telah menceritakan kepada saya Hafshah Bahwasanya bila mu'adzin sudah mengumandangkan adzan dan fajar sudah terbit, Beliau shalat dua raka'at."

【284】

Shahih Bukhari 1110: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Syu'bah] dari [Ibrahim bin Muhammad bin Al Muntasyir] dari [bapaknya] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha bahwa "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan shalat sunnah empat raka'at sebelum Dhuhur dan dua raka'at sebelum shalat Shubuh." Hadits ini diriwayatkan pula oleh [Ibnu Abu 'Adiy] dan ['Amru] dari [Syu'bah].

【285】

Shahih Bukhari 1111: Telah menceritakan kepada kami [Abu Ma'mar] telah menceritakan kepada kami ['Abdul Warits] dari Al Husain dari ['Abdullah bin Buraidah] berkata: telah menceritakan kepada saya ['Abdullah Al Muzaniy] dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Shalatlah sebelum shalat Maghrib!" Beliau berkata pada kali ketiganya: "Bagi siapa yang mau." Hal ini Beliau sampaikan karena khawatir nanti orang-orang akan menjadikannya sebagai sunnah.

【286】

Shahih Bukhari 1112: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yazid] -dia adalah Al Muqriy- berkata: telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Abu Ayyub] berkata: telah menceritakan kepada saya [Yazid bin Abu Habib] berkata: Aku mendengar [Martsad bin 'Abdullah Al Yazaniy] berkata: Aku menemui ['Uqbah bin 'Amir Al Juhaniy] lalu aku berkata kepadanya: "Apakah kamu tidak heran terhadap Abu Tamim yang dia shalat dua raka'at sebelum shalat Maghrib? Maka ('Uqbah) menjawab: "Kami dulu juga melakukannya pada masa hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Aku berkata: "Lalu apa yang menghalangimu dari mengerjakannya sekarang?" Dia menjawab: "Kesibukan."

【287】

Shahih Bukhari 1113: Telah menceritakan kepada saya [Ishaq] telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Ibrahim] telah menceritakan kepada kami [bapakku] dari [Ibnu Syihab] berkata: telah mengabarkan kepada saya Mahmud bin Ar Rabi' Al Anshary bahwasanya dia mengingat kejadian bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diantaranya Beliau pernah menyemburkan air dari mulut Beliau kepadanya dari air yang ada di sumur yang berada di rumah mereka. Mahmud mengabarkan bahwa dia mendengar 'Itban bin Malik Al Anshariy radliyallahu 'anhu seorang shahabat yang pernah mengikuti perang Badar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Aku sering memimpin shalat kaumku Bali Salim sedangkan tempat aku dan mereka dipisahkan oleh lembah yang apabila turun hujan akan menghalangi aku mengunjungi masjid mereka. Maka aku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan aku berkata kepada Beliau: "Pandanganku sudah buruk, sementara lembah yang ada antara aku dan kaumku saat turun hujan akan menghalangiku mengunjungi mereka. Maka aku menginginkan anda dapat mengunjungi aku lalu shalat di rumahku yang akan aku jadikan sebagai tempat shalat. Maka berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Akan saya penuhi". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar berangkat ketika siang hari lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meminta izin, maka aku izinkan. Beliau tidaklah duduk hingga Beliau berkata: "Mana tempat yang kau sukai untuk aku shalat di rumahmu?" Maka Beliau aku tunjukkan tempat yang aku sukai untuk aku shalat disana. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri lalu bertakbir. Dan kami pun berdiri membuat shaf di belakang Beliau, lalu Beliau shalat dua raka'at kemudian memberi salam dan kami pun memberi salam ketika Beliau memberi salam. Lalu aku tahan Beliau dengan menyuguhkan makanan dari daging yang kami masak untuk Beliau. Kemudian orang-orang mendengar kehadiran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di rumahku. Lalu ada seorang diantara mereka yang mengabarkan sehingga orang-orang bertambah banyak yang berkumpul di rumahku. Berkata seorang dari mereka: "Apa yang dilakukan aku tidak setuju". Lalu ada seorang dari mereka yang berkata: "Inilah munafiq, yang tidak mencintai Allah dan RasulNya". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Janganlah kamu ucapkan seperti itu. Bukankah kamu tahu dia telah mengucapkan laa ilaaha illallah dengan semata mengharap ridla Allah?" Orang itu berkata: "Allah dan RasulNya yang lebih tahu". Adapun kami, demi Allah 'tidaklah kami melihat kecintaan dan ucapan Beliau ini kecuali untuk orang Munafiqin. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan mengharap ridla Allah". berkata: Mahmud bin Ar Rabi': "Kemudian kisah ini aku ceritakan kepada kaum yang dikampung itu ada Abu Ayyub yang pernah menyertai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam perang yang Beliau lakukan yang ia menjadi wafat karenanya dan Yazid bin Mu'awiyah yang saat itu menjadi pemimpin mereka dibumi Rum. Maka Abu Ayyub mengingkari apa yang aku ceritakan seraya berkata: "Demi Allah, aku tidak percaya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan seperti yang kamu ceritakan". Pernyataan Abu Ayyub ini membuat aku sangat berat menerimanya sehingga aku serahkan diriku kepada Allah Ta'ala agar menyelamatkan aku sampai aku kembali dari perangku ini dengan tujuan agar aku bisa menanyakan hal ini kepada 'Itban bin Malik radliyallahu 'anhu jika aku menjumpainya masih hidup di masjid kaumnya. Maka aku kembali lalu aku bertalbiyah (memulai) hajji dan 'umrah. Setelah itu aku pergi berjalan hingga sampai di kota Madinah. Kemudian aku mendatangi Bani Salim, disana aku jumpai 'Itban dalam kondisi yang sudah sangat tua dan telah buta matanya sedang shalat bersama kaumnya. Setelah selesai salam dari shalatnya aku memberi salam kepadanya lalu aku memberi tahu siapa aku lalu aku bertanya kepadanya tentang kisah yang aku maksud. Maka dia menceritakan kepadaku sebagaimana dia pernah menceritakan kali pertama dulu".

