2. Shalat

【1】

Shahih Ibnu Khuzaimah 301: Muhammad bin Basyar Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami dan Ibnu Abu Adi dari Said bin Abu Arubah dari qatadah dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah seorang laki-laki dari kaumnya. Sesungguhnya Nabiyullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Ketika aku berada di sisi Baitullah, pada kondisi antara tertidur dan tidak, tiba-tiba aku mendengar seseorang berkata, 'Ambil satu di antara tiga pilihan!' lalu aku mengambil baskom yang terbuat dari emas yang di dalamnya terdapat air zam-zam." beliau lalu bersabda, "Kemudian dadaku diberi banyak hidayah (dibelah) sampai demikian dan demikian."417 Qatadah berkata: Aku bertanya, “Apa maksud dari hal tersebut?” Ia menjawab, “—Ukuran pembelahan— hingga ke bawah perut beliau”, —seperti dalam sabda Nabi SAW—, “Kemudian hatiku dikeluarkan dan dicuci dengan air zam-zam, kemudian dikembalikan lagi pada tempatnya semula lalu diisi dengan iman dan hikmah. Kemudian Aku didatangi oleh seekor binatang melata berwarna putih. Binatang tersebut dijuluki dengan Buraq, yang besarnya melebihi keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Buraq melangkah (44-ba’) dengan ujung jarinya lalu aku dibawa oleh buraq tersebut. Kemudian aku berangkat sampai tiba dilangit dunia, lalu Jibril mengetuk meminta untuk dibukakan —pintu—. Ditanyakan kepadanya, “Siapa ini? ” Ia menjawab, “Jibril. ” Ditanyakan, “Siapa orang yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.” Ditanyakan, “Apakah ia diutus?” Ia menjawab, “Ya!” Kemudian pintu dibuka untuk kami. Dikatakan, “Selamat datang padanya dan sebaik-baiknya orang yang datang.” Kemudian aku mendatangi Nabi Adam. Aku bertanya, “Wahai Jibril siapa ini?” Jibril menjawab, “Ini adalah ayahmu; Adam AS.” Kemudian aku mengucapkan salam kepadanya. Adam berkata. "Selamat datang anak yang shalih dan Nabi yang shaleh." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kemudian kami berangkat sampai kami tiba pada langit kedua. Jibril mengetuk meminta untuk dibukakan —pintu—. Lalu ditanyakan. “Siapa ini?" Ia menjawab, "Jibril." Ditanyakan "Siapa orang yang bersamamu?" Ia menjawab, “Muhammad." Ditanyakan " Apakah ia sungguh telah diutus?" Ia menjawab, "Ya!" Lalu —pintu— dibukakan untuk kami. Dikatakan, "Selamat datang dan sebaik-baiknya orang yang telah datang." Lalu aku mendatangi nabi Yahya dan Isa AS. Aku bertanya, "Wahai Jibril Siapakah kedua orang ini?" Jibril menjawab, "Nabi Yahya dan Isa AS." Said berkata, “Aku mengira bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda di dalam haditsnya, 'Dua anak lak-laki bibiku lalu aku mengucapkan salam kepada mereka. Kemudian keduanya berkata, ‘ Selamat datang saudaraku yang shaleh dan nabi yang shaleh’ Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kemudian kami berangkat sampai kami tiba pada langit ketiga. Jibril minta dibukakan (pintu). Ditanyakan, “Siapa ini?" Dijawab, "Jibril." Ditanyakan, "Siapa orang yang bersamamu?" Dijawab, “Muhammad." Ditanyakan, “Beliau sungguh telah diutus?" Dijawab, "Ya!" Dikatakan, “Kemudian dibukakan pintu untuk kami, lalu dikatakan, '‘Selamat datang dan sebaik-baiknya orang yang datang telah tiba.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku mendatangi nabi Yusuf, kemudian mengucapkan salam kepadanya. Nabi Yusuf berkata, "Selamat datang nabi dan saudaraku yang shaleh, kemudian kami berangkat menuju langit keempat." Maka adalah seperti pembicaraan malaikat Jibril dan pembicaraan mereka yang lalu. Lalu aku mendatangi nabi Idris, kemudian aku mengucapkan salam kepadanya. Nabi Idris berkata, Selamat datang saudaraku dan nabi yang shalih. Kemudian kami tiba di langit kelima, lalu aku mendatangi Nabi Harun AS, kemudian aku mengucapkan salam kepadanya. Lalu ia berkata, “Selamat datang saudaraku dan nabi yang shalih." Kemudian kami berangkat menuju langit keenam, lalu aku mendatangi Nabi Musa AS kemudian aku mengucapkan salam kepadanya. Lalu ia berkata, “Selamat datang saudaraku dan Nabi yang shalih." Ketika aku meninggalkannya, maka ia menangis. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “ Kemudian aku kembali menuju sidratul Muntaha” lalu Nabiyullah bercerita bahwa beliau melihat bahwa tanaman yang ada di sana seperti Qilal Hajar dan daunnya seperti telinga gajah. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bercerita bahwa beliau melihat empat sungai yang keluar dari sumbernya berupa dua sungai yang tampak jelas dan jernih, serta dua sungai yang abstrak. —Setelah itu beliau melanjutkan ceritanya,— Lalu aku (Nabiyullah) bertanya, “Wahai Jibril sungai-sungai apakah itu?” Jibril menjawab, “Adapun dua sungai yang abstrak adalah dua sungai yang ada di surga. Sementara dua sungai yang nyata adalah sungai nil dan eufirat.” Kemudian kami diperlihatkan Baitul Makmur. Aku bertanya, “Wahai Jibril! apa ini?” Jibril berkata, “Ini adalah Baitul Makmur yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat. Apabila mereka telah keluar dari baitul Makmur maka mereka tidak pernah akan kembali lagi” Kemudian aku diberi dua wadah, satu wadah berisi minuman keras dan satu wadah yang lainnya berisi susu, yang diperlihatkan kepadaku kemudian aku memilih susu. Dikatakan, “Engkau benar, Allah telah memilihkan umatmu berada dalam fitrah.” Lalu shalat lima puluh waktu diwajibkan kepadaku untuk dilakukan setiap hari, kemudian aku menerimanya hingga aku bertemu dengan nabi Musa AS. Lalu ia berkata, “Apa yang diperintahkan kepadamu?” (45-alif) Aku menjawab, “Shalat lima puluh rakaat dalam satu hari.” Nabi Musa menjawab, “Sesungguhnya umatmu tidak akan kuat. Sesungguhnya aku telah mencoba kaum Bani Israel sebelummu, dan aku telah mengurus bani Israel —agar melaksanakan— dengan sering tapi tidak bisa. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringananan kepada umatmu, lalu aku kembali, kemudian Allah SWT memberikan keringanan lima rakaat kepadaku. Aku masih pergi berulang kali di antara Tuhanku dan Nabi Musa yang menghentikanku. Nabi Musa berkata seperti ucapan yang lalu, hingga aku kembali membawa lima shalat setiap hari. Nabi Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu. Sungguh aku telah menguji orang-orang sebelummu dan aku telah mengurus kaum bani Israel —agar melaksanakannya— dengan serius tapi tidak bisa. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan untuk umatmu” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku telah pergi berulang kali kepada Tuhanku, hingga aku malu, tetapi aku ridha dan menerima. Lalu aku dipanggil, sesungguhnya aku telah diperbolehkan atau aku telah melakukan kewajibanku dan telah diringankan untuk hamba-hambaku dan dijadikan bagi setiap satu kebaikan, sepuluh kali lipat balasannya.” Shahih Ibnu Khuzaimah 302: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Afan bin Muslim mengabarkan kepada kami, Hamam bin Yahya Al Audzi mengabarkan kepada kami, kemudian Al Mahmali, ia berkata, “Aku mendengar Qatadah membacakan hadits dari Anas bin Malik sesungguhnya Malik bin Sha’sha’ah pernah membacakan hadits kepadanya, ‘Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menceritakan kepada mereka tentang suatu malam, di mana nabi di-isra mi’rajkan’.”418 Lalu ia mengemukakan hadits panjang lebar. Qatadah berkata, ‘Aku berkata kepada Al Jarud dan ia berada di sisiku. Apa yang ia maksud dengan hal itu?’ Ia menjawab, “Dari antara dua tulang selangkangan hingga ke bagian bawah perut.” Aku pernah mendengarnya bersabda, “Dari dada bagian atas sampai bagian bawah perut.” Muhammad bin Yahya menyebutkan hadits secara panjang lebar. Abu Bakar berkata, “Lafadz ini menunjukkan bahwa ucapan Qatadah berada pada hadits Said, kemudian aku katakan kepadanya bahwa hal tersebut tidak akan didapati, lalu kukatakan kepada Anas, ‘Sesungguhnya yang dimaksud adalah: Aku katakan kepada Al Jarud’.” Shahih Ibnu Khuzaimah 303: Abdul Jabar bin Al Ala' Al Aththar mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, ia berkata, Aku mendengar Az-Zuhri berkata, Urwah bin Az-Zubair menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Aisyah berkata, “Sesungguhnya —bilangan— shalat pertama kali diwajibkan adalah dua rakaat, kemudian dikukuhkan sebagai shalat dalam bepergian, sementara shalat orang-orang yang mukim disempurnakan. Aku katakan kepada Urwah, “Apa yang sempurna?” Lalu ia berkata, “Sesungguhnya shalat ditakwilkan sebagaimana mentakwiIkannya.”419 Said bin Abdurrahman Al Makhzumi mengabarkan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dengan redaksi hadits yang sama. Hanya saja ia berkata pada semuanya dengan ungkapan, “An”. Shahih Ibnu Khuzaimah 304: Bisyr bin Muadz Al Aqadi mengabarkan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami dari Bukair bin Akhnas dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Allah SWT mewajibkan ibadah shalat melalui lisan nabi kalian, dalam masalah shalat saat tidak bepergian empat rakaat dan saat bepergian dua rakaat serta saat ketakutan satu rakaat.420 Shahih Ibnu Khuzaimah 305: Ahmad bin Nashr Al Muqri dan Abdullah bin Ash-Shabah Al Aththar Al Bashri mengabarkan kepada kami, Ahmad berkata, Seseorang telah mengabarkan kepada kami bahwa Abdullah berkata, Mahbub bin Al Hatan menceritakan hadits kepada kami, Daud menceritakan kepada kami maksudnya Ibnu Abu Hindun— dari Asy-Sya’bi, dari Masruq dari Aisyah, ia berkata, “Shalat saat safar dan shalat saat tidak safar diwajibkan dua rakaat- dua rakaat. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menetap di kota Madinah, shalat saat tidak bepergian ditambah dua rakaat-dua rakaat. Dan, shalat shubuh dibiarkan dengan bacaan panjang serta shalat maghrib, karena ia merupakan shalat witir dari waktu siang” 412Abu Bakar berkata, “ini adalah hadits gharlb di mana tidak ada seorang pun yang aku ketahui sebagai sanad-nya selain Mahbub bin Al Hasan,” Diriwayatkan oleh pengikut Abu Daud. Mereka berkata, Dari Asy-Sya’bi dari Aisyah, kecuali Mahbub bin Al Hasan. Shahih Ibnu Khuzaimah 306: Ali bin Hujr mengabarkan kepada kami, Ismail mengabarkan kepada kami, —maksudnya adalah Ibnu Ja’far— Abu Suhail mengabarkan kepada kami -—ia adalah paman dari Malik bin Anas— dari ayahnya dari Thalhah bin Ubaidillah; Sesungguhnya seorang Arabi yang rambut kepalanya beruban datang kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah beritahukanlah kepadaku shalat apa yang diwajibkan kepadaku?” Beliau menjawab, “Shalat lima waktu, kecuali kamu melaksanakan sedikit shalat sunnah.” Ia berkata, “Beritahukanlah, zakat apa yang diwajibkan oleh Allah kepadaku? Ia (perawi) berkata, “Lalu Rasulullah memberitahukan syariat Islam.” Orang A'rabi berkata, “Demi Dzat yang memuliakanmu, aku tidak akan melaksanakan ibadah sunah sama sekali dan aku tidak akan mengurangi apa yang telah diwajibkan oleh Allah SWT kepadaku.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Beruntunglah ia, demi bapaknya, jika ia benar, —atau ia akan masuk surga, demi bapaknya, jika ia benar—422 Shahih Ibnu Khuzaimah 307: Muhammad bin Basyar Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, Abu Amir menceritakan kepada kami, Qurrah menceritakan kepada kami, seluruhnya dari Abu Jumrah Adh Dhabbai —ia adalah Nashr bin Imran— ia berkata, “Aku katakan kepada Ibnu Abbas, ‘ Sesungguhnya bejana besar milikku yang mewah aku jadikan sebagai tempat minum. Aku minum dari tempat tersebut. Ketika aku duduk berlama-lama dengan suatu kaum aku takut (1:46) hal tersebut terungkap karena itu adalah alat meracik sesuatu yang memabukkan dan juga karena keelokannya “ la berkata, “Delegasi Abdul Qais datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu beliau bersabda, Selamat datang delegasi tidak akan bersedih dan menyesal”. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah! sesungguhnya di antara kami dan engkau terdapat orang-orang musyrik dari bani Mudhar dan sesungguhnya kami tidak berhubungan kepadamu kecuali di bulan- bulan haram. Kemudian nabi mengungkapkan kepada kami sejumlah perintah yang apabila kami ambil, maka kami pasti mengamalkannya atau apabila salah seorang di antara kami mengamalkannya, maka ia pasti masuk surga dan kami mengajak orang-orang di belakang kami (yang tidak ikut bersama kami menemui Nabi dan generasi setelahku). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku memerintahkan kalian dengan empat hal dan melarang kalian dari empat hal. Beriman kepada Allah, apakah kalian mengetahui apa yang dimaksud dengan beriman kepada Allah?" Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui ” Beliau bersabda, “Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa di bulan ramadhan, serta memberikan seperlima harta ghanimah (rampasan perang) dan aku melarang kalian membuat minuman dengan cara mencampur dalam duba, naqir, hantam dan muzaffat (karena dapat memabukkan)”. Shahih Ibnu Khuzaimah 308: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Rauh bin Ubadah dari Hanzhalah mengabarkan kepada kami, ia berkata aku mendengar Ikrimah bin Khalid bin Al Ash menceritakan kepada Thawus; Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Abdullah bin Umar, ‘Tidakkah engkau ikut perang?” Abdullah bin Umar berkata, “Aku mendengar Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘ Agama Islam dibangun di atas lima perkara; Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah SWT, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan ramadhan dan melaksanakan ibadah haji’.”424 Shahih Ibnu Khuzaimah 309: Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi mengabarkan kepada kami, Abu Nadhar mengabarkan kepada kami, Ashim mengabarkan kepada kami, ia adalah Ibnu Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar bin Al Khattab dari ayahnya dari Ibnu Umar, Dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Islam dibangun atas lima perkara; Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji, dan puasa di bulan ramadhan.”425 Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Yunus mengabarkan kepada kami, Waqid bin Muhammad bin Zaid dari ayahnya dari Ibnu Umar mengabarkan kepadaku ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda... dengan hadits sejenis.” Abu Bakar berkata, “Aku meriwayatkan sanad-sanad hadits ini dalam bab: Iman.” Shahih Ibnu Khuzaimah 310: Isa bin Ibrahim Al Ghafiqi Al Mihsri mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Wahab mengabarkan kepada kami, dari Makhramah, dari ayahnya dari Amir bin Saad bin Abu Waqas, ia berkata: Aku mendengar Saad dan para sahabat Nabi berkata, “Adalah dua orang bersaudara hidup di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Salah satunya lebih mulia dari pada yang lain, kemudian seorang yang lebih mulia meninggal dunia, lalu saudaranya hanya diberi usia empat puluh hari setelahnya, lalu ia juga meninggal dunia (46-ba'), lalu disebutkan kemuliaan orang yang pertama atas saudaranya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apakah ia tidak pernah melaksanakan shalat’, mereka berkata, “Benar wahai Rasulullah! Dan ia tidak mengalami apa-apa. Dengan keislamannya” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian tahu apa yang dicapai oleh seseorang karena shalatnya? Sesungguhnya perumpamaan shalat seperti sungai yang mengalir di depan pintu rumah , ia meluap dan tawar. Ia setiap hari menceburkan diri sebanyak lima kali sehari, apakah hal ini akan menyisakan kotoran sedikitpun d i badannya! dan kalian tidak akan tahu apa yang dapat di capai shalat seseorang”.426 Shahih Ibnu Khuzaimah 311: Muhammad bin Abdullah bin Maimun di Alexandria mengabarkan kepada kami, Al Walid mengabarkan kepada kami —ia adalah Ibnu Muslim— dari Al Auza'i ia berkata, “Abu Ammar menceritakan kepadaku —ia adalah Syidad bin Abdullah— Abu Umamah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Seorang laki- laki datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam aku terkena hukum hudud, maka tegakkanlah —hukum hudud tersebut— padaku’, lalu Nabi berpaling darinya. Kemudian ibadah shalat didirikan, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan ibadah shalat tersebut. Ketika Rasulullah mengucapkan salam, laki-laki tersebut berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku terkena hukum hudud, maka tegakkanlah padaku.” Rasulullah bertanya, “Apakah engkau telah berwudhu saat menghadap?” Ia berkata, “ya!” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah sesungguhnya Allah telah memaafkanmu.”427 Shahih Ibnu Khuzaimah 312: Muhammad bin Abdul Ala Ash-Shan’ani dan Ishaq bin Ibrahim bin Habib bin Asy-Syahid, keduanya berkata, Al Mu’tamir menceritakan kepada kami, dari ayahnya, Abu Utsman mengabarkan kepada kami dari Ibnu Mas’ud: Sesungguhnya seorang laki-laki datang menemui Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, ia menyebutkan kepada beliau bahwa ia telah berbuat maksiat kepada seorang wanita, baik mencium —atau menyentuh dengan tangannya— atau sesuatu yang lain. —dari pertanyaan tersebut— seakan-akan ia bertanya tentang kafaratnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Allah SWT menurunkan ayat, ‘Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat’.” (Qs. Huud [11]: 114) laki-laki tersebut berkata, 'Apakah —khithab— hal ini untukku?' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ayat ini untuk siapa saja dari umatku yang mengerjakannya’. ”428 Dan Asb-Shan’ani menceritakan hadits kepada kami, Yazid bin Al Auza’i menceritakan kepada kami (47-alif) Sulaiman menceritakan kepada kami —ia adalah Al- Tamimi— dengan sanad yang sama dengannya, ia berkata, “Seorang laki-laki melakukan maksiat pada seorang wanita dengan mencium, la tidak mengadukan dan tidak berbicara apa-apa, seakan-akan ia bertanya tentang kafaratnya.” Shahih Ibnu Khuzaimah 313: Ya'kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Waqi mengabarkan kepada kami Israil mengabarkan kepada kami dari Simak bin Harb dari Ibrahim dari Alqamah dan Al Aswad dari Abdullah, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah! sesungguhnya aku telah bertemu dengan seorang wanita di kebun, lalu aku memeluknya dan menyentuh kulitnya, mencium dan melakukan apa saja, hanya saja aku tidak melakukan hubungan intim dengannya. Nabi terdiam, kemudian turunlah ayat ini. “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-oramg yang ingat.” Nabi lalu memanggilnya dan membacakan ayat di atas kepadanya. Umar berkata, “Wahai rasulullah apakah ayat tersebut khusus atau bagi manusia keseluruhan?” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, melainkan untuk seluruh manusia”429 Shahih Ibnu Khuzaimah 314: Ali bin Hujr As-Sa’di mengabarkan kepada kami, Ismail bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Al Ala' bin Abdur-rahman bin Ya’kub mengabarkan kepada kami dari ayahnya dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Shalat lima waktu dan shalat jum’at hingga shalat Jum’at lainnya merupakan kafarat —dosa-dosa— di antara keduanya, selagi dosa- dosa besar tidak dilakukan.”430 Shahih Ibnu Khuzaimah 315: Yunus bin Abdul A'la Ash-Shadafi, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, Amr bin Al Harits mengabarkan kepadaku, sesungguhnya Ibnu Abu Hilal menceritakan kepadanya, sesungguhnya Nu'aim bin Al Mujmir menceritakan kepadanya, sesungguhnya Shuhaib; hamba sahaya kabilah Al Utwariyin, menceritakan kepadanya, sesungguhnya ia mendengar Abu Hurairah dan Abu Said Al Khudri mengabarkan hadits, Dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau pernah duduk di atas mimbar lalu bersabda, "Demi Allah, Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya”, dikatakan sebanyak tiga kali, kemudian beliau terdiam lalu masing kaum laki-laki dari kami terdiam menangis sedih atas sumpah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda, "Tidak ada seorang hamba yang melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan ramadhan, menjauhi dosa besar yang berjumlah tujuh kecuali dibukakan pintu surga kepadanya di hari kiamat hingga mereka berdesak-desakan”, lalu beliau membacakan firman Allah SWT, “Apabila kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang, maka kami akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian ”431 Shahih Ibnu Khuzaimah 316: Abu Amar Al Husain bin Huraits mengabarkan kepada kami, Al Walid bin Muslim mengabarkan kepada kami, Al Auzai mengabarkan kepada kami, Al Walid bin Hisyam Al Mu'aith menceritakan kepadaku, Ma'dan bin Abu Thalhah Al Ya’mari menceritakan kepadaku, ia berkata, “Aku pemah bertemu Tsauban; hamba sahaya Rasulullah, lalu aku katakan kepadanya, 'Tunjukkan kepadaku suatu amalan di mana Allah SWT akan memberikan manfaatnya kepadaku atau Allah SWT memasukkan diriku ke dalam surga.’ Tsauban berkata, 'Kemudian ia berpaling dariku tiga kali, lalu menoleh kepadaku, (47-ba’) lalu ia berkata, 'Kamu harus melakukan sujud. Sesungguhnya aku medengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘ Tidak seorang hamba melakukan sujud kepada Allah kecuali Allah SWT akan meninggikan derajatnya dan menghapus dosa-dosanya’432 Abu Amar berkata, “Demikianlah Walid mengatakan maksud dari redaksi sajadah dengan memberi harakat fathah pada huruf sin” Shahih Ibnu Khuzaimah 317: Bundar Muhammad bin Basyar mengabarkan kepada kami, Yahya bin Said mengabarkan kepada kami, Ismail mengabarkan kepada kami, Qais mengabarkan kepada kami, ia berkata, Jarir bin Abdullah berkata, “Kami pernah duduk di sisi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Apabila kalian mampu, maka janganlah kalian tinggalkan shalat sebelum terbit dan sebelum tenggelamnya matahari.”433 Shahih Ibnu Khuzaimah 318: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya dan Yazid bin Harun mengabarkan kepada kami, mereka berdua berkata, Ismail bin Abu Khalid menceritakan kepada kami dari Abu Bakar bin Umarah bin Ruwaibah dari ayahnya, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari tenggelam, maka Allah SWT mengharamkan jasadnya dari api neraka ” seorang laki-laki dari penduduk Bashrah berkata, ‘Dan aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.”434 Shahih Ibnu Khuzaimah 319: Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi mengabarkan kepada kami, Sufyan bin Uyainah mengabarkan kepada kami dari Abdul Malik bin Umair, dari Umarah bin Ruwaibah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang melaksanakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.”435 Shahih Ibnu Khuzaimah 320: Abdul Jabar bin Al Ala' mengabarkan kepada kami darinya, Syaiban mengabarkan kepada kami, Abdul Malik bin Umair mengabarkan kepada kami, ia berkata, Aku mendengar Umarah bin Ruwaibah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidak masuk neraka siapapun yang melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.” Kemudian seorang laki-laki dari penduduk Bashrah datang kepadanya lalu berkata, “Engkau mendengar ini dari rasulullah?” Ia menjawab, “Ya!” Ia berkata, “Dan aku bersaksi bahwa engkau telah mendengarnya.”436 Shahih Ibnu Khuzaimah 321: Yusuf bin Musa mengabarkan kepada kami, Jarir mengabarkan kepada kami, dari Al Amasy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘‘Sesungguhnya Allah SWT memiliki malaikat yang saling bergantian (mengawasi) kalian. Apabila shalat shubuh, maka malaikat yang bertugas di siang hari turun kemudian mereka melakukan shalat bersama kalian semua, lalu malaikat yang bertugas di malam hari naik sememtara malaikat yang bertugas di siang hari menetap bersama kalian. Tuhan mereka lalu bertanya —padahal ia lebih mengetahui dari pada mereka— Apakah yang dilakukan hamba-hambaku saat kalian tinggalkan?’ Mereka berkata, ‘Kami tiba mereka sedang melaksanakan shalat dan kami tinggalkan mereka sedang melaksanakan shalat.' Apabila waktu shalat Ashar tiba, maka malaikat yang bertugas di malam hari turun lalu melaksanakan shalat bersama-sama kalian semua kemudian malaikat yang bertugas di siang hari (48-alif) naik kembali ke langit. Lalu malaikat yang bertugas di malam hari menetap bersama kalian. Tuhan mereka bertanya —padahal Dia lebih mengetahui dari mereka— lalu berfirman, ‘Apa yang hamba-hambaku lakukan saat kalian meninggalkan mereka.’Mereka berkata, ‘Saat kami tiba mereka sedang melaksanakan shalat, dan saat kami tinggalkan mereka sedang melaksanakan shalat'.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku mengira bahwa mereka berkata, ‘Ampunilah mereka di hari kumat’.”437 Shahih Ibnu Khuzaimah 322: Yahya bin Hakim mengabarkannya kepada kami, Yahya bin Hamad mengabarkan kepada kami, Abu Awanah mengabarkan kepada kami, dari Sulaiman —ia adalah Al Amasy— dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Malaikat yang bertugas di malam hari dan di siang hari berkumpul dalam shalat Subuh dan shalat Ashar. Mereka berkumpul di dalam shalat Subuh lalu malaikat yang bertugas di malam hari naik kembali ke langit sementara malaikat yang bertugas di siang hari menetap, lalu mereka berkumpul kembali di dalam shalat Ashar dan malaikat yang bertugas di siang hari naik ke langit kembali sementara malaikat yang bertugas di malam hari tetap menetap. Tuhan mereka bertanya, ‘Bagaimana keadaan hamba-hambaku saat kalian tinggalkan?' Mereka berkata, ‘Ketika kami tiba, mereka dalam keadaan shalat dan ketika kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat. Ampunilah dosa mereka di hari kiamat'.”438 Shahih Ibnu Khuzaimah 323: Ya’qub bin Ibrahim, Al Hasan bin Muhammad, Ali bin Husain bin Ibrahim bin Al Husain, Ahmad bin Sinan Al Wasithi dan Musa bin Khaqan Al Baghdadi mengabarkan. kepada kami dan mereka berkata, Ishaq —ia adalah Ibnu Yusuf Al Azraq— menceritakan kepada kami ini adalah hadits Ad-Dauraqi, Sufyan Ats-Tsauri menceritakan kepada kami, dari Alqamah bui Mursid, dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata, ‘Seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, ia bertanya tentang waktu shalat. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ' Shalatlah bersama kami’ ketika matahari tergelincir, [Rasulullah] shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Zhuhur Dan, ia berkata, “Dan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Ashar sementara matahari masih tinggi bersih (tidak mendung). Beliau melaksanakan shalat Maghrib saat matahari tenggelam. Beliau juga melaksanakan shalat Isya saat mega merah hilang serta melaksanakan shalat Subuh saat masih gelap. Ketika esok harinya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan Bilal untuk melakukan adzan shalat Zhuhur kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menunggu hingga cuaca tidak panas, lalu merasa nyaman untuk melaksanakan shalat Zhuhur yang teduh tersebut. Lalu Nabi memerintahkan Bilal, kemudian melaksanakan shalat Ashar, sementara matahari masih menyengat, lalu beliau mengakhirkan di atas waktu yang lalu. Rasulullah memerintahkan Bilal untuk adzan lalu beliau melaksanakan shalat Maghrib sebelum mega merah hilang Rasulullah memerintahkan Bilal untuk adzan lalu mendirikan shalat isya setelah melewati sepertiga malam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan Bilal untuk adzan kemudian beliau melaksanakan shalat Subuh hingga awan menguning lalu beliau bertanya, ‘Dimana orang yang bertanya tentang waktu shalat?' Laki-laki tersebut berkata, ‘Saya wahai rasulullah S A W.’ beliau bersabda,”Waktu shalat kalian adalah di antara sesuatu yang kalian lihat’.”439 Abu Bakar berkata, “Aku tidak menemukan di dalam kitabku dari Az Za’farani ungkapan, ‘Shalat Maghrib di hari kedua..” Shahih Ibnu Khuzaimah 324: Bundar mengabarkan kepada kami, Harmi bin Umarah mengabarkan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Alqamah bin Marsad, dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, dari Nabi Muhammad SAW; dalam hal waktu-waktu shalat.440 Bundar tidak menambahkan redaksi ini kepada kami. Bundar berkata, “Aku menyebutkannya kepada Abu Daud, lalu ia berkata, ‘Pemilik hadits ini sebaiknya (48-ba') membesarkan tulisannya’.” Bundar berkata, “Maka aku menghapusnya dari kitabku.” Abu Bakar berkata, “Sebaiknya Abu Daud membesarkan tulisan yang salah dan Bundar mencontoh sepuluh hadits, di mana ia hapus hadits ini dari kitabnya. Hadits di atas adalah hadits shahih berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ats-Tsauri dari Alqamah. Abu Daud salah sedangkan Bundar telah merubahnya. Ini adalah hadits shahih yang juga diriwayatkan oleh Ats-Tsauri dari Alqamah. Kabar yang datang dari Harami bin Umarah, ia mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Yahya, ia berkata, Ali bin Abdullah mengabarkan kepada kami, Harami bin Umarah dari Syu’bah mengabarkan kepada kami. Dengan hadits yang disebutkan secara sempurna. Abu Bakar berkata, “Hadits ini adalah bantahan441 atas asumsi ulama-ulama Irak yang menyatakan bahwa orang yang berikrar di sisi Hakim bahwa fulan memiliki hutang kepada fulan antara satu Dirham sampai sepuluh Dirham dan yang sebenarnya adalah orang tersebut memiliki hutang delapan dirham. Mereka menjadikan kondisi ini sebagai pembicaraan dalam bab yang panjang. Mereka memetakkan beberapa masalah berdasarkan kesalahan ini dan menggiring pembicaraan mereka yang menuntut bahwa malaikat Jibril pernah melaksanakan shalat bersama Nabi selama dua hari dua malam; yaitu melaksanakan shalat lima waktu tidak pada waktunya. Karena kendali ucapan mereka; Sesungguhnya waktu-waktu shalat berada di antara waktu pertama dan kedua. Dan, sesungguhnya waktu pertama dan kedua di luar waktu shalat yang lainnya. Hal ini sebagaimana asumsi mereka bahwa ungkapan satu Dirham dan sepuluh Dirham telah keluar dari apa yang dikukuhkan oleh orang yang berikrar, dan sesungguhnya delapan adalah angka di antara satu dirham sampai sepuluh dirham. Aku telah menuliskan masalah sejenis ini secara panjang. Shahih Ibnu Khuzaimah 325: Ahmad bin Abduh Adh-Dhabbi mengabarkan kepada kami, Mughirah —maksudnya Ibnu Abdurrahman— mengabarkan kepada kami, dari Abdurrahman bin Al Harits bin Abdullah —ia adalah Ibnu Ayasy bin Abu Rabi'ah Az- Zuraqi— Ha’, Bundar menceritakan kepada kami, Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Ha’, Salam bin Junadah menceritakan kepada kami, Waqi' menceritakan kepada kami dari Sufyan dari Abdurrahman bin Al Harits bin Iyash bin Abu Rabiah. Ha' Waqi' berkata, Dari Az-Zuraqi dari Hakim bin Abbad bin Sahi bin Hunaif dari Nafi’ bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jibril pernah menjadi imam atas diriku dua kali di baitullah. Lalu Jibril melaksanakan shalat Zhuhur bersamaku ketika matahari tergelincir seukuran tali sepatu. Jibril melaksanakan shalat Ashar denganku saat bayangan apa saja sama dengan bendanya. Jibril melaksanakan shalat Maghrib denganku ketika orang yang berpuasa berbuka puasa. Jibril melaksanakan shalat Isya denganku saat mega merah hilang. Jibril melaksanakan shalat Subuh ketika makanan dan minuman diharamkan bagi orang yang berpuasa (49-alif) lalu Jibril melaksanakan shalat Zhuhur denganku esok harinya ketika bayangan apa saja sama dengan bendanya. Kemudian Jibril melaksanakan shalat Ashar bersamaku ketika bayangan apa saja besarnya dua kali lipat dari bendanya lalu Jibril melaksanakan shalat Magrib bersamaku di saat orang yang berpuasa berbuka. Kemudian Jibril melaksanakan shalat Isya denganku ketika waktu sepertiga malam berlalu, lalu Jibril melaksanakan shalat Subuh denganku setelah awan menguning lalu Jibril menoleh kepadaku. Jibril berkata, “Wahai Muhammad! waktu shalat adalah waktu di antara dua waktu yang ada. Ini adalah waktu shalatmu dan waktu shalat para nabi sebelummu”442 Ini adalah redaksi hadits Ahmad bin Ubadah dalam hadits Waqi’ terdapat Hakim bin Hakim bin Abad bin Hunaif. Ungkapan Al Imam —Mudah-mudahan Allah merahmati— ditambahkan443 diakhir bab terdahulu pada akhir bab ini insya Allah. Shahih Ibnu Khuzaimah 326: Muadz bin Hisyam mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku dari Qatadah dari Abu Ayub dari Abdullah bin Amr. Sesungguhnya Nabiyullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, “Apabila kalian melaksanakan shalat Subuh, maka itulah waktunya sampai bagian dari matahari yang pertama terbit. Apabila kalian melaksanakan shalat Zhuhur, maka itulah waktunya sampai kalian sampai pada waktu Ashar. Apabila kalian melaksanakan shalat Ashar, maka itulah waktunya hingga matahari berwarna kuning. Apabila matahari telah terbenam, maka itulah waktunya sampai mega merah menghilang. Apabila mega merah menghilang, maka itulah waktunya sampai pertengahan malam "444 Shahih Ibnu Khuzaimah 327: Bundar bin Basyar mengabarkan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, Malik bin Mighwal dari Al Walid bin Al ‘Aizar menceritakan kepada kami, dari Abu Amr Asy-Syaibani, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Amalan yang paling utama?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Melaksanakan shalat di awal waktunya.”445 Shahih Ibnu Khuzaimah 328: Bundar bin Basysyar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al Muhajir Abu Al Hasan, sesungguhnya ia mendengar Zaid bin Wahab menceritakan hadits dari Abu Dzar, ia berkata: Seorang muadazin Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan adzan shalat Zhuhur, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tunggulah teduh, tunggulah teduh” atau “tunggulah —hingga cuaca dingin—, tunggulah —hingga cuaca dingin—”, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya panas yang menyengat merupakan semburan (jilatan) dari neraka jahanam, apabila panas menyengat, maka tunggulah dalam melaksanakan shalat hingga cuaca teduh.”446 Shahih Ibnu Khuzaimah 329: Abdul Jabar bin Al Ala' mengabarkan kepada kami, dari Said bin Abdurrahman Al Makhzumi dan Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi, mereka berkata, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri dari Said -ia adalah Ibnu Al Musayyib (49-ba’) dari Abu Hurairah: Sesungguhnya nabi bersabda, "Apabila hawa panas menyengat, maka tangguhkanlah dari melaksanakan shalat hingga cuaca dingin (teduh), karena sesungguhnya panas yang menyengat adalah bagian dari semburan (jilatan) neraka jahanam .”447 Shahih Ibnu Khuzaimah 330: Bundar bin Basyar mengabarkan kepada kami, Abdul Wahab menceritakan kepada kami,-- Maksudnya adalah Atsaqafi – Ubaidillah bin Umar menceritakan kepada kami dari Nafi’ dari Ibnu Umar, dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda “Sesungguhnya panas yang menyengat adalah bagian dari sambaran (jilatan) neraka jahannam, maka tangguhkanlah –dari melaksanakan—shalat di saat hawa panas menyengat hingga cuaca menjadi teduh.448 Shahih Ibnu Khuzaimah 331: Al Qasim bin Muhammad bin Abbad Al Muhallabi mengabarkan kepada kami, Abdullah mengabarkan kepada kami —maksudnya Ibnu Daud Al Huraibi— dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah RA; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tangguhkanlahpelaksanaan shalat dzuhur hingga cuaca menjadi dingin (teduh) di saat hawa matahari panas”449 Shahih Ibnu Khuzaimah 332: Abdul Jabar bin Al Ala' mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, ia berkata, kami menghafalnya dari Az-Zuhri, ia berkata, Urwah mengabarkan hadits kepadaku dari Aisyah, Ha'. Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi menceritakan kepada kami dan Said bin Abdur-rahman bin Al Makhzum. Mereka berkata, Sufyan menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah RA, “Sesungguhnya Nabi pernah melaksanakan shalat Ashar sementara matahari masih menyengat di kamarku dan bayang-bayang belum nampak.”450 Ahmad berkata, “Dikamar Aisyah.” Abu Bakar berkata: Kata ‘Azh-Zhuhur’ menurut orang Arab memiliki dua arti; Pertama, sesuatu yang nampak hingga bisa dilihat dan jelas di mana tidak ada kesamaran lagi; Kedua, sesuatu mengalahkan sesuatu yang lain sebagaimana dikemukakan oleh orang Arab “Zhahara Fulanan ‘Ala Fulanin’ dan ‘Zhahara jaisyu fulanin ‘Ala Jaisyi fulanin’ maksudnya mengalahkan mereka. Maka arti ucapan 'Lam yadzhar al fa'iu ba’du’ artinya bayang-bayang belum mengalahkan matahari di kamarnya. Maksudnya bayangan di kamar tidak lebih banyak dari cahaya matahari saat shalat Ashar. Shahih Ibnu Khuzaimah 333: Ali bin Hujr As-Sa’di mengabarkan kepada kami, Ismail —maksudnya Ibnu Ja’far— menceritakan kepada kami, Al Ala' bin Abdurrahman bin Ya’kub menceritakan kepada kami, bahwa Abdurahman pernah memasuki kediaman (50-alif) Anas bin Malik di Bashrah hingga waktu shalat Zhuhur habis. Abdurrahman bin Ya’kub berkata, “Kediaman Anas bin Malik berada di samping Masjid. Ketika kami memasuki kediamannya, ia berkata, ‘Apakah kalian sudah melaksanakan shalat Ashar?’ Kami menjawab, ‘Sesungguhnya kami baru saja meninggalkan waktu shalat Zhuhur.’ Anas berkata, ‘Shalat Ashar-lah kalian’, lalu kami bangun dan melaksanakan shalat Ashar.’ Ketika kami kembali, ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, adalah shalat orang munafik, di mana ia duduk mengawasi matahari hingga apabila matahari berada di antara dua tanduk syetan, ia berdiri lalu melaksanakan shalat empat rakaat dengan gerakan yang cepat. Ia tidak mengingat Allah di dalamnya kecuali hanya sebentar saja’.”451 Yunus bin Abdul Ala' mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, sesungguhnya Malik menceritakan hadits dari Al Ala' bin Abdurrahman: Dengan hadits yang serupa ini. Shahih Ibnu Khuzaimah 334: Muhammad bin Abdullah bin Bazi’ mengabarkan kepada kami, Abdurrahman bin Utsman Al Bakrawi Abu Bahr mengabarkan kepada kami, Syu’bah —maksudnya adalah Ibnu Ya’qub— mengabarkan kepada kami dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ia (perawi) berkata, ‘Dan, aku mendengar Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna berkata, ‘Aku menjumpai di dalam kitabku dengan tulisan tanganku yang telah kuhapus dari suatu kitab, dari Ja’far, ia berkata, ‘Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Aku mendengar Al Ala' bin Abdurrahman menceritakan dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya [itu] adalah shalat orang munafik, ia menunggu hingga apabila matahari menguning dan matahari berada di antara dua tanduk syetan —di atas tanduk syetan—, [ia berdiri] lalu melaksanakan shalat Ashar empat rakaat dengan gerakan yang cepat, dan ia tidak mengingat Allah SWT kecuali sedikit.”452 Ini adalah redaksi hadits Abu Musa. Ibnu Bazi’ berkata, “Di antara dua tanduk syetan atau berarti di dalam dua tanduk syetan.” la pun berkata, “Syu’bah berkata, 'Ia melaksanakan shalat empat rakaat dengan gerakan yang cepat dan ia tidak mengingat Allah di dalamnya kecuali sebentar’.” Shahih Ibnu Khuzaimah 335: Abdul Jabar bin Al Ala' mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, Az-Zuhri mengabarkan kepada kami, Ha', Said bin Abdurrahman Al Makhzumi dan Ahmad bin Abdah menceritakan kepada kami, mereka berkata,: Sufyan menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri dari Salim dari ayahnya, dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barang siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka ia seakan-akan terampas keluarga dan hartanya.”453 Malik berkata, “Penjelasannya: Ketika waktu telah usai.” Shahih Ibnu Khuzaimah 336: Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi mengabarkan kepada kami, Abu Daud mengabarkan kepada kami, Hisyam mengabarkan kepada kami, dari Yahya bin Abu Katsir, sesungguhnya Abu Qilabah menceritakan kepadanya; Sesungguhnya Abu Al Malih Al Hudzali menceritakan kepadanya, ia berkata, “Kami pernah bersama Buraidah Al Aslami dalam sebuah perang di saat langit mendung. Lalu Buraidah berkata, ‘Segeralah kalian melaksanakan shalat, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda (50-ba’) “Barang siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka amalnya dihapuskan ”.454 Al Husain bin Al Harits Abu Ammar mengabarkan kepada kami, An-Nadhr bin Syamil mengabarkan kepada kami dari Hisyam Shahib Ad-Dastuwa'i dari Yahya dari Qilabah, “Dengan hadits sejenis hanya saja ia berkata, (Amal perbuatannya sungguh telah terhapus)” Shahih Ibnu Khuzaimah 337: Bundar mengabarkan kepada kami, Ubaidultah bin Abdul Majid mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Abu Di'b, dari Said Al Maqburi, dari Al Qa'qa’ bin Hakim, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Kami pernah melaksanakan shalat Maghrib bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian kami mendatangi Bani Salimah lalu kami melihat posisi-posisi anak panah.455 Shahih Ibnu Khuzaimah 338: Muhammad bin Abdullah bin Al Mubarak Al Mukharrami mengabarkan kepada kami, Yahya bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Hamad bin Salamah menceritakan kepada kami dari Tsabit dari Anas, Sesungguhnya mereka melaksanakan shalat mahgrib bersama Rasulullah kemudian mereka kembali, lalu salah seorang dari mereka melihat posisi-posisi anak panahnya. Shahih Ibnu Khuzaimah 339: Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi dan Muammal bin Hisyam Al Yasykuri mengabarkan kepada kami, mereka berkata, Ibnu Ulaiyah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, Ha’, Al Fadl bin Ya’qub Al Jazari menceritakan kepada kami, Abdul A'la mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, Yazid bin Abu Habib menceritakan kepadaku, dari Martsad bin Abdullah Al Yazani, ia berkata, “Abu Ayub [dan] Aqabah bin Amir pernah berperang melawan negeri Mesir, lalu Aqabah mengakhirkan shalat Magrib. Kemudian Abu Ayub berdiri padanya dan ia berkata, “Ini shalat apa wahai Aqabah?” Aqabah menjawab, ‘Tadi kami telah disibukkan —oleh peperangan—. Abu Ayub berkata, “Demi Allah aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja orang-orang mengira bahwa engkau telah melihat Rasullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan hal ini. Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Umatku senantiasa dalam keadaan baik-baik saja atau berada dalam fitrahnya selagi mereka tidak mengakhirkan shalat maghrib sampai bintang-bintang merapat’.’456 Ini adalah redaksi hadits Ad-Dauraqi. Al Muammal dan Al Fadl bin Ya'kub berkata, “Adakah engkau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “ Umatku senantiasa...” Muhammad bin Musa Al Harasyi mengabarkan kepada kami, Ziyad bin Abdullah mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ishaq mengabarkan kepada kami dari Yazid bin Abu Habib. Kemudian ia mengemukakan hadits dan berkata apakah engkau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “>i>Ummatku senantiasa dalam keadaan baik-baik saja atau berada di atas fitrahnya selagi mereka tidak mengakhirkan shalat Maghrib hingga bintang-bintang merapat. ” la berkata, ‘Tentu!.” Shahih Ibnu Khuzaimah 340: Abu Zur’ah mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Musa mengabarkan kepada kami, Abbad bin Al Awwam mengabarkan kepada kami dari Amr bin Ibrahim dari Qatadah dari Al Hasan dari Al Ahnaf bin Qais dai Al Abbas bin Abdul Muthalib, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Umatku senantiasa berada dalam kesucian selagi mereka tidak mengakhirkan (51-alif) shalat Maghrib sampai binatang-binatang merapat”547 Abu Bakar berkata, “Dalam Sabda Nabi, Umatku senantiasa baik-baik saja selagi mereka tidak mengakhirkan shalat Maghrib sampai binatang-binatang merapat menunjukkan bahwa sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bin Ash yang berbunyi “Dan waktu Maghrib adalah selagi mega merah belum hilang”, sesungguhnya yang dimaksud adalah waktu udzur dan waktu darurat. Tidak secara sengaja458 mengakhirkan shalat Maghrib hingga mendekati hilangnya mega merah, karena merapatnya bintang-bintang terjadi saat mega merah hampir hilang, dan karena kerapatan binatang-binatang terjadi sebelum mega merah hilang beberapa saat, di mana saat itu masih bisa melaksanakan shalat beberapa rakaat, dan shalat yang dapat dilaksanakan dalam waktu tersebut lebih dari empat rakaat. Shahih Ibnu Khuzaimah 341: Abdul Warits bin Abdush-Shamad bin Abdul Warits Al Anbari mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Al Husein menceritakan kepadaku, ia berkata, Ibnu Buraidah berkata, Abdullah Al Muzni mengabarkan kepada kami, Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian dikalahkan oleh orang-orang Arab Badui dalam menamakan shalat maghrib”, beliau bersabda lagi, "Orang-orang Badui berkata, 'la adalah shalat Isya',"459 Abu Bakar berkata, ‘‘Abdullah Al Muzni adalah Abdullah Al Mughaffal.” Shahih Ibnu Khuzaimah 342: Abdul Jabar bin Al Ala' Al Aththar, Sulyun mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juray dari Atha' dari Ibnu Abbas, dan Ahmad bin Abdah mengabarkan kopada kami, Sufyan bin Uyainah mengabarkan kepada kami dari Amr bin Dinar dan Ibnu Juruy dari Atha' duri Ibnu Abbas, Abdul Jabar pemah sekali mengabarkan kepada kami, ia berkata, Sufyun mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Juraij dan Atha' dari Ibnu Abbas dan Amr dari Atha' dari Ibnu Abbas, "Sesungguhnya Rusulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di suatu malam pernah mengakhirkan shalat Isya, lalu Umar keluar dan berkata, ‘Laksanakanlah shalat Isya wahai rasulullah?' Kaum wanita dan anak- anak telah tertidur pulas. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar rumah sementara air menetes dari kepala beliau, beliau mengusapnya dari kedua belah pipinya, beliau bersabda, "Seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku memerintahkan mereka untuk melaksanakan shalat Isya di saat waktu seperti ini" salah satu dari dua orang berkata, "Itu adalah waktu —melaksanakan shalat Isya'— seandainya aku tidak memberatkan terhadap umatku."460 Ini adalah redaksi hadits dari Abdul Jabar saat beliau menyatukan hadits dari Ibnu Juraij dan Amr bin Dinar. Abdul Jabar berkata saat hadits Ibnu Juraij dipisahkan sendiri, “Bahwa ia adalah waktunya seandainya aku tidak memberatkan ummatku .” Ahmad bin Abdah berkata, “Seandainya aku tidak memberatkan kaum mukmin, niscaya aku memerintahkan mereka melaksanakan shalat di waktu ini.” Shahih Ibnu Khuzaimah 343: Muhammad bin Rafi' mengabarkan kepada kami, Abdur-Razaq mengabarkan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri dari Salim, dari Ibnu Umar, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengakhirkan pelaksanaan shalat Isya' hingga gelap malam. Umar kemudian memanggilnya, lalu ia berkata, “Kaum wanita dan anak-anak kecil telah tertidur”, lalu beliau keluar menuju para sahabat, lalu beliau bersabda, “Tidak ada seorangpun penduduk bumi yang menunggu shalat ini kecuali kalian’ ”461Az-Zuhri berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melaksanakan shalat saat seperti itu kecuali dari kota Madinah. Shahih Ibnu Khuzaimah 344: Yusuf bin Musa mengabarkan kepada kami, Jarir dari Manshur mengabarkan kepada kami dari Al Hakam dari Nafi’ dari Ibnu Umar, ia berkata, "Kami pada suatu malam pernah menunggu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Isya' yang diakhirkan pelaksanaannya. Beliau baru keluar menemui kami pada sepertiga malam dan kami tidak mengetahui apa yang menyibukkan diri beliau untuk keluarga dan hal lainnya. Saat keluar rumah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya kalian sedang menunggu shalat yang tidak pernah ditunggu oleh pemeluk agama lain. Dan, seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memelaksanakan shalat bersama mereka di waktu seperti ini’” kemudian beliau memerintahkan adzan terhadap seorang muadzin, lalu melaksanakan shalat tersebut.”462 Shahih Ibnu Khuzaimah 345: Bundar mengabarkan kepada kami, Ibnu Abu Adi mengabarkan kepada kami, dari Daud, Ha ', Imran bin Musa Al Qazzaz menceritakan kepada kami, Abdul Warits mengabarkan kepada kami, Daud mengabarkan kepada kami, Ha’, Ishaq bin Ibrahim bin Habib Syahid menceritakan kepada kami, Abdul A'la mengabarkan kepada kami dari Daud dan Abu Nadzrah dari Abu Said Al Khudri, ia berkata, “Kami pernah menunggu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melaksanakan shalat Isya' hingga lepas tengah malam, kemudian beliau datang lalu melaksanakan shalat bersama kami kemudian beliau bersabda, "Ambillah tempat duduk kalian, karena sesungguhnya manusia telah mengambil posisi tidur mereka. Sesungguhnya kalian tetap berada di dalam shalat (mendapatkan pahala shalat) selama kalian menunggunya, seandainya tidak ada orang yang lemah, orang yang sedang sakit dan orang yang memiliki kebutuhan, niscaya aku akan mengakhirkan shalat Isya' ini hingga sepertiga waktu malam. ” 463Ini adalah hadits Bundar. Shahih Ibnu Khuzaimah 346: Yahya bin Said mengabarkan kepada kami, Auf mengabarkan kepada kami, Ha’, Bundar menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far dan Abdul Wahab menceritakan kepada kami dari Auf, Ha’, Ahmad bin Mani' menceritakan kepada kami, Husyaim, Abbad bin Abbad dan Ibnu Ulaiyah menceritakan kepada kami, mereka berkata, Auf menceritakan kepada kami, dari Sayyar bin Salamah, dari Abu Barzah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakruhkan tidur sebelum shalat isya." Dan, hadits setelahnya. Ini adalah hadits Ahmad bin Mani’. Dalam hadits Yahya bin Sa’id dikatakan, Sayyar bin Salamah Abu Al Manhal menceritakan kepada kami, ia berkata, “Aku bersama ayahku pernah menemui Abu Barzah Al Aslami. Kemudian Ayahku bertanya kepadanya, bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat wajib?' Ia berkata, “Rasulullah mensunahkan agar mengakhirkan shalat Isya' yang kalian istilahkan al atamah (Shalat Isya' saat gelap gulita). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakruhkan tidur sebelum shalat Isya dan melakukan perbincangan setelahnya." Dalam hadits Muhammad bin Ja’far serta Abdul Wahab berasal dari Abu Al Manhal serta matan hadits keduanya seperti matan hadits Yahya. Shahih Ibnu Khuzaimah 347: Muhammad bin Rafi’ mengabarkan kepada kami, Abdur-Razaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Nafi’ mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Umar menceritakan kepada kami, Ha', Muhammad bin Al Hasan bin Tasnim menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abu Bakar mengabarkan kepada kami —maksudnya adalah Al Bursani— Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Nafi’ mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Umar, “Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu hari disibukkan oleh sesuatu sehingga beliau belum melaksanakan shalat Isya' hingga kami tertidur, lalu kami terbangun, kemudian tertidur lagi, lalu terbangun kembali, kemudian beliau keluar rumah dan bersabda, “Tidak ada seorangpun penduduk dunia yang menunggu pelaksanaan shalat ini kecuali kalian.”464 Ini adalah hadits Muhammad bin Bakar. Ibnu Rafi’ berkata, “Sampai kami tertidur di masjid.“ Dalam hadits Ibnu Abbas, Umar keluar rumah, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Kita melaksanakan shalat isya di saat kaum wanita dan anak-anak tertidur.” Shahih Ibnu Khuzaimah 348: Muhammad bin Ma’mar Al Qaisi mengabarkan kepada kami, Abu Ashim mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, Ha’, Muhammad bin Al Hasan bin Tasnim menceritakan kepada kami, Muhammad bin Bakar mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij memberitahukan kepada kami, Ha ', Ahmad bin Manshur ArRamadi menceritakan kepada kami, Hajjaj bin Muhammad dan Abdur-Ruzaq meriwayatkan dari Ibnu Juraij, Hajjaj berkata, Ibnu Juraij berkata, Al Mughirah bin Hakim menceritakan kepadaku sesungguhnya umu kultsum bin Abu Bakar diceritakan dari Aisyah RA, "Sesungguhnya Rasulullah pernah mengakhirkan shalat Isya sampai masyoritas waktu malam terlewati hingga penghuni masjid tertidur, kemudian Rasulullah keluar lalu beliau melaksanakan shalat Isya' dan bersabda, 'Sesungguhnya inilah waktunya seandainya aku tidak memberatkan umatku ‘.”465 Dalam hadits Abu Ashim dan Muhammad bin Abu Bakar dikatakan, “Al Mughirah bin hakim menceritakan kepadaku” Abu Bakar berkata, “Nabi disaat mengakhirkan pelaksanaan shalat Isya' hingga penghuni rnaiyid tertidur, maka beliau tidak melarang mereka tidur saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menemui mereka Dan, seandainya tidur mereka dilakukan sebelum shalat Isya', maka mengapa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengakhirkan pelaksanaan shalat Isya' yang dimakruhkan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (52-alif) pasti melarang untuk melakukan perbuatan mereka dan menganggap buruk perbuatan yang belum mereka lakukan,“ Dalam hadits Atha' dari Jabir bin Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hal waktu waktu shalat 466 la berkata pada waktu shalat Isya yang diakhirkan pada malam kedua, kemudian kami tertidur lalu kami bangun kemudian tertidur lagi dan terbangun kembali, lalu kami tertidur lagi. Shahih Ibnu Khuzaimah 349: Abdul Jabar bin Al ‘Ala Said bin Abdurrahman Al Makhzumi mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abu Labib, dari Abu Salamah bin Abdurahman dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Orang badui jangan sampai mengalahkan kalian atas istilah shalat kalian di mana sesungguhnya mereka pada malam gelap disibukkan dengan unta. Sesungguhnya saat itu adalah waktu shalat isya.”467 Shahih Ibnu Khuzaimah 350: Abdul Jabar bin Ala' Al Makhzumi dan Ahmad bin Abdah mengabarkan kepada kami, Ahmad berkata, ia mengabarkan kepada kami; Dua perawi berkata, Sufyan menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah, ia berkata, “Mereka —wanita-wanita mukminat— melaksanakan shalat shubuh bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian mereka keluar dengan menutupi diri dengan muruth (kain dari bulu) sehingga tidak diketahui.”468Ahmad menambahkan, “Kemudian Rasulullah menyebutkan dengan kata al ghalas (kondisi akhir dari waktu malam yang gelap gulita).” Shahih Ibnu Khuzaimah 351: Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Ibnu Ulaiyah mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz bin Suhaib memberitahukan kepada kami, dari Anas: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memerangi daerah Khaibar, beliau berkata, “Kami melaksanakan shalat shubuh di sisinya pada gelap akhir malam.469 Shahih Ibnu Khuzaimah 352: Rabi' bin Sulaiman Al Muradi mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, Usamah bin Zaid mengabarkan kepadaku, sesungguhnya Zaid bin Syihab mengabarkan kepadanya: Sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz pemah duduk di atas mimbar, kemudian ia mengakhirkan sedikit waktu shalat, Urwah bin Zubair berkata, “Sesungguhnya Jibril telah memberitakan waktu shalat kepada Nabi Muhammad SAW” Umar kemudian berkata kepadanya, “Ketahuilah (sadarlah) apa yang engkau katakan” Urwah berkata, “Aku mendengar Basyir bin Abu Mas’ud berkata, “Aku mendengar Abu Mas’ud Al Anshari berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jibril turun ke bumi lalu mengabarkan kepadaku mengenai waktu shalat. kemudian aku melaksanakan shalat bersamanya, lalu aku melaksanakan shalat bersamanya kemudian aku melaksanakan shalat bersamanya, la kemudian menghitung dengan jari-jarinya sebanyak lima waktu shalat.” Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Zhuhur ketika matahari tergelincir dan terkadang beliau mengakhirkannya ketika hawa panas menyengat, aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Ashar sementara matahari berada pada posisi yang tinggi bersinar putih sebelum cahaya kuning matahari mengantikannya. Seseorang selesai melaksanakan shalat lalu mendatangi kawasan Dzul Khalifah sebelum matahari tenggelam serta melaksanakan shalat Maghrib di saat matahari terbenam kemudian melaksanakan shalat Isya' saat ufuk berwarna hitam dan terkadang beliau mengakhirkannya sampai orang-orang berkumpul. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat Subuh sekali di saat malam masih gelap, dan terkadang melaksanakan shalat saat matahari menguning, setelah itu beliau melaksanakan shalat Subuh di saat matahari masih gelap sampai beliau wafat Lalu beliau tidak pernah mengulangi sampai cahaya matahari menguning.470 Abu Bakar berkata, “Redaksi tambahan ini tidak pernah dikemukakan kecuali oleh Usamah bin Zaid. Hadits ini semua menunjukkan bahwa mega adalah yang berwarna putih, bukan merah. Karena di dalam hadits terdapat redaksi, 'Rasulullah melaksanakan shalat Isya' disaat ufuk berwarna hitam.’ Sesungguhnya kehitaman ufuk setelah warna putih hilang, di mana ia ada setelah warna merahnya lenyap, setelah itu cahaya putih yang mendiaminya, lalu cahaya putih lenyap, kemudian ufuk menjadi berwarna hitam." 470 Dalam hadits Sulaiman bin Musa dari Atha' bin Abu Rabah dari Jabir bin Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian Bilal mengumandangkan adzan untuk shalat Isya saat cahaya putih matahari di siang hari lenyap, lalu Nabi memerintahkan shalat didirikan dan beliau pun melaksanakan shalat tersebut. Shahih Ibnu Khuzaimah 353: Muhammad bin Yahya dan Ahmad bin Abdullah bin Abdurrahim Al Barqi mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Amr bin Abu Salamah menceritakan kepada kami, Shadaqah bin Abdullah Ad Dimasyqi mengabarkan kepada kami dari Abu Wahab —ia adalah Ubaidillah bin Ubaid Al Kala’i— dari Salman bin Musa dari Atha bin Abu Rabah dari Jabir bin Abdullah: Sesungguhnya seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia bertanya tentang waktu shalat. Lalu beliau menyebutkan hadits secara panjang lebar mengenai waktu-waktu shalat selama dua hari dua malam (52 -ba'). Dan, beliau bersabda di malam pertama; Bilal mengumandangkan adzan shalat Isya ketika cahaya putih di siang hari lenyap dan beliau memerintahkan untuk iqamah, lalu ia iqamah untuk shalat, kemudian beliau melaksanakan shalat. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda di malam kedua; Kemudian Bilal melakukan adzan shalat Isya' di saat cahaya putih di siang hari lenyap kemudian beliau mengakhirkan shalat Isya, lalu kami tertidur, kemudian tertidur terus, lalu Rasulullah keluar rumah dan bersabda, "Sesungguhnya orang-orang telah melaksanakan shalat dan tertidur dan sesungguhnya kalian tetap pada posisi shalat (mendapatkan pahala shalat) sejak kalian menunggu waktu shalat' 471. Lalu Jabir mengemukakan hadits panjang lebar. Shahih Ibnu Khuzaimah 354: Ammar bin Khalid Al Wasithi mengabarkan kepada kami, Muhammad —yaitu Ibnu Yazid— mengabarkan kepada kami, ia adalah Al Wasithi dari Syu’bah dari Qatadah dari Abu Ayyub dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Waktu shalat Zhuhur hingga waktu shalat ashar. waktu shalat Ashar hingga waktu menguningnya cahaya matahari, waktu shalat Maghrib hingga mega merah hilang, waktu shalat Isya hingga pertengahan malam dan waktu shalat Subuh hingga matahari terbit." 472 Abu Bakar berkata, “Seandainya redaksi dalam hadits ini shahih niscaya di dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa mega adalah cahaya merah. Hanya saja redaksi ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Yazid secara sendiri, jika lafazh ini dihafal darinya. Adapun para pengikut syu’bah berkata mengenai hadits ini, Mega putih menempati posisi yang dikatakan oleh Muhammad bin Yazid Hamrah; Mega. Bundar dan Abu Musa menceritakan kepada kami, keduanya berkata, “Muhammad, yaitu Ibnu Ja’far, menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Qatadah berkata: Aku mendengar Abu Ayub Al Azdi dari Abdullah bin Umar lalu ia menyebutkan hadits dan keduanya berkata dalam hadits, “Dan waktu maghrib adalah selagi mega putih belum lenyap dan belum naik. Shahih Ibnu Khuzaimah 355: Muhammad bin Labid mengabarkan kepada kami, Uqbah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Daud menceritakan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Qatadah dari Abu Ayub dari Abdullah bin Umar, Syu’bah berkata, Hadits ini di-marfu’-kan sekali; Bundar berkata, “Seperti hadits pertama.” 473 Hadits ini juga diriwayatkan oleh Hisyam Ad-Dastuwa'i dari Qatadah dan ia me-marfu-kannya. Aku telah mengimlakkan sebelumnya dan ia berkata, “Sampai mega tersebut lenyap” dan ia tidak mengatakan dengan redaksi, “Warna putih serta merah.” Hadits juga diriwayatkan oleh Said bin Abu Arubah dan ia tidak menganggapnya sebagai hadits marfu’, tidak menyebutkan redaksi “Warna merah.” Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Adi dari Syu’bah sebagai hadits mauquf dan ia tidak menyebutkan redaksi “Cahaya merah” dari Syu’bah. Abu Musa menceritakan keduanya. Ibnu Abu Adi menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, Ha’, Abu Musa juga menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Adi menceritakan kepada kami, dari said, keduanya dari Qatadah, dan hadits ini mauquf. Di dalamnya tidak ada redaksi “Cahaya merah”. Abu Bakar berkata, “Hal yang wajib diteliti apabila tidak ada keterangan dari nabi bahwa mega tersebut adalah cahaya merah474dan dikukuhkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa waktu pertama shalat Isya' apabila mega tersebut hilang, maka hendaklah seseorang tidak melaksanakan shalat Isya' sampai ufuk putih lenyap, karena sesuatu yang tidak ada, maka jelas tidak akan ada, sehingga keberadaannya dapat diketahui secara pasti. Dan, apabila tidak diketahui secara pasti bahwa waktu shalat telah masuk, maka shalat tidak wajib dan tidak boleh melaksanakan shalat wajib kecuali setelah yakin bahwa shalat tersebut telah benar-benar wajib. Apabila mega merah dan putih masih ada dan ia belum lenyap, maka masuknya waktu shalat isya masih diragukan dan belum yakin adanya. Karena para ulama berselisih pendapat mengenai pengertian mega. Sebagian ulama berpendapat: cahaya merah dan sebagian lagi berpendapat: putih, dan secara ilmiah tidak ada pendapat dari Nabi yang menyatakan bahwa mega adalah cahaya merah. Dan, sesuatu yang tidak ditetapkan oleh nabi dan tidak disepakati oleh umat Islam, maka tidak wajib melaksanakan, kecuali Allah, rasul dan umat islam mewajibkannya di waktu tertentu. Apabila cahaya putih masih berada di ufuk, maka para ulama berselisih pendapat mengenai kewajiban pelaksanaan shalat Isya' dan tidak ada satu hadits yang ditetapkan dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai diwajibkannya pelaksanaan shalat (53-alif) pada waktu tersebut. Apabila cahaya putih telah lenyap dan awan menjadi hitam, maka para ulama sepakat mengenai diwajibkannya shalat Isya' di mana dibolehkan di waktu tersebut melaksanakan kewajiban shalat yang dimaksud, wallahu 'alam, yaitu dengan keabsahan redaksi ini yang aku sebutkan di dalam hadits Abdullah bin Umar. Shahih Ibnu Khuzaimah 356: Muhammad bin Ali bin Mahraz mengabarkan kepada kami, ia berasal dari Baghdad di Al Fustat, Abu Ahmad Az-Zubairi mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Atha', dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Terdapat dua waktu fajar, di mana diharamkan makanan dan dihalalkan shalat di dalamnya, serta waktu fajar yang diharamkan shalat dan dihalalkan makanan di dalamnya.”475 Abu Bakar berkata, “Di dalam hadits terdapat isyarat bahwa shalat wajib tidak boleh dilaksanakan sebelum masuk waktunya.” Abu Bakar berkata, “Sabda Nabi, ‘Waktu fajar di mana diharamkan makanan’ maksudnya adalah bagi orang yang berpuasa. Sementara sabda Nabi “Dan, dihalalkan shalat di dalamnya" maksudnya adalah shalat Subuh. Sementara waktu fajar yang diharamkan shalat maksudnya adalah shalat Subuh. Apabila waktu fajar pertama terbit, maka seseorang tidak dihalalkan saat itu melaksanakan shalat Subuh karena fajar pertama berada di malam hari. Di sini di maksudkan tidak boleh melaksanakan shalat sunah setelah waktu fajar pertama terbit. Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Dan dihalalkan makanan di dalamnya” maksudnya, bagi orang yang ingin berpuasa. Abu Bakar berkata, “[Tidak ada] yang menganggapnya sebagai hadits marfu'di dunia ini kecuali Abu Ahmad Az-Zubairi. Shahih Ibnu Khuzaimah 357: Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna mengabarkan kepada kami, Adh-Dhahak bin Makhlad menceritakan kepadaku, Sufyan mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Abu Bakar menceritakan kepadaku dari Said bin Al Musayyab dari Abu Said Al Khudri, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah SWT menghapus kesalahan dan menambah kebajikan?” Mereka berkata, ‘Tentu, ya Rasulullah.’ Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Menyempurnakan wudhu di waktu-waktu yang tidak disukai dan menunggu shalat lagi setelah melaksanakan shalat. Tidak ada seorang pun dari kalian yang keluar dari rumahnya lalu ia melaksanakan shalat bersama dengan imam, kemudian ia duduk menunggu shalat yang lain, kecuali malaikat berkata, 'Ya Allah ampunilah ia, Ya Allah Kasih sayangilah ia.' lalu ia menyebutkan hadits.476 Abu Bakar berkata, ‘Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini kecuali Abu Ashim.” Shahih Ibnu Khuzaimah 358: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya mengabarkan kepada kami, Ubaidullah bin Umar mengabarkan kepada kami, Khubaib bin Abdurrahaman menceritakan kepadaku dari Hafsh bin Ashim dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tujuh golongan yang kelak akan mendapatkan perlindungan dari Allah pada hari di mana tidak ada perlindungan yang lain kecuali perlindungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang giat dalam beribadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya, laki- laki yang diminta oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu ia berkata, 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah', laki-laki yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya, di mana tangan kanannya tidak mengetahui apa yang telah di infakkan oleh tangan kirinya serta laki-laki yang berdzikir kepada Allah di saat sunyi lalu air matanya berlinang" 477 Bundar berkata kepada kami sekali lagi, “Wanita yang memiliki keturunan yang bagus dan kecantikan lalu ia berkata, 'Sesungguhnya aku...’.” Abu Bakar berkata, “Redaksi ini, 'kanan tidak mengetahui apa yang dinfakkan oleh tangan kiri' adalah yang membedakan hadits riwayat Yahya bin Said. Sementara ulama yang meriwayatkan hadits selain dari Yahya, 'Tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfakkan oleh tangan kanannya.” Shahih Ibnu Khuzaimah 359: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya bin Said mengabarkan kepada kami, Ibnu Ajian mengabarkan kepada kami, dari Said bin Abu Said, dari Said bin Y asar, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Tidaklah ada seorang laki-laki yang berdiam di masjid lalu ia disibukkan oleh suatu hal atau penyakit kemudian ia kembali ke tempat semula kecuali Allah SWT akan menampakkan wajah berseri-seri dan tersenyum kepadanya sebagaimana orang-orang yang tidak pernah bertemu menampakkan wajah berseri-seri dan tersenyum kepada temannya saat temannya datang (53 -ba').” Shahih Ibnu Khuzaimah 360: Abdul Warits bin Abdush-shamad bin Abdul Waris Al Anbari mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Hamad mengabarkan kepada kami dari Tsabit, dari Abu Rafi' dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “ Seorang hamba senantiasa berada dalam kondisi shalat selagi ia berada di dalam tempat shalatnya untuk menunggu waktu shalat berikutnya. Para malaikat berkata, 'Ya Allah ampunilah ia, Ya Allah sayangilah ia', yaitu selagi ia tidak tempat tersebut atau mengalami hadats.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan hadats?” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Mengeluarkan angin (yang tidak bersuara) atau angin (yang bersuara).” 478 Abu Bakar berkata, Redaksi ini, “Mengeluarkan angin (yang tidak bersuara) atau angin (yang bersuara)” termasuk jenis kalimat yang dikatakan bahwa penyebutan keduannya adalah karena sebab. Karena keduanya secara sendiri-sendiri pun dapat membatalkan kesucian orang yang telah berwudhu. Setiap sesuatu yang dapat membatalkan kesucian orang yang berwudhu dari berbagai macam hadats memiliki hukum sama dengan dua hadats ini. Yang demikian ini adalah termasuk jenis hadits yang diterima oleh sebagian pengikut kami; bahwa ia merupakan hadits yang mengandung ilat hukum di mana boleh diserupakan dengan hal sejenis di dalam hukumnya. Dan, seandainya penyerupaan dan yang semisal tidak diperbolehkan dalam hadits-hadits nabi sebagaimana yang dikira oleh sebagian ulama yang bertentangan dengan kami, maka orang yang membuang air kecil pada wadah atau botol dan orang yang membuang air besar pada westapel atau bejana, apabila ia duduk di masjid menunggu shalat, maka baginya pahala orang yang sedang melaksanakan shalat. Orang yang berhadats, apabila keluar angin, maka ia tidak mendapatkan pahala orang yang melaksanakan shalat, sekalipun ia duduk di masjid sambil menunggu waktu shalat. Barang siapa yang mengerti ilmu pengetahuan dan cerdas, maka ia tidak membangkang dan tidak boleh sombong karena lalai479 di mana ia dapat mengerti bahwa sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Mengeluarkan angin (yang tidak bersuara) atau angin (yang bersuara)' sesungguhnya dimaksudkan bahwa angin yang tidak bersuara dan bersuara tersebut membatalkan kesucian orang yang berwudhu dan sesungguhnya nabi tidak menjadikan bagi orang yang menunggu shalat karena dua hadats ini mendapatkan keutamaan pahala orang yang shalat, karena ia tidak berada dalam posisi berwudhu. Karena itu setiap orang yang menunggu waktu shalat yang duduk di masjid yang tidak dalam posisi suci di mana kesucian tersebut dapat menghantarkan sahnya shalat, maka hukumnya seperti hukum orang yang telah mengeluarkan angin yang membatalkan kesucian. Shahih Ibnu Khuzaimah 361: Al Hasan bin Muhammad dan Ahmad bin Manshur Al Ramadi mengabarkan kepada kami dan keduanya berkata, Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Juraij berkata, Ha', Abdullah bin Ishaq Al Jauhari menceritakan kepada kami, Abu Ashim mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Juraij, Ha’, Muhammad bin Al Hasan Tasnim menceritakan kepada kami, Muhammad bin Bakar mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Nafi’ mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Umar, ia berkata, “Umat Islam ketika datang ke kota Madinah berkumpul hendak melaksanakan ibadah shalat, tetapi tidak seorangpun yang melakukan adzan. Mereka kemudian pada suatu hari membicarakan hal tersebut. Sebagian sahabat berkata, 'Mereka menggunakan lonceng seperti lonceng yang digunakan oleh orang Nasrani.' Sebagian sabahat lainnya berkata, Tidak! melainkan bel sebagaimana bel orang Yahudi.' Umar berkata, 'Apakah kalian tidak menunjuk seorang laki-laki untuk mengajak melakukan shalat.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Bangunlah wahai Bilal’” Lalu ia memanggil orang-orang untuk melaksanakan shalat.480 Shahih Ibnu Khuzaimah 362: Bundar menceritakan kepada kami, Abu Bakar menceritakan kepada kami —maksudnya adalah Al Hanafi— (45/1) Abdullah bin Nafi’ menceritakan kepada kami, dari ayahnya dari Ibnu Umar, sesungguhnya Bilal melantunkan kalimat adzan pertama kali; Asyahadu Anla Ilaha Illallah, Hayya Ala Shalah (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah SWT. Marilah melaksanakan shalat) Umar berkata kepadanya, “Katakanlah! —di dalam haditsnya disebutkan—, Asyahadu Anna Muhammadar Rasulullah (Aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ’Katakanlah sebagaimana yang diperintahkan oleh Umar kepadamu’.” Shahih Ibnu Khuzaimah 363: Said bin Yahya bin Said Al Umawi mengabarkan kepada kami, Ayahku mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ishaq mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits, dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika kami berada di pagi hari, kami datang menjumpai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku menceritakan kepada beliau mengenai mimpiku, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya mimpi ini benar adanya, maka lakukanlah adzan bersama Bilal, sesungguhnya Bilal memiliki suara yang lebih keras atau lebih indah darimu, lalu ajarkanlah apa yang dikatakan kepadamu, kemudian ia melakukan panggilan dengan kalimat tersebut'.” Ia berkata, “Aku lalu melakukannya. Ketika Umar bin Al Khaththab mendengar panggilan shalat dari Bilal, ia bergegas keluar menemui Rasulullah sambil menarik sorbannya dan berkata, 'Wahai Rasulullah! demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran aku telah bermimpi seperti yang muadzin kumandangkan.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Segala puji bagi Allah ‘481 Shahih Ibnu Khuzaimah 364: Abu Bakar bericata di dalam hadits Nafi', dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Bangunlah wahai Bilal” lalu ia mengumandangkan adzan untuk shalat. 482 Shahih Ibnu Khuzaimah 365: Abu Bakar berkata: Dalam hadits Abdullah bin Zaid; Rasulullah saat tiba di kota Madinah, orang-orang telah berkumpul untuk melaksanakan shalat ketika waktu shalat hampir tiba tanpa ada adzan. 483 Shahih Ibnu Khuzaimah 366: Basyar bin Hilal mengabarkan kepada kami, Abdul Warits —maksudnya Ibnu Said— mengabarkan kepada kami, dari Ayyub, Ha’, Bundar (menceritakan kepada kami), Abdul Wahab mengabarkan kepada kami, Abu Ayub mengabarkan kepada kami, Ha’, Bandar menceritakan kepada kami, Abdul Wahab menceritakan kepada kami, Khalid mengabarkan kepada kami, Ha’, dari Muhammad tanpa ada penafsiran. Abu Al Khaththab menceritakan kepada kami, Bisyr —maksudnya adalah Ibnul Mughaffal— mengabarkan kepada kami, Khalid mengabarkan kepada kami, Ha’, Ziyad bin Ayub menceritakan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami dari Khalid, Ha’, Muslim Ibnu Junadah menceritakan kepada kami, Waqi' menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Khalid Al Hadzdza', keduanya dari Abu Qilabah dari Anas, ia berkata, “Bilal diperintahkan untuk menggenapkan kalimat Adzan dan mengganjilkan kalimat iqamah.” 484 Shahih Ibnu Khuzaimah 367: Muhammad bin Abdul A'la Ash-Shan’ani mengabarkan kepada kami, Al Mu’tamir mengabarkan kepada kami, ia berkata, Aku mendengar Khalid menceritakan hadits dari Abu Qilabah dari Anas, sesungguhnya ia pernah bercerita, dengannya “Sesungguhnya mereka berpegangan sesuatu, di mana dengannya mereka mengumandangkan adzan sebagai informasi waktu shalat. Ia berkata, “Kemudian Bilal diperintahkan menggenapkan kalimat adzan dan mengganjilkan kalimat iqamah.”485 Shahih Ibnu Khuzaimah 368: Bundar mengabarkan kepada kami, Abd Al Wahab Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, Khalid mengabarkan kepada kami dari Abu Qilabah dari Anas ia berkata, “Ketika masyarakat (muslim) sudah banyak, mereka mengemukakan agar ada informasi waktu shalat dengan sesuatu yang dapat mereka kenali, lalu mereka mengemukakan agar menyalakan api atau memukul lonceng. Kemudian Bilal diperintahkan untuk menggenapkan kalimat adzan dan mengganjilkan kalimat iqamah.” 486 Shahih Ibnu Khuzaimah 369: Muhammad bin Yahya Al Qutha’i mengabarkan kepada kami, Rauh bin Atha' (45-ba’) mengabarkan kepada kami, Khalid Al Hadzdza' menceritakan kepada kami, dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik, ia berkata, “Apabila tiba waktu shalat di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka seorang laki-laki berlari di jalan lalu memanggil-manggil untuk shalat, shalat! shalat, hal tersebut membuat kesulitan bagi masyarakat. Mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya kita menggunakan lonceng.’ Rasulullah menjawab, 'Itu adalah milik orang Nasrani’.Ia berkata, 'Bagaimana seandainya kita menggunakan terompet.’ Nabi menjawab,'Hal tersebut milik orang Yahudi.' Ia berkata, Kemudian Bilal diperintahkan menggenapkan kalimat adzan dan menganjilkan kalimat iqamah'." 487 Shahih Ibnu Khuzaimah 370: Al Fakih Al Imam Abu Al Hasan Ali bin Muslim mengabarkan kepada kami, Abdu Al Aziz bin Ahmad mengabarkan kepada kami, Ismail bin Abdurrahman mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Thahir mengabarkan kepada kami, Abu Bakar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Isa berkata, Salamah —maksudnya adalah Ibnu Fadl— mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika tiba di kota Madinah, orang-orang berkumpul untuk melaksanakan ibadah shalat saat waktu shalat hampir tiba tanpa ada kumandang adzan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkeinginan [menjadikan] terompet sebagai petandanya seperti orang-orang Yahudi yang mengundang untuk melaksanakan shalat dengan terompet mereka, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyukainya. Lalu beliau memerintahkan untuk menggunakan lonceng, kemudian dibuatkanlah lonceng, yaitu dengan dipukul sebagai tanda bagi umat Islam untuk melaksanakan shalat. Di saat mereka dalam kondisi tersebut, aku melihat Abdullah bin Zaid bin Abdu Rabih; saudara laki- laki dari Al Harits bin Al Hajraj, melakukan panggilan shalat, kemudian ia mendatangi Rasulullah lalu ia berkata, 'Wahai Rasulullah ada seorang laki-laki yang mengelilingiku pada malam ini,488 ia menggunakan baju hijau dan membawa lonceng di tangannya berpapasan denganku, aku bertanya kepadanya, 'Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng ini?' Ia menjawab, 'Apa yang akan engkau lakukan dengannya?' Aku jawab, 'Akan kami gunakan untuk memanggil sebagai tanda pelaksanaan shalat.' Ia berkata, 'Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari hal tersebut!' Aku berkata, 'Apa itu?' Ia berkata, 'Engkau katakan; Allaahu akbar Allaahu akbar, Allahu Akbar Allaahu akbar, Asyahadu allaa ilaaha illallaah, Asyhadu allaa ilaaha Illallaah, Asyahadu anna Muhammadar- Rasuulullah, Asyhadu anna Muhammadar-Rasuulullah (55/1) Hayya alash-shalaah, Hayya alash-shalaah, Hayya alal falaah, Hayya alal falaah, Allaahu akbar, allaahu akbar la ilaha illallah.' Lalu tidak banyak orang yang terlambat, —karena ada tanda masuknya waktu shalat— beliau kemudian berkata seperti apa yang ia katakan, lantas beliau menjadikannya ganjil kecuali redaksi 'Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalah, Allaahu akbar, Allaahu Akbar, laa ilaaha Illallaah, ketika aku memberitahu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Sesungguhnya itu mimpi yang hak, insya Allah. Lakukanlah bersama Bilal, kemudian ajarkanlah kalimat-kalimat tersebut kepadanya karena ia memiliki suara lebih keras dan lebih indah dari pada kamu." Ketika Bilal mengumandangkan adzan dengan redaksi tersebut, Umar bin Al Khaththab saat itu berada di kediamannya mendengar suara adzan Bilal, lalu ia keluar menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menarik surbannya, kemudian ia berkata, “Wahai Nabiyullah demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran aku bermimpi sama dengan apa yang ia impikan.” Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Segala puji bagi Allah, hal itu lebih memperkuat.” 489 Shahih Ibnu Khuzaimah 371: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Ya'qub bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, Ayahku menceritakan kepadaku dari Ibnu Ishaq, Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits At-Taimi menceritakan kepadaku dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Abdu Rabih, Abu Abdullah bin Zaid menceritakan kepadaku, ia berkata, "Ketika Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan -memberi tanda masuknnya shalat-dengan lonceng, cara melakukannya adalah dengan dipukul untuk mengumpulkan orang-orang guna melaksanakan shalat." Ia menyebutkan hadits panjang lebar seperti hadits Salamah bin Fadl. 490 Shahih Ibnu Khuzaimah 372: Ia berkata, aku mendengar Muhammad bin Yahya berkata, 'Tidak ada hadits-hadits Abdullah bin Zaid mengenai kisah adzan yang lebih shahih dari hadits ini, karena Muhammad bin Abdullah bin Zaid mendengar dari ayahnya. Sementara Abdurrahman bin Abu Laila tidak mendengarnya dari Abdullah bin Zaid." 491 Shahih Ibnu Khuzaimah 373: Muhammad bin Ali mengabarkan kepada kami dalam mengomentari haditsnya, ia berkata, Ya’qub bin Ibrahim bin Said menceritakan kepada kami, ayahku mengabarkan kepada kami dari Ibnu Ishaq, ia berkata, kemudian Muhammad bin Muslim bin Abdullah bin Syihab Az-Zuhri mengemukakan dari Said bin Al Musayyab, dari Abdullah bin Zaid bin Abdu Rabih dengan hadits ini, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya mimpi ini adalah benar, insya Allah”, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan adzan. Bilal yang merupakan hamba sahaya dari Abu Bakar Siddiq mengumandangkan adzan dengan redaksi tersebut.492 Shahih Ibnu Khuzaimah 374: Bundar menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far mengabarkan kepada kami, Syu'bah mengabarkan kepada kami, ia berkata, aku mendengar Abu Ja'far menceritakan hadits dari Muslim bin Al Mutsanna dari Ibnu Umar, ia berkata, "Sesungguhnya redaksi adzan di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diucapkan dua kali-dua kali dan redaksi iqamah diucapkan sekali- sekali. Hanya saja Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Qad qaamatish-shalaah qad qaamatish-shalaah." Apabila kami mendengar hal tersebut, maka kami berwudhu kemudian kami keluar. Muhammad berkata, "Syu'bah berkata, 'Aku tidak mendengar dari Abu Ja'far selain hadits ini'." 