【288】

Shahih Bukhari 1114: Telah menceritakan kepada kami ['Abdul A'laa bin Hammad] telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] dari [Ayyub] dan ['Ubaidullah] dari [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Kerjakanlah di rumah-rumah kalian diantara shalat-shalat yang ada, dan jangan kalian jadikan (rumah-rumah kalian) sebagai kuburan". Hadits ini juga diperkuat oleh ['Abdul Wahhab] dari Ayyub.

【289】

Shahih Bukhari 1115: Telah menceritakan kepada kami [Hafsh bin 'Umar] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] berkata: telah mengabarkan kepada saya ['Abdul Malik bin 'Umair] dari [Qaza'ah] berkata: Aku mendengar Abu Sa'id radliyallahu 'anhu empat kali, berkata: Aku mendengar dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia (Abu Sa'id radliyallahu 'anhu) pernah ikut berperang bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak dua belas kali peperangan. Dan diriwayatkan, telah menceritakan kepada kami ['Ali] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Az Zuhriy] dari [Sa'id] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah ditekankan untuk berziarah kecuali untuk mengunjungi tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan Masjidil Aqsha".

【290】

Shahih Bukhari 1116: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Zaid bin Rabah] dan ['Ubaidillah bin Abu 'Abdullah Al Ghorri] dari Abu 'Abdullah Al Ghorri dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Shalat di masjidku ini nilainya seribu kali lebih baik dibandingkan pada masjid lain kecuali pada Al Masjidil Haram".

【291】

Shahih Bukhari 1117: Telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Ibrahim] dia adalah Ad-Dawraqiy telah menceritakan kepada kami [Ibnu 'Ulayyah] telah mengabarkan kepada kami [Ayyub] dari [Nafi'] bahwa Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma tidak pernah mengerjakan shalat Dluha kecuali pada dua kali kesempatan (hari) yaitu hari ketika dia mengunjungi Makkah saat dia memasuki kota Makkah di waktu Dluha lalu dia melakukan thawaf di Al Bait (Ka'bah) kemudian shalat dua raka'at di belakang Maqam (Ibrahim) dan satunya lagi saat dia mengunjungi masjid Quba', yang dia mendatanginya pada hari Sabtu. Bila dia sudah memasukinya, maka dia enggan untuk keluar darinya hingga dia shalat terlebih dahulu di dalamnya. berkata: Nafi': "Dan Ibnu 'Umar menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengunjungi (masjid Quba') baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki". berkata: Nafi': "Dan Ibnu 'Umar berkata: "Sesungguhnya aku mengerjakan yang demikian seperti aku melihat para sahabatku melakukannya, namun aku tidak melarang seseorangpun untuk mengerjakan shalat pada waktu kapanpun yang dia suka baik di waktu malam maupun siang hari, asalkan tidak bersamaan waktunya saat terbitnya matahari atau saat tenggelam".

【292】

Shahih Bukhari 1118: Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il] telah menceritakan kepada kami ['Abdul 'Aziz bin Muslim] dari ['Abdullah bin Dinar] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengunjungi masjid Quba' pada setiap hari Sabtu, baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki". Dan Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma juga melakukannya seperti itu.

【293】

Shahih Bukhari 1119: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] dari ['Ubaidullah] berkata: telah menceritakan kepada saya [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengunjungi masjid Quba' dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki". Dan [Ibnu Numair] menambahkan, telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah] dari [Nafi']: "Maka Beliau mengerjakan shalat dua raka'at didalamnya".

【294】

Shahih Bukhari 1120: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari ['Abdullah bin Abu Bakar] dari ['Abbad bin Tamim] dari 'Abdullah bin Zaid Al Maaziniy radliyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tempat yang ada diantara rumahku dan mimbarku adalah raudlah (taman) diantara taman-taman surga".

【295】

Shahih Bukhari 1121: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] dari [Yahya] dari ['Ubaidullah bin 'Umar] berkata: telah menceritakan kepada saya [Khubaib bin 'Abdurrahman] dari [Hafsh bin 'Ashim] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Diantara rumahku dan mimbarku adalah raudlah (taman) diantara taman-taman surga dan mimbarku berada pada telagaku (di surga)".

【296】

Shahih Bukhari 1122: Telah menceritakan kepada kami [Abu AL Walid] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari ['Abdul Malik] aku mendengar [Qaza'ah] sahayanya Ziyad berkata: Aku mendengar Abu Sa'id Al Khudriy radliyallahu 'anhu menceritakan empat hal (kalimat) dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang menyebabkan aku ta'ajub dan kaget. Beliau bersabda: "Tidak boleh bepergian bagi wanita selama dua hari kecuali bersama suami atau mahramnya, dan tidak boleh shaum pada hari Raya 'Idul Fithri dan 'Idul Adlha, dan tidak boleh shalat setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit dan setelah 'Ashar hingga terbenam (matahari), dan tidaklah ditekankan untuk berziarah kecuali untuk mengunjungi tiga masjid, Al Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan Masjidil Aqsha".