493 Yahya mengabarkan kepada kami dari Syu'bah dari Abu Ja'far dari Muslim bin Al Mutsanna dari Ibnu Umar dengan hadits sejenis. Shahih Ibnu Khuzaimah 375: Muhammad bin Rafi' mengabarkan kepada kami, Abdur-Razaq mengabarkan kepada kami, Ma'mar mengabarkan kepada kami dari Ayub dari Abu Qilabah dari Anas, ia berkata, "Bilal menggenapkan kalimat adzan dan mengganjilkan redaksi Iqamah kecuali kalimat 'Qad qaamatish-shalaah Qad qaamatishalaah' 494 Abu Bakar berkata, "Dan, hadits Ibnu Al Mutsanna dari Ibnu Umar berasal dari bab ini." Shahih Ibnu Khuzaimah 376: Muhammad bin Ma'mar Al Qaisi mengabarkan kepada kami, Sulaiman bin Harb mengabarkan kepada kami, Hamad bin Athiyah mengabarkan kepada kami dari Ayub dari Abu Qilabah dari Anas, ia berkata, "Bilal diperintahkan untuk menggenapkan kalimat azdan dan mengganjilkan kalimat iqamah kecuali kalimat Iqamah -yaitu qad qaamatishalaah-495 Shahih Ibnu Khuzaimah 377: Ya'qub bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengabarkan kepada kami, Said bin Amir mengabarkan kepada kami dari Hammam, dari Amr Al Ahwal, dari Makhul, dari Ibnu Muhairaz, dari Abu Mahdzurah, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan sekitar dua puluh orang laki-laki, kemudian masing- masing mengumandangkan adzan, dan Abu Mahdzurah memiliki suara yang mencengangkan Nabi, lalu beliau mengajarkan kumandang adzan kepadanya; Allaahu akbar, allaahu akbar, allaahu akbar. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, allaa ilaaha illallaah. Asyhadu anna muhammadar rasuulullah, asyhadu anna muhammadar rasuulullah. Hayya alash-shalaah, hayya alash-shalaah. Hayya alal falaah, hayya alal falaah. Allaahu akbar-allaahu akbar laa ilaaha illallaah. Lalu beliau mengajarkan iqamah dua kali-dua kali." 496 Shahih Ibnu Khuzaimah 378: Basyar bin Muadz Al Aqadi mengabarkan kepada kami, Ibrahim, bin Abdul Aziz bin Abdul Malik bin Abu Mahdzurah petugas adzan masjidil haram menceritakan kepada kami, Abu Abdul Aziz menceritakan kepadaku, Abdul Mulk menceritakan kepadaku, semuanya dari Mahdzurah; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendudukannya lalu beliau mengajarkan kepadanya kumandang adzan satu kalimat satu kalimat. Basyar berkata: Ibrahim berkata kepadaku, "Redaksi adzan itu seperti adzan kita ini." Aku katakan kepadanya, 'Ulangilah padaku", lalu ia berkata, "Allaahu Akbar, allaahu Akbar, Asyhadu allaa ilaaha illallaah; dua kali, asyhadu anna muhammadar rasuulullah; dua kali. Ia mengumandangkan (adzan) dengan suara tersebut yang dapat didengar oleh orang sekitarnya. Asyhadu Alla Ilaha Illallahdua kali Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah dua kali lalu ia meninggikan suaranya, ia berkata: Hayya Ala Shalah dua kali Hayya Alal Falah dua kali,Allahu Akbar,Allahu Akbar la ilaha Illallah. 497 Abu Bakar berkata, "Abdul Aziz bin Abdul Mulk tidak mendengar hadits ini dari Abu Mahdzurah, sesungguhnya hadits di atas diriwayatkan dari Abdullah bin Muhairiz dari Abu Mahdzurah." Shahih Ibnu Khuzaimah 379: Bundar mengabarkan kepada kami, Abu Ashim mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz bin Abdul Mulk bin Abu Mahdzurah mengabarkan kepadaku dari Abdullah bin Muhairiz, Ya'kub bin Ibrahim Ad- Dauruqi menceritakannya kepada kami, Rauh mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz bin Abdul Mulk bin Mahdzurah mengabarkan kepada kami, sesungguhnya Abdullah bin Muhairiz mengabarkan kepadanya -ia adalah sosok anak yatim di bawah pengasuhan Abu Mahdzurah bin Mi'yar- saat ia hendak bergegas menuju syam, aku katakan kepada Abu Mahdzurah, "Sesungguhnya aku pergi keluar menuju kawasan Syam dan sesungguhnya aku bertanya mengenai adzanmu," lalu ia menyebutkan hadits dengan redaksi yang panjang. Hanya saja Bundar pernah berkata dalam khabar; Dari permulaan adzan, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri yang mengajarkan kumandang adzan tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Katakanlah! Allaahu akbar allaahu Akbar, Allaahu akbar, allaahu akbar", kemudian beliau menyebutkan redaksi adzan yang tersisa seperti yang terdapat dalam hadits Makhul dari Ibnu Muhairiz dan ia tidak menyebutkan redaksi iqamah. Dalam hadits tersebut ia menambahkan beberapa tambahan sebelum menyebutkan redaksi adzan dan yang setelahnya." Ad-Dauruqi berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda mengenai permulaan adzan; Allaahu akbar, allahu akbar serta redaksi yang tersisa seperti redaksi hadits Bundar." 498 Demikianlah Rauh meriwayatkan hadits dari Ibnu Juraij dari Utsman bin As-Saib dari Ummu Abdul Mulk bin Abu Mahdzurah dari Abu Mahdzurah. Ia menyebutkan permulaan adzan, "Allahu akbar, Allaahu Akbar" dengan tidak mengatakan sebanyak empat kali. Aku meriwayatkan hadits yang berkenaan dengan pemberian pahala adzan untuk shalat Subuh. Abu Ashim dan Abdur-Razaq menceritakan hadits dari Ibnu Juraij, keduanya berkata mengenai permulaan adzan; Allaahu akbar, allaahu akbar-Allaahu akbar, Allaahu Akbar. Abu Bakar berkata, "Hadits Ibnu Abu Mahdzurah tetap shahih dari sisi penukilan hadits. 499 serta hadits Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Abdu Rabih dari ayahku adalah kuat dan shahih dari sisi penukilan hadits, karena Ibnu Muhammad bin Abdullah bin Zaid telah mendengarnya dari ayahnya sementara Muhammad bin Ishaq telah mendengarnya dari Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits At-Taimi. Hadits ini tidak termasuk hadits yang dianggap mudallas (65/1) oleh Muhammad bin Ishaq. Hadits Ayub dan Khalid berasal dari Abu Qilabah dari Anas adalah shahih dan tidak diragukan annya. Kami telah ditunjukkan bahwa orang yang memerintahkan hal tersebut dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bukan sosok lainnya. Adapun hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang Irak yang berasal dari Abdullah bin Zaid adalah tetap (tidak terbantah) dari sisi nakl, namun dari sisi sanad-sanad yang mereka riwayatkan dari Abdullah bin Zaid mengenai mengumandangkan adzan dua kali-dua kali dan iqamah, semuanya adalah salah. Al A'masy meriwayatkan hadits dari Amr bin Murah dari Abdurrahman bin Abu Laila, ia berkata, "Para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan kepada kami bahwa Abdullah bin Zaid saat bermimpi adzan, ia lalu mendatangi Nabi dan memberitahukan mimpinya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ajarkanlah kepada Bilat lalu Bilal berdiri kemudian mengumandangkan adzan dua kali-dua kali lalu mengumandangkan iqamah dua kali-dua kali lalu ia duduk sekali." Shahih Ibnu Khuzaimah 380: Salam bin Junadah mengabarkan kepada kami, Waqi' mengabarkan kepada kami, dari Al A'masy. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Laila, dari Amar bin Murah, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Abdullah bin Zaid. Abdullah bin Said Al Asyaj menceritakannya kepada kami. Uqbah menceritakan kepada kami —maksudnya Ibnu Khalid— Ha’, Hasan bin Qaz’ah menceritakan kepada kami, Hushain bin Numair menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Laila menceritakan kepada kami. 500 Shahih Ibnu Khuzaimah 381: Al Mas’udi meriwayatkan hadits dari Amr bin Murah dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Muadz bin Jabal. Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin lyash, dari Al A'masy, dari Amr bin Murrah, dari Abdurrahamn bin Abu Laila, ia berkata, dari Muadz.501 Ziad bin Ayub mengabarkan kepada kami dengan hadits Al Mas’udi, Yazid bin Harun mengabarkan kepada kami, Al Mas’udi mengabarkan kepada kami, Ha’, Ziad juga mengabarkan kepada kami, Ashim —maksudnya Ibnu Ali— mengabarkan kepada kami, Al Mas’udi mengabarkan kepada kami. Ha’, kami dikabarkan dengan hadits Abu Bakar bin lyash dan Al Hasan bin Yunus bin Mahran Az-Zayat, Al Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin lyash menceritakan kepada kami, dari Al A'masy, dari Amr bin Murah, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Muadz.502 Shahih Ibnu Khuzaimah 382: Hadits diriyawatkan oleh Husein bin Abdurrahman, dari Ibnu Abu Laila sebagai hadits mursal. Ia tidak mengatakan dari Abdullah bin Zaid dan tidak juga dari Muadz dan juga tidak mengemukakan salah seorang sahabat manapun, sesungguhnya ia berkata, ketika Abdullah bin Zaid bermimpi mengenai adzan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda kepadanya503 Al Makhzumi mengabarkan kepada kami akan hadits tersebut, Sufyan mengabarkan kepada kami dari Hushain dari Abdurrahman bin Abu Laila. Ats-Tsauri meriwayatkan hadits, dari Hushain dan Amr bin Murah, dari Abdurrahman bin Abu Laila. Ia tidak mengatakan dari Muadz. Demikian pula tidak dari Abdullah bin Zaid. Ia juga tidak mengatakan, “Para sahabat kami menceritakan kepada kami. Demikian pula sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, melainkan menganggapnya sebagai hadits mursal." Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abdur-Razaq mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Amr bin Murah dan Hushain bin Abdurrahan dari Abdurrahman bin Abu Laila, ia berkata, “Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam didatangi oleh suara adzan....” Lalu ia menyebutkan hadits. Ia berkata, “Aku mendengar Muhammad bin Yahya berkata...”, dan Ibnu Abu Laila tidak menjumpai Ibnu Zaid. Hadits ini diriwayatkan oleh Syarik dari Hushain, ia berkata, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Abdullah bin Zaid, lalu ia menyebutkan sebuah hadits. Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Husein; Hadits diriwayatkan oleh Syu’bah, dari Amr bin Murrah, dari Abdurrahman bin Abu Laila, ia tidak mengatakan dari Abdullah bin Zaid dan juga dari Muadz. la berkata, “Para pengikut kami menceritakan kepada kami dengan tidak menyebutkan nama seorang pun dari mereka.” Shahih Ibnu Khuzaimah 383: Bundar mengabarkan kepada kami akan hadits tersebut, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Amr bin Murah, dari Abdurrahman bin Abu Laila, ia berkata, “Ibadah shalat dipindahkan pada tiga kondisi dan ibadah puasa juga pada tiga kondisi.” Para pengikut kami menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sangat menakjubkanku seandainya shalat orang mukmin dan orang muslim adalah satu, sehingga aku berkeinginan untuk menyuruh beberapa orang laki-laki naik ke tempat yang lebih tinggi guna mengumandangkan adzan sebagai tanda datangnya ...” kemudian ia menyebutkan hadits secara panjang lebar.504 Amr berkata, “Hushain menceritakan kepadaku dengan jalur ini dari Ibnu Abu Laila.” Syu’bah berkata, “Aku telah mendengarnya dari Husein dari Ibnu Abu Laila.” Shahih Ibnu Khuzaimah 384: Jarir meriwayatkan hadits dari Al ‘Amasy dari Amr bin Murrah, ia lalu berkata, dari Abdurrahman bin Abu Laila dari seorang laki-laki. Sebagian redaksi hadits ini (56-ba') —maksudnya sabda nabi -- “ Ibadah shalat dipindahkan pada tiga kondisi' dan ia tidak menyebutkan Abdullah bin Zaid dan Muadz.505 Yusuf bin Musa mengabarkan kepada kami, Jarir mengabarkan kepada kami dari Al Amasy, Ibnu Fudhail meriwayatkannya dari Al Amasy, dari Amr bin Murrah, dari Abdurrahman bin Abu Laila, ia berkata, “Shalat dipindahkan pada tiga kondisi dan puasa dipindahkan pada tiga kondisi.” Lalu ia menyebutkan hadits secara panjang lebar. Ia tidak mengemukakan Abdullah bin Zaid dan Muadz bin Jabal serta tidak menyebutkan seseorang dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia juga tidak mengatakan, “Para pengikut kami menceritakan kepada kami” serta ia pun tidak mengatakan, ‘Dari seorang laki-laki”. Harun bin Ishaq Al Hamdan mengabarkan hadits kepada kami, Ibnu Fudhail mengabarkan kepada kami dari Al Amasy. Abu Bakar berkata: Ini adalah hadits ulama Iraq yang dijadikan dalil hukum dari Abdullah bin Zaid dalam hal redaksi adzan dan Iqamah yang dibaca dua kali-dua kali. Di dalam sanad mereka terdapat percampuran sanad sebagaimana yang aku jelaskan. Adapun Abdurrahman bin Abu Laila tidak pernah mendengar dari Muadz bin Jabal serta Abdullah bin Zaid bin Abi Rabih. Pelaku adzan tidak diperbolehkan berdalil dengan hadits yang tidak kuat dan meninggalkan yang kuat. Aku akan menjelaskan masalah ini secara utuh dalam bab shalat yang terdapat pada Al Musnad Al Kabir dan bukan dalam Al Mukhtashar. Shahih Ibnu Khuzaimah 385: Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Rauh mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Utsman bin Asyaib mengabarkan kepadaku dari Unimu Abdul Mulk bin Abu Mahdzurah dari Abu Mahdzurah. Muhammad bin Rafi’ menceritakan hadits kepada kami, Abdur-Razaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkannya kepada kami, Utsman bin As-Sa'ib hamba sahaya mereka mengabarkan kepadaku, dari ayahnya maula Abu Mahdzurah dan dari Abdul Mulk bin Abu Mahdzurah, sesungguhnya keduanya mendengar dari Abu Mahdzurah, Ha', Yazid bin Sinan menceritakan kepada kami, Abu Ashim menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, Utsman bin As-Saib menceritakan kepadaku, Ayahku dan Ummu Abdul Mulk bin Abu Mahdzurah mengabarkan kepadaku dari Abu Mahdzurah dan inilah hadits Ad- Daruqi, ia berkata, “Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kembali dari perang Hunain, aku adalah orang yang kesepuluh keluar dari kota Makkah mencari mereka (yang sembilan orang), lalu aku mendengar mereka mengumandangkan adzan shalat, kami pun bangun lalu mengumandangkan adzan dengan tujuan mengejek mereka. Nabi lalu shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah mendengar pada mereka ada seseorang yang adzan, memiliki suara bagus." Lalu beliau mengirim seseorang kepada kami, kemudian satu persatu dari kami mengumandangkan adzan dan aku adalah orang yang terakhir. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda saat aku adzan, “ Kemarilah” beliau mendudukkanku di hadapannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengusap ubun-ubunku dan mengucapkan keberkahan atas diriku sebanyak tiga kali, beliau lalu bersabda, “ Pergilah dan kumandangkanlah adzan sekarang; Allaahu akbar, Allaahu akbar, asyhadu allaa ilaaha illallaah, asyhadu allaa ilaaha illallaah, asyhadu anna Muhammadar-rasuulullaah, asyhadu anna Muhammadar-rasuulullaah, hayya alash-shalaah, hayya alash- shalaah, hayya alal falaah, hayya alal falaah, ashalaatu khairum-minannauum, ashalaatu khairum-minannauum, di awal waktu shuhuh. allaahu akbar-allaahu Akbar, laa ilaaha illallaah” Ia berkata, “Beliau mengajarkanku iqamah dua kali-dua kali, allaahu akbar- allaahu akbar, asyhadu allaa ilaaha illallaah, asyhadu allaa ilaaha illallaah, asyhadu anna Muhammadar-rasuulullah, asyhadu anna muhammadar-rasuulullah, hayya alash-shalah, hayya Alash-shalah, hayya alal falaah, hayya alal falaah, qad qaamatish-shalaah, qad qaamatish-shalaah allaahu akbar-allaahu akbar laa ilaaha illallaah Ibnu Juraij berkata, “Utsman mengabarkan kepadaku hadits ini semua dari ayahnya dari Ummi Abdul Mulak bin Abu Mahdzurah sesungguhnya aku mendengar hal tersebut dari Abu Mahdzurah.” Ibnu Rafi’ dan Yazid bin Sinan berkata di dalam hadits di awal adzan tentang kalimat, IAllahu Akbar, allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar." Lalu Yazid bin Sinan menyebutkan redaksi iqamah dua kali-dua kali sebagaimana yang dikemukakan oleh Ad-Dauruqi. Ibnu Rafi’ berkata di dalam haditsnya, “Apabila engkau mengumandangkan iqamah, maka ucapkanlah dua kali kalimat 'Qad qaamatish-shalaah-qad qaamatish-shalah, apakah engkau mendengarnya?” Dan, ia menambahkan. Abu Mahdzurah (57-alif) tidak mengiyakan ungkapan "ubun-ubunnya” dan tidak memisahkannya, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengusapnya. Yazid bin Sinan diakhir haditsnya menambahkan; Ibnu Juraij berkata, “Utsman menceritakan hadits ini semuanya dari ayahnya dari Ummu Abdul Malak bin Abu Mahdzurah (1/57), sesungguhnya keduanya mendengar hal tersebut dari Abu Mahdzurah. Shahih Ibnu Khuzaimah 386: Muhammad bin Utsman Al Ijli menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Ibnu Auf dari Muhammad bin Sirrin dari Anas, ia berkata, “Termasuk perbuatan sunnah apabila seorang Muadzin mengucapkan kalimat 'Hayya alal falaah' lalu setelahnya ia mengucapkan, 'Ashalatu khairum-minannauum disaat adzan shubuh.” 507 Shahih Ibnu Khuzaimah 387: Abu Musa mengabarkan kepada kami, Muhid bin Al Mutsanna mengabarkan kepada kami, Abdurrahman mengabarkan kepada kami, dari Sufyan, dari Aun, ia adalah Ibnu Abu Juhaifah dari ayahnya, ia berkata, “Aku pernah melihat Bilal melakukan adzan, lalu mulutnya mengikuti kemana wajah menoleh” Sufyan mengemukakan bahwa Bilal menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.509 Al Hasan bin Muhammad Az-Za’farani mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Yusuf Al Azraq mengabarkan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Aun —ia adalah Ibnu Abu Zuhaifah—, ia berkata, “Aku melihat Nabi berada di Bathha', tepatnya pada Kubah Hamra' dan di sisi beliau terdapat sekelompok orang. Kemudian Bilal datang dan mengumandangkan adzan, ia berubah-ubah posisi mengikuti mulutnya dari satu sisi ke sisi yang lain —maksudnya adalah saat mengucapkan “Hayya alash- shalaah dan hayya alal-falaah—510 Waqi' dari Ats-Tsauri dalam hadits ini ia berkata, “Muadzin dalam adzannya mengumandangkan demikian... dan ia menolehkan kepalanya ke arah kanan dan kiri saat mengucapkan 'Hayya alal falaah’ Salam bin Junadah mengabarkan kepada kami, Waqi' menceritakan kepada kami. Shahih Ibnu Khuzaimah 388: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Daruqi menceritakan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami dari Hajjaj dari Aun bin Abu Juhaifah dari ayahnya, ia berkata, "Aku melihat Bilal mengumandangkan adzan dan ia menjadikan kedua jarinya berada di kedua telinganya dan ia menolehkan wajahnya saat adzan; ke arah kanan dan ke kiri.511 Shahih Ibnu Khuzaimah 389: Abdul Jabar bin Al Ala' mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Sha’sha'ah menceritakan kepadaku dari ayahnya, ia berkata, Abu Said berkata, “Apabila engkau berada di kawasan pedalaman, maka tinggikanlah suara adzanmu, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suara muadzin didengar oleh pepohonan, tanah, batu, jin dan manusia, kecuali ia menjadi saksi untuknya.” 512 Murrah berkata, “Abdullah bin Abu Sha’sha'ah pernah menceritakan kepadaku, ayahku pernah menceritakan kepadaku, di mana beliau adalah sosok yatim yang baru berada di bawah asuhan Abu Said. Dahulu ibunya mengabdi pada Said.” Shahih Ibnu Khuzaimah 390: Bundar Muhammad mengabarkan kepada kami, Abdurrahman mengabarkan kepada kami, dari Syu’bah, dari Musa bin Abu Utsman, ia berkata, Aku mendengar Abu Yahya berkata, Aku mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muadzin akan diampuni dosanya sejauh gema suaranya dan masing-masing makhluk Allah yang basah dan kering menjadi saksi baginya serta orang-orang yang melaksanakan ibadah shalat menuliskan dua puluh lima kebajikan baginya dan dosa di antara dua waktu shalat dihapuskan”513 Abu Bakar berkata, “Yang dimaksud adalah dosa di antara dua waktu shalat.” Shahih Ibnu Khuzaimah 391: Yunus bin Abdul Ala mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami sesungguhnya Malik mengabarkan kepadanya, Ha', Yahya bin Hakim menceritakan kepada kami, Basyar bin Umar mengabarkan kepada kami, Malik mengabarkan kepada kami, dari Sumaiyi maula Abu Bakar dari Shalih As-Samman dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya orang-orang mengetahui apa (pahala) yang terdapat pada adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka pasti mengundinya.514 Ini adalah hadits redaksi Yahya bin Hakim. Atabah bin Abdullah Al Yahmadi, ia berkata, “Aku membaca dari Malik dari Sumaiyi sama dengan hadits ini.” Shahih Ibnu Khuzaimah 392: Al Husem bm Isa Al Bisthami mengabarkan hadits kepada kami, Anas bin Iyadh mengabarkan kepada kami dari Katsir bin Zaid dari Al Walid bin Rabah dari Abu Hurairah; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila syetan mendengar adzan untuk shalat, maka ia berpaling (berlari menjauh) dan ia mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengarnya lagi.”515 Shahih Ibnu Khuzaimah 393: Yusuf bin Musa mengabarkan kepada kami, Jarir dan Abu Muawiyah mengabarkan kepada kami —redaksi hadits milik Jarir— dari Al A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya syetan apabila mendengar adzan untuk shalat, maka ia pergi, sampai ia berada di kawasan Ar Rauha”516 Sulaiman berkata, “Aku bertanya tentang Ar-Rauha', ia menjawab, 'Ar Rauha' adalah kawasan yang terletak tiga puluh enam mil dari kota Madinah'.” Shahih Ibnu Khuzaimah 394: Ahmad bin Sinan Al Wasithi mengabarkan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi mengabarkan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami dari Muhajir Abui Hasan, ia berkata, aku mendengar Zaid bin Wahab, ia berkata, Aku mendengar Abu Dzar berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam bepergian, lalu ada seorang muadzin yang ingin mengumandangkan adzan, beliau lalu bersabda, “Tinggu sampai teduh” lalu ia ingin mengumandangkan adzan, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tunggu sampai teduh” Syu’bah berkata, “Sampai bayangan sama dengan undukan tanah” lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya panas yang menyengat termasuk semburan (jilatan) neraka jahanam, maka tunggulah dalam melaksanakan shalat sampai cuaca teduh.”,517 Shahih Ibnu Khuzaimah 395: Abdullah bin Said Al Asyaj mengabarkan kepada kami, Hafash mengabarkan kepada kami maksudnya -Ibnu Ghiyas, Khalid Al Hadzdza' mengabarkan kepada kami dari Abu Qilabah dari Malik bin Al Huwairits, ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersama seorang laki-laki, lalu kami berpisah, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian berdua berpergian lalu tiba waktu shalat, maka kumandangkanlah adzan dan iqamah serta yang lebih tua menjadi Imam”.518 Al Hadzdza' berkata, “Keduanya mirip dalam hal bacaan shalatnya.” Shahih Ibnu Khuzaimah 396: Salm bin Junadah mengabarkan kepada kami, Waqi' mengabarkan kepada kami, dari Sufyan dari Khalid Al Hadzdza' dari Abu Qilabah dari Malik bin Al Huwairits, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Rasulullah; aku dan anak pamanku, lalu beliau bersabda, “Apabila kalian berdua pergi, maka kumandangkanlah adzan dan iqamah, serta hendaklah yang lebih tua dari keduanya menjadi imam.”519 Shahih Ibnu Khuzaimah 397: Muhammad bin Basyar Bundar mengabarkan kepada kami, Abdul Wahab menceritakan kepada kami , Ayub mengabarkan kepada kami, dari Abu Qilabah, Malik bin Al Huwairits mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat usia kami masih muda. Kemudian kami menetap selama dua puluh malam, sementara beliau adalah sosok yang memiliki kasih sayang dan kelembutan. Ketika beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berasumsi bahwa kami telah merindukan keluarga kami, maka kami bertanya mengenai apa yang kami tinggalkan setelah ini, lalu beliau mengabarkannya kepada kami, beliau bersabda, 'Kembalilah kepada keluarga kalian dan menetaplah bersama mereka, ajarilah dan perintahkanlah mereka' lalu beliau menyebutkan beberapa hal yang aku hafal dan beberapa hal yang tidak aku hafal; 'Dan, shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat, apabila waktu tiba, maka salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan yang lebih tua dari kalian yang menjadi imam'." 520 Yahya bin Hakim mengabarkan kepada kami, Abdul Wahab bin Abdul Majid mengabarkan kepada kami seperti hadits Bundar dan barangkali terjadi perbedaan di sebagian redaksinya. Shahih Ibnu Khuzaimah 398: Ya’kub bin Ibrahim dan Abu Hasyim mengabarkan kepada kami dan keduanya berkata, “Ismail menceritakan kepada kami, Ayub mengabarkan kepada kami, dari Abu Qilabah dari Malik bin Al Huwairits.” Lalu ia menyebutkan hadits secara sempurna.521 Shahih Ibnu Khuzaimah 399: Ismail bin Basyar bin Manshur As- Sulami, Abdul A'la mengabarkan kepada kami dari Humaid dari Qatadah dari Anas bin Malik, Nabi pernah mendengar seorang laki- laki yang sedang berjalan berkata, “Allahu Akbar, Allahu Akbar. ” Nabiyullah kemudian bersabda, “Ia berada dalam kesucian”. Ia berkata, “Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah. ” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ia telah keluar dari api neraka. ” Lalu suatu kaum bergegas menemui laki-laki tersebut, apabila ia mengembala kambingnya kemudian waktu shalat tiba, maka ia berdiri mengumandangkan adzan.”522 Shahih Ibnu Khuzaimah 400: Muhammad bin Abu Sufwan Al Ali mengabarkan kepada kami, Bahz mengabarkan kepada kami Maksudnya adalah Ibnu Asad— Hamad bin Salamah mengabarkan kepada kami, Tsabit dari Anas mengabarkan kepada kami, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah akan melakukan penyerangan saat shalat shubuh. Dan, ketika beliau mendengar adzan, maka beliau menghentikan penyerangan, dan jika tidak mendengar suara adzan, maka beliau meneruskan agresi. Pada suatu hari beliau mendengar seorang laki-laki berkata, “Allaahuakbar, allaahu akbar” lalu nabi bersabda, “Ia Berada di atas kesucian." Lalu laki-laki berkata, “ Asyhadu allaa ilaaha illallaah.” Beliau bersabda, “Ia dibebaskan dari api neraka.” 523 Abu Bakar berkata, “Apabila seseorang mengharapkan kesaksian tauhidnya kepada Allah di dalam adzan, maka sebaiknya bagi seorang mukmin bersegera menuju keutamaan ini dengan harapan Allah SWT membebaskannya dari api neraka, demikian juga saat berada di rumahnya, di pedalaman, di perkampungan atau di kota, semua dalam rangka mencari keutamaan ini. Pintu adzan juga dibuka lebar saat bepergian dan tempat-tempat selain tempat-tempat ini, yaitu (contohnya) di saat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tertidur meninggalkan shalat shubuh hingga matahari terbit serta perintah beliau terhadap Bilal untuk melakukan adzan shubuh setelah habisnya waktu shalat tersebut. Hadits-hadits tersebut bertentangan dengan asumsi para ulama bahwa tidak diperkenankan adzan pada waktu shalat yang waktunya telah habis di mana shalat dilaksanakan tanpa adzan. Shahih Ibnu Khuzaimah 401: Abdul Jabar bin Al Ala' mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, ia berkata, aku pernah mendengar Az-Zuhri bercerita dengan ungkapan : Salim mengabarkan kepadaku dari ayahnya, “Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ’Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai kalian mendengar adzan Ibnu UmiMaktum'. ”524 Al Makhzumi mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami dan ia berkata dalam semua hadits dengan redaksi 'an... 'an. Shahih Ibnu Khuzaimah 402: Ishaq bin Ibrahim bin Habib bin Asy- Syahid mengabarkan kepada kami, Al Mu’tamir menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku, Abu Utsman menceritakan kepada kami dari Ibnu Mas’ud: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah makan sahur salah seorang dari kalian tercegah oleh adzan Bilal. Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan agar orang yang melaksanakan shalat malam kembali ke posisi semula (mengambil waktu istirahat untuk bersiap-siap melaksanakan shalat atau keperluan lainnya), dan yang sedang tidur terbangun. Seseorang tidak boleh mengatakan begini-begini sampai ia berkata begini- begini. ”525 Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami hadits, Jarir menceritakan kepada kami dari Sulaiman, yaitu At- Taimi dari Abu Utsman dari Ibnu Mas’ud dengan hadits ini. Shahih Ibnu Khuzaimah 403: Abdur-rahman bin Bsyr bin Al Hakam mengabarkan kepada kami, Yahya —yaitu Ibnu Said— mengabarkan kepada kami, dari Ubaidullah, dari Al Qasim, dari Aisyah RA: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makanlah dan minumlah sampai Ibnu Umi Maktum mengumandangkan adzan. Tidak ada tenggang waktu di antara keduanya, kecuali seukuran naiknya ini —untuk mengabari LJmmu Maklum agar bersiap-siap dan turunnya ini —guna mempercepat untuk melakukan adzan -- 526 Shahih Ibnu Khuzaimah 404: Abu Hasyim Ziad bin Ayub mengabarkan kepada kami, Hisyam mengabarkan kepada kami, Manshur —yaitu Ibnu Zadzan— mengabarkan kepada kami dari Khubaib bin Abdurrahman dari bibinya Unaisah binti Khubaib, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Ibnu Umi Maktum mengumandangkan adzan, maka makan dan minumlah dan apabila Bilal mengumandangkan adzan, maka janganlah kalian makan dan minum. Apabila terdapat seorang wanita dari kaum kami masih menyantap makan sahur, maka ia akan berkata kepada Bilal, 'Berlahan-lahanlah sampai aku menyelesaikan sahurku’.” 527 Abu Bakar berkata, “Ini adalah hadits yang diperselisihkan keberadaannya dari Khubaib bin Abdurrahman. Hadits ini diriwayatkan oleh Syu’bah dari bibinya; Anisah. Kemudian ia berkata, 'Sesungguhnya Ibnu Umi Maktum atau Bilal mengumandangkan adzan di malam hari'.” Shahih Ibnu Khuzaimah 405: Muhammad bin Basysyar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami dari Khubaib —ia adalah Ibnu Abdurrahman— dari bibinya; Unaisah, di mana ia adalah Ahli shalat: Dari Nabi S A W, beliau bersabda, “Sesungguhnya Ibnu Umi Maklum atau Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, kemudian makan dan minumlah hingga Bilal mengumandangkan adzan —atau Ibnu Umi Maktum— dan hal tersebut tidak terjadi kecuali salah seorang turun dan yang lainnya duduk lalu mengambil pakaiannya, ia kemudian berkata, Tetaplah sebagaimana engkau hingga aku makan sahur'.”528 Ahmad bin Miqdam Al Ijli mengabarkan kepada kami, Yazid bin Zurai’ mengabarkan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dengan hadits sejenis. Abu Bakar berkata, “Hadits Unaisah diperselisihkan redaksinya tetapi Ad-Darawardi meriwayatkan hadits dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah seperti hadits Manshur bin Zadzan dalam lafazh ini. Shahih Ibnu Khuzaimah 406: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Hamzah mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz mengabarkan kepada kami —maksudnya adalah Ibnu Muhammad— dan Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Ibnu Umi Maktum mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah hingga Bilal mengumandangkan adzan, sesungguhnya Bilal tidak mengumandangkan adzan hingga ia melihat fajar.529 Abu Ishaq dari Al Aswad dari Aisyah meriwayatkan hadits yang kandungannya sama dengan hadits ini. Shahih Ibnu Khuzaimah 407: Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi mengabarkan hadits kepada kami, Abui Mundzir mengabarkan kepada kami, Yunus mengabarkan kepada kami dari Abu Ishaq dari Al Aswad bin Yazid, ia berkata: Aku pemah menanyakan kepada Aisyah, “Kapankah engkau melaksanakan shalat witir?” Aisyah berkata, “Aku tidak melaksanakan shalat witir hingga mereka mengumandangkan adzan, dan tidaklah mereka mengumandangkan adzan kecuali terbit fajar.” Aisyah berkata, “Rasulullah memiliki dua muadzin si fulan dan Amr bin Umi Maktum, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Apabila Amr mengumandangkan adzan, maka makan dan minumlah kalian, karena ia adalah sosok laki-laki yang buta penglihatannya. Apabila Bilal mengumandangkan adzan, maka angkatlah tangan kalian, sesungguhnya Bilal tidak akan mengakhiri mengumandangkan adzan sampai waktu shubuh tiba.”530 Shahih Ibnu Khuzaimah 408: Ahmad bin Sa'id Ad-Darimi Muhammad bin Utsman Al Ijli mengabarkan kepada kami keduanya berkata, Ubaidullah bin Musa menceritakan kepada kami, dari Israil dari Ishaq dan Al Aswad dari Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki {59-aIif) tiga muadzin: Bilal, Abu Mahdzurah dan Amr bin Umi Maktum. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, “Apabila Amr mengumandangkan adzan, maka sesungguhnya penglihatannya buta, maka janganlah kalian menipu, apabila Bilal mengumandangkan adzan. karenanya janganlah seseorang memakan suatu makanan.”531 Abu Bakar berkata, “Adapun hadits dari Abu Ishaq dari Al Aswad dari Aisyah, maka sesungguhnya di dalamnya perlu pengkajian, karena aku tidak melihat bahwa Abu Ishaq mendengar hadits ini dari Al Aswad. Adapun hadits Hisyam bin Urwah, maka ia merupakan hadits shahih dari sisi penukilannya. Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits Salim dari Ibnu Umar, serta hadits yang diriwayatkan Al Qasim dari Aisyah, karena boleh saja Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan adzan di malam hari berganti-ganti antara Bilal dan Ibnu Umi Maktum, di mana beliau memerintahkan Bilal mengumandangkan adzan yang pertama di beberapa malam, kemudian apabila Bilal selesai mengumandangkan adzan, maka Ibnu Umi Maktum naik menggantikannya, lalu ia mengumandangkan adzan setelah Bilal di siang hari. Apabila giliran Ibnu Umi Maktum tiba, maka Ibnu Umi Maktum mulai mengumandangkan adzan di malam hari, apabila telah selesai, maka Bilal naik kemudian mengumandangkan adzan setelahnya di siang hari. Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di sini menjelaskan sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari di saat giliran Bilal untuk mengumandangkan adzan di malam hari dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Ibnu Umi Maktum mengumandangkan adzan di malam hari saat giliran adzan Ibnu Umi Maktum. Nabi di sini mengajarkan kepada masyarakat akan dua waktu tersebut, di mana sesungguhnya adzan yang pertama adalah adzan di malam hari, bukan di siang hari dan beliau tidak mencegah makan dan minum seseorang yang ingin berpuasa. Sementara adzan yang kedua adalah adzan di siang hari, bukan di malam hari. Adapun hadits yang diriwayatkan Al Aswad dari Aisyah dan hadits yang menjelaskan bahwa para sahabat mengumandangkan adzan hingga terbit fajar, maka ia memiliki dua arti: Pertama, Seluruh sahabat tidak harus mengumandangkan adzan hingga fajar terbit, hal ini bukan berarti tidak ada seorang pun yang mengumandangkan adzan dari mereka. Tidakkah engkau ingat bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda di dalam hadits, " 'Apabila Amr mengumandangkan adzan, maka makan dan minumlah, dan apabila Amr tidak mengumandangkan adzan hingga terbit fajar, niscaya makan dan minum bagi orang yang berpuasa setelah Amr mengumandangkan adzan adalah dilarang.” Arti kedua yang diinginkan oleh Aisyah, yaitu hingga terbit fajar pertama, di mana orang yang berada di pedalaman mengumandangkan adzan setelah terbit fajar pertama, dan bukan sebelumnya. Ini adalah waktu di mana dihalalkan makan dan minum bagi orang yang ingin berpuasa, karena terbit fajar yang pertama di malam hari, dan bukan di siang hari. Kemudian dikumandangkan adzan kembali setelah terbit fajar kedua yang berada di siang hari, bukan malam hari. Ini adalah kandungan hadits menurutku. Wallahu ‘alam. Shahih Ibnu Khuzaimah 409: Harun bin Ishaq Al Hamdani mengabarkan kepada kami, Ibnu Fudhail mengabarkan kepada kami dari Husein bin Abdurrahman dari Abdullah bin Abu Qatadah dari ayahnya, ia berkata, “Pada suatu malam kami berjalan bersama Rasulullah, lalu sebagian kaum berkata, 'Mungkinkah engkau bisa menetap bersama kami wahai Rasulullah!' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Aku takut kalian tertidur lalu meninggalkan ibadah’. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan hadits panjang lebar dan perawi berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terbangun lalu beliau bersabda, 'Wahai Bilal! Bangunlah' lalu ia mengumandangkan adzan untuk masyarakat (agar melaksanakan) shalat."532 Shahih Ibnu Khuzaimah 410: Muhammad bin Abu Shafwan Ats-Tsaqafi mengabarkan kepada kami, Bahz —Maksudnya adalah Ibnu Asad mengabarkan kepada kami— Hamad —maksudnya Ibnu Salmah— menceritakan kepada kami, Tsabit Al Bunani mengabarkan kepada kami, “Sesungguhnya Abdullah bin Rabah berbicara pada suatu kaum di sebuah masjid. Di antara kaum tersebut terdapat Imran bin Hushain, ia berkata, ‘Siapa pemuda tersebut?' Ia menjawab seseorang dari kaum Anshar. Imran berkata, 'Suatu kaum lebih mengetahui pembicaraan mereka, lihatlah bagaimana mereka berbicara, maka sesungguhnya aku berjumlah tujuh orang di malam itu bersama Rasulullah.' Imran berkata, 'Aku tidak pernah melihat seorang pun menghafal hadits ini kecuali diriku,' ia berkata, Aku mendengar Abu Qatadah berkata, 'Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ' Sesungguhnya kalian hanya belum memiliki air untuk esok hari saat kalian kehausan.' Lalu orang-orang tersebut bergegas pergi. Abu Qatadah bertata, 'Aku bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di malam tersebut kemudian beliau mengantuk lalu tertidur dan aku menyangga beliau kemudian beliau mengantuk kembali lalu tubuh beliau miring dan aku menyangganya (59-ba’) kemudian beliau mengantuk lagi, lalu tubuh beliau miring hingga hampir terperanjat, lalu beliau terbangun. Beliau bertanya,' Siapa laki-laki tersebut’ Aku menjawab, 'Abu Qatadah.' Beliau bertanya, 'Sudah berapa jarak perjalananmu ini ' Aku menjawab, 'Sudah semalam.' Beliau bersabda, 'Mudah-mudahan Allah SWT melindungimu dengan apa yang Dia lindungkan kepada Nabi-Nya.' Beliau lalu bersabda, ‘Mungkinkah kita singgah ?’. Lalu beliau menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon dan aku menyandarkan tubuhku kepadanya, beliau lalu bertanya, 'Apakah engkau melihat seseorang?'Aku katakan, 'Ya! yang ini menggunakan kendaraan dan itu juga menggunakan kendaraan serta dua orang juga berkendaraan. Mereka berjumlah tiga orang sehingga kita menjadi tujuh orang.' Beliau bersabda, 'Kalian harus menjaga shalat kalian. Janganlah kita tidur, sebab pasti kita akan meninggalkan shalat fajar.' lalu telinga mereka ditutup —hingga tidak mendengar tanda pagi— hingga mereka dibangunkan oleh panas matahari. Kemudian mereka berdiri lalu mengikuti Rasulullah dengan senang hati, kemudian mereka singgah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,' kalian memiliki air?' Aku katakan , 'Ya! Aku memiliki katong yang berisi air.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,'Ambilkanlah kantong tersebut.' Lalu aku mengambiIkannya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda, 'Sentuhlah sebagiannya dan sentuhlah sebagainnya.' Lalu kami berwudhu533 kemudian masih tersisa seteguk air. Lalu beliau bersabda, 'Bersinarlah dengannya wahai Abu Qatadah karena seteguk air ini memiliki arti.' Lalu Bilal mengumandangkan adzan, kemudian mereka shalat dua rakaat shalat sunah fajar, lalu melaksanakan shalat shubuh, setelah itu mereka bergegas pergi. Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, 'Kita telah melakukan kesembronoan dalam shalat kita.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Apa yang kalian katakan? ' Jika terdapat sesuatu yang menjadi bagian perkara duniawi kalian, maka itu adalah urusan kalian dan apabila terdapat sesuatu yang termasuk urusan agama kalian, maka itu adalah urusanku? ' Kami katakan, 'Wahai Rasulullah kita telah melakukan kesembronoan dalam shalat kita?' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,'Sesungguhn tidak ada kesembronoan di dalam tidur, sesungguhnya kesembronoan hanya ada saat sadar. Dan, apabila salah seorang dari kalian lupa akan shalatnya, maka hendaklah ia melaksanakan shalat saat mengingatnya atau pada esok hari di saat waktu yang sama.' Hadits ini dikemukakan secara panjang lebar. Shahih Ibnu Khuzaimah 411: Amr bin Ali mengabarkan kepada kami, Yahya bin Said mengabarkan kepada kami, Malik mengabarkan kepada kami, Az Zuhri mengabarkan kepada kami, Amr bin Ali menceritakan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, Yunus bin Yazid Al Aili menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, Ha’, Yunus bin Abdul A'la menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab menceritakan kepada kami, Malik bin Anas dan Yunus menceritakan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Atha' bin Yazid Al- Laitsi, dari Abu Said Al Khudri, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar suara muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan —muadzin—. ”535 Shahih Ibnu Khuzaimah 412: Abu Hisyam bin Ziyad bin Ayub mengabarkan kepada kami, Haiyim menceritakan kepada kami, Abu Basyar mengabarkan kepada kami dari Abui Malih dari Abdullah bin Atabah, dan Abu Sufyan, dari bibinya Ummu Habibah binti Abu Sufyan, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berada pada hari gilirannya, lalu beliau mendengar kumandang adzan seorang muadzin, maka beliau akan mengucapkan sebagaimana yang diucapkan seorang muadain hingga selesai ‘ 536 Shahih Ibnu Khuzaimah 413: Bundar mengabarkan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi bin Bahz bin Asad mengabarkan kepada kami dari Abu Syu’bah dari Abu Basyar dari Abui Malih dari Abdullah bin Atabah dari Umi Habibah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan sebagaimana yang diucapkan oleh seorang muadzin hingga muadzin tersebut selesai dari adzannya. 537 Shahih Ibnu Khuzaimah 414: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Ibnu Ulaiyah menceritakan kepada kami dari Hasyim Ad-Dastuwa'i dari Yahya bin Abu Katsir dari Muhammad bin Ibrahim dari Isa bin Thalhah, ia berkata, “Kami pemah bertemu dengan Muawiyah, lalu seorang muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat. Muadzin mengucapkan, 'Allaahu akbar, Allaahu akbar.' Muawiyah berkata, 'Allaahu akbar Allaahu akbar.' Lalu muadzin mengucapkan, 'Asyhadu Allaa ilaaha illallaah.' Muawiyah berkata, 'Wa Anaa asyhad.’ Lalu muadzin mengucapkan, 'Asyhadu Anna Muhammadar-Rasuulullah.' Muawiyah mengucapkan, 'Wa Anaa Asyhad.' Lalu muadzin mengucapkan, 'Hayya Alash-shalaah.' Muawiyah berkata, 'La haula walaa quwwata illaa billaah.' Lalu muadzin mengucapkan, 'Hayya Alal Falaah.' kemudian Muawiyah berkata, 'Laa Haula walaa quwata illaa billaah,' lalu Muawiyah berkata, Demikianlah aku mendengar Nabi kalian bersabda'. 538 Shahih Ibnu Khuzaimah 415: Abdul Jabar bin Al Ala' mengabarkan kepada kami, Harmala —maksudnya adalah Ibnu Abdul Aziz— menceritakan kepada kami, Ayahku menceritakan hadits kepadaku dari Muhammad bin Yusuf hamba sahaya Utsman bin Affan, ia berkata, “Seorang muadzin mengumandangkan adzan lalu ia mengucapkan, 'Allaahu akbar (60-alif) Allaahu akbar'." Muawiyah bin Abu Sufyan berkata, ' Allaahu akbar Allaahu akbar.' Muadzin berkumandang, ' Asyhaduallaa allaa ilaaha Illallaah.' Muawiyah berkata, 'Asyhadu allaa Ilaaha Illallaah.' Muadzin berkumandang, ' Asyhadu Anna Muhammadar-Rasuulullah.' Muawiyah berkata, 'Asyhadu Anna Muhammadar-Rasuulullaah.' lalu Muawiyah berkata, “Demikianlah aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda'. ” 539 Shahih Ibnu Khuzaimah 416: Bundar mengabarkan kepada kami Yahya bin Said mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Amr, Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku, ia berkata, “Aku pernah berada di sisi Muawiyah bin Abu Sufyan, lalu ada seorang muadzin mengumandangkan adzan, 'Allaahu akbar Allaahu akbar’. Muawiyah lalu mengucapkan, 'Allaahu akbar Allaahu Akbar.' Lalu muadzin mengumandangkan, 'Asyhadu allaa ilaaha Illallaah.' Muawiyah lalu mengucapkan, 'Asyhadu allaa Ilaaha Illallah. Lalu muadzin mengumandangkan, 'Asyhadu Anna Muhammadar-Rasuulullah.’ Muawiyah lalu mengucapkan, 'Asyhadu Anna Muhammadar-Rasulullah.' Lalu muadzin mengumandangkan, 'Hayya Alash- shalaah.' Muawiyah lalu mengucapkan, 'Laa haula walaa quwwata illa billaah.' Lalu muadzin mengumandangkan, 'Hayya Alal Falaah.' Muawiyah lalu mengucapkan, 'Laa haula walaa quwwata illa billaah. Lalu muadzin mengumandangkan, 'Allaahu akbar Allaahu akbar laa ilaaha Illallaah.' Muawiyah lalu mengucapkan, 'Allaahu Akbar allaahu akbar Laa Ilaaha Illallaah.' lalu muawiyah berkata, ' Demikianlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda'.” 540 Abu Bakar berkata "Dan, hadits Umar bin Khaththab yang terdapat pada bab ini telah aku riwayatkan dalam bab lain.” Abu Bakar berkata. "Maksud dari hadits Ummu Habibah, bahwa Rasulullah berkata sebagaimana yang dikumandangkan oleh seorang muadzin hingga selesai. kecuali kumandang 'Hayya alash-shalaah hayya alal falaah.’ Demikian pula maksud hadits Abu Said, maka ucapkanlah sebagaimana yang muadzin kumandangkan, kecuali kumandang 'Hayya alash-shalah, hayya alal falaah.' Sementara hadits Umar bin Al Khattab dan Muawiyah menjelaskan dua hadits tersebut.” Telah dijelaskan di dalam hadits Umar dan Muawiyah, sesungguhnya orang yang mendengar kumandang adzan shalat dari seorang muadzin, maka ia harus mengucapkan sebagaimana yang dikumandangkan muadzin tersebut, kecuali ucapan “hayya alash-shalaah, hayya alal falaah." Ia berkata, “Apabila seorang muadzin mengumandangkan 'Hayya alash-shalah, hayya alal falaah' maka ucapan 'La haula walaa quwwata illaa billaah' adalah bagi orang yang akan mengerjakan shalat, sementara seorang muadzin tidak harus mengucapkan, "La haula walaa quwwata illaa billaah” saat adzan. Ucapan ini berasal dari orang yang mendengarkan suara muadzin bukan apa yang dikumandangkan oleh seorang muadzin. Shahih Ibnu Khuzaimah 417: Yahya bin Muhammad bin Sakan mengabarkan kepada kami, sesungguhnya Muhammad bin Jahdam mengabarkan kepada kami, Ismail bin Ja'far mengabarkan kepada kami, dari Umarah bin Ghaziyah, dari Khubaib bin Abdurrahman, dari Hafsh bin Ashim, dari ayahnya, dari kakeknya; Umar, Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang muadzin mengumandangkan Allaahu akbar, Allaahu akbar’ maka salah seorang dari kalian mengucapkan, Allaahu akbar, allaahu akbar’ lalu muadzin mengumandangkan, Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah’, seseorang mengucapkan, Asyhadu Allaa ilaaha Illallaah’ lalu muadzin mengumandangkan, Asyhadu Anna Muhammadar-Rasulullah’ seseorang mengucakan, Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah’, kemudian muadzin mengumandang, 'Hayya Alashalah’ lalu seseorang mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwala illa billaah’, lalu muadzin mengumandangkan, ‘Hayya alal falaah.’ Seseorang mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwata illa billah’ kemudian muadzin mengumandangkan, Allaahu akbar; Allaahu akbar’ seseorang berkata, ‘Allaahu akbar, Allaahu Akbar’ kemudian muadzin mengumandangkan, ‘Laa ilaaha illallaah’ lalu seseorang berkata, Laa Ilaaha Illallaah’ dari hatinya, maka ia pasti masuk surga. 541 Shahih Ibnu Khuzaimah 418: Muhammad bin Aslam mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Yazid Al Muqri mengabarkan kepada kami, Said bin Ayub mengabarkan kepada kami dari Ka’ab bin Alqamah dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ha', Abu Harun bin Musa bin An- Nu’man menceritakan kepada kami di daerah Fustat, Abu Abdurrahman menceritakan kepada kami —maksudnya adalah Al Muqri—, Hayah menceritakan kepada kami, Ka’ab bin Alqamah menceritakan kepadaku, aku mendengar Abdullah bin Umar berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar kumandang adzan seorang muadzin, maka katakanlah seperti apa yang dikumandangkan. Kemudian bacalah shalawat kepadaku, karena sesungguhnya orang yang membaca satu kali shalawat kepadaku, maka Allah akan membacakan shalawat sepuluh kali, kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku —dan sesungguhnya wasilah adalah satu derajat di surga yang seyogyanya diberikan kecuali bagi salah seorang hamba Allah Barang siapa yang meminta wasilah untukku, niscaya syafaat benar- benar diberikan kepadanya. 543 Ini adalah redaksi hadits Hayah. Dalam hadits Abu Said bin Abu Ayub, ia berkata, “Aku berharap akulah ia.” Shahih Ibnu Khuzaimah 419: Muhammad bin Yahya dan Zakariya bin Yahya bin Aban keduanya menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Maryam menceritakan kepada kami, Musa bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Abu Hazim menceritakan kepadaku, 544 sesungguhnya Sahi bin Saad mengabarkan kepadanya: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Dua hal (doa) yang tidak ditolak atau kecil kemungkinan ditolak; berdoa saat kumandang adzan dan saat tertimpa musibah ketika sebagian merapat kepada sebagian (bersatu). ” 545 Shahih Ibnu Khuzaimah 420: Musa bin Sahi Ar-Ramli mengabarkan kepada kami, Ali bin Ayasy mengabarkan kepada kami, Syuaib bin Abu Hamzah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berdoa ketika mendengar adzan, 'Ya Allah Tuhan pemilik panggilan yang sempurna [ini] dan shalat yang didirikan Berikanlah Muhammad wasilah dan anugerah, dan bangkilkanlah beliau di tempat terpuji yang telah engkau janjikan' kecuali ia akan mendapatkan syafaat hari kiamat.” 546 Shahih Ibnu Khuzaimah 421: Ar-Rabi' bin Sulaiman Al Muradi mengabarkan kepada kami, Syuaib yaitu Ibnu Al-Laits mengabarkan kepada kami, Ha’, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam; ayahku Syuaib menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Al-Laits menceritakan kepada kami dari Al Hakim bin Abdullah bin Qais dari Amir bin Said bin Abu Waqas dari Said bin Abu Waqas: Dari Rasulullah S A W, Sesungguhnya beliau bersabda, “Barang siapa berkata saat mendengar kumandang adzan dari seorang muadzin, 'Dan, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu baginya dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, aku ridha kepada Allah SWT sebagai Tuhan, Nabi Muhammad sebagai rasul dan Islam sebagai agama', maka dosanya akan diampuni baginya.”547 Shahih Ibnu Khuzaimah 422: Zakariya bin Yahya bin Iyash mengabarkan kepada kami, Said bin Ufair mengabarkan kepada kami, Yahya bin Ayub menceritakan kepadaku dari Ubaidullah bin Al Mughirah dari Al Hakim bin Abdullah bin Qais dari Amir bin Saad bin Abu Waqas dari ayahnya: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mendengar seorang muadzin mengucapkan kalimat syahadat, lalu ia menghadapkan wajahnya lalu berkata, 'Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada sekutu baginya dan sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah, aku ridha Allah SWT sebagai Tuhan dan Islam sebagai agama', maka diampuni baginya dosa yang telah berlalu.”548 Shahih Ibnu Khuzaimah 423: Muhammad bin Basyar mengabarkan kepada kami, Hisyam bin Al Walid mengabarkan kepada kami, Hamad mengabarkan kepada kami dari Al Jariri dari Abui A'la dari Matharrif bin Abdullah dari Utsman bin Abu Al Ash, ia berkata: Aku katakan, “Wahai Rasulullah SAW! Ajarkanlah aku Al Qur’an dan jadikanlah aku sebagai pemimpin bagi kaumku", ia berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ikutilah jejak orang yang paling lemah dari mereka dan ambilah seorang muadzin yang tidak memungut upah dari kumandang adzannya.”549 Abu Thahir mengabarkan kepada kami, Abu Bakar mengabarkan kepada kami, Bundar mengabarkan kepada kami, Abu An-Nu’man mengabarkan kepada kami, Hamad mengabarkan kepada kami, Al Jariri mengabarkan kepada kami dari Yazid Abu Al A'la dengan sanad ini. Adapun sanad yang sejenisnya ia tidak mengatakannya, “Ajarilah aku Al-Qur’an” ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “ Engkau pemimpin mereka dan ikutilah jejak orang yang paling lemah dari mereka.”550 Shahih Ibnu Khuzaimah 424: Bundar mengabarkan kepada kami, Hamad bin Mas adah mengabarkan kepada kami, Ubaidullah mengabarkan kepada kami dari Nafi’ dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah hingga Ibnu Umi Maktum mengumandangkan adzan."551 Ubaidillah berkata, “Aku mendengar Al Qasim menceritakan hadits tersebut dari Aisyah. Ia berkata, 'Sesungguhnya batas waktu antara keduanya sama dengan kadar turunnya ini dan naiknya itu (lihat hadits yang lalu)’.” Shahih Ibnu Khuzaimah 425: Al Imam Abui Hasan552 Ali bin Al Muslim bin Muhammad As Silmi mengabarkan kepada kami, Abu Muhammad Abdul Aziz bin Ahmad bin Muhammad Al Kinani mengabarkan kepada kami, Al Ustadz Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman Ash-Shabuni mengabarkan kepada kami, ia berkata, 553 Abu Thahir bin Al Fadl bin Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Al Miqdam Al Ijli mengabarkan kepada kami, Yazid —maksudnya Ibnu Zura’i— menceritakan kepada kami, Israil bin Yunus menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq dari Buraid bin Abu Maryam dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Doa di antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak, maka berdoalah kalian.”554 Shahih Ibnu Khuzaimah 426: Muhammad bin Khalid bin Khidasy Az-Zahran mengabarkan kepada kami, Salam bin Qutaibah berkata kepada kami, dari Yunus bin Abu Ishaq dari Buraid bin Abu Maryam,555 dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Doa antara adzan dan Iqamah tidak ditolak”556 Shahih Ibnu Khuzaimah 427: Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi mengabarkan kepada kami, Abui Mundzir —ia adalah Ismail bin Umar Al Wasithi— mengabarkan kepada kami, Yunus mengabarkan kepada kami, Buraid bin Abu Maryam mengabarkan kepada kami dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Doa antara adzan dan iqamah tidak ditolak, maka berdoalah kalian.” 557Abu Bakar berkata, “Yang dimaksud adalah doa yang dikabulkan.” Ahmad bin Mani’ mengabarkan kepada kami, Husein bin Muhammad mengabarkan kepada kami, Israil mengabarkan kepada kami, seperti Yazid bin Zurai'. Shahih Ibnu Khuzaimah 428: Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna mengabarkan kepada kami, Yahya bin Said mengabarkan kepada kami, dari Sufyan. Abu Ishaq menceritakan kepadaku, ia berkata, aku mendengar Al Barra’ berkata, “Kami melaksanakan ibadah shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap baitul Maqdis selama enam atau tujuh bulan, kemudian kami berbalik menghadap ka’bah.” 548 Shahih Ibnu Khuzaimah 429: Muhammad bin Isa mengabarkan kepada kami, Salamah —maksudnya adalah Ibnu Al Fadl— mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ishaq mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ma'bad bin Ka’ab bin Malik, di mana ia termasuk orang Anshar yang paling alim menceritakan kepadaku, sesungguhnya ayahnya Ka’ab menceritakan kepadanya, dan hadits Ka’ab bin Malik mongenai keluarnya kaum Anshar dari kota Madinah menuju kota Mukkah saat perjanjian Aqabah. Dan, disebutkan dalam hadits bahwa Al Barra’ bin Ma'rur berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Sesungguhnya aku pernah keluar dalam kepergianku ini dan Allah SWT telah memberi petunjuk kepadaku dengan agama Islam dan aku melihat betapa akan kujadikan bangunan ini nampak lalu aku shalat menghadap kepadanya. Para sahabatku berbeda denganku dalam hal ini sehingga terjadi sesuatu di dalam diriku. Apa pendapatmu? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Engkau sudah menghadap kiblat seandainya engkau dapat bersabar, maka itu lebih baik.' Perawi berkata, AI Barra kembali kepada kiblat Rasulullah dan melaksanakan shalat bersama kami menghadap Syam. 559 Shahih Ibnu Khuzaimah 430: Muhammad bin Abu Sufwan Ats-Tsaqafi mengabarkan kepada kami, Bahz menceritakan kepada kami —maksudnya adalah Ibnu Saad— Hamad bin Salamah mengabarkan kepada kami, Tsabit mengabarkan kepada kami dari Anas: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau pernah melaksanakan ibadah shalat menghadap Baitul Maqdis saat ayat ini diturunkan “Palingkanlah wajahmu kearah masjidil haram ” kemudian seorang laki-laki dari Bani Salamah lewat lalu ia memanggil para sahabat, padahal mereka sedang melaksanakan shalat shubuh, ingatlah sesungguhnya arah kiblat telah berpindah menuju ka’bah kemudian mereka berbalik dalam keadaan ruku. 560 Shahih Ibnu Khuzaimah 431: Abdul Warits bin Abdush-Shamad mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Hamad menceritakan kepadaku dari Tsabit dari Anas, ia berkata, “Mereka melakukan ibadah shalat menghadap Baitul Maqdis.” Lalu ia mengemukakan hadits sejenis dan menambahkan, “Di mana mereka menghitung shalat yang telah dilewatinya.”561 Shahih Ibnu Khuzaimah 432: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abdur-Razaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami dari Atha’ ia berkata, Aku mendengar Ibnu Abbas berkata, Usamah bin Zaid mengabarkan kepadaku, “Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saat memasuki baitullah, beliau berdoa di seluruh sisinya, dan beliau melaksanakan shalat dua rakaat (61-ba’) di hadapan ka’bah dan beliau bersabda, “ini adalah kiblat. ”563 Shahih Ibnu Khuzaimah 433: Dalam hadits Al Barra' bin Azib dikatakan, “Kemudian kami dipalingkan untuk menghadap ka’bah”. 564 Israil berkata, dari Abu Ishaq dari Al Barra', “Kemudian beliau menghadapkan dirinya menuju ka’bah dan beliau ingin menghadapkan wajahnya kepada ka’bah.” Salam bin Junadah mengabarkan kepada kami, Waqi' menceritakan kepada kami dari Israil. Shahih Ibnu Khuzaimah 434: Dalam hadits Tsabit, dari Anas, “Ingatlah! sesungguhnya arah kiblat telah berpindah menghadap ka’bah. Demikianlah Utsman bin Sa'ad Al Kathib mengatakan dari Anas, karena arah qiblat telah dipalingkan ke arah ka’bah. Abdullah bin Ishaq Al Jauhari mengabarkan kepada kami, Abu Ashim mengabarkan kepada kami, Utsman bin Sa'ad mengabarkan kepada kami, Anas bin Malik menceritakan kepada kami, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pemah melaksanakan shalat menghadap Baitul Maqdis beberapa bulan. Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pemah melaksanakan shalat Zhuhur dua rakaat, tiba-tiba —arah qiblat— dipalingkan ke arah ka’bah, lalu orang-orang bodoh berkata, 'Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?'. ” 565 Shahih Ibnu Khuzaimah 435: Abdullah bin Ishaq Al Jauhari mengabarkan kepada kami, Abu Ashim menceritakan kepada kami, Malik bin Anas menceritakan kepada kami, Abdullah bin Dinar menceritakan kepadaku dari Ibnu Umar. Sesungguhnya penduduk Kuba melaksanakan shalat menghadap Baitul Maqdis, kemudian ada seseorang datang pada mereka, lalu ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah, diturunkan Al Qur'an padanya, beliau menghadap ka’bah, mereka lalu menghadap, kemudian berputar.” 566 Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Ikrimah dari Ibnu Abbas, “Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapkan wajahnya kepada ka’bah.” Shahih Ibnu Khuzaimah 436: Dalam khabar Mujahid dari Ibnu Abbas, “Kemudian Nabi memalingkan ke arah ka’bah.” 567 Dan, di dalam hadits Tsumamah bin Abdullah dari Anas dikatakan, “Seorang muadzin Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang, lalu beliau bersabda, ''Sesungguhnya arah kiblat telah berpindah ke arah Ka’bah'” Aku telah meriwayatkan hadits-hadits ini semuanya dalam bab shalat dalam kitab Al Kabir. Abu Bakar berkata, “Hadits-hadits ini semuanya menunjukkan bahwa kiblat adalah ka’bah.” Dalam hadits Abu Hazm dari Sahi bin Saad dikatakan, "Seorang laki-laki pergi menemui penduduk Kuba, lalu ia berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk shalat menghadap Ka’bah'.” Dalam hadits Imarah bin Aus, ia berkata, “Maka aku bersaksi atas pemimpin kita; bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kaum laki dan perempuan telah menghadap568 Ka’bah.” Dalam hadits Ikrimah dari Ibnu Abbas, “Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap ke arah kiblat” Shahih Ibnu Khuzaimah 437: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Khalid Al Wahbi mengabarkan kepada kami, Syarik mengabarkan kepada kami dari Abu Ishaq dari Al Barra', ia berkata, "Aku pernah melaksanakan shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap Baitul Maqdis selama enam bulan, lalu ia menyebutkan hadits.” 569 Ia berkata, “Al Barra berkata, ‘Asyathr berarti menghadapkannya'.” Shahih Ibnu Khuzaimah 438: Abdul Jabar bin Al Ala' menceritakan kepada kami, Sufyan dari Amr —Ia adalah Ibnu Dinar- menceritakan kepada kami, “Ibnu Abbas membaca, 'Anulzimukumuha (Apakah kami mengharuskannya) min Syathri Anjusina' Maksudnya dari hadapan diri kami.' Aku telah meriwayatkan hadits yang ada dalam bab ini secara sempurna di dalam kitab tafsir. Shahih Ibnu Khuzaimah 439: Imran bin Musa Al Qazzaz mengabarkan kepada kami, Abdul Warits mengabarkan kepada kami, Ismail bin Umayyah mengabarkan kepada kami dari Sa’id Al Maqburi dari Abu Hurairah, ia berkata : Abu Al-Qasim shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda “Apabila salah seorang dari kalian berwudhu di rumahnya kemudian ia mendatangi masjid, ma ia telah berada di dalam shalat (mendapatkan pahala shalat) hingga ia kembali. Di sini seseorang tidak boleh berkata begini dan mengait-ngaitkan jemarinya.”570 Shahih Ibnu Khuzaimah 440: Abdullah bin Hasyim mengabarkan kepada kami, Yahya —ia adalah Ibnu Said— mengaharkan kepada kami, dari Ibnu Ajian, Said mengabarkan kepada kami, dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Ka’ab bin Ujrah, “Apabila kamu telah berwudhu kemudian masuk ke dalam masjid, maka janganlah mengait-kaitkan jemarimu.” 571 Shahih Ibnu Khuzaimah 441: Abu Bakar berkata, Daud bin Qais Al Fana' meriwayatkan hadits ini dari Saad bin Ishaq bin Ka’ab bin Ujrah dari Abu Tsumamah —ia adalah seorang penjahit— sesungguhnya Ka’ab bin Ujrah pernah menceritakan hadits kepadanya, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (62-alif) Sesungguhnya beliau bersabda, “ Apabila salah seorang dari kalian telah berwudhu kemudian ia keluar menuju masjid maka janganlah ia mengait-kaitkan jemari, sebab sesungguhnya ia berada dalam shalat.”572 Yunus bin Abdul A’la mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Wahab mengabarkan kepada kami, Daud bin Qais mengabarkan kepadaku. Shahih Ibnu Khuzaimah 442: Anas meriwayatkan hadits dari lyadh, dari Saad bin Ishaq bin Ka'ab, dari Abu Said A1 Maqburi dan Abu Tsumamah dan Yunus bin Abdul Ala mengabarkan kepada kami» Anas bin lyadh mengabarkan kepadaku dari Saad bin Ishaq dari Abu Said A! Maqburi dari Tsumamah, ia berkata, “Aku pernah bertemu dengan Ka’ab bin Ujrah sementara aku ingin melaksanakan shalat jum’at, saat itu aku mengait-kaitkan jemariku ketika aku mendekat, lalu ia memukul tanganku, kemudian ia memisahkan jemariku dan berkata, 'Sesungguhnya kami melarang siapapun merapatkan jemarinya dalam shalat.' Aku katakan, 'Sesungguhnya aku bukan berada dalam shalat.' la berkata, 'Bukankah engkau telah berwudhu dan engkau ingin melaksanakan shalat jum'at?’ Aku katakan, 'Ya.’ Ia berkata, 'Maka — yang demikain— engkau berada dalam shalat.“ 573 Shahih Ibnu Khuzaimah 443: Ibnu Abi Di'b meriwayatkan hadits dari Al Maqburi dari seorang laki-laki dari bani Salim, ia mengabarkan hadits dari ayahnya dari kakeknya dari Ka’ab bin Ujrah. Muhammad bin Rafi' mengabarkan kepada kami, Ibnu Abu Fidyah mengabarkan kepada kami, Ibnu Di'b menceritakan kepada kami, Abu Bakar berkata, “Saad bin Ishaq bin Ka’ab berasal dari Bani Salim.” 574 Shahih Ibnu Khuzaimah 444: Abu Khalid Al Ahmar meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Ajian dari Sa'id dari Ka’ab. Abu Said Al Asyaj mengabarkan kepada kami, Abu Khalid mengabarkan kepada kami dari Ibnu Ajian. 575 Shahih Ibnu Khuzaimah 445: Khalid bin Hayan Ar-Raqqi Bithammah, hadits diriwayatkan oleh Ibnu Ajian dan Sa'id bin Al Musayyib dari Abu Said Ja far Muhammad Ats-Tsa’labi menceritakan kepada kami, Khalid —maksudnya adalah Hayan Ar-Raqqi— menceritakan kepada kami, Abu Bakar berkata, “Aku tidak menghalalkan kepada siapapun untuk meriwayatkan hadits ini dariku kecuali berdasarkan bentuk ini, sesungguhnya hadits ini memiliki sanad terbalik. Dengan demikian ia mirip hadits shahih yang diriwayatkan oleh Anas bin Iyadh, karena Daud bin Qais menggugurkan Abu Said Al Maqburi dari sanad hadits, Daud berkata, bahwa hadits dari Said bin Ishaq dan Abu Tsumamah. 576 Adapun Ibnu Ajian, ia diragukan keberadaannya dalam sanad hadits dan haditsnya tidak jelas. Terkadang ia berkata dari Abu Hurairah dan terkadang menganggapnya sebagai hadits mursal dan sesekali ia mengatakan dari Sa'id dari Ka’ab. Ibnu Abu Di'b telah menjelaskan bahwa Al Maqburi Said bin Abu Said telah meriwayatkan hadits dari seorang laki-laki yang berasal dari Bani Salim, la menurutku adalah Sa’ad bin Ishaq. Hanya saja terdapat kesalahan atas Sa'ad bin Ishaq di mana ia meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya; Ka’ab. Daud bin Qais dan Anas bin Iyadh semuanya sepakat bahwa hadits ini berasal dari Abu Tsumamah. Shahih Ibnu Khuzaimah 446: Muhammad bin Muslim Ath-Thaifi meriwayatkan hadits dari Ismail bin Umayyah, ia berkata Al Maqburi mengabarkan kepadaku dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berwudhu kemudian ia keluar untuk melaksanakan shalat, maka ia berada dalam shalat hingga ia kembali ke rumahnya dan ia tidak boleh mengatakan ini —maksudnya mengait-kaitkan jemarinya—”577 Al Fadl bin Ya’kub Ar-Rakhami mengabarkan kepada kami, Al Haitsami bin Jamil mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Muslim mengabarkan kepada kami, Syarik meriwayatkan hadits dari Ibnu Ajian, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Shahih Ibnu Khuzaimah 447: Imran bin Musa Al Qazzaz menceritakan kepada kami, Abdul Waris menceritakan kepada kami, Ismail bin Umayyah menceritakan kepada kami dari Said Al Maqburi dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian berwudhu di rumahnya kemudian ia mendatangi masjid, maka ia berarti berada dalam shalat hingga ia kembali. Ia tidak boleh mengatakan demikian dan mengait-kaitkan jemarinya."578 Shahih Ibnu Khuzaimah 448: Harun bin Ishaq Al Hamdani mengabarkan kepada kami, Ibnu Fudhail mengabarkan kepada kami dan Hushain bin Abdurrahman dari Hubaib bin Abu Tsabit dari Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas dari Ayahnya; Abdullah bin Abbas, sesungguhnya ia pernah tertidur di sisi Rasulullah, ia berkata, “Seorang muadzin pernah datang kepadanya, lalu beliau keluar untuk melaksanakan shalat, dan beliau bersabda, ‘Ya Allah jadikanlah cahaya di dalam hatiku, jadikanlah cahaya pada lisanku, jadikanlah cahaya pada pandanganku, jadikanlah cahaya pada penglihatanku, jadikanlah cahaya di belakangku, jadikanlah cahaya dihadapanku, jadikanlah cahaya di atasku dan jadikanlah cahaya di bawahku. Ya Allah agungkanlah diriku dengan cahaya’ 579 Abu Bakar berkata, “Dalam sanad yang terbalik ini terdapat sesuatu. Sesungguhnya Hubaib bin Abu Tsabit adalah mudallas dan aku tidak pernah mendengar apakah Hubaib mendengar hadits ini dari Muhammad bin Ali atau tidak? Kemudian aku melihat Abu Awanah meriwayatkan hadits dari Hubaib bin Abu Tsabit”. Ia berkata “Muhammad bin Ali menceritakan kepadaku.” Shahih Ibnu Khuzaimah 449: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abui Walid (62 -ba') mengabarkan kepada kami, Abu Awanah mengabarkan kepada kami dari Husein dari Hubaib dari Abu Tsabit, sesungguhnya Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas menceritakan hadits dari ayahnya dari Ibnu Abbas. Ia berkata, “Aku pernah bermalam di rumah bibiku; Maimunah ....” Lalu ia menyebutkan hadits ini. 580 Shahih Ibnu Khuzaimah 450: Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi mengabarkan kepada kami, Abdah maksudnya lbnu Abbad Al Muhallabi mengabarkan kepada kami dari Ashim dari Abu Utsman dari Ubai bin Ka’ab, ia berkata, "Seorang laki-laki dari kaum Anshar bertempat tinggal di penghujung kota Madinah, ia tidak pernah melangkahkan kakinya untuk melaksanakan shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian aku merasa iba kepadanya dan aku katakan kepadanya, 'Wahai fulan! seandainya engkau membeli keledai yang dapat menjaga dirimu dari debu dan mengangkat posisimu dari kebodohan serta dapat menjagamu dari singa yang ada di bumi, maka itu lebih baik.' Lalu ia berkata kepada Ubai bin Kaab, 'Demi Allah sesungguhnya betapa aku menginginkan rumahku berdekatan dengan kediaman Muhammad.' Ubai berkata, 'Kemudian aku membawanya hingga aku menjumpai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan aku mengemukakan hal tersebut kepada beliau.' Ubai berkata, 'Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memanggilnya kemudian menanyakannya dan menyebutkan hal seperti itu. Lalu laki- laki tersebut menyebutkan bahwa ia berharap dapat mengikuti jejak Nabi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, 'Sesungguhnya bagimu apa yang kamu pertimbangkan”584 Shahih Ibnu Khuzaimah 451: Imran bin Musa Al Qazzaz mengabarkan kepada kami, Abdul Warits menceritakan kepada kami, Daud menceritakan kepada kami dari Abu Nadhrah dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Aku mengosongkan kediaman di sekitar masjid, lalu Bani Salimah ingin bertempat tinggal didekat masjid, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu mendengar ini (rencana tersebut), kemudian beliau bersabda, 'Wahai Bani Salmah! kalian menginginkan untuk berpindah didekat masjid?' Mereka menjawab, ‘Yah!' lalu nabi bersabda, 'Wahai bani Salimah, kediamanmu akan menulis jejakmu.<' Hal tersebut dikemukakan tiga kali oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.”582 Aku telah meriwayatkan hadits pada bab berjalan menuju masjid, dalam pembahasan tentang Imamah secara total. Shahih Ibnu Khuzaimah 452: Muhammad bin Basyr mengabarkan kepada kami, Abu Bakar -- maksudnya adalah Al Hanafi mengabarkan kepada kami ia adalah Ibnu Utsman, Said Al Muqri menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Apabila salah seorang dari kailan masuk ke dalam masjid, maka ucapkanlah salam kepada Nabi S A W dan berkatalah, Ya Allah bukalah untukku pintu rahmat-Mu dan apabila ia keluar, maka hendaklah mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan ucapkanlah 'Ya Allah lepaskanlah diriku dari syaitan yang terkutuk".583 Shahih Ibnu Khuzaimah 453: Ahmad bin Abdah mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz —maksudnya adalah Ad-Darawardi—mengabarkan kepada kami dari Suhail bin Abu Shalih dari Muhammad bin Muslim bin Aid, dari Amir bin Sa'd bin Abu Waqas dan ayahnya; Sa'd, sesungguhnya seorang laki-laki pernah datang melaksanakan shalat, sementara Nabi melaksanakan shalat bersama kami, kemudian ketika ia sampai kepada barisan shalat, ia berdoa, “Ya Allah berikanlah aku sebaik apa yang engkau berikan pada hambamu yang shalih." Setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selesai melaksanakan shalat, maka beliau bertanya “Siapa yang berbicara tadi” laki-laki tersebut menjawab, “Saya wahai Rasulullah!" lalu beliau bersabda, Apabila engkau terus-menerus melaksanakan (mengamalkan) bekalmu ini, maka engkau akan meninggal dunia di jalan Allah.” 584 Shahih Ibnu Khuzaimah 454: Al Hasan bin Isa mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Numair mengabarkan kepada kami, Ha’, dan Al Hasan bin Al Junaid menceritakan kepada kami, Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Ubaidullah bin Umar menceritakan kepada kami, Sa'id Al Maqburi menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah. Sesungguhnya seorang laki-laki masuk ke dalam masjid kemudian ia melaksanakan shalat lalu ia datang dan mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu ia menyebutkan hadits, dan ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Apabila engkau akan melaksanakan shalat, maka sempurnakanlah wudhu kemudian engkau menghadap kiblat lalu mengumandangkan takbir. ” Dan, ia menyebutkan hadits secara panjang lebar.586 Ini adalah redaksi hadits Ibnu Numair. Shahih Ibnu Khuzaimah 455: Yahya bin Hubaib bin Adi Al Haritsi dan Ahmad Ibnu Abdah Adh-Dhabbi mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Hamad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Yahya bin Said dari Muhammad bin Ibrahim dari Alqamah bin Waqas Al-Laitsi, ia berkata, aku mendengar Umar bin Al Khaththab berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, (63-alif) “Sesungguhnya pekerjaan harus disertakan dengan niat.”587 Yahya bin Hubaib menambahkan, “Dan Sesungguhnya setiap orang sesuai dengan apa yang ia niatkan” Shahih Ibnu Khuzaimah 456: Muhammad bin Rafi' mengabarkan kepada kami, Abdur-Razaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Syihab menceritakan kepadaku dari Salim bin Abdullah, sesungguhnya Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melakukan ahalat, beliau mengangkat kedua tangannya sampai kedua tangannya hingga di atas pundaknya lalu membaca takbiratui ihram. Apabila beliau hendak melakukan ruku’, maka beliau melakukan hal yang sama, apabila bangun dari ruku', maka beliau melakukan hal yang sama dan beliau tidak melakukan saat mengangkat kepala ketika bangun dari sujud.” 588 Shahih Ibnu Khuzaimah 457: Said bin Abdurrahman Al Makhzumi mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wail bin Hujr, ia berkata, "Aku pernah melaksanakan shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Aku melihat mereka mengangkat tangan mereka di dalam baju mantel.” 589 Shahih Ibnu Khuzaimah 458: Abdullah bin Said Al Asyaj mengabarkan kepada kami, kami diceritakan dengan hadits-hadits yang tidak dapat kami hitung berapa jumlahnya, baik berupa tulisan atau bacaan, ia berkata, Yahya bin Al Yaman menceritakan kepada kami dari Ibnu Abu Di'b dari Said bin Sam’an dari Abu Hurairah, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memekarkan jari-jarinya di dalam shalat.” 590 Abu Bakar berkata, “Muhammad bin Rafi, sebelum kita pergi ke Irak, menceritakan kepada kami dengan hadits ini, ia berkata, 'Abdullah bin Sa'id Al Asyaj Abu Said Al Kindi menceritakan kepada kami. Hanya saja Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melaksanakan shalat, maka ia memekarkan jari-jarinya. Shahih Ibnu Khuzaimah 459: Yahya bin Hakim mengabarkan kepada kami, Abu Amir mengabarkan kepada kami, Ibnu Abu Di’b menceritakan kepada kami, dari Said bin Sam'an, ia berkata, “Abu Hurairah pernah menemui kami di masjid Bani Wuraiq, ia berkata, Tiga hal yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sementara manusia meninggalkannya. Rasulullah apabila ingin melaksanakan shalat, beliau berkata begini —Abu Amir memberikan isyarat dengan tangannya, di mana ia tidak memekarkan terlalu lebar jari-jarinya dan tidak merapatkannya—, lalu Abu Hurairah berkata, Demikianlah Ibnu Abu Di'b memperlihatkan kepada kami, Abu Bakar berkata, Yahya bin Hakim memberikan isyarat kepada kami, dan ia mengangkat kedua tangannya lalu ia memekarkan jari-jarinya dengan tidak terlalu luas serta tidak merapatkannya dan tidak menjauhkannya. la mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya dengan meninggikan serta berdiam diri sebentar sebelum membaca Al Fatihah memohon kepada Allah dengan kemuliaan-Nya lalu mengumandangkan takbir di dalam pelaksanaan shalat di setiap sujud dan rukunya. 591 Abu Bakar berkata, “Merapatkan tangan ini berupa perapatan tangan yang buruk seketika itu. Aku tidak tahu hal tersebut berasal dari siapa. Yang dimaksudkan dari redaksi ini adalah mengangkat tangan tinggi-tinggi, di mana tidak diragukan lagi di dalamnya bahwa seseorang yang melaksanakan shalat mengangkat kedua tangannya berada di atas kepala saat memulai shalat.” Shahih Ibnu Khuzaimah 460: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya dari Ibnu Abu Di'b mengabarkan kepada kami, Ha', Al Bisthami menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Fudaik menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abu Di'b dari Said bin Sam’an dari Abu Hurairah, Kemudian ia menyebutkan hadits. Keduanya berkata, "Nabi mengangkat tangan tinggi-tinggi dan tidak merapatkan tangannya.” Dalam hadits keduanya tidak ada kisah Ibnu Abu Di'b, bahwa beliau memperlihatkan bentuk pemekaran atau perapatan jari-jari. 592 Abu Bakar berkata "Ini adalah hadits Bundar" Shahih Ibnu Khuzaimah 461: Muhammad bin Basysyar Bundar dan Ahmad bin Abdah dan Yahya bin Hakim dan Abdurrahman bin Baayar bin Al Hakam mengabarkan kepada kami, mereka berkata, Yahya bin Said menceritakan kepada kami, Ubaidillah bin Umar mengabarkan kepada kami, Sa'id bin Abu Al Maqburi menceritakan kepadaku dari ayahnya dan Abu Hurairah, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memasuki masjid, lalu seorang laki-laki juga masuk kemudian ia melaksanakan shalat, lalu ia mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau membalasnya. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda, 'Kembalilah lalu shalatlah sesungguhnya engkau belum melaksanakan shalat' beliau mengucapkan hal tersebut sebanyak tiga kali. Laki-laki tersebut berkata, 'Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak pernah mengetahui selain hal ini. Beliau bersabda, 'Apabila engkau hendak mendirikan shalat, maka ucapkanlah takbir, lalu bacalah bacaan Al Qur’an yang mudah bagimu kemudian lakukanlah ruku hingga engkau tuma’ninah di dalam ruku tersebut, kemudian bangkitlah hingga engkau berdiri melakukan i'tidal, lalu sujudlah hingga engkau tuma'ninah dalam sujud, lalu bangunlah sampai engkau tuma'ninah di dalam duduk di antara dua sujud dan lakukanlah hal tersebut di dalam ibadah shalatmu semuanya.”593 Shahih Ibnu Khuzaimah 462: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Hajjaj bin Minhal dan Abu Shalih penulia hadits Al- l^aita mengabarkan kepada kami, semuanya berasal dari Abdul Aziz bin Abu Salamah dari pamannya Al Majisyun bin Abu Salamah dari Al A’raj dan Ubaidullah bin Abu Rafi' dari Ali bin Abu Thalib, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau apabila memulai shalat, maka beliau membaca takbiratul Ihram kemudian mengucapkan, 'Aku menghadapkan wajahku ke pada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi dengan memegang agama yang lurus dan tidaklah aku termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku milik Allah SWT Tuhan semesta alam Tidak ada sekutu baginya dan dengan hal tersebut aku diperintahkan dan aku adalah orang islam yang pertama. Ya Allah Engkau adalah raja, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku sementara aku adalah hamba-Mu Aku telah mendzalimi diriku dan aku telah mengakui dosaku, Ampunilah dosa-dosaku semuanya karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa tersebut kecuali Engkau. Tunjukkanlah aku prilaku terbaik di mana tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada prilaku terbaik tersebut kecuali Engkau Palingkanlah keburukan dariku di mana tidak ada yang dapat memalingkannya kecuali Engkau Aku memenuhi panggilan-Mu dan kebahagiaan-Mu serta seluruh kebajikan berada pada kekuasaan-Mu sementara keburukan bukan bertempat pada-Mu Aku senantiasa bersama dan kepada-Mu (aku berserah diri) Engkau Maha Pemberi berkah dan Maha Luhur. Aku meminta ampun dan bertaubat kepada- Mu.”594 Abu Shaleh berkata, “Tidak ada Tuhan bagiku kecuali Engkau." Shahih Ibnu Khuzaimah 463: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Khalid Al Wahbi mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz mengabarkan kepada kami dari Abdullah bin Al Fadl dari pamannya; Al Majisyun, dari Al A’raj dengan sanad ini yang serupa. Muhammad bin Yahya berkata, “Salah seorang perawi menambahkan pekerjaan dan sesuatu atas pemilik hadits.”595 Abu Bakar berkata, “Sabda nabi, 'Sementara keburukan tidak berada pada-Mu' maksudnya keburukan bukanlah sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepadamu.” Shahih Ibnu Khuzaimah 464: Ar Rabi’ bin Sulaiman dan Bahr bin Nashr bin Sabiq Al Khaulani menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Az-Zinad mengabarkan kepada kami dari Musa bin Al A’raj dari Ubaidulluh bin Abu Rafi’ dari Ali bin Abi Thalib RA, dari Rasululluh shallallahu 'alaihi wa sallam, sesungguhnyu beliau apabila ingin mendirikan shalat wajib, maka beliau mengucapkan takbir dan mengucapkan sesuatu saat memulai ibadah shalat setelah ia takbir, yaitu “Aku menghadapkan wajahku kepada Dzat Yang Menciptakan lagit dan bumi” Lalu beliau menyebut hadits secara panjang lebar dan bersabda “Dan aku termasuk orang Islam” 596 Kedua perawi tidak mengemukakan ungkapan, "Tunjukkanlah aku prilaku terbaik di mana tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada prilaku terbaik tersebut kecuali Engkau” serta ungkapan, "Dan palingkanlah keburukan dariku di mana tidak ada yang dapat memakingkannya kecuali Engkau” Shahih Ibnu Khuzaimah 465: Ya’kub bin Ibrahim Ad Dauraqi, Yusuf bin Musa dan Ali bin Khasyram serta ulama lainnya mengabarkan kepada kami. Ali berkata, seorang mengabarkan kepada kami. Ulama lainnya berkata, Jabir bin Abdul Hamid menceritakan kepada kami, dari Umarah bin Al Qa’qa dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat melakukan takbiratul , beliau terdiam sesaat lalu aku tanyakan —setelah melaksanakan shalat—, 'Wahai Rasulullah! demi ayah dan ibuku. Apa yang engkau ucapkan dalam diammu di antara takbiratul Ihram dan bacaan Al-Fatihah?” beliau bersabda, 'Aku mengucapkan, 'Ya Allah jauhkanlah di antara diriku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana engkau menjauhkan antara arah timur dan arah barat. Ya Allah bersihkanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah basuhlah kesalahan-kesalahnku dengan es, air dan air embun'. 