【297】

Shahih Bukhari 1123: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Makhramah bin Sulaiman] dari [Kuraib] sahaya Ibnu 'Abbas bahwa dia mengabarkan dari 'Abdullah bin 'Abbas radliyallahu 'anhuma bahwa Ia pada suatu malam bermalam di rumah Maimunah Ummul Mu'minin radliyallahu 'anha, dia adalah bibinya, katanya: "Maka aku berbaring di sisi bantal bagian lebar, sementara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan keluarganya pada bagian panjang, lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidur hingga pada tengah malam kurang sedikit atau lewat sedikit, Beliau bangun lalu sambil duduk Beliau mengusap (sisa) tidur pada wajahnya dengan tangannya. Kemudian membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah Ali 'Imran. Kemudian berdiri menuju tempat wudlu' lalu Beliau berwudlu' dengan sebaik-baiknya, kemudian shalat". berkata Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhu, "Maka aku pun bangun dan aku lakukan seperti yang Beliau lakukan. Lalu aku menuju kepadanya dan berdiri di sampingnya. Maka Beliau meletakkan tangan kanannya di kepalaku seraya memegang telingaku hingga menggeserku ke sebelah kanannya. Kemudian Beliau shalat dua raka'at, kemudian dua raka'at, kemudian dua raka'at, kemudian dua raka'at, kemudian witir (ganjil) kemudian berbaring hingga datang kepadanya mu'adzin (mengumandangkan adzan). Maka Beliau shalat dua raka'at dengan ringan lalu keluar untuk menunaikan shalat Shubuh".

【298】

Shahih Bukhari 1124: Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Fudhail] telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Ibrahim] dari ['Alqamah] dari 'Abdullah radliyallahu 'anhu berkata: "Kami pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika Beliau sedang shalat dan Beliau membalas salam kami. Ketika kami kembali dari (negeri) An Najasyi kami memberi salam kembali kepada Beliau namun Beliau tidak membalas salam kami. Kemudian Beliau berkata: "Sesungguhnya dalam shalat ada kesibukan". Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur As Saluliy telah menceritakan kepada kami [Huraim bin Sufyan] dari [Al A'masy] dari [Ibrahim] dari ['Alqamah] dari 'Abdullah radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang seperti ini juga.

【299】

Shahih Bukhari 1125: Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Musa] telah mengabarkan kepada kami ['Isa] dia adalah putra Yunus dari [Isma'il] dari [Al Harits bin Syubail] dari [Abu 'Amru Asy Syaibaniy] berkata: [Zaid bin Arqam] berkata kepadaku: "Sungguh kami pernah berbicara ketika sedang shalat hingga ada seorang diantara kami yang berbicara dengan temannya tentang kebutuhannya sampai kemudian turun firman Allah Ta'ala (dalam surah Al Baqarah) {Peliharalah seluruh shalat kalian dan shalat Al Wustha dan berdirilah (dalam shalat) untuk Allah dengan khusyu'}. (Al Baqarah: 238), Maka kami diperintah untuk diam".

【300】

Shahih Bukhari 1126: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] telah menceritakan kepada kami ['Abdul 'Aziz bin Abu Hazim] dari [bapaknya] dari Sahal bin Sa'ad radliyallahu 'anhu berkata: Suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar rumah untuk menyelesaikan masalah yang terjadi diantara suku Bani 'Amru bin 'Auf bin Al Harits kemudian tiba waktu shalat. Maka Bilal menemui Abu Bakar radliyallahu 'anhuma seraya berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berhalangan, apakah engkau mau memimpin shalat berjama'ah? Dia (Abu Bakar) menjawab: "Boleh, jika kalian menghendaki". Maka Bilal membacakan iqamah shalat dan Abu Bakar maju memimpin shalat. Tak lama kemudian datang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berjalan menerobos tengah-tengan shaf membelah barisan hingga sampai di shaf pertama. Maka orang-orang memberi isyarat dengan bertepuk tangan. Sahal berkata: "Apakah kalian tahu bahwa At Tashfiih berbeda dengan At-Tashfiiq? Saat itu Abu Bakar tidak bereaksi dan tetap meneruskan shalatnya. Ketika suara tepukan semakin banyak, Abu Bakar berbalik dan ternyata dia melihat ada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam barisan. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberi isyarat kepadanya agar dia tetap pada posisinya. Abu Bakar mengangkat kedua tangannya lalu memuji Allah kemudian Abu Bakar mundur, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maju untuk melanjutkan shalat.

【301】

Shahih Bukhari 1127: Telah menceritakan kepada kami ['Amru bin 'Isa] telah menceritakan kepada kami [Abu 'Abdush Shamad 'Abdul 'Aziz bin 'Abdush Shamad] telah menceritakan kepada kami [Hushain bin 'Abdurrahman] dari [Abu Wa'il] dari 'Abdullah bin Mas'ud radliyallahu 'anhu berkata: "Kami pernah membaca At Tahiyat dalam shalat, di dalam doa tersebut kami menyebut nama dan memberi salam kepada beberapa diantara kami. Hal ini kemudian didengar oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hingga akhirnya Beliau bersabda: "Bacalah: Attahiyyaatu lillahi washshalawaatu waththayyibaat. Assalaamu 'alaika ayyuhannabiyyu wa rahmatullohi wa barakaatuh. Assalaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillahish sholihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuuluh." (Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada engkau wahai Nabi dan juga rahmat dan berkahNya. Dan juga semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhaq disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya). Karena apabila kalian melakukan seperti ini, maka berarti kalian telah mengucapkan salam kepada seluruh hamba Allah yang shalih yang ada di langit dan bumi".

【302】

Shahih Bukhari 1128: Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] telah menceritakan kepada kami [Az Zuhriy] dari [Abu Salamah] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya ucapan tasbih buat laki-laki sedangkan bertepuk tangan buat wanita".