597 Shahih Ibnu Khuzaimah 466: Abu Musa bin Al Musatnna mengabarkan kepada kami, Abdush-Shamad menceritakan kepada kami, Hammam menceritakan kepada kami, Qatadah menceritakan kepada kami dari Anas Muhammad Abu Shufyan Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, Bahz —ia adalah Ibnu Asad— Hammad bin Salamah mengabarkan kepada kami, Tsabit dan Qatadah mengabarkan kepada kami dari Anas, “Sesungguhnya seorang laki- laki datang dengan nafas tersengal-sengal lalu ia mengucapkan bacaan, 'Allah Maha Besar segala puji bagi allah, yaitu pujian yang banyak, baik dan mengandung keberkahan di dalamnya.’ Ketika Rasulullah selesai melaksanakan shalatnya, maka beliau bertanya, 'Siapakah orang yang mengucapkan kalimat-kalimat tersebut?' Kaum yang ada kemudian saling menoleh lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kembali siapakah orang yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi? Sesungguhnya Rasulullah tidak mengutarakan karena ada suatu masalah. Lalu seorang laki-laki berkata, 'Aku wahai Rasulullah! Aku datang dan nafasku tersengal-sengal kemudian aku mengucapkan kalimat tersebut.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Aku melihat dua belas malaikat bergegas menemui siapa saja yang mengucapkannya’. ” 598 Ini adalah hadits Bahz bin Asad. Abu Musa di dalam haditsnya berkata, “Sesungguhnya seorang laki-laki telah memasuki shalat lalu ia mengucapkan bacaan, 'Segala puji bagi Allah, berupa pujian yang banyak, baik dan mengandung keberkahan di dalamnya' ia juga berkata, Seorang laki-laki dari suatu kaum berkata, 'Aku yang mengucapkannya dan aku tidak menghendaki dengan bacaan tersebut kecuali kebajikan.’ Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Dua belas malaikat bergegas menemuinya.' Mereka bingung bagaimana mereka menuliskannya sampai mereka bertanya kepada Tuhan mereka, lalu Allah SWT berfirman, 'Tulislah sebagaimana yang diucapkan oleh hambaku'. ” Abu Bakar berkata, “Beberapa hadits diriwayatkan mengenai doa iftitah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam shalat malam dengan doa-doa yang bermacam-macam redaksinya. Aku telah meriwayatkannya di dalam bab-bab shalat malam. Adapun doa iftitah yang dilakukan oleh masyarakat awam pada shalat mereka di Khurasan yaitu, 'Maha suci engkau Ya Allah dengan memuji-Mu. Nama-Mu mengandung keberkahan, kesungguhan-Mu demikian luhur dan tidak ada Tuhan selain Engkau.' Kami tidak melihat di dalamnya terdapat hadits yang kuat yang berasal dari Nabi; menurut pakar hadits. Sanad yang paling bagus yang kami ketahui adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Al Mutawakil dari Abu Said. Shahih Ibnu Khuzaimah 467: Muhammad bin Musa Al Harasyi mengabarkan kepada kami, Ja’far bin Sulaiman Adh-Dhuba’i mengabarkan kepada kami, Ali bin Ar-Rifa'i mengabarkan kepada kami, dari Abu Al Mutawakil An-Naji dari Abu Said Al Khudri, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melaksanakan shalat malam, maka beliau membaca takbir tiga kali, lalu mengucapkan, 'Maha suci engkau ya Allah dan dengan pujian-Mu, nama-Mu mengandung berkah, sungguh tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu dan tidak ada Tuhan kecuali Engkau', lalu beliau bersabda, 'Allah Maha besar' dibaca tiga kali, lalu beliau bersabda, 'Aku berlindung kepada Allah, Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari syetan yang terkutuk dan dari godaan serta hembusan bisikannya' Lalu beliau membacanya " Abu Bakar berkata, “Hadits ini tidak pernah terdengar di dalam doanya, tidak di masa lalu dan tidak juga di masa kini. Hadits ini digunakan sesuai dengan kondisinya. Tidak ada riwayat yang sampai kepada kami dari para ulama yang tidak kami kenal bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca takbir tiga kali dalam permulaan shalat lalu beliau mengucapkan, 'Maha suci engkau ya Allah dan dengan dan tidak ada Tuhan selain engkau', lalu beliau membaca kalimat, 'La ilaaha Illallaah' sebanyak tiga kali kemudian membaca takbir tiga kali.” Shahih Ibnu Khuzaimah 468: Diriwayatkan dari Jubair bin Muth’im, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila memulai ibadah shalat, beliau mengucapkan, “Allah Maha Besar" sebanyak tiga kali; ‘‘Segala puji bagi Allah" sebanyak tiga kali; "Maha Suci Allah”di pagi dan sore hari sebanyak tiga kali kemudian membaca ta’awudz mirip dengan ta‘awudz yang terdapat di dalam hadits Abu Said. Hanya saja mereka berselisih pendapat dalam sanad hadits Jubair bin Muth’im. Hadits diriwayatkan oleh Syu’bah dari Amr bin Murah dari Ashim Al Anzi dari Ibnu Zubair bin Muth’im dari ayahnya.599 Bundar mengabarkan hadits kepada kami, Muhmamad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, hadits, Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Wahab bin J ari r mengabarkan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami. Shahih Ibnu Khuzaimah 469: Husein bin Abdurrahman meriwayatkan hadits dari Amr bin Murrah. Ia berkata, dari Abad bin Ashim dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya, Ha', Abdullah bin Sa'id Al Asaj menceritakan hadits kepada kami, Ibnu Ishaq dan Ibnu Fudhail semuanya menceritakan hadits dari Hushein bin Abdurrahman. Abu Bakar berkata, “Ashim Al Anazi dan Abad bin Ashim adalah perawi yang tidak dikenal yang tidak diketahui siapa keduanya. Tidak diketahui hadits yang shahih berasal dari yang diriwayatkan oleh Hushain atau Syu’bah. 600 Shahih Ibnu Khuzaimah 470: Haritsah bin Muhammad dan Ashim Al Anazi meriwayatkan dari Amrah dari Aisyah, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila memulai (64 -ba’) pelaksanaan ibadah shalat, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya lalu mengucapkan takbiratul Ihram kemudian mengucapkan, 'Maha suci ya Allah dan dengan pujian-Mu. Nama-Mu mengandung berkah serta Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu dan tidak ada Tuhan selain Engkau.” Shahih Ibnu Khuzaimah 471: Muammal bin Hisyam dan Salam bin Junadah menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, Muammal berkata, dia berkata, Haritsah bin Muhammad menceritakan kepada kami, dan Salam bin Junadah berkata, dari Haritsah bin Muhammad, Hanya saja Salam tidak mengatakan, “Lalu nabi membaca takbir.” 601 Abu Bakar berkata, “Haritsah bin Muhammad RA bukan sosok perawi yang haditsnya dapat dijadikan hujjah.” 471 Ini adalah hadits shahih dari Umar bin Khattab bahwa ia memulai shalat seperti apa yang terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Haritsah walaupun hal ini bukan berasal dari Nabi. Dan, aku tidak membenci memulai shalat dengan ucapannya, “Maha suci Engkau ya Allah dan dengan pujian-Mu” berdasarkan apa yang berasal dari Umar Al Faruq RA 602 bahwa ia memulai shalat dengan bacaan itu, hanya saja pembukaan shalat yang ditetapkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah serta ulama lainnya dinukil oleh perawi yang adil yang sampai sanadnya kepada Rasulullah, dimana aku menyukainya dan lebih utama untuk digunakan. Dengan demikian mengikuti sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lebih utama dan lebih baik dari lainnya. 603 Shahih Ibnu Khuzaimah 472: Yusuf bin Musa Al Maruzi mengabarkan kepada kami, Ibnu Fudail mengabarkan kepada kami dari Atha’, ia adalah ibnu As-Saib dari Abu Abdurrahman dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terkutuk, hembusan, godaan dan bisikannya 604 Ia berkata “Hamzihi artinya kematian, nafatsihi rayuan dan nafkhihi adalah kesombongan. Shahih Ibnu Khuzaimah 473: Bundar mengabarkan kepada kam, Yahya mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Abu Di’b, Ha’, Husain bin Isa Al Bisthami menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ismail bin Abu Fidyah menceritakan kepada kami dari Ibnu Abu Di’b dari Said bin Sam’an dari Abu Hurairah, ia berkata, “Tiga hal yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetapi ditinggalkan oleh manusia lainnya. Rasulullah apabila mendirikan shalat, beliau mengangkat kedua tangan dengan tinggi, Rasulullah berhenti sebentar sebelum membaca Al Fatihah memohon anugerah dari Allah serta mengucapkan takbir setiap turun dan bangun di dalam shalat.” 605 Bundar dalam haditsnya berkata, ‘Tiga hal yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sementara ditinggalkan oleh umat manusia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mendirikan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya dengan tinggi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berhenti sesaat sebelum membaca bacaan, dan beliau mengucapkan bacaan, 'Aku meminta kepada Allah ' dan beliau mengucapkan takbir setiap ruku' dan sujud. Shahih Ibnu Khuzaimah 474: Al Fadl bin Ya’kub Al Jazari mengabarkan kepada kami, Abdul A'la mengabarkan kepada kami Muhammad —ia adalah Ibnu Ishaq— mengabarkan kepada kami, Said bin Abu Said menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat Zhuhur bersama kami, setelah salam, beliau memanggil seorang laki- laki yang berada di akhir barisan, lalu beliau bersabda, 'Wahai fulan! Hendaklah engkau bertakwalah kepada Allah. Tidakkah engkau melihat bagaimana engkau melaksanakan shalat? Sesungguhnya salah seorang dari kalian berdiri hendak melaksanakan shalat maka ia sama dengan akan bermunajat kepada Tuhannya, maka lihatlah bagaimana ia bermunajat kepada Tuhannya. Sesungguhnya kalian mengetahui bahwa aku tidak dapat melihat kalian, sesungguhnya aku demi Allah, pasti bisa melihat orang yang berada dibalik punggungku sebagaimana aku melihat orang yang berada dihadapanku” 606 Shahih Ibnu Khuzaimah 475: Muhammad bin Abdul Ala Ash-Shan’ani mengabarkan kepada kami (65-alif) Yazid mengabarkan kepada kami —ia adalah ibnu Zurai— Said mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mengapa orang-orang meninggikan pandangan mereka ke langit saat dalam shalat mereka?” lebih keras lagi larangan Rasulullah, seperti yang terdapat pada sabdanya, “Seseorang harus mengakhiri hal ini atau penglihatan mereka dibutakan —oleh Allah—. 607 608 Shahih Ibnu Khuzaimah 476: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Abdullah —yaitu orang-orang Anshar mengabarkan kepada kami— Said bin Abu Arubah dari Qatadah, sesungguhnya Anas bin Malik menceritakan kepada mereka, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan redaksi sepadan, hanya saja Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,... Sabda nabi demikian keras di dalam hal tersebut. 609 Shahih Ibnu Khuzaimah 477: Abdullah bin Said Al Asyaj mengabarkan kepada kami, Ibnu Idris mengabarkan kepada kami, Ashim bin Kulaib mengabarkan kepada kami, dari Yahya dari Wail bin Hujr, ia berkata: Aku pernah datang ke kota Madinah lalu aku katakan, “Aku pasti menyaksikan shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian aku melihat beliau ketika memulai shalat membaca takbiratul ihram, kemudian beliau mengangkat —yaitu kedua tangannya— lalu aku melihat kedua jempol tangan beliau berada di samping daun telinga, lalu beliau menempatkan tangan kirinya di bawah tangan kanannya. Kemudian beliau membaca Al Fatihah kemudian mengemukakan hadits.” 610 Shahih Ibnu Khuzaimah 478: Harun bin Ishaq Al Hamdani mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ibnu Fudhail [mengabarkan kepada kami] dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wail bin Hujr, ia berkata: Aku termasuk orang yang datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, aku berkata: "Aku pasti bisa menyaksikan pelaksanaan shalat Rasulullah, —yaitu bagaimana beliau melaksanakan shalat—, lalu aku melihatnya ketika beliau melakukan takbiratul ihram, di mana beliau mengangkat kedua tangan dan meletakkan disamping kedua daun telinga, lalu beliau menempatkan tangan kanan di atas tangan kiri dan memeganginya ...” 611 Kemudian ia menyebutkan hadits. Shahih Ibnu Khuzaimah 479: Abu Musa mengabarkan kepada kami, Muammal mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami dari Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari wail bin hajar, ia berkata, “Aku pernah melaksanakan shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri lalu diletakkan di atas dadanya.” 612 Shahih Ibnu Khuzaimah 480: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Muawiyah bin Amr mengabarkan kepada kami, Zaidah mengabarkan kepada kami, Ashim bin Kuliah Al Jarmi mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku sesungguhnya Wail bin Hujr telah mengabarkannya, ia berkata: Aku katakan, “Aku pasti melihat bagaimana Rasulullah melaksanakan shalat, ia berkata, 'Aku melihat beliau berdiri lalu membaca takbiratul Ihram, kemudian mengangkat kedua tangan sampai batas kedua ujung telinga, lalu beliau meletakkan tangan kanan di atas bagian luar telapak tagan kirinya dengan pergelangan tangan dan lengan bawah’.” 613 Shahih Ibnu Khuzaimah 481: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahab mengabarkan kepada kami, pamanku menceritakan kepadaku, Yunus mengabarkan kepadaku dari Az-Zuhri ia berkata “Aku mendengar Abul Awash -hamba sahaya dari Bani Laits – menceritakan kepada Said bin Al Musayyah, sesunguhnya Abu Dzar pernah berkata “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda .....” dengan hadits yang sama 614 Shahih Ibnu Khuzaimah 482: Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Shalih menceritakan kepada kami, Al-Laits menceritakan kepadaku, Yunus menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab, ia berkata: Aku mendengar Abu Al Ahwash menceritakan hadits kepada Ibnu Al Musayyib, sessungguhnya Abu Dzar pernah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Allah SWT senantiasa menghadap hamba-Nya selagi ia tidak menoleh —dalam shalatnya—. Apabila ia memalingkan wajahnya, maka Allah SWT berpaling darinya.”615 Shahih Ibnu Khuzaimah 483: Abu Muhammad Fahd bin Sulaiman Al Mishri menceritakan kepada kami, Abu Taubah menceritakan kepada kami, —ia adalah Ar-Rabi’ bin Nafi’,— Muawiyah bin Salam menceritakan kepada kami dari Zaid bin Salam, sesungguhnya Abu Salam menceritakan kepadanya, ia berkata: Al Harits Al Asy’ari menceritakan kepadaku, “Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan kepadanya, sesungguhnya Allah SWT memerintahkan Yahya bin Zakaria dengan lima kalimat, di mana ia telah melaksanakannya, dan Allah juga memerintahkan Bani Israil melaksanakannya, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan nasehat kepada masyarakat kemudian bersabda, 'Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kalian untuk melaksanakan shalat. Apabila kalian telah menghadapkan wajah kalian, hendaklah kalian tidak menoleh, karena Allah SWT memposisikan wajahnya pada wajah hamba-Nya saat melaksanakan shalat. Allah SWT tidak akan memalingkan wajah-Nya hingga hamba- Nya berpaling'. ” 616 Shahih Ibnu Khuzaimah 484: Muhammad bin Utsman Al Ijli mengabarkan kepada kami, Ubaidullah bin Muasa dari Syaiban mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Utsman juga menceritakan kepada kami, Abdullah bin Musa mengabarkan kepada kami, dari Israil, Ha’, Muhammad bin Amr bin Tamam Al Mishri menceritakan kepada kami, Yusuf bin Adi menceritakan kepada kami, Abu Al Ahwash menceritakan kepada kami, semua dari Asy’ats, —ia adalah Abu Asy- Sya’tsa'— dari ayahnya, dari Masruq, dari Aisyah, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai berpaling di dalam shalat, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'menoleh di dalam shalat merupakan pencurian yang dilakukan oleh syetan dari shalat seorang'. ” 617 Dalam hadits Abu Al Ahwash: Aku bertanya kepada Rasulullah mengenai seorang laki-laki yang menoleh di dalam shalat. Shahih Ibnu Khuzaimah 485: Abu Amar Al Hushein bin Harits mengabarkan kepada kami, Al Fadl bin Musa mengabarkan kepada kami dari Abdullah bin Said ia adalah Ibnu Abu Hind dari Tsaur bin Zaid dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menoleh di dalam shalatnya ke kanan dan ke kiri namun tidak membengkokkan (menggerakkan tulang) lehernya ke belakang punggungnya. 618 Abu Bakar berkata, “Perkataannya, 'beliau menoleh di dalam shalatnya' maksudnya beliau melirik ke kanan dan ke kiri dengan matanya. Shahih Ibnu Khuzaimah 486: Ar-Rabi’ bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, Syuaib —yaitu Ibnu Al-Laits— mengabarkan kepada kami, dari Al-Laits dari Abu Az-Zubair dari Jabir, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terserang rasa sakit dan kami melaksanakan shalat di belakang beliau, sementara beliau melaksanakannya dalam posisi duduk dan Abu Bakar —sedang melakukan takbiratul ihram—. Masyarakat mendengar takbiratul ihram dari Abu Bakar.” Lalu perawi berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun menoleh kepada kami, lalu beliau memandang sambil berdiri, kemudian memberi isyarat kepada kami, lalu kami pun duduk.” 619 Ketika selesai salam, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja kalian melakukan perbuatan orang Persia dan Romawi. Mereka berdiri dihadapan raja-raja mereka yang duduk. Maka janganlah kalian lakukan hal tersebut. Ikutilah imam-imam kalian, apabila imam melaksanakan shalat dalam posisi berdiri, maka shalatlah dalam posisi berdiri dan apabila imam shalat dalam posisi duduk, maka shalatlah kalian dalam posisi duduk” Dalam hadits Sahi bin Al Handzalah, saat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Anas bin Martsad untuk mengawasi mereka. Ia berkata, “Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menoleh kepada masyarakat, sehingga apabila beliau selesai melaksanakan shalat, beliau mengucapkan salam. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku, 'Berilah kabar gembira, sebab orang Persia datang kepada kalian'. ” Shahih Ibnu Khuzaimah 487: Muhammad bin Yahya mengabarkan hadits kepada kami, Ma’mar bin Ya’mar mengabarkan kepada kami, Muawiyah bin Salam mengabarkan kepada kami, Zaid mengabarkan kepadaku —ia adalah Ibnu Salam— ia mendengar Abu Salam, Abu Kabsyah As-Salul menceritakan kepadaku bahwa Sahi bin Al Handzalah menceritakan hadits. Fahd bin Sulaiman menceritakan hadits kepada kami, ia berkata: Aku membacakan pada Abu Taubah Ar- Rabi’ bin Nafi', Muawiyah bin Salam menceritakan kepada kami dalam hadits yang panjang.620 Shahih Ibnu Khuzaimah 488: Abdul Jabar bin Al A'la mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, Az-Zuhri menceritakan kepadaku, Ha’, Al Hasan bin Muhammad, Ahmad bin Abdah, Said bin Abdurrahman Al Makhzumi dan Muhammad bin Al Walid Al Quraisyi menceritakan kepada kami dan mereka berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Az Zuhri dari Ahmad bin Rabi' dari Ubadah bin Ash-Shamith dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca surat Al Fatihah.’ 621 Ini adalah hadits Al Makhzumi. Al Hasan bin Muhammad berkata, "Hadits ini sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.” Ahmad dan Abdul Jabar (1066) berkata, “Terdapat satu riwayat dari Ubadah bin Ash-Shamith.” Muhammad bin Al Walid berkata, “Tidak sah shalat kecuali dengan membaca Al Fatihah.” Shahih Ibnu Khuzaimah 489: Ya’kub bin Ibrahim Ad Dauraqi mengabarkan kepada kami, Ibnu Ulaiyah mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij. Al Ala' bin Abdurrahman bin Ya’kub mengabarkan kepada kami, bahwa Abu As-Saib mengabarkan kepadanya ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan shalat yang di dalamnya tidak dibacakan ummul Qur’an (Al Fatihah), maka ia kurang. Shalatnya kurang dan tidak sempurna.” Aku katakan, “Wahai Abu Hurairah sesungguhnya aku kadang-kadang berada persis di belakang Imam.” Ia berkata, “kemudian ia memberi isyarat dengan lenganku. Dan, berkata, “Wahai orang Persia bacalah Al Fatihah di dalam dirimu.” 622 Shahih Ibnu Khuzaimah 490: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Wahab bin Jarir mengabarkan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Al Ala' bin Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tidak sah shalat yang tidak dibacakan surah Al Fatihah di dalamnya.”624 Aku katakan, "Bagaimana jika aku berada di belakang Imam?” Lalu beliau mengambil tanganku dan bersabda, "Bacalah Al Fatihah di dalam dirimu wahai orang Persia.” Shahih Ibnu Khuzaimah 491: Basyr bin Muadz Al Aqadi mengabarkan kepada kami, Abu Awanah mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas : Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman memulai bacaan shalat dengan baxaan Alhamdulillaahi Rabbil Alamin.625 Shahih Ibnu Khuzaimah 492: Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas: Sesungguhnya Nabi, Abu Bakar, Umar dan Utsman memulai bacaan shalat dengan Al Hamdulillah Rabbil Alamin.626 Shahih Ibnu Khuzaimah 493: Muhammad bin lahaq Ash-Shan’ani [mengabarkan kepada kami], Khalid bin Khidasy mengabarkan kopada kami, Amr bin Harun mengabarkan kepada kami, dari ibnu Juray, dari ibnu Abu Al Mulaikah, dari Umu Salamah: Sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam shalat membaca basmalah dan beliau menghitungnya sebagai ayat. Bacaan Alhamdulillaahi rabbil aalamiin dua ayat dan bacaan Iyyaka nastaiin lalu nabi menyatukan kelima jari beliau.627 Shahih Ibnu Khuzaimah 494: Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Qatadah menceritakan hadits dari Anas, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Aku pernah melaksanakan shalat bersama Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari mereka membaca basmalah. .628 Abu Bakar berkata; Aku telah meriwayatkan hadits ini dan redaksinya di dalam bab: Shalat, kitab Al kabir dan di dalam kitab Ma'anil Qur'an. Aku menulis masalah ini sekitar dua Juz, yaitu dalam mendasari masalah ini, bahwa basmalah merupakan bagian dari ayat Al Qur'an yang berada di setiap awal surat Shahih Ibnu Khuzaimah 495: Salm bin Junadah Al Qarsyi mengabarkan kepada kami, Waki mengabarkan kepada kami, dari Syu'bah, dari Qatadah. dari Anas, ia berkata, "Aku pernah melaksanakan shalat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian mereka tidak mengeraskan bacaan {BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM}.629 Shahih Ibnu Khuzaimah 496: Abu Said Al Asyaj mengabarkan kepada kami, Ibnu Idris mengabarkan kepada kami, ia berkata, aku mendengar Said bin Abu Arubah berkata, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak panah mengeraskan bacaan basmalah. Demikian pula Abu Bakar, Umar dan Utsman. 630 Shahih Ibnu Khuzaimah 497: Muhammad bin Ishaq Ash-Shan’ani [mengabarkan kepada kami], Abu Al Jawwab mengabarkan kepada kami, Ammar bin Ruzaiq menceritakan kepada kami, dari Al ‘Amasy dari Syu’bah dari Tsabit dari Anas, ia berkata: "Aku pernah melaksanakan shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar mereka tidak mengeraskan bacaan basmalah.631 Shahih Ibnu Khuzaimah 498: Ahmad bin Suraih Ar Razi mengabarkan kepada kami, Suwaid bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, Imran Al Qushair menceritakan kepada kami, dari Al Hasan, dari Anas bin Malik; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merahasiakan bacaan basmalah di dalam shalat, juga Abu Bakar dan Umar. .632 Abu Bakar berkata, “Hadits ini menjelaskan secara berbeda dengan apa yang diasumsikan oleh orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan. Abu Bakar berasumsi bahwa Anas bin Malik dengan sanad-nya menginginkan, 'Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar memulai bacaan dengan bacaan hamdalah' dan dengan sabda Rasulullah, 'Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari mereka tidak membaca basmalah sesungguhnya mereka tidak membaca bacaan basmalah, baik secara keras atau samar-samar. Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi menginginkan mereka untuk merahasiakan bacaan dengan tidak mengeraskannya menurut Anas. Abu Al Jawwab adalah Al Ahwash bin Jawwab. Shahih Ibnu Khuzaimah 499: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam mengabarkan kepada kami, Ayahku dan Syuaib mengabarkan kepada kami, yaitu Ibnu Al-Laits, keduanya berkata, AI-Laits mengabarkan kepada kami, Khalid mengabarkan kepada kami, Ha’, Muham amd bin Yahya menceritakan kepada kami, Said bin Abu Maryam menceritakan kepada kami, Al-Laits mengabarkan kepada kami, Khalid bin Yazid menceritakan kepadaku, dari Ibnu Abu Hilal, dari Nu'aim Al Mujmar, ia berkata, “Aku pernah melaksanakan shalat dibelakang Abu Hurairah, kemudian ia membaca basmalah, lalu membaca Al Fatihah hingga waladhdhaliin Kemudian ia mengucapkan, ‘Amin,' Orang-orang pun mengucapkan, ‘Amin.’ Abu Hurairah setiap kali sujud megucapkan, 'Allahu Akbar.' Apabila ia bangun dari duduk, maka ia mengucapkan, 'Allahu Akbar’, apabila ia mengucapkan salam, ia berkata, Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam hal melaksanakan shalat secara keseluruhan'.” Dengan redaksi yang sama. .633 Hanya saja Ibnu Abdul Hakam berkata, “Apabila ia bangun dari duduk yang kedua, maka ia mengucapkan, ’Allahu Akbar’” Abu Bakar berkata, “Aku telah menyebutkan secara detail mengenai bacaan basmalah dalam kitab Ma’ani Al Qur'an dan aku telah menjelaskan dalam kitab tersebut bahwa basmallah merupakan bagian dari Al Qur'an dengan penjelasan yang cukup dan tidak sulit untuk dipahami apa yang aku jelaskan di dalam kitab tersebut Mudah-mudahan Allah SWT memberikan pemahaman, sekaligus memberikan hidayah agar mereka dapat mencerna kebenaran dan petunjuk dengan nikmat dan anugerah-Nya.” Shahih Ibnu Khuzaimah 500: Muhammad bin Ma’mar bin Rabi’ Al Qaisi mengabarkan kepada kami, Abdul Hamad bin Usamah mengabarkan kepada kami, Abdul Hamid bin Ja’far Al Anshari mengabarkan kepada kami dari Al Ala' bin Abdurrahman bin Ya’kub Al Huraqi dari ayahnya dari Abu Hurairah, dari Ubai bin Ka’ab, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan satu surat yang tidak pernah diturunkan dalam kitab Taurat, Injil dan Al-Qur’an?” Aku katakan, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mudah-mudahan (67-alif) kamu tidak keluar dari pintu tersebut hingga aku menceritakannya kepadamu.” Lalu aku berdiri bersamanya kemudian beliau berbicara kepadaku, dan tanganku menggenggam tangan beliau, lalu aku memperlambat diri karena aku tidak ingin beliau keluar sebelum mengabarkan surat tersebut kepadaku. Ketika aku berada di dekat pintu, maka aku katakan, “Wahai Rasulullah mana surat yang engkau janjikan kepadaku?” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, “Bagaimana engkau memulai apabila engkau melaksanakan shalat?” ia berkata, “Aku membaca Al Fatihah.” Beliau bersabda, “Itu adalah As-Sab’ul Matsani yang difirmankan oleh Allah SWT, 'Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.' (Qs. Al Hijr [15]: 84) Itulah yang akan aku berikan.”.634 .635 Shahih Ibnu Khuzaimah 501: Hautsarah bin Muhammad Abui Azhar mengabarkan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami, Abdul Hamid bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Al Ala' bin Abdurrahman bin Ya’kub menceritakan kepadaku dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Ubai bin Ka’ab, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak menurunkan surat di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an seperti surat Al Fatihah. Al Fatihah adalah Assab’ul Matsani.” 636 Shahih Ibnu Khuzaimah 502: Atabah bin Abdullah Al Yahmadi mengabarkan kepada kami, ia berkata, aku membaca pada Malik bin Anas dari Al Ala' bin Abdurrahman, sesungguhnya ia mendengar Abu As-Saib —hamba sahaya Hisyam bin Jahrah— berkata, aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan shalat dan di dalamnya tidak dibacakan Ummul Qur'an, maka shalatnya kurang, maka shalatnya kurang. Shalatnya kurang tidak sempurna.” Aku katakan, ‘"Wahai Abu Hurairah sesungguhnya aku terkadang berada di belakang imam.” Lalu ia menarik lenganku dan berkata, 'Bacalah surah Al Fatihah wahai orang Persia pada dirimu. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Allah SWT berfirman, ’Aku membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian. Sebagian shalat untuk-Ku dan sebagian shalat lainnya untuk hamba-Ku. Seorang hamba berkata, 'Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam’ Allahu SWT berfirman, ‘Hamba-ku memujiku.’ Seorang hamba berkata, ‘Maha pemurah lagi Maha Penyayang’, Allah SWT berfirman, 'Hamba-ku memuji kepadaku.’ Seorang hamba berkata, ‘ Yang menguasai hari pembalasan.’ Allah SWT berfirman, 'Hamba-Ku mengagungkanku.' Ayat ini di antara diri-Ku dan hamba-Ku. Seorang hamba berkata, ‘Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.' Ayat ini di antara diri-Ku dan hamba-Ku serta hamba-Ku berhak atas apa yang ia minta Seorang hamba berkata, Tunjukilah kami jalan yang lurus; (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi) dan bukan (jalan pula) mereka yang sesat (Nasrani).’ Maka ia untuk hamba-Ku dan hamba-Ku berhak atas apa yang ia minta."637 Shahih Ibnu Khuzaimah 503: Yakub bin Ibrahim Ad- Dauraqi dan Muhammad bin Rafi' menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Hamman dan Aban bin Yazid mengabarkan kepada kami. Semuanya berasal dari Yahya bin Abu Katsir dari Abdullah bin Abu Qatadah dari ayahnya: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca di dalam dua rakaat shalat Zhuhur dan Ashar, surah Al Fatihah dan satu surat di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terkadang memperdengarkannya kepada kita, dan [dalam] dua rakaat terakhir membaca Al Fatihah. Abu Bakar berkata, “Aku mengira dari dahulu bahwa hadits ini yang menyebutkan bacaan Al Fatihah dalam dua rakaat terakhir shalat Zhuhur dan Ashar, dimana hadits tersebut tidak diriwayatkan kecuali oleh Aban bin Yazid dan Hamman bin Yahya dari apa yang aku dengar dari para pengikut kami yang merupakan pakar hadits. (67-ba’) Mereka berkata, “Al Auza'i dengan kebesaran jiwanya telah menyebutkan redaksi tambahan dalam hadits ini. 638 Shahih Ibnu Khuzaimah 504: Berkata, demikian pula Muhammad bin Maimun Al Makki menceritakan kepada kami, Yahya bin Katsir menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Abu Qatadah dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar bersama kami, kemudian beliau membaca Fatihah dan surat lain bersamanya, dan dalam dua rakaat terakhir beliau membaca Al Fatihah saja. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dan terkadang memperdengarkan satu ayat kepada kami.” 639 Shahih Ibnu Khuzaimah 505: Muhammad bin Al Ala' bin Kuraib mengabarkan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami dari Al A'masy, Umarah bin Umair menceritakan kepada kami, Ha', Abdul Jabar bin Al A'la' menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Al Amasy menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdah dan Said bin Abdurrahman Al Makhzumi menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Sufyan bin Uyainah dari Al A'masy, Ha', Ya'kub bin Ibrahim, Ad-Dauraqi menceritakan kepada kami, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, Al A'masy menceritakan kepada kami dari Umarah bin Umair dari Abu Ma’mar, ia berkata: Kami pernah bertanya kepada Khabbab, “Apakah Rasulullah membaca bacaan Al Qur'an dalam shalat Zhuhur dan Ashar?” Ia berkata, “Yah!” Kami tanyakan, “Dengan apa kalian mengetahuinya?” Ia menjawab, “Dengan gerakan jenggot beliau.” 640 Ad-Daruqi, Al Makhzumi dan Abu Karib juga berkata, “Dengan gerakan jenggot beliau.” Shahih Ibnu Khuzaimah 506: Ya'kub Ad-Dauraqi dan Salam bin Junadah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Waqi' menceritakan kepada kami, Ad-Dauraqi berkata, Ia berkata, Al A'masy menceritakan kepada kami, Salam berkata, dari Al A'masy, dengan sanad sejenisnya, dan ia berkata, “Dengan gerakan jenggot beliau.“ 641 Basyir bin Khalid Al Askari mengabarkan kepada kami, Muhammad —maksudnya adalah Ibnu Ja’far— menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Sulaiman, ia berkata, Aku mendengar Umarah bin Umair dengan sanad ini. Hadits sejenis, dan ia berkata, “Jenggot beliau.” Shahih Ibnu Khuzaimah 507: Abu Thahir mengabarkan kepada kami, Abu Bakar mengabarkan kepada kami, Ali bin Sahi Ar-Ramli mengabarkan kepada kami, Al Walid yaitu Ibnu Muslim mengabarkan kepada kami, Abu Amr menceritakan kepadaku ia adalah Al Auzai Yahya bin Abu Katair menceritakan kepadaku, Ha’, Bahr bin Naahir Al Khaulani menceritakan kepadaku, Baayar bin Bakar menceritakan kepada kami, Al Auza i menceritakan kepada kami, Yahya bin Abu Katsir menceritakan kepadaku, Abdullah bin Abu Qatadah menceritakan kepadaku, Ayahku menceritakan kepadaku, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca Al Fatihah dan dua surat secara bersamaan dalam dua Rakaat pertama dari shalat Zhuhur dan Ashar, dan Raaulullah terkadang memperdengarkan bacaan satu ayat kepada kami. Raaulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memperpanjang waktu pada rakaat pertama ahalat Zhuhur” 642 Ali bin Sahi berkata: Dari ayahnya dan ia juga berkala, “Raaulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memperpanjang waktu pada rakaat pertama shalat Zhuhur” Shahih Ibnu Khuzaimah 508: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Husyaim menceritakan kepada kami, Ha’, Abdul Malik bin Umair mengabarkan kepada kami, Ha’, Said bin Abdurrahman Al Makhzumi menceritakan kepada kami, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, dari Abdul Malik bin Umair, dari Jabir bin Samrah: Sesungguhnya penduduk Kufah mengadukan Sa'ad kepada Umar. Mereka menyebutkan masalah shalat yang dilaksanakan Saad, kemudian Umar mengirim seorang utusan untuk mendatanginya dan menyebutkan apa yang mereka anggap sebagai cacat pada Saad berkenaan dengan masalah shalat tersebut. Sa'ad berkata, "'Sesungguhnya aku akan melaksanakan shalat seperti yang dilaksanakan oleh Rasulullah bersama mereka dan aku tidak akan merusak shalat tersebut, Sesungguhnya aku ingin berdiam lama bersama mereka dalam dua rakaat pertama dan menghilangkannya (memendekkannya) bersama mereka pada dua rakaat terakhir." Umar berkata kepada Sa'ad, "Itu hanya asumsimu saja wahai Abu Ishaq.” 643 Ini adalah hadits Ad-Dauraqi. Al Makhzumi berkata, "Dan, aku meringankan (memendekkan) bacaan pada dua rakaat terakhir." Shahih Ibnu Khuzaimah 509: Ya’kub bin Ibrahim Ad Dauruqi dan Abu Hasyim Ziad bin Ayub serta Ahmad bin Mani’ mengabarkan kepada kami. Mereka berkata, Husyaim menceritakan kepada kami, Manshur mengabarkan kepada kami —ia adalah Ibnu Zadzan— dari Al Walid bin Muslim —ia adalah Abu Basyar— dari Abu Ash-Shadiq dari Abu Said Al Khudri, ia berkata, “Kami mengukur lamanya waktu berdiri Rasulullah saat melaksanakan shalat Zhuhur; yaitu di dalam dua rakaat pertama adalah sepanjang lamanya bacaan tiga puluh ayat Al Qur'an, yaitu seukuran panjangnya bacaan alim lam mim sajadah." Ia berkata, “Kami mengukur lamanya waktu berdiri Rasulullah di dalam dua rakaat terakhir adalah sepanjang separuh dari bacaan tersebut (lam mim sajadah).” Ia berkata, 'Kami mengukur lama waktu berdiri Rasulullah dalam dua rakaat pertama shalat Ashar adalah sepanjang separuh dari bacaan tersebut.” 644 Ini adalah redaksi hadits Ziad bin Ayub. Shahih Ibnu Khuzaimah 510: Yahya bin Hakim dan Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abu Daud menceritakan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Simak bin Harb, ia berkata: Aku mendengar Jabir bin Samurah berkata, “Rasulullah di dalam shalat dzuhur dan ashar membaca surat Wallaili idzaa yaghsyaa dan Wasyamsi wa dhuhaaha serta surat-surat sejenisnya dan membaca surat yang lebih panjang dari itu di dalam shalat Subuh.”" 645 Shahih Ibnu Khuzaimah 511: Muhammad bin Harb Al wasithi mengabarkan kepada kami, Zaid bin Al Hubab menceritakan kepada kami dari Hushain bin Waqid —seorang hakim di kawasan Marwa— ia berkata: Abdullah bin Buraidah Al Aslami mengabarkan kepadaku dari ayahnya, “Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam shalat Zhuhur membaca Idzas-samaaun syaqqat dan surat sejenisnya.“ 646 Shahih Ibnu Khuzaimah 512: Muhammad bin Ma’mar bin Rib’i Al Qaisi mengabarkan kepada kami, Rauh bin Ibadah mengabarkan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, Qatadah. Tsabit dan Humaid menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW; Sesungguhnya mereka mendengarkan dari beliau bunyi bacaan surat di dalam shalat Zhuhur berupa sabbihisma rabbikal a 'laa dan hal ataaka hadiitsul ghaasyiyah.647 Shahih Ibnu Khuzaimah 513: Muhammad bin Ziad bin mengabarkan kepada kami. Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami. Abu Ma'mar mengabarkan kepada kami. Abdul Warits mengabarkan kepada kami. Handzalah As-Sadusi mengabarkan kepada kami. aku panah mengatakan kepada Ikrimah. 'Terkadang dalam shalat maghrib aku membaca Qul Audzu Birrabbil Falaq dan Qul Audzu birrabbinnaas dan sesungguhnya banyak orang menganggap buruk hal tersebut atasku? ” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. 'Maha suci Allah! dan hal tersebut, tidaklah mengapa. Bacalah kedua surat tersebut karena sesungguhnya keduanya merupakan bagian dari Al Qur an'.” Kemudian ia berkala. "Ibnu Abbas menceritakan kepadaku sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah datang, kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat dan tidaklah pada dua rakaat tersebut beliau membaca kecuali Ummul Kitab” 648 Ini adalah hadits Muhammad bin Yahya. Muhammad bin Ziad berkata. “Dan. sesungguhnya banyak kaum menganggap buruk dan Rasulullah tidak mengatakan bahwa hal tersebut tidak apa-apa.” Lalu ia berkata, "Ibnu Abbas menceritakan kepadaku, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri, lalu beliau melaksanakan shalat dua rakaat dan tidaklah dalam dua rakaat tersebut beliau membaca surat kecuali Al Faatihah. dan beliau tidak menambahkan bacaan surat lain sama sekali. Shahih Ibnu Khuzaimah 514: Abdul Jabar Al Ala mengabarkan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, ia berkata, Aku mendengar Az-Zuhri berkata, Muhammad bin Zubair bin Muth’im mengabarkan kepadaku dari ayahnya. Sesungguhnya ia mendengar Nabi di dalam shalat maghrib membaca surah Ath-Thur649 Ali bin Khasyram dan Said bin Abdurrahman Al Makhzumi mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri dari Muhammad bin Jubair (68-ba’) bin Muth’im dari ayahnya, Ha’, Bundar menceritakan kepada kami, Yahya menceritakan kepada kami, Malik menceritakan kepada kami, Az-Zuhri menceritakan kepadaku dari Ibnu Jubair bin Math’am dari ayahnya hadits sejenis. Shahih Ibnu Khuzaimah 515: Bundar mengabarkan kepada kami, Abu Ashim mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Mulaikah, dari Urwah bin Az-Zubair, dari Marwan bin Al Hakam, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, "Nabi di dalam shalat Maghrib membaca satu dari dua surat terpanjang." 650 Shahih Ibnu Khuzaimah 516: Muhammad bin Ma’mar Al Qaisi mengabarkan kepada kami, Rauh bin Ibadah mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Al Husein bin Mahdi menceritakan kepada kami, Abdur-Razaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata, aku mendengar Abdullah bin Abu Mulaikah berkata, Urwah bin Zubair mengabarkan kepadaku, Marwan bin Al Hakam mengabarkan kepadaku, ia berkata: Zaid bin Tsabit berkata, "Mengapa engkau membaca surat-surat pendek di dalam shalat maghrib? Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam shalat maghrib membaca salah satu dari dua surat terpanjang.” Ia berkata, “Apakah salah satu dari dua surat terpanjang itu?” Ia berkata, “Surah Al ‘Araaf." Aku bertanya kepada Ibnu Abu Malikah, “Apa yang dimaksud dengan dua surat terpanjang?” Ia berkata berdasarkan pandangannya, “Surat Al An 'aam dan Al ‘Araaf. Ini adalah redaksi hadits Abdur-Razaq. Dalam hadits Rauh, ia berkata, Ibnu Abu Mulaikah mengabarkan kepadaku, dari Urwah bin Az-Zubair. Marwan bin Al Hakam berkata, Zaid bin Tsabit berkata kepadaku. ia berkata, “Aku mendengar Ahmad bin Nasr Al Muqri berkata, “Dalam shalat maghrib terkadang aku ingin membaca surat Al Araaf.” 651 Shahih Ibnu Khuzaimah 517: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Muhadhir mengabarkan kepada kami, Hisyam mengabarkan kepada kami dari ayahnya dari Zaid bin Tsabit; Sesungguhnya nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam shalat Maghrib membaca surat Al Araaf pada dua rakaat pertama berturut-turut. 652 Abu Bakar berkata, “Aku tidak mengetahui satu orang pun yang mengikuti Muhadhir bin Al Muwarri dengan sanad ini,“ Pengikut Hisyam di dalam sanad ini berkata, “Dari Zaid bin Tsabit atau dari Abu Ayub terdapat keraguan dari Hisyam.“ Shahih Ibnu Khuzaimah 518: Muhammad bin Al Ala' bin Kuraih mengabarkan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami dari Hisyam dari ayahnya, sesungguhnya Abu Ayub atau Zaid bin Tsabit —Hisyam ragu— ia berkata kepada Marwan —yang menjadi penguasa kota Madinah—, “Sesungguhnya engkau meringankan (memendekkan) bacaan surat dalam dua rakaat shalat Maghrib. Demi Allah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam dua rakaat tersebut membaca surah Al A'raaf hingga selesai." Lalu aku pertanyakan hal tersebut kepada ayahku. Marwan tidak pernah membacanya di dalam dua rakaat tersebut? Ia berkata, "Yang dibaca adalah surat yang panjang.” 653 Demikianlah Waqi’ dan Syuaib bin Ishaq meriwayatkan hadits dari Hisyam, keduanya berkata, “Menurut Zaid atau dari Abu Ayub.” Shahih Ibnu Khuzaimah 519: Salm bin Junadah mengabarkan kepada kami, Waqi’ mengabarkan kepada kami, Abu Kuraib mengabarkan kepada kami, Syuaib bin Ishaq mengabarkan kepada kami. Abdul Jabar bin Al Ala' mengabarkan kepada kami, Ubaidullah bin Abdullah mengabarkan kepada kami, Ha', Said bin Abdurrahman Al Makhzumi menceritakan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, Ha', Abdullah bin Muhammad Az-Zuhri menceritakan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, Ha', Ali bin Khasyram menceritakan kepada kami, Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami dari Az zuhri dari Ubaidillah bin Abdullah, Ha', Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, dari Ibnu Abbas, dari ibunya; Ummul Fadl binti Al Harits; Sesungguhnya ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surah Al Mursalat dalam shalat Maghrib. 654 Ini adalah redaksi hadits Ad-Dauraqi. Hanya saja Abdul Jabar tidak mengatakan, “Dalam shalat maghrib.” Shahih Ibnu Khuzaimah 520: Bundar menceritakan kepada kami, Abu Bakar menceritakan kepada kami —maksudnya adalah Al Hanafi- Ad Dhahak —ia adalah Ibnu Utsman— memberitahukan kepada kami, Bukair bin Abdullah bin Al Asyaj menceritakan kepadaku, Sulaiman bin Y asar menceritakan kepada kami, sesungguhnya ia mendengar Abu Hurairah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun melaksanakan shalat mirip dengan shalat yang dilaksanakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali Fulan yang pernah menjabat sebagai penguasa kota Madinah.” Sulaiman berkata, “Aku pernah melaksanakan shalat dibelakangnya, ia memanjangkan (melamakan waktu) bacaan dalam dua rakaat pertama dan memendekkan bacaan pada dua rakaat terakhir, dan memendekkan juga pada shalat ashar. Ia di dalam dua rakaat pertama shalat maghrib membaca surat yang pendek (69-alif), pada dua rakaat pertama shalat isya membaca surat yang sedang dan di dalam shalat subuh membaca surat yang panjang. Abu Bakar berkata “Perselisihan bacaan 655 yang ada ini termasuk perselisihan yang diperbolehkan. Boleh saja bagi orang yang melaksanakan shalat maghrib dan shalat-shalat lainnya membaca bacaan surat yang melebihi panjang bacaan Al Fatihah sesuai yang ia inginkan dan membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Tidak dilarang bagi seseorang untuk membaca surat-surat yang ada di dalam Al-Qur’an sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Hanya saja apabila seseorang menjadi imam shalat, maka hal yang dipilih adalah harus memendekkan bacaan dan tidak memanjangkannya, sebab memanjangkan bacaan surat akan menimbulkan fitnah bagi mereka (makmum), sebagaimana yang dikatakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Muadz bin Jabal “Apakah engkau ingin menjadi pembuat fitnah ?” 656 Nabi juga memerintahkan imam shalat agar memendekkan bacaan shalat mereka. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda مَنْ أَمَّ مِنْكُمْ النَّاسَ فَلْيُخَفَّفْ Barang siapa dari kalian menjadi imam shalat bagi (suatu kaum) masyarakat, maka ringankanlah (pendekkanlah) 657 bacaan suratnya Aku akan mentakhrij seluruh hadits-hadits ini atau sebagiannya saja di dalam pembahasan tentang imam shalat. Masalah tersebut merupakan tempat untuk hadits-hadits seperti ini. Shahih Ibnu Khuzaimah 521: Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Amr bin Dinar dan Abu Az-Zubair, kami mendengar Jabir bin Abdullah, masing-masing menambahkan redaksi hadits, ia berkata, uMuadz pernah melaksanakan shalat bersama Rasulullah, kemudian ia kembali kepada kaumnya lalu melaksanakan shalat bersama mereka. Pada suatu malam Nabi mengakhirkan shalat lalu Muadz kembali menjadi imam bagi kaumnya dan ia membaca surat Al Baqarah. Ketika seorang laki-laki dari suatu kaum menyaksikan pemandangan seperti itu, maka ia berpaling ke bagian pinggir masjid kemudian melaksanakan shalat sendirian. Mereka bertanya, “Apakah kamu telah menjadi orang munafik?“ la berkata, “Tidak." la berkata, "Aku pasti akan menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan memberitahukan hal ini." Lalu ia menentui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berkata, "Sesungguhnya Muadz — semalam - melaksanakan shalat bersamamu, kemudian ia kembali dan menjadi imam shalat bagi kami, karena tadi malam engkau mengakhirkan shalat Isya'. Muadz kemudian datang dan menjadi imam bagi kami, lalu membaca surat Al Baqarah. Saat itu aku terlambat datang, lalu aku melaksanakan shalat sendirian wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang meminta penjelasan atas apa yang telah kami lakukan." Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, " Wahai Muadz apakah kamu mau menjadi pembuat fitnah? Bacalah surat Wallaili idzaa yaghsya, Sabbihisma rabbikal a 'laa dan Wassamaai dzaatil buruuj. Abu Bakar berkata, "Aku telah meriwayatkan jalur hadits ini dalam masalah imam shalat." Shahih Ibnu Khuzaimah 522: Ali bin Khasyram mengabarkan kepada kami, Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami dari Yahya bin Said dan Ma'ma, kami mendengar Adi bin Tsabit berkata, aku mendengar al Bara' bin Azib berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam shalat Isya yang diakhirkan waktu pelaksanaannya membaca surah Wattiini wazzaituuni. Aku tidak pernah mendengar bacaan Al Qur'an yang lebih baik darinya.” 659 Shahih Ibnu Khuzaimah 523: Isa bin Ibrahim Al Ghafiqi mengabarkan kepada kami, Abu Wahab mengabarkan kepada kami dari Malik dan Ibnu Lahi’ah dari Ibnul Aswad dari Urwah bin Az-Zubair dari Zainab binti Salamah dari Ummu Salamah, isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata, “Aku pernah mengadu atau aku pemah mengeluh, kemudian aku menyebutkannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian beliau bersabda, 'Thawaflah di tempat lalu lalang orang-orang, padahal engkau dalam keadaan menaiki kendaraan.' Ummu Salamah berkata, 'Aku kemudian melakukan thawaf dengan menaiki unta sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat sampai di reruntuhan rumah. Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam shalat Isya' yang diakhir waktu pelaksanaannya membaca —beliau melaksanakan shalat bersama masyarakat- Surah Ath-thur wa kitaabinm-masthuur'. 660> Ibnu Lahi’ah berkata “Abul Aswad berkata, Rasululiah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca dengan baik dan dilakukan secara murattal saat beliau membaca Al Qur'an.' Hanya saja Malik menambahkan dengan kalimat, 'Nabi melaksanakan shalat di samping masjid'.” Shahih Ibnu Khuzaimah 524: Bundar Muhammad bin Basyar, Muhammad -maksudnya adalah Ibnu Ja’far— dan Abdurrahman —maksudnya adalah Ibnu Mahdi—, keduanya berkata, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Adi —ia adalah Ibnu Tsabit—, ia berkata, Aku mendengar Al Bara' bin Azib berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berada dalam bepergian kemudian beliau melaksanakan shalat isya yang diakhirkan pelaksanaannya hingga tengah malam, lalu beliau di dalam salah satu dari dua rakaat tersebut membaca surat Wattiinini Wazzaituuni.”661 Shahih Ibnu Khuzaimah 525: Abu Thalib Zaid bin Akhzam Ath- Tha'i mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Bakar mengabarkan kepada kami, Syu’bah dari Abu Ishaq mengabarkan kepada kami, ia berkata, aku mendengar Al Barra' berkata, “Nabi pernah melaksanakan shalat saat bepergian, kemudian beliau melaksanakan shalat Isya yang diakhirkan pelaksanaannya hingga pertengahan malam dan beliau membaca surah Wattiini wazzaituuni dalam shalatnya.” 662 Shahih Ibnu Khuzaimah 526: Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna mengabarkan kepada kami, Zaidah mengabarkan kepada kami, dari Simak, dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam shalat Subuh membaca surat Qaf dan setelah itu bacaan shalat beliau lebih ringan” 663 Shahih Ibnu Khuzaimah 527: Ahmad bin Abdah mengabarkan kepada kami, Sufyan bin Uyainah mengabarkan kepada kami, Ha', Ali bin Khasyram menceritakan kepada kami, Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami, dari Ziad bin Ilaqah, dari pamannya; Quthbah bin Malik; [Dan], aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam shalat Subuh membaca surah Qaf dan aku mendengarnya membaca Wannakhla basiqaat 664 Shahih Ibnu Khuzaimah 528: Ash-Shaghani mengabarkan kepada kami, Al Mu’tamir mengabarkan kepada kami dari ayahnya, Abui Minhal menceritakan kepadaku dari Abu Barzah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam shalat Subuh membaca seratus sampai enam puluh ayat atau enam puluh sampai seratus ayat. 665 Abu Bakar berkata, “Abul Minhal adalah Sayyar bin Salamah Bashri.” Shahih Ibnu Khuzaimah 529: Ahmad bin Abdah mengabarkan kepada kami, Ziad bin Abdullah mengabarkan kepada kami dari Sulaiman At-Taimi, Ha', Bundar menceritakan kepada kami, Yazid mengabarkan kepada kami, Sulaiman At-Taimi mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Abdah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun mengabarkan kepada kami dari Sulaiman At-Taimi, Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami dari Sulaiman At-Taimi dengan sanad ini; Hadits sejenisnya, dan mereka berkata, “Dengan enam puluh sampai seratus ayat.” 666 Shahih Ibnu Khuzaimah 530: Abu Amar dan Salm bin Junadah mengabarkan kepada kami, kedunya berkata, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Khalid, dari Abui Minhal, dari Abu Barzah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam shalat Subuh membaca surat antara enam puluh sampai seratus ayat.” 667 Shahih Ibnu Khuzaimah 531: Ya’kub bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, Khalaf bin Al Walid mengabarkan kepada kami, Isra'il mengabarkann kepada kami, dari Simak, dari Jabir —ia adalah Ibnu Samurah— ia berkata, “Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat sama dengan shalat kalian, akan tetapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meringankan bacaan shalatnya. Rasulullah di dalam shalat Subuh membaca surah Al Waqi’ah dan surat-surat yang serupa.”668 Abu Bakar berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh orang yang tidak layak perlakuannya. Kemudian terdapat Bithamah yang meriwayatkan dari Sulaiman At-Taimi, ia berkata, Hadits tersebut berasal dari Anas bin Malik dari Rasulullah SAW’.” Shahih Ibnu Khuzaimah 532: Ahmad bin Mani’ mengabarkan hadits kepada kami, Ya’kub bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, Sulaiman At-Taimi mengabarkan kepada kami, dari Anas, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan hadits ini. Ini adalah kesalahan besar dan hadits ini sesungguhnya berasal dari Sulaiman dari Abui Minhal Sayyar bin Salamah dari Abu Barzah. Demikianlah para penghafal hadits meriwayatkan hadits yang menjadi buatan mereka.669 Shahih Ibnu Khuzaimah 533: Ali bin Hajr As-Sa’di mengabarkan kepada kami dari Murrah, Syarik mengabarkan kepada kami, dari Mukhawal bin Rasyid, dari Muslim Al Bathin, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di hari Jum’at saat shalat shubuh membaca Alif laam Miim Tanziil dan hal ataa”670 Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad mengabarkan kepada kami dari Syu’bah dari Makhul dari Muslim Al Bathin, Ha', Ash-Shagani menceritakan kepada kami, Khalid —yaitu Ibnul Harits— mengabarkan kepada kami, Syu’bah, mengabarkan kepada kami, Makhul mengabarkan kepada kami, ia berkata, aku mendengar Muslim Al Bathin menceritakan hadits dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di hari jum’at saat shalat shubuh membaca, Alif laam miim Tanziil dan hal Ataa alal Insaan serta di dalam shalat jum’at membaca surah Al Jum’at dan Al Munaafiqun. Al Fadl bin Ya’kub Ar-Rakhmi mengabarkan kepada kami dengan hadits gharib. Asad bin Musa menceritakan kepada kami, Hamad bin Salamah mengabarkan kepada kami, dari Ayub, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas; Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di hari jum’at saat melaksanakan shalat Subuh membaca alif laam miim tanziil dan hal ataa alal insaan. Shahih Ibnu Khuzaimah 534: Abu Ammar dan Ali Bin Sahi Ar-Ramli mengabarkan kepada kami dan keduanya berkata, Al Walid bin Muslim (70-alif)menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Yazid bin Jabir menceritakan kepadaku, Al Qasim Abu Abdurrahman menceritakan kepadaku dari Uqbah bin Amir, ia berkata, “Aku pemah mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu investigasi, beliau bersabda, 'Wahai Uqaib! Tidakkah engkau ingin menunggangi kendaraan?’ padahal saat itu aku ingin sekali menaiki kendaraan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda lagi, 'Wahai Uqaib tidakkah engkau ingin menunggangi kendaraan. ' Aku takut perbuatan tersebut termasuk kategori maksiat. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam turun dari kendaraannya lalu aku menaikinya sebentar kemudian aku turun lagi, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menaiki kendaraan tersebut kemudian beliau bersabda, 'Wahai Uqaib! Maukah kamu aku beritahukan dua surat yang terbaik yang dibaca oleh kebanyakan orang.’ Aku menjawab, Tentu! wahai Rasulullah.' Kemudian beliau membacakan kepadaku Qui auudzu birabbil falaq dan Qul auudzu Birabbinnaas. kemudian shalat pun didirikan, beliau lalu melaksanakan shalat dengan membaca dua surat tersebut, lalu beliau menghampiriku dan bersabda, 'Bagaimana nendapatmu wahai Uqaih, bacalah kedua surat tersebut setiap engkau akan dan bangun dari tidur” 671 Abul Khaththab mengabarkan kepada kami Al Walid mengabarkan kepada kami dengan sanad ini, dengan hadits sejenis dan ia berkata dari Al Qasim. Abu Bakar berkata, “Redaksi ini “Setiap engkau akan dan bangun dari tidur” termasuk jenis ungkapan yang aku tahu bahwa orang-orang Arab menggunakan istilah an-naim (orang yang tidur) untuk orang yang tidur terlentang, serta meletakkan istilah tersebut juga bagi orang yang hilang akalnya. Yang dikehendaki oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari sabdanya di dalam hadits ini adalah, “Bacalah kedua surat tersebut apabila engkau akan tidur” maksudnya apabila engkau akan tidur berbaring, karena orang yang tidur adalah orang yang hilang akalnya, dan yang demikian tidak mungkin untuk diperintah. Kemudian dikatakan kepadanya, 'Apabila engkau tidur dan hilang akal, maka bacalah Al Muawwidzatain’. Dan, seperti inilah hadits Ibnu Buraidah dari Imran bin Husein yang berbunyi, 'Shalat sambil berbaring pahalanya separuh dari orang yang shalat sambil duduk’ yang dimaksud oleh Rasulullah dengan istilah an-na'im (orang yang tidur) di sini adalah orang yang berbaring, bukan orang yang hilang akalnya, karena orang yang hilang akalnya tidak terkena perintah shalat, dan shalat tidak dapat dilakukan olehnya karena ia sedang kehilangan akal. Shahih Ibnu Khuzaimah 535: Abdullah bin Hasyim mengabarkan kepada kami, Abdurrahman —yaitu Ibnu Mahdi— menceritakan kepada kami, Ha’, Abdah bin Abdullah Al Khaza’i mengabarkan kepada kami, Zaid mengabarkan kepada kami —yaitu Ibnu Al Hubab— keduanya dari Muawiyah —ia adalah Ibnu Shalah— Abdah berkata, Al Ala' bin Al Harits Al Hadhrami menceritakan kepadaku dan Ibnu Hasyim berkata, dari Al A’la bin Al Harits dari Al Qasim hamba sahaya Muawiyah dari Uqbah bin Amir, ia berkata, “Aku pernah menuntun kendaraan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat bepergian. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Uqbah! Tidakkah kamu ingin aku beritahukan dua surat yang terbaik untuk dibaca (di dalam shalat)!' Aku menjawab, 'Tentu.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Qul auudzu birabbil falaq dan qui auudzu birabbin-naas. ' Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam turun (dari kendarannya) beliau melakukan shalat Subuh dengan membaca kedua surat tersebut, lalu beliau bersabda, 'Bagaimana pendapatmu wahai Uqbah'. ” Ini adalah hadits redaksi Abdurrahman. Abdah tidak mengatakan, "Saat bepergian." Abdah berkata, “Nabi tidak melihatku tercengang oleh kedua shalat tersebut, lalu beliau melaksanakan shalat Subuh dengan banyak orang dan membaca kedua surat tersebut. Lalu beliau bersabda kepadaku, 'Wahai Uqbah bagaimana pendapatmu.’ Shahih Ibnu Khuzaimah 536: Musa bin Abdurrahman Al Masruqi dan Abdurrahman bin Al Fadl bin Al Muwaffaq mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abu Usamah [dan Zaid bin Abu Az-Zarqa'] menceritakan kepada kami dan keduanya dari Sufyan dari Muawiyah bin Shalih dari Abdurrahman bin Jubair Nufair Al Hadhrami dari ayahnya dari Uqbah bin Amir, Sesungguhnya Nabi di dalam shalat Subuh membaca Qui Auudzu Birabil Falaq dan Qui Auudzu birabbinnaas. 673 Ini adalah redaksi hadits Zaid bin Abu Az-Zarqa'. 674 Dalam hadits Abu Usamah, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai surat Al Muawidatain, apakah keduanya merupakan bagian dari Al Qur’an? Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi imam shalat kami dengan membaca kedua surat tersebut di dalam shalat Subuh. Abu Bakar berkata : Para pengikut kami berkata Ats-Tsauri membuat kesalahan dalam hadits ini’. Dan aku katakan bahwa tidak dapat dipungkiri bahwa Sufyan dapat meriwayatkan hadits ini dari Muawiyah dan dari lama hadits lainnya. Shahih Ibnu Khuzaimah 537: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami dengan hadits yang sangat gharib, Ibrahim bin Hamzah menceritakan kepada kami, Abdul Aziz —yaitu Ibnu Muhammad— mengabarkan kepada kami, dari Ubaidillah, dari Tsabit Al Bunani, dari Anas bin Malik, ia berkata, “Seorang laki-laki dari kaum Anshar (70-ba') menjadi imam bagi mereka di masjid Quba.” Ia berkata, “Laki-laki tersebut setiap kali memulai bacaan surat untuk mereka di dalam shalat, maka ia memulainya dengan membaca 'Qul huwallaahu ahad’ sampai selesai, kemudian ia membaca surat yang lain bersama surat tersebut. Hal itu terus-menerus ia lakukan di setiap rakaat. Ketika Nabi mendatangi mereka, maka mereka mengabarkan mengenai hal tersebut. Lalu beliau bersabda, "Wahai fulan apa yang membuatmu selalu membaca surat tersebut dalam setiap rakaat?” la berkata, “Sesungguhnya aku menyukainya.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Cintailah ia, maka ia akan memasukkanmu ke dalam surga.675 Shahih Ibnu Khuzaimah 538: Muhammad bin Al Ala' bin Kuraib Al Hamdani mengabarkan kepada kami, Abu Khalid mengabarkan kepada kami, dari Al A'masy, dari Syaqiq, ia berkata, “Nahik bin Sinan pernah datang kepada Abdullah, lalu ia berkata, 'Bagaimana pendapatmu dengan huruf ini, apakah dibaca min ma'iin ghaira aasin atau yaasin?' Abdullah berkata, 'Apakah yang engkau hitung dari Al Quran hanya ayat ini?' Nahik berkata, 'Sesungguhnya aku pasti membaca surat Al Mufashal di dalam satu rakaat.' Abdullah berkata, 'Bacalah dengan cepat seperti membaca syair ini. Sesungguhnya banyak kaum mengukuhkan Al Qur'an dengan lisan mereka dan mereka tidak melewati batas bacaan maksimal, akan tetapi apabila masuk ke dalam hati kemudian meresap secara mendalam, maka di dalamnya terdapat manfaat. Dan, sesungguhnya pekerjaan yang terbaik di dalam shalat adalah ruku dan sujud. Dan, sesungguhnya aku mengetahui an-nadha'ir surat-surat yang sama —dalam makna atau dalam jumlah ayat— yang dibaca Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dua kali di dalam satu rakaat', lalu Abdullah menggandeng tangan Alqamah mengajak masuk, kemudian ia keluar dan menunjukkan hitungan an-nadha'ir kepada kami.”676 Al Amasy berkata, “An-nadh'ir yang dimaksud adalah dua puluh surat berdasarkan susunan Abdullah. Pertama surat Ar-Rahmaan dan terakhir surat Ad-Dukhaan. Surah Ar-Rahmaan, An Najm, Ad Dzaariyaat dan Ath Thuur adalah an-nadha ir. Demikian juga dengan surat lqtabat, Al Haaqqah, Al Waaqi’ah, Nuun, An Naaziat, Wa sa'ala saa'ilun, Al Muddatsir, Al Muzzammil, Wailul lil muthaffifin, ‘ Abasa, Laa Uqsimu, Hal Ataa, Al Mursalaat, Ammaa Yatasaaluun, Idzasy- syamsu Kuwwirat dan Ad-Dukhaan. ” Abu Musa mengabarkan kepada kami, Al A'masy mengabarkan kepada kami, Ha’, Yusuf bin Musa dan Salam bin Janabah menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, Al A'masy menceritakan kepada kami, Mereka mengemukakan hadits panjang lebar hingga ucapan, “Kemudian Alqamah masuk lalu menemuinya setelah itu ia keluar kepada kami lalu berkata, Dua puluh surat mulai dari awal surat Al Mufashal dalam susunan yang dibuat oleh Abdullah dan mereka tidak menambahkan hal ini'.” Shahih Ibnu Khuzaimah 539: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Utsman bin Umar mengabarkan kepada kami, Kahmas mengabarkan kepada kami, Saim bin Junadah menceritakan kepada kami, Waki' memberitahukan kepada kami, dari Kahmas bin Al Hasan dari Abdullah bin Syaqiq Al Uqaili, ia berkata, aku pernah berkata kepada Aisyah, “Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyatukan beberapa surat di dalan satu rakaat?” Aisyah menjawab, “Ya, Surat-surat mufashal.” 677 Ini adalah hadits Waki. Ad-Dauraqi berkata dalam haditsnya, “Aku katakan kepada Aisyah, ‘Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan shalat Dhuha?' Aisyah menjawab, 'Apabila beliau datang dari bepergian. Aku katakan, 'Apakah beliau pernah menyatukan surat-surat dalam satu rakaat?' Aisyah menjawab, 'Al Mufashal.' Aku katakan, 'Apakah Rasulullah melaksanakan shalat dengan posisi duduk?' Aisyah menjawab, 'Setelah beliau berusia senja dan tua'.” Shahih Ibnu Khuzaimah 540: Muhammad bin Al Ala' bin Kuraib Al Hamdani, Abu Usamah mengabarkan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, sesungguhnya Abu Ayub atau Zaid bin Tsabit; Kemudian ia menyebutkan hadits. 679 Shahih Ibnu Khuzaimah 541: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahab mengabarkan kepada kami, pamanku mengabarkan kepada kami, Amr bin Al Harits mengabarkan kepadaku dari Muhammad bin Abdurrahman, sesungguhnya ia pernah mendengar Urwah bin Az-Zubair berkata, Zaid bin Tsabit berkata kepada Marwan bin Hakam, "Wahai Abu Abdul Malik Apakah dalam shalat maghrib-mu membaca qui huwallaahu ahad dan innaa 'a'thaina kal kautsar? Marwan bin Hakam menjawab, "Ya.” Zaid bin Tsabit berkata, “Aku bersumpah bahwa aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (71-alif) membaca surat, lalu beliau memulai dengan salah satu dari dua surat terpanjang, yaitu Alif Lam Mim Shad. "680 Abu Bakar berkata, “Aku pernah menulis hadits Hisyam dari ayahnya dari Zaid bin Tsabit, 'Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam shalat Maghrib membaca surat Al Araaf pada dua rakaat' dengan khabar Muhammad bin Abdurrahman dari Urwah bin Zaid bin Tsabit, dalam perkataannya, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca pada keduanya”, maksudnya pada dua rakaat secara keseluruhan. Shahih Ibnu Khuzaimah 542: Salm bin Junadah mengabarkan kepada kami, Abu Muawiyah mengabarkan kepada kami dari Al Amasy, Ha’, Muammal bin Hisyam menceritakan kepada kami, Abu Muawiyah mengabarkan kepada kami, Al Amasy menceritakan kepada kami, dari Sa'ad bin Ubaidah dari Al Mustaurad bin Al Ahnaf dari shilah dari Khudaifah, ia berkata, “Suatu malam aku pernah melaksanakan shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau memulai shalat dengan satu surat; beliau membacanya hingga seratus ayat Aku berkata (dalam hati) beliau pasti ruku, tetapi ternyata beliau melanjutkannya hingga mencapai dua ratus ayat Aku berkata lagi (dalam hati) Beliau pasti akan ruku, Tetapi beliau tetap membaca sampai selesai. Aku berkata (di dalam hati) beliau pasti ruku, ternyata beliau memulai lagi dengan membaca surat An-Nisa, beliau membacanya kemudian ruku’, dimana waktunya (lamanya ruku) sama dengan lamanya berdiri, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam rukunya mengucapkan, 'Subhaana rabiyal adziimi' (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung) kemudian beliau sujud seperti lamanya ruku. Rasulullah di dalam sujud mengucapkan, Subhaana rabbiyal A'laa' (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Luhur) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila membaca ayat-ayat mengenai kasih sayang Allah, beliau berdoa dan apabila membaca mengenai ayat siksa neraka, beliau memohon perlindungan. Apabila beliau membaca satu ayat dan di dalamnya terdapat tanzih, maka beliau membaca tasbih. Ini adalah redaksi hadits Muammal. 681 Shahih Ibnu Khuzaimah 543: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya mengabarkan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi dan Ibnu Abu Adi mengabarkan kepada kami dari Syu’bah, Abu Musa menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi mengabarkan kepada kami, Ha’, Bisyr bin Khalid Al Askari menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al Amasy, dari Saad bin Ubaidah, dari Al Mustaurad bin Al Ahnaf, dari Shilah bin Zhafar, dari Khudaifah, ia berkata, “Pada suatu malam Aku pemah melaksanakan shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau tidak pemah memabaca ayat mengenai kasih sayang Allah, kecuali beliau berhenti sejenak kemudian berdoa, dan beliau tidak pemah membaca mengenai ayat tentang siksa neraka kecuali beliau berhenti di sisinya kemudian memohon perlindungan.” 682 Ini adalah redaksi hadits Abu Musa. Shahih Ibnu Khuzaimah 544: Harun bin Ishaq Al Hamdani mengabarkan kepada kami, Muhammad —ia adalah Ibnu Abdul Wahab As-Sukkari— menceritakan kepada kami, Said bin Muhammad Al Makhzumi menceritakan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, semuanya berasal dari Ma’mar, dari Ibrahim As-Saksaki, dari Abdullah bin Abu Aufa, ia berkata, “ Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu ia berkata, 'Wahai Rasulullah ajarkanlah sesuatu kepadaku yang dapat mensahkan shalatku (sebagai ganti) dari bacaan Al Qur’an sebab sesungguhnya aku tidak bisa membaca. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ucapkanlah 'subhaanallaah wal hamdulillaah walaa ilaaha ilallaah walaahu Akbar, walaa ilaaha illallaah, walaa haula walaa quwwata ilia billaah. (Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan kecuali Allah, Allahu Akbar, dan Tidak ada Tuhan selain Allah serta tidak ada daya dan upaya kecuali berasal dari Allah $WT)" Abdullah bin Aufa berkata, “Laki-laki tersebut lalu memegang erat Rasulullah dengan tangannya, ia berkata, 'Bacaan ini adalah untuk Tuhanku kemudian apa bacaan untukku? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Katakanlah. Ya Allah Ampunilah diriku dan , kasih sayangilah aku, berilah petunjuk kepadaku, berilah reseki kepadaku dan maafkanlah aku" Abdullah bin Abu Aufa berkata, "Laki-laki tersebut kembali memegang erat Rasullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan tangannya yang lain, dan ia pun berdiri.683 Ini adalah hadits Al Makhzumi. Harun dalam haditsnya berkata, “Laki-laki tersebut berkata, 'Ajarkanlah aku sesuatu yang dapat mensahkan shalatku sebagai ganti dari bacaan Al Qur an.' Padahal perawi tersebut tidak mengatakan, 'Laki-laki tersebut memegang erat Rasulullah dengan tangannya', lalu di akhir hadits ia mengatakan, 'Mus'ir berkata, 'Aku pernah berada di samping Ibrahim saat ia menuturkan hadits ini dan aku mengukuhkan hadits tersebut darinya. Shahih Ibnu Khuzaimah 545: Ali bin Hujr As-Sa’di mengabarkan kepada kami, Ismail —yaitu Ibnu Hujr— mengabarkan kepada kami, Yahya bin Ali bin yahya bin Khalad bin Rafi’ Az-Zuraqi dari ayahnya, dari kakeknya dari Rifaah bin Rafi’, "Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di masjid —Rifaah berkata, “Sementara saat itu kami bersama beliau— tiba-tiba seorang laki-laki datang, sepertinya ia adalah orang Badui, kemudian ia melaksanakan shalat dengan cepat lalu selesai dan berpaling. Kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Wa alaika, kembalilah dan shalatlah, sesungguhnya kamu belum melaksanakan shalat." Ia lalu kembali dan melaksanakan shalat lagi, kemudian datang dan mengucapkan salam kepada Nabi, lalu beliau membalas salamnya. Beliau bersabda, “wa alaika Kembalilah lalu shalatlah, sesungguhnya kamu belum melaksanakan shalat” Orang A'rabi tersebut melakukan hal itu hingga dua atau tiga kali. Dan, setiap selesai ia mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau mengucap salam dan bersabda, “Wa alaika, kembalilah lalu shalatlah lagi, karena sesungguhnya kamu belum melakukan shalat.” Banyak orang menjadi takut dan mereka membesar-besarkan masalah (71-ba') lalu berasumsi bahwa barang siapa yang mempercepat pelaksanaan shalat, maka ia dianggap belum melaksanakan shalat. Laki-laki tersebut diakhir pembicaraan ia berkata, “Beritahukanlah aku atau ajarilah aku, karena aku adalah manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tentu! Apabila engkau melaksanakan shalat, maka berwudhulah sebagaimana Allah SWT memberitahukanmu, kemudian bacalah syahadat, lalu dirikanlah shalat, kemudian lakukanlah takbiratul Ihram. Apabila engkau mampu membaca Al Qur'an, maka bacalah dan apabila tidak, maka bacalah hamdalah, bacalah takbir dan tahlil kemudian rukulah, dan thuma'ninah-lah dalam rukuk, kemudian i'tidal-lah dalam berdiri, lalu bersujudlah, dan i'tidal-lah dalam sujud, kemudian duduklah lalu duduklah, dan thuma'ninah-lah dalam duduk, kemudian bangunlah. Apabila kamu melakukan hal tersebut, maka shalatmu telah sempurna. Apabila hal-hal tersebut kurang, maka berkuranglah nilai shalatmu.684 Perawi berkata, “Hal ini lebih ringan dari keterangan pertama bahwa barang siapa yang berkurang sedikit saja dari hal tersebut, maka pahala shalatnya juga berkurang, tetapi tidak lenyap semuanya.” Shahih Ibnu Khuzaimah 546: Abdurrahman bin Bisyr bin Al Hakam mengabarkan kepada kami, Hujaj —yaitu Ibnu Muhammad -- mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata, Aku mendengar Muhammad bin Ibad bin Ja'far berkata, Abu Salamah bin Sufyan dan Abdullah bin Umar bin Ash serta Abdullah bin Al Musayyab Al Abidi menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin As-Sa'ib, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat shubuh di kota Makkah, lalu beliau memulainya dengan membaca surat Al Mu'minun sampai pada ayat Idzaa jaa'a dzikru muusa wu haarun atau dzikru isa —Muhammad bin Abbad ragu-ragu mengenai (keabsahannya) atau para ulama berselisih pendapat atasnya— lalu Nabi berhenti sebentar diantara bacaan surat.” Ia berkata lagi, “Kemudian beliau ruku'.’’ Ia berkata, “Dan, Ibnu Sa'ib mengetahui hal tersebut.’’ 685 Abdurrahman mengabarkan kepada kami, Abdur-Razaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami; Dengan hadits serupa, dalam redaksi yang sama, hanya saja ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat bersama kami.” Ia berkata, “Kemudian ia menghilangkan redaksi “Nabi melakukan ruku” dan tidak menyebutkan kalimat setelahnya. Abu Bakar berkata, “Ia bukanlah Abdullah bin Amr bin Al Ash As-Sahmi.” Shahih Ibnu Khuzaimah 547: Abdul Jabbar bin Al Ala' Al Athar Abu Bakar mengabarkan kepada kami, Sufyan dari Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, ia berkata, aku mendengar [Atha'] berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata, “Di dalam setiap shalat, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca (surat). Apa yang diperdengarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kami, maka kami memperdengarkannya kepada kalian dan apa yang dirahasiakan oleh Rasulullah kepada kami, maka kami merahasiakannya kepada kalian.” 686 Abu Bakar berkata, “Aku telah menjelaskan dalam permasalahan tentang imam shalat, seluruh hal yang sebaiknya dikeraskan bacaan shalatnya dan yang harus dilirihkan, berdasarkan pada apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mengeraskan dan melirihkan bacaannya. Shahih Ibnu Khuzaimah 548: Ali bin Hujr As sa’di mengabarkan kepada kami, Ismail —yaitu Ibnu Ja'far— mengabarkan kepada kami, Sufyan bin Uyainah mengabarkan kepada kami, Abdul Jabbar bin Al Ala menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Sulaiman bin Suhaim dari Ibrahim bin Abdullah bin Ma'bad —ia adalah Ibnu Abbas— dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi menyingkap kain penutup sementara orang-orang sedang berbaris di belakang Abu Bakar, lalu beliau bersabda,'Wahai manusia sesungguhnya tidak ada yang yang tersisa dari kabar gembira kenabian kecuali mimpi yang baik yang dialami oleh seorang muslim atau seseorang yang diperlihatkan (tanda-tanda) yang baik padanya. Ingatlah sesungguhnya aku dilarang untuk membaca Al Qur'an saat ruku’ atau sujud. Adapun ruku, maka agungkanlah Tuhan di dalamnya. Sementara sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, sebab sangat berpotensi akan dikabulkan doa bagi kalian'. ”687 Shahih Ibnu Khuzaimah 549: Yusuf bin Musa mengabarkan kepada kami, Jarir memberitahukan kepada kami, Ha’, dan, Salm bin Junadah mengabarkan kepada kami, Abu Muawiyah mengabarkan kepada kami, Semuanya dari Al Amasy, dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila anak Adam membaca ayat Sajadah, kemudian ia bersujud, maka setan akan menjauh, menangis dan berkata, 'Celakalah! anak adam diperintahkan untuk sujud kemudian ia bersujud, maka surga baginya Sementara aku diperintahkan untuk bersujud, tetapi aku membangkang maka neraka bagiku'. "688 Shahih Ibnu Khuzaimah 550: Ahmad bin Abdah dari Hamad bin Zaid mengabarkan kepada kami, Ha’, dan Bisyr bin Muadz Al Aqdi menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, Ha’, Abdul Jabar bin Ala' menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Ha’, Muhammad bin Basysyar dan yahya bin Hakim menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Abdul Wahab menceritakan kepada kami; semuanya berasal dari Ayub, dan Abdul Wahab berkata, Ayyub menceritakan kepada kami dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata, “[Surat Shaad] 689 tidak termasuk surat yang harus dilakukan sujud di dalamnya. Namun aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan sujud di dalamnya.“ 690 Ini adalah redaksi Abdul Wahab. Shahih Ibnu Khuzaimah 551: Abdullah bin Said Al Asyaj mengabarkan kepada kami, Hafsh bin Ghiyats dan Abu Khalid —yaitu Sulaiman bin Hayyan Al Ahmar— memberitahukan kepada kami, dari Al Awwam bin Hausyab, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya ia pemah bersujud saat membaca surah Shaad, kemudian dipertanyakan kepadanya, 'la membaca ayat 'Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk (Qs. Al An’am [6]: 90) Dan, ia berkata, “Nabi Daud bersujud padanya dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga demikian.”691 Shahih Ibnu Khuzaimah 552: Muhammad bin Al A'la bin Kuraib dan Abdullah bin Said Al Asyaj mengabarkan kepada kami, mereka berkata, Abu Khalid menceritakan kepada kami dari Al Awam dari Al Mujahid, ia berkata, “Aku katakan kepada Ibnu Abbas, 'Bersujud Pada surat Shaad, dari mana engkau mengambil dalilnya?' Ibnu Abbas berkata, ‘Lalu ia membacakan kepadaku, kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub' (Qs. Al An'am [6]: 84) hingga firman Allah SWT, 'Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka' (Qs. Al An'aam [6]: 90) ia berkata, Nabi Daud melakukan sujud padanya, karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun melakukan sujud'.”692 Al Asyaj mengabarkan kepada kami, Ibnu Abu Ghaniyah mengabarkan kepada kami Al Awwam bin Hausyab mengabarkan kepada kami; dengan hadits ini. Shahih Ibnu Khuzaimah 553: Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Syu’bah memberitahukan kepada kami dari Abu Ishaq, ia berkata: aku mendengar Al Aswad menceritakan hadits dari Abdullah, [dari Nabi SAW], sesungguhnya beliau pernah membaca surat An-Najm, kemudian Nabi melakukan sujud di dalamnya dan bersujud pula orang yang sedang bersama beliau, hanya saja terdapat seorang laki-laki tua yang mengambil segenggam kerikil atau debu lalu meletakkannya kedahinya kemudian ia berkata, “Cukup bagiku hal ini” Abdullah berkata, “Aku sungguh melihatnya. Setelah itu ia terbunuh dalam keadaan kufur.”693 Shahih Ibnu Khuzaimah 554: Abu Musa mengabarkan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami dari Ayub bin Musa dari Atha' bin Mina' dari Abu Hurairah, Ha’, Salm bin Junadah memberitakan kepada kami, Waki’ menceritakan kepada kami dari Sufyan dari Ayyub bin Musa dari Ibnu Mina' dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kami melakukan sujud bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada bacaan bismi rabbikalladzii khalag dan idzas-samaa un syaqqat?'694 Shahih Ibnu Khuzaimah 555: Abdurrahman bin Basyar mengabarkan kepada kami, Abdur-Razaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ayub bin Musa mengabarkan kepadaku, sesungguhnya Atha' bin Mina' mengabarkan bahwa sesungguhnya ia mendengar Abu Hurairah berkata, “Aku pernah melakukan sujud bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada ayat idzas-samaa 'un syaqqat dan pada ayat Iqra' bis mi rabbikal-ladzi khalaq. Ayub berasumsi sesungguhnya Atha' bin Mina' termasuk orang yang shalih. 