【303】

Shahih Bukhari 1129: Telah menceritakan kepada kami [Yahya] telah mengabarkan kepada kami [Waki'] dari [Sufyan] dari [Abu Hazim] dari Sahal bin Sa'ad radliyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya ucapan tasbih buat laki-laki sedangkan bertepuk tangan buat wanita".

【304】

Shahih Bukhari 1130: Telah menceritakan kepada kami [Bisyir bin Muhammad] telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah] berkata: [Yunus] berkata: [Az Zuhriy] telah mengabarkan kepada saya Anas bin Malik Al Anshariy radliyallahu 'anhu bahwa: Ketika Kaum Muslimin sedang melaksanakan shalat Shubuh pada hari Senin yang dipimpin Abu Bakar radliyallahu 'anhu, mereka dikejutkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang menyingkap tabir kamar 'Aisyah radliyallahu 'anha. Dari balik kamar itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memandang mereka saat mereka berada dalam barisan shaf. Beliau tersenyum dan tertawa. Maka Abu Bakar berbalik untuk masuk ke dalam barisan shaf karena menduga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam akan keluar untuk shalat. Kaum Muslimin merasa terganggu dalam shalat mereka karena sangat gembiranya dapat melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ternyata Beliau memberi isyarat dengan tangan Beliau agar mereka melanjutkan shalat. Kemudian Beliau masuk ke kamarnya dengan menutup tabir. Beliau akhirnya wafat pada hari itu.

【305】

Shahih Bukhari 1131: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] telah menceritakan kepada kami [Syaiban] dari [Yahya] dari [Abu Salamah] berkata: telah menceritakan kepada saya [Mu'aiqib] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata tentang seseorang yang mengusapkan tanah ke mukanya ketika sedang sujud. Beliau bersabda: "Jika kamu melakukannya, lakukanlah sekali saja".

【306】

Shahih Bukhari 1132: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Bisyir] telah menceritakan kepada saya [Gholib Al Qaththan] dari [Bakar bin 'Abdullah] dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: "Kami pernah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saat udara sangat panas. Bila ada diantara kami yang tidak kuat meletakkan wajahnya di permukaan tanah, maka dia menghamparkan bajunya lalu sujud diatasnya."

【307】

Shahih Bukhari 1133: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] telah menceritakan kepada kami [Malik] dari [Abu An-Nadhir] dari [Abu Salamah] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: "Aku menjulurkan kakiku pada arah qiblat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika Beliau sedang shalat. Bila Beliau sujud maka aku tarik kakiku dan aku angkat. Dan bila Beliau berdiri, aku kembali menjulurkan kedua kakiku".

【308】

Shahih Bukhari 1134: Telah menceritakan kepada kami [Mahmud] telah mengabarkan kepada kami [Syababah] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Muhammad bin Ziyad] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya Beliau ketika selesai dari mengerjakan shalat berkata: "Sesungguhnya setan menghampiriku lalu menggangguku untuk memutus shalatku tapi Allah memenangkan aku atasnya dan aku berkehendak untuk mengikatnya di salah satu tiang masjid sampai pagi hari sehingga kalian semuanya dapat melihatnya. Namun aku teringat ucapan Sulaiman Alaihis salam yang berdo'a: {Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh seorangpun setelah aku} (Shad: 35). Maka kemudian Allah mengusirnya". Kemudian An Nadlir bin Syumail berkata: fadza'attuhu dengan huruf dzal, artinya: mencekiknya seperti firman Allah Ta'ala (Ath Thur: 13) yang artinya digiring. Yang benar adalah fada'attuhu. Dengan ada tanda taydid pada huruf 'ain dan ta.

【309】

Shahih Bukhari 1135: Telah menceritakan kepada kami [Adam] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] telah menceritakan kepada kami [Al Azraq bin Qais] berkata: "Kami pernah berada di daerah Al Ahwaz ketika kami memerangi kelompok Haruriyyah. Ketika aku berada di tepian sungai ada seseorang yang sedang mengerjakan shalat sementara dia tetap memegang tali kekang tunggangannya. Maka hewan tunggangannya mengganggunya dengan bergerak kesana kemari hingga ia mengikuti kemana gerak hewannya itu". berkata: Syu'bah dia adalah [Abu Barzah Al Aslamiy]: Tiba-tiba seorang dari Khawarij berkata: "Masya Allah, apa yang dilakukan orang ini?" Ketika orang tadi selesai dari shalatnya, dia berkata: "Sungguh aku mendengar percakapan kalian. Sungguh aku sudah pernah ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam enam, tujuh atau hingga delapan kali peperangan dan aku menyaksikan kemudahan-kemudahan yang Beliau ajarkan. Bagiku mengikuti hewan tungganganku itu lebih aku sukai daripada aku memaksa kembali ke padang gembalaan tempat hewan itu biasa berkeliaran, yang nanti pasti lebih menyulitkan aku".

【310】

Shahih Bukhari 1136: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Muqatil] telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah] telah mengabarkan kepada kami [Yunus] dari [Az Zuhriy] dari ['Urwah] berkata: berkata 'Aisyah radliyallahu 'anha: Ketika terjadi gerhana matahari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri melaksanakan shalat, Beliau membaca bacaan yang panjang lalu Beliau ruku' dengan ruku' yang panjang lalu mengangkat kepala lalu memulai membaca surat yang lain, lalu ruku' kembali sampai menyempurnakannya dan kemudian sujud. Kemudian Beliau melakukan seperti itu lagi pada raka'at kedua kemudian setelah selesai Beliau bersabda: "Keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Jika kalian melihat (gerhana) nya, maka dirikanlah shalat hingga menghilang gerhana itu dari kalian. Sungguh aku telah melihat segala sesuatu yang telah dijanjikan bagiku dengannya dari tempatku berdiri ini, sehingga aku ingin mengambil setandan anggur di dalam surga, itu terlihat saat kalian melihatku aku ingin bergerak ke depan. Dan sungguh aku melihat jahannam yang apinya saling membakar satu sama lain saat kalian melihatku aku bergerak mundur dan aku melihat di dalamnya ada 'Amru bin Luhai dan dialah yang pertama-tama merumuskan saibah".

【311】

Shahih Bukhari 1137: Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Harb] telah menceritakan kepada kami [Hammad] dari [Ayyub] dari [Nafi'] dari Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat ludah pada arah qiblat masjid. Spontan Beliau menampakkan kemarahannya kepada jama'ah masjid seraya bersabda: "Sesungguhnya Allah berada dihadapan setiap orang dari kalian (saat shalat). Maka bila sedang shalat janganlah seseorang meludah." atau sabdanya: "janganlah dia membuang dahak." Kemudian Beliau turun lalu menggosok ludah tersebut dengan tangannya. Dan berkata Ibnu 'Umar radliyallahu 'anhuma: "Jika seorang dari kalian meludah, maka meludahlah kearah kirinya".

【312】

Shahih Bukhari 1138: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad] telah menceritakan kepada kami [Ghundar] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] berkata: Aku mendengar [Qatadah] dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika seseorang sedang berdiri shalat, sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Rabnya, maka janganlah dia meludah ke arah depannya dan jangan pula ke arah kanannya tetapi lakukanlah ke arah kirinya dibawah kaki (kirinya)".

【313】

Shahih Bukhari 1139: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Katsir] telah mengabarkan kepada kami [Sufyan] dari [Abu Hazim] dari Sahal bin Sa'ad radliyallahu 'anhu berkata: Orang-orang shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mengikatkan kain mereka di leher-leher karena kainnya kecil. Dan dikatakan kepada Kaum Wanita: "Janganlah kalian mengangkat kepala kalian hingga para laki-laki telah duduk".

【314】

Shahih Bukhari 1140: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Fudhail] dari [Al A'masy] dari [Ibrahim] dari ['Alqamah] dari 'Abdullah radliyallahu 'anhu berkata: "Aku pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika Beliau sedang shalat maka Beliau membalas salamku. Ketika kami kembali (dari negeri An-Najasyi), aku memberi salam kembali kepada Beliau namun Beliau tidak membalas salamku. Kemudian Beliau berkata: "Sesungguhnya dalam shalat terdapat kesibukan".

【315】

Shahih Bukhari 1141: Telah menceritakan kepada kami [Abu Ma'mar] telah menceritakan kepada kami ['Abdul Warits] telah menceritakan kepada kami [Katsir bin Syinzhir] dari ['Atha' bin Abu Rabah] dari Jabir bin 'Abdullah radliyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutusku untuk menyelesaikan keperluan Beliau. Maka aku berangkat kemudian kembali setelah menuntaskan tugasku itu, lalu aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku memberi salam kepada Beliau namun Beliau tidak membalas salamku. Kejadian itu menimbulkan kegusaran dalam hatiku yang hanya Allah sajalah yang lebih mengetahuinya. Kemudian aku berkata dalam hatiku, barangkali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganggap aku terlambat menunaikan tugas dari Beliau. Kemudian aku memberi salam kembali dan lagi-lagi Beliau tidak membalasnya. Timbul lagi kegusaran dalam hatiku yang lebih besar dari yang pertama. Kemudian aku memberi salam lagi, lalu Beliau membalasnya seraya berkata: "Sesungguhnya yang menghalangiku untuk menjawab salammu adalah karena aku sedang melaksanakan shalat". Saat itu Beliau sedang berada diatas hewan tunggangannya yang tidak menghadap ke arah qiblat.

【316】

Shahih Bukhari 1142: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami ['Abdul 'Aziz] dari [Abu Hazim] dari Sahal bin Sa'ad radliyallahu 'anhu berkata: Telah sampai kabar kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa pada suku Bani 'Amru bin 'Auf bin Al Harits di Quba' timbul masalah diantara mereka. Maka Beliau bersama para sahabat Beliau berangkat kesana untuk menyelesaikan masalah. Ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tertahan lama disana sedangkan waktu shalat sudah masuk. Maka Bilal menemui Abu Bakar radliyallahu 'anhuma seraya berkata: "Wahai Abu Bakar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terlambat hadir sedangkan waktu shalat sudah masuk, apakah engkau bersedia memimpin shalat berjama'ah? Dia (Abu Bakar) menjawab: "Ya bersedia, jika kamu menghendaki". Maka Bilal membacakan iqamah shalat dan Abu Bakar maju dan memulai takbir memimpin shalat bersama orang banyak. Tak lama kemudian datang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berjalan di tengah-tengan shaf membelah barisan hingga sampai di shaf. Maka orang-orang memberi isyarat dengan bertepuk tangan. Sahal berkata: "At-Tashfiih sama maksudnya dengan At-Tashfiiq." Dia berkata: Saat itu Abu Bakar tidak bereaksi dalam shalatnya. Ketika suara tepukan semakin nyaring terdengar, Abu Bakar baru berbalik dan ternyata ada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Nabi memberi isyarat kepadanya agar tetap meneruskan shalatnya. Lalu Abu Bakar mengangkat kedua tangannya lalu memuji Allah kemudian dia mundur ke belakang dan berdiri di barisan, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam maju untuk memimpin shalat berjama'ah. Setelah selesai Nabi berbalik menghadap jama'ah lalu bersabda: "Wahai sekalian manusia, mengapa kalian ketika mendapatkan sesuatu dalam shalat, kalian melakukannya dengan bertepuk tangan? Sesungguhnya bertepuk tangan itu adalah isyarat yang dilakukan bagi kaum wanita. Maka siapa yang mendapatkan sesuatu yang keliru dalam shalat hendaklah mengucapkan Subhaanallah". Kemudian Beliau memandang ke arah Abu Bakar radliyallahu 'anhu seraya berkata: "Wahai Abu Bakar, apa yang menghalangimu untuk melanjutkan memimpin shalat berjama'ah bersama orang banyak ketika aku sudah memberi isyarat kepadamu (agar meneruskannya)?" Abu Bakar menjawab: "Tidak patut bagi Ibnu Abu Quhafah memimpin shalat di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam".