695 Shahih Ibnu Khuzaimah 556: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami dengan hadits yang sangat gharib, Muhammad bin Utsman Ad-Dimasyq memberitahukan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad mengabarkan kepada kami dari Mash’ab bin Tsabit dari Nafi’ dari Ibnu Umar; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di saat pembukaan kota Makkah membaca ayat sajadah, kemudian orang- orang melakukan sujud semuanya. Di antara mereka terdapat orang yang berkendaraan dan ada orang yang melakukan sujud di atas tanah hingga orang yang berkendaraan melakukan sujud di atas tangannya. 696 Shahih Ibnu Khuzaimah 557: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya bin Said mengabarkan kepada kami, Ubaidullah mengabarkan kepada kami, Nafi’ mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan ayat Al Qur'an kepada kami, lalu beliau membaca suatu surat yang di dalamnya terdapat ayat sajadah, kemudian beliau bersujud dan kami juga ikut sujud bersama beliau sampai salah seorang dari kami tidak menjumpai tempat untuk dahinya.” 697 Shahih Ibnu Khuzaimah 558: Muhammad bin Hisyam mengabarkan kepada kami, Ibnu Idris mengabarkan kepada kami dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar, ia berkata, “Kami pernah membaca ayat sajadah di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau melakukan sujud dan kami juga melakukan sujud bersamanya hingga kami saling berdesak-desakan.” 698 Shahih Ibnu Khuzaimah 559: Ar Rabi’ bin Sulaiman Al Muradi mengabarkan kepada kami, Syuaib - yaitu Ibnu Al-Laits - mengabarkan kepada kami, Al-Laits mengabarkan kepada kami dari Bakar bin Abdullah dari Nu'aim bin Abdullah Al Mujmar, sesungguhnya ia pernah berkata, “Aku pernah melaksanakan shalat bersama Abu Hurairah di atas tempat sujud ini, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca ayat Idzas-samaa 'm syaqqat kemudian beliau bersujud di dalamnya Dan, Abu Hurairah berkata, 'Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan sujud di dalamnya'.“ 699 Aku meriwayatkan sanad hadits ini —dalam bab: Shalat, kitab Al Kabir— ada seorang ulama yang berkata dari Abu Hurairah; yang isinya, “Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam atau aku melakukan sujud bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada ayat Idzas-samaa'un syaqqat Abu Bakar berkata, “Abu Hurairah pernah datang menemui Nabi, kemudian ia masuk Islam beberapa tahun setelah beliau Hijrah.“700 Abu Bakar mengatakan dalam hadits Arak bin Malik, dari Abu Hurairah, “Aku tiba di Madinah, sementara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berada di kawasan Khaibar, dan Syiba bin Urfathah saat itu sedang menjabat sebagai khalifah kota Madinah.“ Qais bin Abu Hazim berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata, “Aku pernah menemani Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selama tiga tahun. Aku sungguh telah mengetahui bahwa ia melihat Nabi melakukan sujud saat membaca idzas-samaa'un syaqqat dan iqra' bis mi rabbikal-ladzii khalaq Aku memberikan informasi dan hal tersebut bukan hanya pada satu tempat yang ada pada buku-buku kami bahwa orang yang memberitahu dan orang yang menjadi saksi —adalah yang diterima kesaksian dan haditsnya— dan dia adalah orang yang mengabarkan keberadaan sesuatu serta menyaksikan dan mendengar sesuatu tersebut. Ia bukan orang yang menafikan keberadaan sesuatu dan mengingkarinya. Barang siapa yang berkata, “Fulan tidak melakukan hal seperti ini”, maka ia bukan orang yang mengabarkan dan bukan pula menjadi saksi. Orang yang menjadi saksi adalah yang langsung menyaksikan dan berkata, “Aku melihat fulan melakukan hal tersebut dan aku mendengar ia mengatakan seperti ini.” Hal ini tidak meragukan lagi bagi orang yang mengerti ilmu hadits dan ilmu fikih. Aku telah menjelaskan masalah ini bukan hanya pada satu tempat saja dari buku-buku kami. Sebagian orang yang tidak memiliki pengetahuan mendalam berasumsi bahwa hadits Al Harits bin Ubaid dari Mathar701 dari Ikrimah dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sama sekali tidak melakukan sujud pada surat Al Mufashal sejak beliau pindah ke kota Madinah, hal ini sebagai dalil orang yang berasumsi bahwa tidak ada sujud pada surat Al Mufashal. Hal ini termasuk jenis hadits yang aku informasikan bahwa orang yang menyaksikan hadits adalah orang yang melihat secara langsung atau mendengarnya, bukan orang yang mengingkari dan menolak hadits. Abu Hurairah telah memberikan informasi bahwa beliau melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan sujud pada ayat idzas-samaa'un syaqqat dan ayat iqra' bismi rabbikal-ladzii khalaq setelah beliau berpindah ke kota madinah, karena pertemanan Abu Hurairah dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terjadi setelah beliau hijrah ke kota Madinah, dan bukan sebelumnya. Shahih Ibnu Khuzaimah 560: dengan hadits Al Harits bin Ubaid Muhammad bin Rafi’ mengabarkan kepada kami Azhar bin Al Qasim mengabarkan kepada kami, Abu Qudamah mengabarkan kepada kami —ia adalah Al harits bin Ubaid—.702 Abu Daud Ath-Thayalisi meriwayatkan hadits dari Al Harits bin Ubaid, ia berkata, “Mathar Al Warraq menceritakan kepada kami dari Ikrimah dan ulama lainnya dari Ibnu Abbas.” Shahih Ibnu Khuzaimah 561: Ishaq bin Ibrahim bin Asy-Syahid mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Al Ala Ash-Shan’ani dan Abu Asyats Ahmad bin Al Miqdam Al Ajali berkata, Al Mu’tamir mengabarkan kepada kami, Asy-Syahid berkata, ia berkata: Aku mendengar ayahku, ia berkata: Bakar menceritakan kepadaku dari Abu Rafi’, ia berkata, “Aku pernah melaksanakan shalat Subuh bersama Abu Hurairah, dan ia membaca idzas-samaa'un syaqqat kemudian bersujud. Aku kemudian bertanya kepadanya, ’Sujud apakah ini?’ Abu Hurairah berkata, 'Aku melakukan sujud di belakang Abui Qasim shallallahu 'alaihi wa sallam dengan bacaan tersebut'. ” 703 Ash-Shan’ani berkata, dari ayahnya, ia menambahkan diakhir hadits, “Aku masih melakukan sujud hingga aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Abul Asy’ats berkata, dari ayahnya dari Bakar bin Abdullah, ia berkata, “Aku pernah melaksanakan shalat di belakang Abui Qasim kemudian beliau melakukan sujud pada bacaan tersebut, dan aku masih melakukan sujud pada surat tersebut hingga aku bertanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Shahih Ibnu Khuzaimah 562: Al Hasan bin Muhammad mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Yazid bin Khunais704 Berkata (73-alif), Ibnu Juraij705 berkata kepadaku, ia berkata, Ibnu Abbas menceritakan kepadaku, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu ia berkata, 'Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sesungguhnya aku tadi malam bermimpi seperti yang terjadi pada orang yang tidur lainnya, yaitu Seakan-akan aku melaksanakan shalat di balik pohon dan seakan-akan aku membaca ayat sajadah. Aku kemudian melakukan sujud dan aku melihat pohon tersebut seakan-akan melakukan sujud karena sujudku, aku mendengar pohon tersebut —dalam keadaan sujud— berkata, 'Ya Allah tulislah pahala untukku di sisi-Mu, jadikanlah sujudku sebagai bekal untukku di sisi-Mu, hapuskanlah dengan sujudku dosa dariku dan terimalah sujud dariku sebagaimana Engkau terima dari hamba- Mu; Daud AS ” Ibnu Abbas berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca ayat sajadah, kemudian beliau melakukan sujud, lalu aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam —sedang bersujud— mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh seorang laki-laki yang diperoleh dari ucapan pohon tersebut.” 706 Shahih Ibnu Khuzaimah 563: Ahmad bin Ja’far Al Hulwani mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Yazid bin Khunais berkata, “Al Hasan bin Muhammad bin Ubaidullah bin Abu Yazid pernah melaksanakan shalat bersama kami di masjid ini —yaitu masjidil haram— di bulan Ramadhan. Lalu ia membaca ayat sajadah, kemudian memanjangkan waktu sujud. Lalu dipertanyakan mengenai hal tersebut kepadanya, ia berkata, ''Ibnu Juraij berkata kepadaku, ''Kakekmu Ubaidullah bin Abu Yazid mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Abbas, lalu ia mengemukakan hal sejenis dan berkata, ‘Dan, hapuslah dariku dosa dengan sujud tersebut.'' la tidak mengatakan, ''Terimalah sujud tersebut dariku sebagaimana engkau menerimanya dari hambamu; Daud AS''. ”707 Abu Bakar berkata, “Aku tidak menulis hadits Abul Aliyah dari Aisyah di mana sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saat melakukan sujud tilawah di malam hari mengucapkan, ''Wajahku sujud kepada Dzat yang menciptakan dan Dzat yang memecahkan pandangan serta penglihatan dengan daya dan upaya-Nya'', karena di antara Khalid Al Hidzdza dan Abui Aliyah terdapat seorang perawi yang tidak dikenal, di mana Abdul Wahab bin Abdul Majid dan Khalid bin Abdullah Al Wasithi tidak menyebutkannya. Shahih Ibnu Khuzaimah 564: Bundar mengabarkan kepada kami, Abdul Wahab memberitahukan kepada kami, Khalid —yaitu Al Hadzdza''— memberitahukan kepada kami, dari Abul Aliyah dari Aisyah, Ha’, Abul Basyar Al Wasithi menceritakan kepada kami, Khalid —yaitu Al Hadza''— dari Abu Al Aliyah dari Aisyah, Hanya saja Abu Basyar tidak mengatakan redaksi “Di malam hari” dan ia menambahkan, "Rasulullah mengucapkan hal tersebut tiga kali” 708 Shahih Ibnu Khuzaimah 565: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Ibnu Ulaiyah mengabarkan kepada kami dari Khalid Al Hadza'' dari seorang laki-laki dari Abu Al Aliyah, dari Aisyah RA, seperti hadits Bundar, hanya saja ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa mengucapkannya di dalam sujud ” 709 Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya aku pernah menulis hadits ini dan aku jelaskan ilatnya saat ini karena aku khawatir sebagian penuntut ilmu terkena fitnah oleh riwayat Ats-Tsaqafi dan Khalid bin Ubaidullah, lalu mereka berasumsi bahwa Abdul Wahab serta Khalid bin Abdullah adalah perawi yang shahih. Shahih Ibnu Khuzaimah 566: Yunus bin Abdul A''la Ash-Shadafi mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, Abu Shakhr menceritakan kepada kami, dari Ibnu Qusaith, dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dari ayahnya, ia berkata, “Aku membacakan surah An-Najm pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu tidak ada seorang pun dari kami yang melakukan sujud tilawah.” 710 Abu Shakhar berkata, “Dan, aku melaksanakan shalat di belakang Umar bin Abdul Aziz dan Abu Bakar bin Hazm, di mana keduanya tidak melakukan sujud.” Shahih Ibnu Khuzaimah 567: Abu Thahir mengabarkan kepada kami, Abu Bakar bin Abu Mulaikah mengabarkan kepada kami dari Utsman bin Abdurrahman At-Taimi dari Rabi''ah bin Abdullah bin Al Hadir At-Taimi, Abu Bakar bin Abu Mulaikah berkata, Rabiah termasuk orang yang terpandang, yaitu orang yang menyaksikan kepemimpinan Umar bin Al Khattab. Rabi’ah berkata, “Umar bin Al Khaththab di hari Jum’at pernah membaca surah An-Nahl di atas mimbar hingga saat pada ayat sajadah, ia berkata, ''Wahai segenap manusia sesungguhnya kami memerintahkan kalian untuk melakukan sujud. Barang siapa yang melakukan sujud, maka telah benar dan berbuat baik. Dan, barang siapa yang tidak melakukan sujud, maka tidak ada dosa baginya dan Nabi juga pernah tidak bersujud''.” 711 Shahih Ibnu Khuzaimah 568: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya mengabarkan kepada kami, Ibnu Di’b menceritakan kepada kami, Ha’, Bundar sesekali menceritakan kepada kami, Yahya dan Utsman bin Umar menceritakan kepada kami dari Ibnu Abu Di’b dari Yazid bin Abdullah bin Qusaith dari Atha'' bin Yasar dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, "Aku pernah membacakan surat An-Najm dihadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi beliau tidak melakukan sujud.” 712 Abu Bakar berkata, “Abu Shakhr meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Qusaith, dari Kharijah bin Zaid dan Atha'' bin Yasar semuanya. Ahmad bin Abdurrahman bin Wahab menceritakan kepada kami, Pamanku menceritakan kepada kami dari Abu Shakhr dengan dua sanad tersendiri.” Yazid bin Khushaifah meriwayatkan hadits dari Zaid bin Abdullah bin Qusaith dari Atha’ bin Yasar, sesungguhnya ia telah mengabarkannya, Sesungguhnya ia pernah bertanya kepada Zaid bin Tsabit dan ia mengira bahwa Zaid bin Tsabit pernah membaca ayat wan-najmi idzaa hawaa, tetapi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melakukan sujud. Ali bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Ismail bin Ja’far mengabarkan kepada kami dari Yazid bin Khusaifah. Shahih Ibnu Khuzaimah 569: Abdul Jabar bin Al Ala'' dan Sa’id bin Abdurrahman Al Makhzumi serta Ali bin Khasyram mengabarkan kepada kami; ini adalah hadits Al Makhzumi, Sufyan mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri dari Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah, Dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Apabila orang yang membaca (Al Fatihah) membaca amin, maka kalian harus membaca amin juga. Di sini, sesungguhnya malaikat juga membaca amin. Barang siapa yang bacaan aminnya berbarengan dengan bacaan amin para malaikat, maka Allah SWT akan mengampuni dosa- dosanya yang terdahulu. “713 Al Makhzumi sesekali berkata, “Ia berkata, ''Aku mendengar dari Az-Zuhri...''.” Shahih Ibnu Khuzaimah 570: Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi menceritakan kepada kami, Abdul Aziz mengabarkan kepada kami —yaitu Ibnu Muhammad Ad-Darawardi— dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang imam membaca bacaan amin, maka kalian juga harus membaca bacaan amin. Barang siapa yang bacaan aminnya berbarengan dengan bacaan amin para malaikat, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu.”714 Abu Bakar berkata, “Dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Apabila seorang imam membaca amin, maka ucapkanlah amin adalah sesuatu yang jelas dan nyata bahwa seorang imam harus mengeraskan bacaan aminnya, dan menjadi suatu yang lumrah bagi orang yang memiliki ilmu pengetahuan, sesungguhnya Nabi tidak akan memerintahkan makmum untuk mengucapkan amin ketika imam membaca bacaan amin, kecuali makmum mengetahui bahwa imam mengucapkannya. Apabila seorang imam melirihkan bacaan amin (imam tidak mengeraskannya), niscaya seorang makmum tidak mengetahui apakah imam shalat mengucapkan amin atau tidak. Dan, merupakan suatu yang mustahil dikatakan kepada seseorang, apabila fulan mengatakan seperti ini, maka katakanlah seperti apa yang diucapkannya, padahal Anda tidak mendengar ucapannya. Hal ini merupakan substansi kemustahilan. Dan, merupakan sesuatu yang aneh bagi orang alim apabila nabi memerintahkan seorang makmum untuk mengucapkan bacaan amin, —apabila imam shalat mengucapkannya— sementara makmum tidak mendengar bacaan amin yang diucapkan imamnya.” Abu Bakar berkata, “Dengarkanlah hadits yang menjelaskan keabsahan apa yang aku kemukakan, di mana seorang imam harus mengeraskan bacaan amin setelah selesai membaca surat Al Fatihah.” Shahih Ibnu Khuzaimah 571: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim mengabarkan kepada kami —Ia adalah Ibnul A''la Az-Zabaidi— Amr bin Al Harits dari Abdullah bin Salim dari Az-Zubaidi, ia berkata, Az-Zuhri mengabarkan kepadaku dari Abu Salmah dan Said dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila selesai membaca Ummul Qur’an (Al Fatihah), beliau meninggikan suaranya dengan membaca ''amin''.”715 Shahih Ibnu Khuzaimah 572: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abu Sa''id Al Ja’fi mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahb menceritakan kepadaku, Usamah mengabarkan kepadaku —Ia adalah Ibnu Zaid— dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Apabila Ibnu Umar bersama dengan imam shalat, lalu imam membaca ummul Qur''an kemudian orang-orang mengucapkan bacaan amin, maka Ibnu Umar juga membaca amin dan ia memandang bahwa hal tersebut adalah sunnah. 716 Shahih Ibnu Khuzaimah 573: Muhammad bin Hasan Al Azraq menceritakan kepada kami hadits yang sangat gharib, walaupun ia menghafal sanad yang muttasil. Ibnu Mahdi menceritakan kepada kami dari Sufyan dari Ashim dari Abu Utsman dari Bilal: Sesungguhnya ia pernah berkata kepada Nabi, "Janganlah engkau mendahuluiku dalam membaca bacaan amin.” 717 Abu Bakar berkata, “Demikianlah Muhammad bin Hasan mengimlakkan hadits ini dalam naskah aslinya, 718 yaitu Ats-Tsaun dari Ashim, ia berkata dari Bilal. Para perawi hadits sesungguhnya mengatakan tentang sanad ini dari Abu Utsman bahwa Bilal berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Shahih Ibnu Khuzaimah 574: Abu Basyar Al Wasithi mengabarkan kepada kami, Khalid - -yaitu Ibnu Abdillah— mengabarkan kepada kami dari Suhail —ia adalah Ibnu Abu Shalih— dari ayahnya, dari Aisyah, la berkata, “Seorang Yahudi masuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu ia berkata, ''As-sa''amu alaik (Racun atas engkau wahai Muhammad).'' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ''Juga atas kamu''." Aisyah berkata, “Aku ingin berbicara sekali. Aku tahu kebencian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap hal tersebut tetapi aku diam saja. Lalu Yahudi lainnya datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, ''As-saamu alaik.'' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ''Juga atas kamu.'' Aku ingin sekali berbicara. Aku tahu kebencian Nabi terhadap hal tersebut. Lalu orang Yahudi datang kembali menemui Nabi kemudian ia berkata, ''As-sa''amu alaik (Racun atas kamu).'' Aku sudah tidak sabar lagi, hingga aku mengatakan kepada mereka, ''As-sa''amu alaik, kemarahan dan laknat Allah wahai saudara kera dan babi. Bukankah kalian mengucapkan salam kepada Nabi dengan ucapan yang tidak pernah disebutkan Allah SWT.'' Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ''Allah tidak menyukai perbuatan kotor dan perkataan kotor. Mereka mengatakan suatu ucapan, kemudian cukup kita membalas hal serupa kepada mereka. Sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah suatu kaum yang memiliki sikap iri hati. Mereka tidak memiliki sikap iri hati yang besar kepada kita atas sesuatu seperti mereka bersikap iri hati pada masalah salam dan bacaan amin''720. Abu Bakar berkata, “Hadits Ibnu Abu Mulaikah dari Aisyah dalam kisah ini, aku telah meriwayatkan dalam kitab Al Kabir. Shahih Ibnu Khuzaimah 575: Muhammad bin Abdul A’la Ash-Shan’ani dan Amr bin Ali, keduanya mengatakan, Yazid —Ia adalah ibnu Zurai''— menceritakan kepada kami, Ma’mar memberitahukan kepada kami, dari Az-Zuhri dari Sa''id bin Al Musayyib dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila seorang imam mengucapkan ''Ghairil Maghdhuubi Alaihim waladhaaliin’, maka ucapkanlah ''amin''. Sesungguhnya malaikat mengucapkan bacaan amin juga saat imam mengucapkan amin. Barang siapa yang bacaan aminnya bersamaan dengan bacaan amin para malaikat, maka Allah SWT akan mengampuni dosa yang akan datang.”721 Ini adalah hadits Shan’ani. Shahih Ibnu Khuzaimah 576: Ahmad bin Mani’ mengabarkan kepada kami, Rauh bin Juraij memberitahukan kepada kami, Ha’, Al Hasan bin Muhammad menceritakan kepada kami, Rauh menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ha’, Hasan menceritakan kepada kami, juga Az-Za’farani, Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Juraij berkata, Amr bin Yahya mengabarkan kepada kami dari Muhammad bin Yahya bin Hayan dari pamannya; Wasi’ bin Hayan: Bahwa Wasi'' pernah bertanya kepada Ibnu Umar mengenai shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ibnu Umar berkata, "Setiap turun (dari posisi berdiri) membaca Allahu Akbar dan setiap bangun membaca Allahu Akbar. ” 722 Ini adalah redaksi Al Hasan bin Muhammad. Ibnu Mani’ berkata, “Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ''Membaca Allahu Akbar setiap bangun dan turun.” Ia menambahkan, kemudian berkata, “Beliau mengucapkan kalimat, ''Assalamualaikum warahmatullah'' menoleh ke arah kanan dan mengucapkan, ''Assalamualaikum warahmatullah'' menoleh ke arah kiri.” Abu Bakar berkata, Para pengikut Amr bin Yahya berselisih pendapat dalam hal sanad ini dan ia berkata, “Sesungguhnya ia bertanya kepada Abdullah bin Zaid bin Ashim, aku meriwayatkannya di dalam kitab Al Kabir.” Shahih Ibnu Khuzaimah 577: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Husyaim menceritakan kepada kami, dari Abu Bisyr dari Ikrimah, ia berkata, “Aku melihat seorang laki-laki di maqam Ibrahim sedang membaca takbir setiap kali bangun dan turun dari gerakan (shalat), kemudian aku mendatangi Ibnu Abbas lalu aku katakan, ''Sesungguhnya aku melihat seorang laki-laki sedang melaksanakan shalat, di mana ia membaca takbir setiap kali bangun dan turun, lalu Ibnu Abbas berkata, ''Bukankah itu ibadah shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang sudah tidak diragukan lagi bagimu?''.” 723 Shahih Ibnu Khuzaimah 578: Muhammad bin Rafi’ mengabarkan kepada kami, Abdur Razzaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij memberitahukan kepada kami, Ibnu Syihab mengabarkan kepadaku, dari Abu Bakar bin Abdurrahman, bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melaksanakan shalat, beliau mengucapkan takbir saat berdiri untuk memulai shalat, kemudian mengucapkan takbir saat ruku’, lalu mengucapkan, ''Samiallaahu liman hamidah'' saat beliau mengangkat tulang rusuknya dari ruku’, kemudian beliau pada posisi berdiri mengucapkan, ''Rabbanaa walakal hamd’ [lalu ber-takbir] saat turun untuk sujud, kemudian mengucapkan takbir saat beliau mengangkat kepalanya, lalu mengucapkan takbir saat sujud kembali, kemudian mengucapkan takbir saat mengangkat kepalanya kembali, lalu beliau melakukan hal seperti itu di dalam gerakan shalat secara keseluruhan sampai beliau menyelesaikannya serta mengucapkan takbir saat bangun dari rakaat kedua setelah duduk tahiyat awal.” Kemudian Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya diantara kalian, aku adalah orang yang paling mirip gerakan shalatnya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” 724 Shahih Ibnu Khuzaimah 579: Muhammad bin Rafi’ mengabarkan kepada kami, Abdur-Razzaq mengabarkan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Az Zuhri, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, ia berkata, “Abu Hurairah pernah melaksanakan shalat bersama kami, lalu ia membaca takbir, saat berdiri dan ketika ruku’, dan saat ia ingin melakukan sujud serta setelah bangun dari ruku’, juga ketika ingin sujud kembali setelah bangun dari sujud, dan ketika duduk (Tahiyat awal) serta apabila hendak bangun dari dua rakaat, maka ia mengucapkan takbir. Kemudian ia membaca takbir seperti itu pada dua rakaat terakhir. Apabila salam, maka ia mengucapkan, ''Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya di antara kalian, aku adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah —maksudnya dalam tata cara shalatnya—. Masih seperti itu shalat beliau hingga meninggal dunia.” 725 Shahih Ibnu Khuzaimah 580: Muhammad bin Ma’mar mengabarkan kepada kami, Abu Amir mengabarkan kepada kami, Fulaih bin Sulaiman memberitahukan kepada kami, dari Said bin Al Harits, ia berkata, “Abu Hurairah pernah sedang sakit atau tidak ada (di tempat shalat) lalu Abu Said Al Khudri melaksanakan shalat bersama kami, ia mengeraskan bacaan takbir saat memulai shalat, ketika ruku dan saat ia mengucapkan, ''Samiallaahu liman hamidah’ saat mengangkat kepalanya dari sujud, saat sujud, saat bangun dari sujud, saat berdiri dari dua rakaat hingga ia menyelesaikan shalatnya. Kemudian ditanyakan kepadanya, ''Sesungguhnya orang-orang berselisih pendapat mengenai shalatmu?'' kemudian ia keluar dan berdiri di atas mimbar, lalu ia berkata, ''Wahai segenap manusia sesungguhnya demi Allah, aku tidak peduli apakah tata cara shalatku berbeda dengan shalat kalian atau tidak. Demikianlah aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat''.” 726 Abu Bakar berkata, “Kalimat yang diucapkan, ''Samiallaahu liman hamidah'' maksudnya adalah saat seseorang mengucapkan, ''Samiallahu liman hamidah. Di sini yang dimaksud adalah saat hendak turun untuk sujud, maka seseorang harus mengucapkan takbir, bukan saat seseorang mengangkat kepala dari ruku lalu mengucapkan takbir. 727 Demikian pula apa yang dimaksud di dalam hadits Imran bin Hushain, saat ia menyebutkan tata cara shalatnya di belakang Ali bin Abu Thalib, di mana ia berkata, Dan, apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bangun dari ruku’, beliau mengucapkan takbir.'' Sesungguhnya yang dimaksud bangun dari ruku adalah, saat turun untuk sujud, seseorang mengucapkan takbir.” Shahih Ibnu Khuzaimah 581: Dalil keabsahan takwilku bahwa Harun bin Ishaq Al Hamdani menceritakan kepada kami, ia berkata, Abdah menceritakan kepada kami, dari Said bin Khalid —yaitu Al Hadzdza'— dari Ghailan bin Jarir dari Matharrif bin Abdullah bin Asy-Syakhar, ia berkata, “Aku pemah melakukan shalat dibelakang Ali, ia bertakbir apabila ingin melakukan sujud dan saat mengangkat kepala dari sujud, ketika ia pergi, Imran bin Hushein berkata kepadaku, 'Ali bin Thalib telah melaksanakan shalat seperti shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.“728 Abu Bakar berkata, “Dalam hadits ini terdapat petunjuk bahwa redaksi dalam hadits ini yang disebutkan oleh Hamad bin Zaid dari Ghailan bin Jarir, “Dan, apabila bangun dari ruku’ ia mengucapkan takbir” sesungguhnya yang dimaksud adalah apabila seseorang bangun dari ruku dan hendak sujud, maka ia mengucapkan takbir. Hal ini berdasarkan apa yang disebutkan Az-Zuhri dari Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam, lalu ia mengucapkan, 'Samiallaahu liman hamidah’ saat menegakan tulang rusuknya dari ruku, kemudian ia mengucapkan, 'Rabbanaa walakal hamdu’ saat berdiri, lalu mengucapkan takbir saat turun untuk melakukan sujud. Demikian pula hadits [Abu Amir] dari Fulaih dari Sa'id Al Harits (75-alif) dari Abu Said Al Khudri, “Mengucapkan takbir ketika seseorang mengucapkan, 'Samiallahu liman hamidah' maksudnya seseorang mengucapkan takbir saat hendak mengangkat kepala dari ruku. Mengucapkan takbir juga saat turun untuk melakukan sujud. Ketika mengucapkan takbir saat mengangkat kepala dari sujud, yaitu setelah takbir ketika ia mengucapkan, 'Samiallaahu liman hamidah'. Maka menjadi jelas dan tetap, sesungguhnya yang diinginkan dari takbir adalah ketika seseorang mengucapkan, 'Samiallahu liman hamidah', yaitu apabila ia hendak turun untuk melakukan sujud. Demikian pula dalam hadits Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, 'Dan, saat seseorang ruku lalu ingin melakukan sujud, maka ia dianggap bangun dari ruku'. Di sini jelas bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan takbir ketika mengangkat kepalanya dari ruku untuk melakukan sujud, dan bukan mengucapkan takbir saat mengangkat kepala dari ruku’, walaupun yang demikian itu kami perbolehkan bagi orang yang melaksanakan shalat agar mengucapkan takbir saat turun dan bangun —dari satu gerakan ke gerakan lain dalam shalat—,Merupakan keharusan baginya juga mengucapkan takbir apabila ia mengangkat kepalanya dari ruku, kemudian mengucapkan takbir ketika turun untuk sujud. Dengan demikian jumlah takbir dalam empat rakaat shalat menjadi 26 kali takbir, bukan 22 kali takbir. Sementara di dalam hadits Ikrimah dari Ibnu Abbas terdapat sesuatu yang jelas dan telah ditetapkan bahwa jumlah takbir dalam empat rakaat adalah 22 kali takbir, tidak lebih dari jumlah itu. Shahih Ibnu Khuzaimah 582: Berkata : Nashr bin Ali Al Jahdami menceritakan kepada kami, ia berkata, Abdul Ala menceritakan kepada kami, Said menceritakan kepada kami, Ha’, Abu Musa menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Adi menceritakan kepada kami, Said dan Ali bin Khasyram menceritakan kepada kami, Isa mengabarkan kepada kami —ia adalah Ibnu Yunus— keduanya dari Said, dari Qatadah dari Ikrimah, ia berkata, “Aku pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas, 'Aku melaksanakan shalat Zhuhur di kawasan Al Bathha'; berada di belakang seorang yang sudah tua dan dungu, di mana ia melakukan takbir 22 kali, yaitu apabila ia sujud, saat ruku dan saat ia mengangkat kepalanya. Kemudian Ibnu Abbas berkata, Itulah sunnah Abui Qasim SAW'"730 Ini adalah redaksi hadits Abu Musa. Ibnu Khasram berkata, “Itulah sunnah Abul Qasim shallallahu 'alaihi wa sallam atau shalat Abul Qasim shallallahu 'alaihi wa sallam.” Said ragu. Nashr berkata, “Itulah shalat Abul Qasim dan hal itu tidak meragukan lagi.” Bundar mengabarkan kepada kami, Muadz bin Hisyam menceritakan kepada kami, Ayahku menceritakan kepadaku, dari Qatadah dengan sanad sejenis. Shahih Ibnu Khuzaimah 583: Abdul Jabar bin Ala' Al Athar mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, ia berkata, Aku mendengar Az-Zuhri berkata, Aku mendengar Salim mengabarkan hadits dari ayahnya, Ha', Ali bin Hujr As-Sa'di, Ali bin Khasyram, Said bin Abdurrahman Al Makhzumi, Atabah bin Abdullah Al Yahmadi, Al Hasan bin Muhammad, Yunus bin Abdul Ala Ash-Shadafi, Muhammad bin Rafi' dan Ali bin Al Azhar serta ulama hadits lainnya menceritakan kepada kami, mereka berkata, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua, tangannya apabila memulai shalat sejajar dengan kedua pundaknya. Lalu apabila beliau hendak melakukan ruku dan setelah bangun dari ruku, dan Nabi tidak mengangkat kedua tangannya di antara dua sujud.”731 Ini adalah redaksi Ibnu Rafi'. Aku mendengar Al Makhzumi berkata, “Sanad mana yang lebih shahih dari ini.” ia berkata, “Aku mendengar Muhammad bin Yahya menceritakan hadits dari Ali bin Abdullah, ia berkata, 'Sufyan berkata ini [sanad seperti] tiang732 penyangga ini'.” Shahih Ibnu Khuzaimah 584: Ar Rabi bin Sulaiman Al Muradi, Bahr bin Nashr Al Khulani mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Sulaiman bin Daud Al Hasyimi menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Abu Az-Zinad mengabarkan kepada kami, dari Musa bin Uqbah, dari Abdullah bin Al Fadl Al Hasyimi, Abdurrahman Al A'raj mengabarkan kepada kami, dari ubaidillah bin Abu Rafi' dari Ali bin Abu Thalib, “Dari Nabi SAW; sesungguhnya beliau apabila melaksanakan shalat wajib, beliau membaca takbir dan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya. Dan Rasulullah melakukan hal seperti itu apabila menyelesaikan bacaan suratnya dan ingin melakukan ruku. Dan, Nabi melakukan hal yang sama apabila bangun dari ruku, Nabi tidak mengangkat kedua tangannya sama sekali dari shalatnya (75-ba’) saat beliau dalam posisi duduk. Dan, apabila bangun dari dua sujud, maka beliau mengangkat kedua tangannya juga dan mengucapkan takbir.”733 Shahih Ibnu Khuzaimah 585: Abu Bisyr Al Wasithi mengabarkan kepada kami, Khalid —yaitu Ibnu Abdillah— memberitahukan kepada kami dari Khalid —ia adalah Al Hadza'— mengabarkan kepada kami dari Abu Qilabah, “Sesungguhnya Abu Qilabah melihat Malik bin Al Huwairits apabila melakukan shalat, ia mengucapkan takbir dan mengangkat kedua tangannya. Dan, apabila hendak ruku, ia mengangkat kedua tangannya. Dan, apabila mengangkat kepalanya dari ruku', ia mengangkat kedua tangannya. Dan, ia menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan shalat seperti itu.”734 Shahih Ibnu Khuzaimah 586: Bundar dan Yahya bin Hakim mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abdul Wahab —adalah Ats-Tsaqafi— menceritakan kepada kami. Ayyub menceritakan kepada kami dari Abu Qilabah, Malik bin Al Huwairits menceritakan kepada kami, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana saat itu kami adalah pemuda-pemuda sebaya. Kami menginap di kediaman beliau selama dua puluh malam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sosok yang pengasih dan penyayang serta lembut. Ketika kami beranggapan bahwa kami telah dirindukan oleh keluarga kami dan telah dinantikan, maka kami meminta nasehat; Apa yang kami tinggalkan untuk generasi setelah kita lalu beliau memberitahu, beliau bersabda, 'Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, tinggallah bersama mereka ajarilah dan perintahlah mereka, —Rasulullah menyebutkan beberapa hal yang aku hafal dan beberapa hal yang tidak aku hafal, kemudian shalatlah sebagaimana kalian melihatku melaksanakan shalat. Apabila tiba waktu shalat, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan orang yang paling tua menjadi imam'.735 Ini adalah redaksi dari Bundar. Abu Bakar berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan Malik bin Al Huwairits dan para pemuda yang bersamanya untuk melaksanakan shalat sebagaimana mereka melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat.” [Dan], Malik bin Al Huwairits telah mengetahui bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya apabila beliau mengucapkan takbir dalam shalat. Apabila ruku dan saat beliau mengangkat kepalanya dari ruku. Di sini terdapat keterangan yang menunjukkan bahwa Nabi memerintahkan untuk mengangkat kedua tangan apabila orang yang shalat hendak ruku dan apabila ia mengangkat kepalanya dari ruku. Seluruh redaksi hadits yang diriwayatkan dalam bab ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya saat ruku termasuk jenis gerakan yang aku ketahui, di mana orang-orang Arab terkadang meletakkan istilah subjek (fa'il) bagi orang yang akan melakukan suatu pekeijaan sebelum ia melakukannya. Seperti firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman apabila kalian telah selesai mendirikan shalat, maka basuhlah wajah-wajah kalian.” Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan untuk membasuh anggota wudhu apabila seseorang ingin melaksanakan shalat, bukan setelah ia melakukannya. Maka arti, “Apabila kalian telah mendirikan shalat" adalah apabila kalian hendak mendirikan shalat. Demikian pula maksud dari kalimat, “Beliau mengangkat tangannya apabila ruku” adalah apabila hendak ruku’. Hal ini Seperti hadits Ali bin Abu Thalib dan Ibnu Umar yang telah disebutkan keduanya, yang berbunyi, "Dan, apabila hendak ruku." Kami meriwayatkan hadits-hadits ini secara sempurna dalam kitab Al Kabir, Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Apabila kalian telah memasuki rumah, maka ucapkanlah salam atas diri kalian.” Sesungguhnya Nabi memerintahkan mengucapkan salam apabila seseorang ingin masuk rumah, bukan setelah masuk rumah. Redaksi ini apabila dikumpulkan dari Al Qur'an dan hadits, niscaya buku ini menjadi panjang karena pembahasannya. Shahih Ibnu Khuzaimah 587: Muhammad bin Basyar mengabarkan kepada kami, Yahya bin Said Al Qaththan menceritakan kepada kami, Abdul Hamid bin Atha' menceritakan kepadaku, —ia adalah Muhammad bin Amr bin Atha' Nasabnya sampai kepada kakeknya— dari Abu Humaid As-Sa’idi, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mendirikan shalat, beliau melakukan I'tidal dengan posisi berdiri." As-Sa'idi menyebutkan bagian hadits. Dan, ia berkata, “Kemudian Rasulullah mengucapkan 'Allahu akbar', ruku lalu i'tidal. Beliau menegakkan kepalanya dan tidak ditundukkan, serta meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya kemudian beliau mengucapkan samiallahu liman hamidah, lalu mengangkat kedua tangannya ber-i'tidal sampai setiap persendian kembali pada posisinya dalam keadaan i'tidal. Kemudian turun ke tanah dalam keadaan sujud, lalu mengucapkan Allahu akbar, kemudian merenggangkan kedua lengannya dari kedua ketiaknya, melebarkan jari-jari kedua kaki, membengkokkan kaki kirinya lalu mendudukinya kemudian i'tidal, sampai masing-masing persendian (tulang) kembali pada posisinya dalam keadaan i'tidal, lalu turun dalam keadaan sujud. Kemudian mengucapkan, Allahu akbar lalu membengkokkan kakinya dan mendudukinya serta melakukan i'tidal sampai masing-masing persendian kembali pada posisinya lalu bangun kemudian melakukan hal seperti itu pada rakaat kedua sehingga apabila ia bangun dari kedua sujud, maka ia membaca takbir dan mengangkat kedua tangannya sampai berada sejajar dengan kedua pundaknya sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya saat beliau memulai shalat. Beliau melakukan hal seperti itu sehingga apabila tiba pada rakaat di mana shalat akan selesai, beliau membelakangkan kaki kirinya dan menduduki sebagiannya dalam keadaan duduk tawaruk lalu mengucapkan salam. ” 737 Abu Bakar berkata, “Muhammad bin Atha’ adalah Muhammad bin Amr bin Atha' Abdurrahman bin Basyar bin Al Hakam mengabarkan dengan hadits, Yahya bin Said menceritakan kepada kami. Demikianlah ia mengatakan dari Muhammad bin Atha’. Shahih Ibnu Khuzaimah 588: Bundar, Muhammad bin Yahya dan Ahmad bin Said Ad-Darimi mengabarkan kepada kami, Abdul Hamid bin Ja’far menceritakan kepada kami, Muhammad Amr bin Atha’ menceritakan kepadaku, aku mendengar Abu Humaid As-Sa'idi dari sepuluh orang sahabat Rasulullah, salah satunya adalah Abu Qatadah, ia berkata, “Sesungguhnya diantara kalian, aku adalah orang yang paling mengetahui tata cara shalat Rasulullah... kemudian mereka menyebutkan hadits secara panjang lebar, lalu mereka berkata di akhir hadits, 'Engkau benar, demikianlah nabi melaksanakan shalat'.” 