【317】

Shahih Bukhari 1143: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nu'man telah menceritakan kepada kami [Hammad] dari [Ayyub] dari [Muhammad] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata: "Dilarang bertolak pinggang dalam shalat". Dan berkata Hisyam dan [Abu Hilal] dari [Ibnu Sirin] dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

【318】

Shahih Bukhari 1144: Telah menceritakan kepada kami ['Amru bin 'Ali] telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Hisyam] telah menceritakan kepada kami [Muhammad] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang seseorang shalat dengan bertolak pinggang".

【319】

Shahih Bukhari 1145: Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Manshur] telah menceritakan kepada kami [Rauh] telah menceritakan kepada kami ['Umar] -dia adalah anak dari Sa'id- berkata: telah mengabarkan kepada saya [Ibnu Abu Mulaikah] dari 'Uqbah bin Al Harits radliyallahu 'anhu berkata: Aku pernah shalat 'Ashar bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah memberi salam, tiba-tiba Beliau berdiri dengan tergesa-gesa dan menemui sebagian isteri-isteri Beliau. Kemudian setelah itu Beliau keluar kembali dan Beliau melihat bahwa orang-orang semua keheranan dengan ketergesaan Beliau. Maka akhirnya Beliau bersabda: "Aku teringat ketika aku shalat tadi tentang sebatang emas yang ada pada kami. Aku tidak suka bila benda itu berada pada kami sampai sore atau bermalam, maka aku perintahkan untuk dibagi-bagikan".

【320】

Shahih Bukhari 1146: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Ja'far] dari [Al A'raj] berkata: berkata Abu Hurairah radliyallahu 'anhu: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan tersebut. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan kembali. Dan bila iqamah dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamah telah selesai dia kembali lagi hingga senantiasa dia mengganggu seseorang seraya berkata: ingatlah sesuatu, yang semestinya harus tidak diingat, hingga orang itu tidak menyadari berapa raka'at yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya". Berkata Abu Salamah bin 'Abdurrahman: "Bila seseorang melakukan hal seperti itu, maka hendaklah dia sujud dua kali dalam posisi duduk". Dan Abu Salamah mendengar keterangan ini dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu.

【321】

Shahih Bukhari 1147: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] telah menceritakan kepada kami ['Utsman bin 'Umar] berkata: telah mengabarkan kepada saya [Ibnu Abu Dza'bi] dari [Sa'id Al Maqburiy] berkata: Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata: "Orang-orang mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak menyampaikan hadits (dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam). Maka aku temui seseorang lalu aku bertanya kepadanya: "Surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam shalat 'Isya' tadi?" Orang itu menjawab: "Aku tak tahu". Aku tanyakan lagi: "Bukankah anda ikut shalat?" Orang itu menjawab: "Ya benar". Maka aku katakan: "Aku tahu Beliau membaca surah ini dan ini".

【322】

Shahih Bukhari 1148: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik bin Anas] dari [Ibnu Syihab] dari ['Abdurrahman Al A'raj] dari 'Abdullah Ibnu Buhainah radliyallahu 'anhu bahwa dia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat dua raka'at diantara shalat Beliau, lalu Beliau berdiri dan tidak duduk, Maka orang-orang ikut berdiri mengikuti Beliau. Ketika Beliau menyelesaikan shalatnya (empat raka'at) sedangkan kami sedang menunggu-nunggu Beliau memberi salam, Beliau bahkan bertakbir sebelum memberi salam kemudian sujud dua kali dalam posisi duduk lalu baru memberi salam".

【323】

Shahih Bukhari 1149: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Yahya bin Sa'id] dari ['Abdurrahman Al A'raj] dari 'Abdullah Ibnu Buhainah radliyallahu 'anhu bahwa dia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri dari dua raka'at shalat Dhuhur dan tidak duduk diantaranya. Setelah Beliau menyelesaikan shalatnya, Beliau sujud dua kali lalu memberi salam setelah itu".

【324】

Shahih Bukhari 1150: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Walid] telah menceritakan kepada kami [Syu.bah] dari [Al Hakam] dari [Ibrahim] dari ['Alqamah] dari 'Abdullah radliyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan shalat Dhuhur lima raka'at. Beliau ditegur: "Apakah ada tambahan raka'at shalat?" Beliau menjawab: "Memangnya apa yang terjadi?" Dia ('Abdullah) berkata: "Anda kerjakan shalat lima raka'at". Maka Beliau sujud dua kali setelah memberi salam".

【325】

Shahih Bukhari 1151: Telah menceritakan kepada kami [Adam] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Sa'ad bin Ibrahim] dari [Abu Salamah] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Dhuhur atau 'Ashar bersama kami, lalu Beliau memberi salam. Kemudian Dzul Yadain berkata kepada Beliau: "Wahai Rasulullah, apakah shalat dikurangi (raka'atnya)?" Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya: "Benarkah yang dikatakannya?" Orang-orang menjawab: "Benar". Maka Beliau menyempurnakan dua raka'at yang tertinggal lalu sujud dua kali". Dan berkata Abu Hurairah: "Begitulah yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam".

【326】

Shahih Bukhari 1152: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik bin Anas] dari Ayyub bin Abu Tamimah As Sakhtiyaniy dari [Muhammad bin Sirin] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, Ketika Rasulullah menyelesaikan shalatnya yang baru dua raka'at, Dzul Yadain berkata kepada Beliau: "Apakah shalat diqashar atau anda lupa, wahai Rasulullah?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Apakah benar yang dikatakan Dzul Yadain?" Orang-orang menjawab: "Benar". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bediri dan mengerjakan shalat dua raka'at yang kurang tadi kemudian memberi salam. Kemudian Beliau bertakbir lalu sujud seperti sujudnya (yang biasa) atau lebih lama lagi kemudian mengangkat kepalanya". Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Harb] telah menceritakan kepada kami [Hammad] dari [Salamah bin 'Alqamah] berkata: "Aku bertanya kepada [Muhammad] tentang dua sujud sahwi apakah ada tasyahudnya?" Dia menjawab: "Tidak ada menurut hadits Abu Hurairah".

【327】

Shahih Bukhari 1153: Telah menceritakan kepada kami [Hafsh bin 'Umar] telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Ibrahim] dari [Muhammad] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shalat bersama kami dalam suatu shalat malam, Berkata Muhammad: Kecenderungan dugaanku adalah shalat 'Ashar, yaitu sebanyak dua raka'at lalu memberi salam. Setelah itu Beliau mendatangi kayu yang tergeletak di masjid, Beliau berbaring dengan meletakkan kedua tangannya pada kayu tersebut. Diantara mereka yang ikut shalat ada Abu Bakar dan 'Umar radliyallahu 'anhuma. Namun keduanya sungkan untuk berbicara dengan Beliau lalu keluar mendahului orang banyak. Sementara orang-orang berkata: "Shalat diringkas (qashar)". Tiba-tiba ada seorang yang dipanggil oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan panggilan Dzul Yadain, dan ia berkata: "Apakah anda lupa atau shalat diqashar?" Beliau berkata: "Aku tidak lupa dan shalat juga tidak diqashar". (Dzul Yadain) berkata: "Benar, sebenarnya anda telah lupa". Maka Beliau shalat dua raka'at kemudian memberi salam. Kemudian Beliau bertakbir lalu sujud seperti sujudnya (yang biasa) atau lebih lama lagi kemudian mengangkat kepalanya lalu bertakbir lagi kemudian meletakkan kepalanya lalu bertakbir kemudian sujud seperti sujudnya atau lebih lama lagi, kemudian mengangkat kepalanya dan takbir.

【328】

Shahih Bukhari 1154: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Laits] dari [Ibnu Syihab] dari [Al A'raj] dari ['Abdullah Ibnu Buhainah Al Asadiy] sekutunya suku 'Abdul Muthalib bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendirikan shalat Dhuhur namun tidak melakukan duduk (tasyahud awal). Setelah Beliau menyempurnakan shalatnya, Beliau sujud dua kali, dan Beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk sebelum memberi salam. Maka orang-orang mengikuti sujud bersama Beliau sebagai ganti yang terlupa dari duduk (tasyahud awal). Hadits ini diperkuat oleh [Ibnu Juraij] dari [Ibnu Syihab] dalam masalah "takbir (dalam sujud sahwi)".

【329】

Shahih Bukhari 1155: Telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Fadlalah telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Abu 'Abdullah Ad Dastawaniy dari [Yahya bin Abu Katsir] dari [Abu Salamah] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan, setan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan tersebut. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan kembali. Dan bila iqamah dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamah telah selesai dia kembali lagi hingga untuk mengganggu hatinya seseorang seraya berkata: ingatlah ini dan itu, yang semestinya tidak diingat sehingga seseorang membayangkannya hingga akhirnya orang itu tidak tahu berapa raka'at shalat yang sudah dia laksanakan. Oleh karena itu bila seorang dari kalian tidak mengetahui berapa raka'at dari shalat yang sudah dikerjakannya, apakah tiga atau empat raka'at maka hendaklah dia melakukan sujud dua kali dalam posisi duduk".

【330】

Shahih Bukhari 1156: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Ibnu Syihab] dari [Abu Salamah bin 'Abdurrahman] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya bila seseorang dari kalian berdiri mengerjakan shalat, setan akan datang menghampirinya (untuk menggodanya) sehingga tidak menyadari berapa raka'at shalat yang sudah dia laksanakan. Oleh karena itu bila seorang dari kalian mengalami peristiwa itu hendaklah dia melakukan sujud dua kali dalam posisi duduk".

【331】

Shahih Bukhari 1157: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sulaiman] berkata: telah menceritakan kepada saya [Ibnu Wahb] berkata: telah mengabarkan kepada saya ['Amru] dari [Bukair] dari [Kuraib] bahwa Ibnu 'Abbas dan Al Mismar bin Makhramah dan 'Abdurrahman bin Azhar radliyallahu 'anhum, ketiganya mengutusnya (Kuraib) untuk menemui 'Aisyah radliyallahu 'anha dengan mengatakan: "Sampaikan salam dari kami semua kepadanya, dan tanyakan tentang dua raka'at setelah shalat 'Ashar dan tanyakan kepadanya bahwa kami mendapat berita bahwa dia mengerjakan shalat tersebut padahal telah sampai berita kepada kami dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Beliau melarang mengerjakannya, bahkan aku bersama 'Umar bin Al Khaththab pernah memukul orang yang mengerjakannya. Kuraib berkata: "Maka aku menemui 'Aisyah radliyallahu 'anha lalu kusampaikan kepadanya semua tujuan aku diutus. Maka (Aisyah) menjawab: "Tanyakan saja kepada Ummu Salamah". Lalu aku menemui mereka yang mengutusku dan aku sampaikan ucapan 'Aisyah radliyallahu 'anha. Lantas mereka memerintahkanku menemui Ummu Salamah dengan memerintahkan hal yang sama seperti ketika mereka mengutusku menemui 'Aisyah radliyallahu 'anha. Maka Ummu Salamah radliyallahu 'anha berkata: "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melarang mengerjakannya namun di kemudian hari aku melihat Beliau mengerjakannya seusai mengerjakan shalat 'Ashar. Setelah itu Beliau menemuiku yang ketika itu bersamaku ada beberapa wanita dari suku Bani Haram dari kalangan Kaum Anshar. Maka aku utus seorang sahaya wanita dan aku berkata kepadanya: "Pergilah menemui Beliau (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) dan sampaikan kepadanya bahwa Ummu Salamah bertanya: Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Aku mendengar anda pernah melarang shalat dua raka'at setelah 'Ashar namun aku juga melihat anda mengerjakannya. Jika Beliau memberi isyarat dengan tangannya maka tunggulah". Maka sahaya tersebut melaksanakannya dan ternyata Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Maka sahaya ini menunggu dari Beliau. Setelah selesai Beliau berkata: "Wahai binti Abu Umayyah, kamu bertanya tentang dua raka'at setelah 'Ashar. Sungguh aku kedatangan rombongan orang dari suku 'Abdul Qais yang menyebabkan aku terhalang dari mengerjakan dua raka'at setelah Dhuhur. Itulah yang aku kerjakan (setelah 'Ashar)".

【332】

Shahih Bukhari 1158: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin 'Abdurrahman] dari [Abu Hazim] dari Sahal bin Sa'ad As Sa'adiy radliyallahu 'anhu: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendapat kabar bahwa telah terjadi masalah diantara suku Bani 'Amru bin 'Auf bin Al Harits. Maka Beliau disertai beberapa orang berangkat kesana untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tertahan lama disana hingga waktu shalat sudah masuk. Maka Bilal menemui Abu Bakar radliyallahu 'anhuma seraya berkata: "Wahai Abu Bakar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terlambat hadir sedangkan waktu shalat sudah masuk, apakah engkau bersedia memimpin shalat berjama'ah? Dia (Abu Bakar) menjawab: "Boleh, jika kamu menghendaki". Maka Bilal membacakan iqamah lalu Abu Bakar maju dan memulai takbir memimpin shalat bersama orang banyak. Tak lama kemudian datang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menerobos tengah-tengan shaf hingga sampai di shaf (depan). Maka orang-orang memberi isyarat dengan bertepuk tangan namun Abu Bakar tidak bereaksi dalam shalatnya. Ketika orang-orang (yang memberi tepukan) semakin banyak, Abu Bakar menoleh dan ternyata ada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberi isyarat memerintahkan kepadanya agar tetap meneruskan shalatnya. Abu Bakar mengangkat kedua tangannya lalu memuji Allah dan mundur, lantas berdiri di barisan lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam maju untuk memimpin shalat berjama'ah. Setelah selesai Beliau berbalik menghadap jama'ah lalu bersabda: "Wahai sekalian manusia mengapa kalian ketika mendapatkan sesuatu dalam shalat, kalian melakukannya dengan bertepuk tangan? Sesungguhnya bertepuk tangan itu adalah isyarat yang hanya dilakukan bagi kaum wanita. Maka siapa yang mendapatkan sesuatu yang keliru dalam shalat hendaklah mengucapkan subhaanallah, karena tidaklah seseorang mendengar ketika ada yang berucap subhaanallah kecuali dia harus memperhatikannya. Dan kamu wahai Abu Bakar, apa yang menghalangimu untuk melanjutkan memimpin shalat berjama'ah bersama orang banyak ketika aku sudah memberi isyarat kepadamu (agar meneruskannya)?" Abu Bakar menjawab: "Tidak patut bagi Ibnu Abu Quhafah memimpin shalat di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam".

【333】

Shahih Bukhari 1159: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sulaiman] berkata: telah menceritakan kepada saya [Ibnu Wahb] telah menceritakan kepada kami Ats Tsauriy dari [Hisyam] dari [Fathimah] dari [Asma'] berkata: Aku menemui Aisyah radliyallahu 'anha sedangkan saat itu dia sedang berdiri shalat begitu juga orang-orang sedang mengerjakan shalat. Lalu aku bertanya: "Apa yang sedang terjadi?" Maka dia memberi isyarat ke atas dengan kepalanya. Lalu aku berkata: "Benarkah tanda itu (gerhana)?" Maka dia menjawab dengan (menganggukkan) kepalanya tanda mengiyakan".

【334】

Shahih Bukhari 1160: Telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Abu Uwais] berkata: telah menceritakan kepada saya [Malik] dari [Hisyam] dari [bapaknya] dari 'Aisyah radliyallahu 'anha, isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat di rumahnya. Ketika itu Beliau sedang sakit hingga shalat dengan duduk, dan orang-orang mengikuti shalat di belakang Beliau dengan berdiri. Maka Beliau memberi isyarat kepada mereka agar shalat dengan duduk. Setelah selesai Beliau bersabda: "Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti. Maka bila dia ruku', ruku'lah kalian dan bila dia mengangkat (kepala), agkatlah (kepala) kalian".