738 Shahih Ibnu Khuzaimah 589: Bundar mengabarkan kepada kami, Abu Daud mengabarkan kepada kami, Fulaih bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, Al Abbas bin Sahi As-Saidi mengatakan kepadaku, ia berkata, “Orang-orang dari Anshar berkumpul, di antara mereka terdapat Sahi bin As-Sa idi, Abu Hamid As-Saidi dan Abu Asid As-Saidi, mereka membicarakan masalah pelaksanaan shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Abu Hamid berkata, 'Biarkanlah aku menceritakan kepada kalian, dan diantara kalian, aku adalah orang yang paling tahu. Mereka berkata, 'Silahkan! Ceritakan’. Ia berkata, ’Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu, kemudian melakukan shalat dan mengucapkan takbir, lalu beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundaknya. Kemudian beliau ruku, lalu meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, seperti orang yang menggenggam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menurunkan kepalanya dan tidak menundukkannya serta menaruh kedua tangannya menjauhi kedua sisi lambungnya, kemudian beliau mengangkat kepalanya lalu berdiri tegak lurus sampai masing-masing persendian kembali kepada posisinya. Lalu Bundar menyebutkan sisa kalimat hadits. Dan, pada akhir ucapannya ia berkata, semua kaum berkata, Demikianlah shalat Rasulullah SAW’.”739 Aku mendengar Muhammad bin Yahya berkata, “Barang siapa yang mendengar hadits ini kemudian ia tidak mengangkat kedua tangannya; saat ruku’, dan saat seseorang mengangkat kepalanya dari ruku’, maka sesungguhnya shalatnya dianggap kurang.” Shahih Ibnu Khuzaimah 590: Bundar, Ahmad bin Abdah, Yahya bin Hakim dan Abdurrahman bin Basyar mengabarkan kepada kami —ini adalah hadits Bundar— Yahya bin Said mengabarkan kepada kami, Ubaidullah bin Umar mengabarkan kepada kami, Said bin Abu Said Al Maqburi menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memasuki masjid, lalu seorang laki- laki juga memasukinya, kemudian ia melaksanakan shalat, setelah itu ia mengucapkan salam kepada Nabi, beliau lalu membalasnya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Kembalilah kemudian shalatlah, maka sesungguhnya engkau belum melakukan shalat' hingga ia melakukan hal tersebut tiga kali. Laki-laki tersebut berkata, 'Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran aku tidak mengetahui selain ini'. Ia berkata, 'Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Apabila engkau melaksanakan shalat, maka ucapkanlah takbir kemudian bacalah ayat-ayat Al Qur'an yang mudah bagimu lalu rukulah hingga engkau thuma’ninah di dalamnya, kemudian bangunlah hingga engkau i’tidal dalam posisi berdiri, lalu sujudlah hingga engkau thuma ‘ninah dalam posisi sujud, kemudian bangunlah sampai engkau i‘tidal dalam posisi duduk, lalu lakukanlah hal tersebut dalam shalatmu secara keseluruhan'. ” 740 Ahmad bin Abdah berkata dari Said. Abu Bakar berkata, “Hadits-hadits Ali bin Yahya bin Khalad dari ayahnya dari Rifa’ah bin Rafi’, aku meriwayatkannya dalam kitab Al Kabir.” Abu Bakar berkata, ‘Tidak ada seorangpun yang meriwayatkan hadits ini dari Ubaidullah bin Umar dari Said dari ayahnya yang mengatakan selain Yahya bin Sa'id. Mereka hanya berkata, 'Dari Said dari Abu Hurairah'.” Shahih Ibnu Khuzaimah 591: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Abu Muawiyah mengabarkan kepada kami, Al Amasy mengabarkan kepada kami, Harun bin Ishaq Al Hamdani mengabarkan kepada kami, Ibnu Fudhail memberitahukan kepada kami, dari Al Amasy, Ha’, Salam bin Junadah menceritakan kepada kami, Waki' menceritakan kepada kami, Al Amasy mengabarkan kepada kami, dari Umarah bin Umair dari Abu Ma’mar dari Abu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang rusuknya saat ruku dan sujud. ”741 Shahih Ibnu Khuzaimah 592: Bundar mengabarkan kepada kami, Ibnu Abu Adi mengabarkan kepada kami, dari Syu’bah, dari Sulaiman bin Imarah dari Abu Ma’mar dari Abu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Shalat seseorang atau seorang laki-laki tidak sah, yaitu yang tidak menegakkan tulang rusuknya saat ruku dan sujud.742 Bisyr bin Khalid Al Askari mengabarkan kepada kami, Muhammad —yaitu Ibnu Ja’far— mengabarkan kepada kami dari Syu’bah, ia berkata: Aku mendengar Sulaiman, ia berkata, aku mendengar Umarah bin Umair dengan sanad ini, hadits sejenis dan ia berkata, “Dalam ruku dan sujud.” Shahih Ibnu Khuzaimah 593: Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna dan Ahmad bin Al Miqdam mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Mulazim bin Amr menceritakan kepada kami, kakekku; Abdullah bin Badar menceritakan kepadaku, dari Abdurrahman bin Ali bin Syaiban dari ayahnya dari Ibnu Syaiban —ia adalah salah seorang delegasi—, ia berkata, "Kami pernah melakukan shalat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau mengerdipkan bagian ujung kedua matanya kepada seorang laki-laki yang tidak menegakkan tulang rusuknya dalam ruku dan sujud. Setelah melaksanakan shalat, beliau bersabda, 'Wahai segenap umat islam, sesungguhnya tidak ada shalat bagi orang yang tidak menegakkan tulang rusuknya di dalam ruku dan sujud'."743 Ini adalah hadits Ahmad bin Miqdam. Shahih Ibnu Khuzaimah 594: Musa bin Harun bin Abdullah Al Bazzaz mengabarkan kepada kami, Abui Hasan Al Harits bin Abdullah Al Hamdani menceritakan kepadaku —ia dikenal dengan Ibnu Al Hazin—. Hasyim menceritakan kepada kami dari Ashim bin Kulaib dari Alqamah bin Wa'il dari Ayahnya: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melakukan ruku’, beliau memekarkan jemarinya.744 Shahih Ibnu Khuzaimah 595: Muhammad bin Aban mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Yazid Al Azdi mengabarkan kepada kami. Abu Bakar berkata —Ia adalah Ibnu Idris bin Yazid Al Azdi dihubungkan kepada kakeknya—, ia berkata, Ashim bin Kulaib mengabarkan kepada kami, dari Abdurrahman bin Al Aswad, dari Alqamah, dari Abdullah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan shalat kepada kami." ia berkata, “Rasulullah mengucapkan takbir dan tatkala hendak ruku, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merapatkan kedua tangannya di antara dua lutut lalu ruku. Hal tersebut sampai kepada Saad lalu ia berkata, 'Saudaraku benar, kami melakukan hal ini, kemudian diperintah dengan yang ini —maksudnya memegang lutut dengan memekarkan jari’—”745 Shahih Ibnu Khuzaimah 596: Salam bin Junadah mengabarkan kepada kami, Waki' mengabarkan kepada kami dari Ibnu Abu Khalid —ia adalah Ismail-, Ha’, Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Ismail bin Abu Khalid menceritakan kepada kami, dari Az-Zubair bin Adi, dari Mash’ab bin Saad, ia berkata, “Ketika aku ruku’, aku meletakkan kedua tanganku di antara kedua lututku, lalu Abu Saad melihatku (11-alif) kemudian ia melarangku dan ia berkata, 'Sesungguhnya kami pernah mengerjakannya, kemudian kami dilarang, lalu kami di perintah untuk mengangkat kedua tangan pada kedua lutut'.” 746 Shahih Ibnu Khuzaimah 597: Muammal bin Hisyam Al Yaskurimengabarkan kepada kami, Ismail —ia adalah Ibnu Ulaiyah mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, Ali bin Yahya bin Khalad bin Rafi’ Al Anshari menceritakan kepadaku dari ayahnya dari pamannya Rifa'ah bin Rafi': Sesungguhnya seorang laki-laki pernah masuk ke dalam masjid, kemudian ia melaksanakan shalat. Ia lalu menyebutkan hadits secara panjang lebar, dan ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Kemudian apabila engkau ruku’ maka tetapkanlah kedua tanganmu di atas kedua lututmu hingga masing-masing persendian thuma 'ninah"747 Shahih Ibnu Khuzaimah 598: Yusuf bin Musa mengabarkan kepada kami, Jarir mengabarkan kepada kami, dari Atha' bin As Sa'ib dari Salim Al Barrad, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Uqbah bin Amr dan Abu Mas’ud, lalu kami katakan, 'Ceritakanlah kepada kami tentang tata cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian ia berdiri di hadapan kami dalam masjid dan mengucapkan takbir. Ketika ruku, ia mengucapkan takbir dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya serta menjadikan jemari tangannya berada lebih bawah dari itu, kemudian merenggangkan kedua sikunya, lalu ia berkata, Demikianlah kami melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat'.“748 Shahih Ibnu Khuzaimah 599: Ali bin Hujr As-Sa’di mengabarkan kepada kami, Ismail bin Ja’far bin Sufyan bin Uyainah mengabarkan kepada kami, Abdul Jabar bin Al A'la dan Sa'id bin Abdurrahman Al Makhzumi menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Sufyan menceritakan kepada kami bahwa seluruhnya berasal dari Sulaiman bin Suhaim dari Ibrahim bin Abdullah bin Ma’bad dari ayahnya dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, adapun ruku, maka agungkanlah Tuhan di dalamnya.”749 Shahih Ibnu Khuzaimah 600: Muhammad bin Al Mutsanna mengabarkan kepada kami, Musa bin Zaid mengabarkan kepada kami, Musa bin Ayub mengabarkan kepada kami, ia berkata, aku mendengar pamanku; Iyas bin Amir berkata, aku mendengar Uqbah bin Amir berkata, "Ketika turun ayat {FASABBIH BISMI RABBIKAL 'ADHIIM} (bertasbihlah dengan nama Tuhanmu yang maha agung) (QS. Al Waqi'ah: 74), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada kami, 'Jadikanlah —bacaan tersebut— dalam ruku kalian’.” 750 Shahih Ibnu Khuzaimah 601: Muhammad bin Isa mengabarkan kepada kami dari Abdullah bin Al Mubarak dari Musa bin Ayub dari pamannya dari Uqbah bin Amir. Dengan hadits sejenisnya.751 Shahih Ibnu Khuzaimah 602: Abu Ashim mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, Ibrahim bin Abdullah bin Ma’bad mengabarkan kepadaku dari ayahnya dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyingkap kain penutup, kemudian beliau melihat orang-orang berdiri dibelakang Abu Bakar untuk melaksanakan shalat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, dan sungguh aku telah menyampaikan, bahwa tidaklah ada kabar gembira dari suatu kenabian kecuali mimpi yang baik yang dialami oleh seorang muslim untuk dirinya sendiri atau diperlihatkan kepadanya, dan sesungguhnya aku dilarang membaca bacaan Al Qur'an saat ruku atau sujud. Adapun ruku’, maka agungkanlah Tuhan di dalamnya. Sementara dalam sujud, maka perbanyaklah doa di dalamnya, sesungguhnya pada waktu tersebut sangat berpotensi dikabulkan.”752 Muhammad bin Yahya berkata kepada kami, “Abu Ashim sesekali berkata, 'Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kain penutup, sementara orang-orang berdiri melakukan shalat di belakang Abu Bakar.” Kedua hadits Ismail bin Uyainah tidak sempurna, hal ini karena aku telah meringkasnya. Shahih Ibnu Khuzaimah 603: Muammal bin Hisyam Al Yaskuri dan Salm bin Junadah Al Qarsyi mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, Al A'masy memberitahukan kepada kami, dari Sa’ad bin Ubaidah dari Al Mustaurid bin Al Ahnaf dari shilah dari Hudaifah, ia berkata, “Pada suatu malam aku melaksanakan shalat bersama nabi, maka lamanya ruku nabi seperti lama waktu berdirinya. Dalam sujud Nabi mengucapkan, 'Subhaana rabbiyal Adziimi ”753 Salam berkata, “Dari Al A'masy.” Abu Musa dan Ya’kub bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al Amasy dengan sanad ini. Ia berkata, ‘Pada suatau malam aku pernah melaksanakan shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau di dalam rukunya mengucapkan, 'Subhaana rabbiyal adziimi'.” Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya dan Abdurrahman bin Mahdi serta Ibnu Abu Adi mengabarkan kepada kami dari Syu’bah, Ha’, Basyar bin Khalid Al Askari menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami dengan hadits sejenis ini. Shahih Ibnu Khuzaimah 604: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi, Muhammad bin Aban dan Salm bin Junadah mengabarkan kepada kami, mereka berkata, Hafash bin Ghiyats menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Laila menceritakan kepada kami, dari Asy-Sya’bi dari Shilah dari Hudaifah: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam rukunya mengucapkan, “Subhaana rabbiydl adziimi". Tiga kali.754 Shahih Ibnu Khuzaimah 605: Dan, Al Fakih mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz mengabarkan kepada kami, Ismail bin Abdurrahman mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Thahir mengabarkan kepada kami, Abu Bakar mengabarkan kepada kami, Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi dan Yusuf bin Musa mengabarkan kepada kami, dari Manshur, dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq, dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam ruku dan sujudnya banyak membaca, 'Subhanaka allahumma rabbana wabihamdika (Maha Suci Engkau Ya Allah Tuhan Kami dan dengan memujiMu Ya Allah ampunilah [aku])'. Sambil merenungkan bacaan Al Quran.” Salm bin Junadah mengabarkan kepada kami, Waki' mengabarkan kepada kami dari Sufyan dari Manshur, dengan hadits ini, dan ia berkata, “Termasuk yang banyak diucapkan adalah bacaan, 'Subhaanaka allaahumma wabihamdika', ” “ Shahih Ibnu Khuzaimah 606: Ashan’ani Muhammad bin Abdul A'la mengabarkan kepada kami, Khalid —ia adalah Ibnul Harits—, menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata, Qatadah memberitahukan kepadaku dari Matharrif, dari Aisyah, sesungguhnya ia berkata, Rasulullah dalam ruku’nya mengucapkan, 'Subbuhun qudduusun rabbul Malaikati warruhi (Pengagungan dan Penyucian diri Tuhan para malaikat dan jiwa” 756 Abu Bakar berkata, "Perbedaan pendapat dalam masalah ruku adalah perbedaan yang diperbolehkan. Bagi orang yang melaksanakan shalat boleh mengucapkan segala yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam rukunya, di mana beliau memang mengucapkannya dalam ruku." Shahih Ibnu Khuzaimah 607: Al Hasan bin Muhammad dan Abu Yahya Muhammad bin Abduirahim Al Bazzaz mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Rauh bin Ubadah menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Musa bin Uqbah mengabarkan kepada kami dari Abdullah bin Al Fadl dari Abdurrahman Al Araj. Dari Ubaidullah bin Abu Rafi’ dari Ali bin Abu Thalib: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melakukan ruku, beliau mengucapkan, Ya Allah kepada engkau aku ruku, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Engkau adalah Tuhanku. Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku dan ototku tunduk kepada-Mu serta langkahku karena Allah Tuhan semesta Alam. “757 Seluruhnya dengan redaksi yang sama, hanya saja Muhammad berkata: ia berkata, “Musa bin Uqbah menceritakan kepadaku dan ia berkata dari bab ini.” Demikian pula hadits Matharrif dari Aisyah. Dalam hadits Ibrahim bin Abdullah bin Ma’bad bin Abbas dari ayahnya dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Adapun sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian berdoa di dalamnya" merupakan sesuatu yang jelas dan tetap hukumnya bahwa hal itu adalah kewajiban bagi orang yang melaksanakan shalat agar berdoa atau bersungguh-sungguh berdoa di dalam sujudnya, sekalipun apa yang dibaca bukan merupakan ayat Al Qur'an. Hal ini karena Nabi memerintahkan saat mereka berada dalam shalat wajib di belakang Abu Bakar Ash-Shidiq, tidak dalam shalat sunnah. Dalam hadits Ibnu Abu Az-Zinad, dari Musa bin Uqbah, dari Abdullah bin Fadl dari Abdurrahman bin Hurmuz dari Ubaidillah bin Abu Rafi’ dari Ali bin Abu Thalib, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau apabila melaksanakan shalat wajib, maka beliau bertakbir dengan mengangkat kedua tangan, lalu beliau bersabda, “Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi" lalu beliau menyebutkan doa dengan sempurna. Ini merupakan sesuatu yang jelas dan nyata bahwa doa dalam shalat wajib sekalipun tidak terdapat dalam Al Qur'an, tetap diperbolehkan. Tidak sebagaimana yang diasumsikan; bahwa yang berdoa dengan doa yang tidak terdapat di dalam Al Qur'an saat melaksanakan shalat, maka shalatnya rusak, sehingga ia berasumsi bahwa orang yang mengucapkan kalimat, ‘La haula walaa quwwata illaa billaah' dalam shalat wajib, maka shalatnya rusak. Sebab berasumsi bahwa di dalam ayat Al Qur'an tidak ada redaksi 'la haula', namun ia beranggapan bahwa apabila bacaan tersebut disendirikan lalu diucapkan dengan kalimat 'Laa quwwata illaa billaah', maka diperbolehkan758 karena di dalam Al Qur'an (78-alif) terdapat redaksi 'Laa quwwata illaa billaah. Redaksi- redaksi yang kami kemukakan ini berasal dari Nabi, bab tentang pembukaan shalat dan di dalam ruku’. Adapun doa yang akan kami sebutkan di atas —insya Allah— saat nabi bangun dari ruku’, di dalam sujud di antara dua sujud serta setelah selesai dari doa tasyahud sebelum salam. Perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada orang yang shalat agar memilih doa yang ia sukai setelah doa tasyahud, berada dalam Ayat Al Qur'an yang mana? Nabi telah berdoa diawal shalat, dalam ruku saat mengangkat kepala dari ruku, di dalam sujud dan di antara dua sujud dengan redaksi-redaksi yang tidak ada dalam Al Qur'an, dan semua itu berdasarkan hadits. Hal ini tentu bertolak belakang dengan pendapat orang yang bersumsi bahwa shalat orang yang berdoa dengan doa-doa yang tidak ada di dalam Al Qur'an menjadi rusak. Shahih Ibnu Khuzaimah 608: Bundar mengabarkan kepada kami, Abu Daud mengabarkan kepada kami, Fulaih bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, Al Abbas bin Sahi As-Sa'idi menceritakan kepadaku, ia berkata, “Orang-orang dari Anshar berkumpul, di antara mereka terdapat Sahi bin Sa’ad As-Saidi, Abu Humaid As-Sa'idi dan Abu Asid As-Saidi. Mereka membicarakan masalah pelaksanaan shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Abu Humaid berkata, 'Biarkan aku menceritakan kepada kalian karena aku adalah orang yang paling tahu tentang hal ini.' Mereka berkata, 'Ceritakanlah.' Ia berkata, 'Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu dengan bagus, kemudian melaksanakan shalat, dan mengucapkan takbir, lalu beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya. Lalu beliau melakukan ruku, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya seperti orang yang menggenggam keduanya, lalu beliau tidak menurunkan kepala dan tidak menundukkannya serta menaruh kedua tangannya menjauhi kedua sisinya (pinggang). Kemudian beliau mengangkat kepala lalu berdiri tegak lurus hingga masing-masing persendian kembali pada posisinya.' Lalu ia menyebutkan sisa redaksi hadits ini. Seluruh kaum berkata, 'Demikianlah shalat Rasulullah SAW'.”759 Shahih Ibnu Khuzaimah 609: Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi mengabarkan kepada kami, Hamad bin Zaid menceritakan kepada kami, Tsabit Al Bunani mengabarkan kepada kami, Ha’, Ahmad bin Al Miqdam menceritakan kepada kami, Hamad bin Zaid mengabarkan kepada kami, dari Tsabit, ia berkata, Anas bin Malik berkata kepada kami, “Sesungguhnya aku pernah melaksanakan shalat dengan kalian sebagaimana aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat.” Tsabit berkata, “Anas melakukan sesuatu di mana aku tidak melihat kalian melalaikannya. Rasulullah apabila mengangkat kepala dari ruku’, maka beliau berdiri tegak hingga kami bersasumsi bahwa beliau telah lupa.760 Shahih Ibnu Khuzaimah 610: Muhammad bin Basyar Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Salm bin Junadah menceritakan kepada kami, Waki' mengabarkan kepada kami, dari Syu’bah dari Al Hakam dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Al Barra' bin Azib, ia berkata, “Ruku Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mengangkat kepala setelah ruku serta sujud dan duduk di antara dua sujudnya hampir sama waktunya.”761 Ini adalah hadits Waqi’. Ahmad bin Al Miqdam mengabarkan kepada kami, Yazid —yaitu Ibnu Zura’— mengabarkan kepada kami Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Al Hakam bin Utaibah, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Al Barra' bin Azib, ia berkata, “Ruku Rasulullah dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, sujud dan duduk di antara dua sujudnya hampir sama waktunya.” Shahih Ibnu Khuzaimah 611: Muhammad bin Rafi' mengabarkan kepada kami, Abdur Razzaq memberitahukan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Syihab mengabarkan kepadaku, dari Abu Bakar bin Abdurrahman, bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan, 'Samiallaahu liman hamidah' saat beliau mengangkat tulang rusuknya dari ruku’, kemudian beliau mengucapkan 'Rabbanaa walakal hamd' sambil berdiri.”762 Shahih Ibnu Khuzaimah 612: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Hajjaj bin Abu Minhal dan Abu Shalah mengabarkan kepada kami, seluruhnya dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah, Ha', Muhammad bin Rafi’ menceritakan kepada kami, Hujain bin Al Mutsanna bin Abu Amar memberitahukan kepada kami, Abdul Aziz bin Abu Salamah menceritakan kepada kami dari pamannya Al Majisyun bin Abu Salamah dari Al A'raj dari Ubaidullah bin Abu Rafi’ dari Ali bin Abu Thalib (88-ba') RA; “Dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sesungguhnya apabila beliau memulai shalat, maka beliau mengucapkan takbir. Keduanya menyebutkan sebagian hadits dan berkata, 'Apabila beliau mengangkat kepala —maksudnya dari ruku’— beliau berkata, “Allah mendengar orang yang euji-Nya, wahai Tuhan kami segala puji bagimu, seisi langit dan bumi dan seisi apa saja yang Engkau kehendaki setelahnya ”763 Shahih Ibnu Khuzaimah 613: Zakaria bin Yahya bin Aban dan Ahmad bin Yazid bin Alil Al Muqriani mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abdullah bin Yusuf menceritakan kepada kami, Said —yaitu Ibnu Abdil Aziz— mengabarkan kepada kami, dari Athiyah bin Qais dari Qaza’ah bin Yahya dari Abu Said Al Khudri; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengatakan, ‘Samiallahu liman hamidah', maka beliau mengatakan, 'Ya Allah, Wahai Tuhan kami dan bagi-Mu segala puji, seisi langit dan bumi dan seisi apa saja yang Engkau kehendaki setelahnya. Dzatyang layak dipuji dan diagungkan. Yang lebih berhak terhadap apa yang dikatakan seorang hamba; masing- masing kami adalah hamba-Mu. Tidak ada yang dapat mencegah764 dari apa saja yang Engkau berikan dan tidak akan bermanfaat kekayaan dan kemuliaan, sebab kekayaan dan kemuliaan hanya dari- Mu” dengan redaksi yang sama, hanya saja Ahmad berkata, “Rabbanaa lakal hamd.”765 Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Manshur menceritakan kepada kami, Said bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami dengan hadits ini. Dan, ia menambahkan lalu mengatakan, “Dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau cegah.” Bahr bin Nashr juga mengabarkan kepada kami, Bisyr bin Bakar mengabarkan kepada kami dari Said bin Abdul Aziz dengan hadits semacam ini. Shahih Ibnu Khuzaimah 614: Isa bin Ibrahim Al Ghafiqi mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab memberitahukan kepada kami, dari Malik, dari Nua'im bin Abdullah, sesungguhnya Ali bin Yahya Az-Zuraq menceritakan hadits kepadanya, Ha’, Yunus bin Abdul Ala Ash-Shadafi menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, Sesungguhnya Malik menceritakan hadits kepadanya dari Nu’aim bin Abdullah bin Al Mujmar dari Ali bin Yahya Az-Zuraqi’ Al Hasan bin Muhammad memberitahukan kepada kami, Rauh bin Ubadah mengabarkan kepada kami, Malik dari Nu’aim bin Abdullah menceritakan kepada kami, sesungguhnya Ali bin Yahya Az-Zarqa' mengabarkan hadits dari ayahnya dari Rifa’ah bin Rafi’ ia berkata, “Kami pada suatu hari melaksanakan shalat di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika beliau mengangkat kepala dari ruku’, beliau mengucapkan, 'Samiallahu liman hamidah' seorang laki-laki berkata di belakangnya, 'Wahai Tuhan kami bagi-Mu segala puji berupa pujian yang banyak mengandung keberkahan di dalamnya' ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selesai melaksanakan shalat, beliau bertanya, 'Siapakah yang berbicara tadi’ Seorang laki-laki menjawab, 'Aku!’ Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Aku sungguh melihat tiga puluh lima malaikat sedang berlomba adu cepat siapa di antara mereka yang menulis kebaikan itu pertama kali.”766 Shahih Ibnu Khuzaimah 615: Abdul Jabar bin Al A'la mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Az- Zuhri tidak menceritakan kepada kami kecuali dari Said bin Al Musayyib dari Abu Hurairah, ia berkata, '[Rasulullah SAW] melaksanakan shalat Subuh, ketika beliau mengangkat kepala dari rakaat kedua, Ha’, Ahmad bin Abdah dan Said bin Abdurrahman menceritakan kepada kami keduanya berkata, 'Sufyan menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Said, dari Abu Hurairah, ia berkata, 'Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kepalanya diakhir rakaat, maka beliau bersabda, 'Ya Allah selamatkanlah Al Walid Ibnu Al Walid, Salamah bin Hisyam dan Iyash bin Abu Rabi'ah serta orang-orang yang lemah di kota Mekkah'.”767 Ahmad menambahkan dengan redaksi, “Dari kaum Muslimin”. Dan, mereka berkata, “Ya Allah keraskanlah langkahmu atas orang yang membahayakan dan jadikanlah usia mereka seperti usia Nabi Yusuf AS.” Abu Bakar berkata, “Aku meriwayatkan hadits ini secara utuh dalam bab shalat, dalam kitab Al Kabir.” Shahih Ibnu Khuzaimah 616: Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far memberitahukan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami dari Amr bin Murrah, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Abu Laila, ia berkata, aku mendengar Al Barra' Bin Azib: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan doa qunut di dalam shalat Maghrib dan Subuh.768 Shahih Ibnu Khuzaimah 617: Ahmad bin Abdah mengabarkan kepada kami, Abu Daud memberitahukan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah (19-alif): Sesungguhnya Rasulullah apabila melakukan shalat Isya' yang diakhirkan pelaksanaannya, beliau mengangkat kepala dari ruku lalu beliau mengucapkan, “Samiallaahu liman hamidah” lalu membaca doa qunut dan mengucapkan, "Ya Allah selamatkanlah Iyash bin Abu Rabiah, ya Allah selamatkanlah Salamah bin Hisyam, ya Allah selamatkanlah Al Walid bin Walid, ya Allah selamatkanlah orang-orang mukmin yang lemah dari penduduk kota Mekkah, Ya Allah keraskanlah langkahMu pada orang yang membahayakan Ya Allah jadikanlah bagi mereka usia seperti usia Nabi Yusuf AS."769 Shahih Ibnu Khuzaimah 618: Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu An-Nu’man memberitahukan kepada kami, Tsabit bin Yazid Abu Zaid Al Ahwal memberitahukan kepada kami, Hilal bin Khubbab memberitahukan kepada kami, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi Membaca doa qunut selama satu bulan berturut-turut dalam shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh di penghujung setiap shalat, yaitu saat beliau mengucapkan, 'Samiallahu liman hamidah' pada rakaat terakhir, maka beliau berdoa atas kabilah Hay dari Bani Salim, kabilah Ra’i, Dzakwan dan Ushayyah dan orang yang dibelakangnya membaca amin.”770 Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Utuslah seseorang kepada mereka untuk mengajak mereka masuk Islam, kemudian mereka diperangi.” Ikrimah berkata, “Ini adalah kunci qunut.” Shahih Ibnu Khuzaimah 619: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abu Daud mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Sa'ad menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Said dan Abu Salamah, (dari)* Abu Hurairah: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membaca doa qunut kecuali beliau berdoa untuk keberuntungan seseorang atau kemalangan seseorang; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengucapkan, “samiallaahu liman hamidah", beliau mengucapkan, "Ya Allah dan bagimu segala puji, Ya Allah selamatkanlah..." lalu ia menyebutkan hadits selengkapnya.771 Shahih Ibnu Khuzaimah 620: Muhammad bin Muhammad bin Marzuq Al Bahili mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Abdullah Al Anshari menceritakan kepada kami, Said bin Abu Arubah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membaca doa qunut kecuali jika beliau ingin mendoakan kemenangan pada suatu kaum atau kemalangan pada suatu kaum.772 Shahih Ibnu Khuzaimah 621: Ali bin Suhl Ar-Rumll mengabarkan kepada kuini, Al Walid bin Muslim mengabarkan kepada kami, Abu Amr Al Auza’i menceritakan kepadaku, dari Yahya, Abu Salamah menceritakan kepada kami, dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca doa qunut dalam shalat selama satu bulan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam doa qunutnya mengucapkan, selamatkanlah “Ya Allah selamatkanlah Al Walid bin Walid, Ya Allah selamatkanlah Salamah binn Hisyam, Ya Allah selamatkanlah Iyash bin Abu Rabi;ah, Ya Allah selamatkanlah orang-orang mukmin yang lemah, Ya Allah keraskanlah langkahmu atas orang yang embahayakan, Ya Allah jadikanlah usia bagi mereka seperti usia Nabi Yusuf AS.” Abu Hurairah berkata, “Pada suatu hari Rasulullah tidak mendoakan mereka lalu aku kemukakan hal tersebut pada beliau. Shahih Ibnu Khuzaimah 622: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abdur-Razaq mengabarkan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar: Sesungguhnya ia mendengar Nabi dalam shalat Subuh ketika beliau mengangkat kepala dari ruku dengan mengucapkan, "Rabbanaa lakal hamd" pada rakaat terakhir kemudian beliau mengucapkan, “Ya Allah berikanlah laknat kepada fulan dan fulan." Nabi berdoa untuk orang-orang munafik, kemudian Allah SWT menurunkan ayat, “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan (79-ba') mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim “ (Q.S. Ali Imran[3]: 128)774 Shahih Ibnu Khuzaimah 623: Yahya bin Habib Al Haritsi mengabarkan kepada kami, Khalid bin Al Harits menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ajian, dari Nafi', dari Abdullah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa untuk empat orang, kemudian Allah SWT menurunkan ayat, “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim "(Qs. Al Imran [3]; 128) Allah SWT kemudian memberi hidayah kepada mereka masuk Islam.775 Abu Bakar berkata, "Ini juga merupakan hadits gharib." Ahmad bin Al Miqdam Al Ijli mengabarkan kepada kami, Khalid bin Al Harits menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa untuk orang-orang Arab yang masih hidup, kemudian Allah SWT menurunkan ayat, 'Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim'. “ (QS. Al Imran (3): 128) Perawi berkata, "Kemudian Allah SWT memberikan hidayah kepada mereka masuk Islam." Abu Bakar berkata, "Dalam ayat ini terdapat indikator bahwa laknat telah di nasakh dengan ayat ini, bukan berarti bahwa doa yang diucapkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada orang yang berada di bawah kekuasaan orang-orang Makkah agar Allah SWT menyelamatkan mereka dari kekuasaan orang-orang Makkah tersebut karena dilarang oleh ayat, 'Atau Allah SWT menerima taubat mereka atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang dzalim' (Qs. Aali 'Imraan [3]: 128) Yaitu pada sosok yang didoakan oleh nabi dengan laknat, mereka adalah orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Allah SWT memberikan informasi bahwa Nabi tidak memiliki campur tangan sama sekali pada mereka yang dilaknat oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam doa qunutnya dan Allah SWT mengabarkan di mana Dia menerima taubat orang-orang Makkah lalu memberikan hidayah keimanan pada mereka atau Allah SWT menyiksa mereka atas kekufuran dan kemunafikan; di mana mereka adalah orang-orang yang zalim, kufur dan munafik. Mereka bukan orang-orang yang beriman; yang didoakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam agar Allah SWT menyelamatkan mereka dari tangan musuh-musuh mereka yang terdiri dari orang-orang kafir. Al Walid bin Walid, Salmah bin Hisyam dan Iyash bin Abu Rabi’ah serta penduduk Makkah yang lemah adalah bukan sosok orang-orang yang zhalim di saat beliau mendoakan mereka. Allah SWT telah menyelamatkan mereka dari orang-orang kafir yang menjadi musuh mereka. Nabi tidak pernah meninggalkan diri dari mendoakan mereka agar selamat dari kekuasaan penduduk kota Makkah yang kufur, kecuali setelah mereka selamat dengan sebenarnya dari kekuasaan penduduk Makkah dan bukan karena turunnya ayat ini, di mana ayat ini diturunkan pada orang-orang kafir dan orang-orang munafik, mereka adalah orang-orang yang menganiaya dan bukan orang-orang yang teraniaya. Tidakkah engkau mendengar hadits yang diriwayatkan oleh Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, di mana pada suatu hari Nabi tidak mendoakan mereka lalu aku mengemukakan hal tersebut kepadanya. Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau tidak melihat bahwa mereka telah tiba?” Kemudian beliau memberikan informasi bahwa beliau meninggalkan membaca qunut dan berdoa agar Allah SWT menyelamatkan mereka karena Allah SWT pasti mengabulkan dan menyelamatkan mereka dan bukan karena turunnya ayat yang diturunkan kepada selain mereka, karena orang-orang yang didoakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam agar diselamatkan adalah orang-orang beriman yang teraniaya, sementara orang-orang yang didoakan oleh Nabi dengan laknat adalah orang-orang kafir, munafik dan orang-orang Zhalim. Allah SWT memerintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam agar meninggalkan doa yang mengandung laknat dan menginformasikan bahwa mereka adalah orang-orang yang Zhalim. Di sini beliau tidak memiliki campur tangan sama sekali dan hanya Allah SWT Yang memiliki kehendak dan dapat menyiksa mereka atau Allah SWT menunjukkan pintu taubat kepada mereka. Karena itu pahamilah apa yang aku jelaskan dan yakinlah dengan pertolongan Pencipta kalian. Orang-orang yang berdalil dengan hadits-hadits ini salah, di mana mereka menyatakan bahwa doa qunut dari shalat Subuh dihapus dengan ayat ini. Shahih Ibnu Khuzaimah 624: Muhammad bin Rafi’ mengabarkan kepada kami, Abdur-Razzaq memberitahukan kepada kami, Ibnu Juruy mengaburkan kepada kami, Ibnu Syihub mengabarkan kepadaku dari Abu Bakar bin Abdurrahman, bahwa ia pernah mendengar Abu Murairah berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan takbir ketika hendak turun untuk sujud."777 Shahih Ibnu Khuzaimah 625: Bundar, Muhammad bin Yahya dan Ahmad bin Sa'id Ad-Darami mengabarkan kepada kami —Ini adalah redaksi Bundar— Abu Ashim menceritakan kepada kami, Abdul Hamid bin Ja’far menceritakan kepada kami, Muhammad bin Amr mengabarkan kepada kami dari Atha' berkata, “(80-alif) Aku mendengar Abu Humaid As-Saidi dihadapan sepuluh orang sabahat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, di antaranya; Abu Qatadah. Abu Humaid berkata, 'Diantara kalian, aku yang paling tahu mengenai tata cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnyya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berdiri hendak melaksanakan shalat...' ia menyebutkan sebagian hadits dan berkata, 'Lalu beliau mengucapkan, 'Allahu Akbar' kemudian turun ke tanah dan merenggangkan kedua tangan dari kedua sisinya'.”778 Muhammad bin Yahya menambahkan, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam turun ke tanah dalam keadaan merenggangkan kedua tangannya dari kedua sisinya.” Muhammad bin Yahya, menambahkan, “Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sujud” dalam hal ini semua perawi meriwayatkannya. Mereka berkata, “Engkau benar. Demikianlah nabi melaksanakan shalat.” Shahih Ibnu Khuzaimah 626: Ali bin Muslim, Ahmad bin Sinan, Muhammad bin Yahya dan Raja' bin Muhammad Al Udzri mengabarkan kepada kami, mereka berkata, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Syarik bin Abdullah mengabarkan kepada kami, dari Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Wa'il bin Hujr: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tanganya apabila akan sujud.779 Ahmad dan Raja' berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.” Shahih Ibnu Khuzaimah 627: Muhammad bin Amr bin Tamam Al Mishri mengabarkan kepada kami, Ashbugh bin Al Faraj menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi' dari Ibnu Umar: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya dan Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan hal tersebut.” 779 Shahih Ibnu Khuzaimah 628: Ibrahim bin Ismail bin Yahya bin Salamah bin Kuhail, ayahku menceritakan kepadaku dari ayahnya dari Salamah dari Mash’ab bin Sa’d dari Sa'd, ia berkata, "Kami meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan.” 781 Shahih Ibnu Khuzaimah 629: Muhammad bin Yahya, Ahmad bin Sinan dan Raja' bin Muhammad Al Udzri serta Ali bin Muslim mengabarkan kepada kami, mereka berkata, Sahi bin Harun menceritakan kepada kami, Syarik bin Abdullah mengabarkan kepada kami dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa'il bin Hujr: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya apabila bangun. 782 Shahih Ibnu Khuzaimah 630: Abdullah bin Said Al Asyaj, Ziad bin Ayub dan Muammal bin Hisyam mengabarkan kepada kami, mereka berkata, Ismail menceritakan kepada kami, Ayub memberitahukan kepada kami, Al Muammal berkata, dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar dengan merafa'-kan hadits, ia berkata, “Sesungguhnya kedua tangan melakukan sujud sebagaimana wajah melakukan sujud. Apabila salah seorang dari kalian meletakkan wajahnya, maka hendaklah ia meletakkan kedua tangannya dan apabila ia mengangkat wajahnya, maka hendaklah ia mengangkat kedua tangannya.” 783 Shahih Ibnu Khuzaimah 631: Yunus bin Abdul A'la mengabarkan kepada kami, Al-Laits menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yusuf menceritakan kepada kami, Ibnu Al Hadi menceritakan kepadaku dari Muhammad bin Ibrahim dari Amir bin Sa'ad bin Abu Waqqash dari Abbas bin Abdul Muthalib: Sesungguhnya Abbas mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hamba melakukan sujud, maka tujuh anggota tubuhnya juga ikut sujud bersamanya; wajah, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua telapak kaki. ” 784 Shahih Ibnu Khuzaimah 632: Bisyr bin Muadz Al Aqadi mengabarkan kepada kami, Abu Awanah memberitahukan kepada kami, dari Amr bin Dinar dari Thuwus dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk melakukan sujud dengan tujuh anggota badan dan aku tidak memasukkan rambut dan baju.” 785 Shahih Ibnu Khuzaimah 633: Ahmad bin Al Miqdam Al Ijli mengabarkan kepada kami, Yazid bin Zurai' menceritakan kepada kami, Syu’bah dan Rauh bin Al Qasim menceritakan kepada kami dari Amr bin Dinar dari Thuwus dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia bersabda, “Aku diperintahkan untuk melakukan sujud dengan tujuh anggota tubuh dan aku tidak mengikut sertakan rambut dan baju." 786 Shahih Ibnu Khuzaimah 634: Sa'id bin Abdurrahman Al Makhzumi mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami dari Amr bin Dinar dari Thuwus dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi diperintahkan untuk melakukan sujud dengan tujuh anggota tubuh; wajah, dua telapak tangan, dua lutut dan dua telapak kaki serta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang memasukkan rambut dan baju.” 787 Shahih Ibnu Khuzaimah 635: Al Makhzumi mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas; Hadits sejenisnya, hanya saja ia mengatakan, "Atau melarang baju atau rambut —ikut dalam sujud—.”788 Ibnu Thawus menjalankan tangannya di atas dahi dan hidungnya dan mengatakan, “Itu adalah satu anggota tubuh.” Shahih Ibnu Khuzaimah 636: Yunus bin Abdul A'la mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepadaku dari Abdullah bin Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk melakukan sujud di atas tujuh anggota badan —dan aku tidak mengikut sertakan rambut dan baju—‘. Dahi, hidung kedua tangan, kedua lutut dan kedua kaki” 789 Shahih Ibnu Khuzaimah 637: Muhammad bin Basysyar Bundar mengabarkan kepada kami, Abu Daud menceritakan kepada kami, Fulaih bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, Al Abbas bin Sahi As Sa'idi menceritakan kepadaku, ia berkata, “Orang-orang dari kaum Anshar telah berkumpul, di antaranya Sahi bin Sa'd As-Sa'idi, Abu Humaid As-Sa'idi dan Abu Asid As-Sa'idi. Mereka menyebutkan mengenai tata cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Humaid berkata, “Biarkanlah diriku menceritakan kepada kalian, sebab diantara kalian, aku adalah orang yang paling tahu dalam hal ini.” Mereka berkata, “Ceritakanlah!” Ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu dengan bagus lalu masuk masjid dan melaksanakan shalat...” Lalu ia menyebutkan sebagian hadits dan ia berkata, “Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sujud dan menempelkan dahi dan hidungnya di atas tanah serta menaruh kedua tangannya pada kedua sisinya, lalu beliau mengangkat kepala, kemudian suatu kaum; semuanya berkata, 'Demikianlah shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ‘790 Shahih Ibnu Khuzaimah 638: Muammal bin Hisyam mengabarkan kepada kami, Ismail mengabarkan kepada kami —yaitu Ibnu Ulaiyah—, dari Muhammad bin Ishaq, Ali bin Yahya bin Khalad dari ayahnya, menceritakan kepada kami dari pamanya; Rifa’ah, dalam hadits yang panjang: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada orang yang melaksanakan shalat agar ia mengulangi shalatnya, “Apabila kamu sujud, maka tempelkanlah wajah dan kedua tanganmu hingga seluruh persendian tenang kembali pada posisinya”791 Shahih Ibnu Khuzaimah 639: Abdurrahman bin Bisyr bin Al Hakam mengabarkan kepada kami, Ali —yaitu Ibnu Al Husein bin Waqid— mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Abu Ishaq menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Al Barra', ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan sujud dengan kedua telapak tangan.” 792 Shahih Ibnu Khuzaimah 640: Bundar mengabarkan kepada kami, Abu Amir mengabarkan kepada kami, Fulaih bin Sulaiman Al Madani memberitahukan kepada kami, Abbas bin Sahi As-Sa'idi menceritakan kepadaku, ia berkata, “Abu Humaid As-Sa'idi, Abu Sa'id As-Sa'idi, Sahi bin Sa'd dan Muhammad bin Muslimah berkumpul, lalu Abu Humaid berkata, 'Di antara kalian, aku adalah orang yang paling tahu tentang shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau berdiri dan mengucapkan takbir.' Ia lalu menyebutkan sebagian hadits dan berkata, 'Kemudian beliau melakukan sujud, lalu meletakkan hidung, dahi dan meletakkan kedua tangannya berjauhan dengan kedua sisinya, lalu meletakkan kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua pundaknya lalu mengangkat kepalanya hingga seluruh persendian kembali pada posisi semula hingga selesai'.’ 793 Shahih Ibnu Khuzaimah 641: Abdullah bin Said Al Asyaj mengabarkan kepada kami, Ibnu Idris menceritakan kepada kami, Ashim bin Kulaib menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Wail bin Hujr, ia berkata, “Aku pernah mendatangi kota Madinah lalu aku katakan, 'Aku pasti akan menyaksikan shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian aku melihatnya, ketika memulai shalat, beliau membaca takbir, lalu beliau mengangkat —kedua tangannya— kemudian aku melihat kedua jari jempolnya berada sejajar dengan kedua telinganya'.” Lalu ia mengemukakan sebagian redaksi hadits lainnya dan berkata, "Kemudian beliau turun untuk sujud, lalu kepala beliau berada di antara kedua telapak tangannya seukuran dengan ketika beliau memulai shalat.”794 Shahih Ibnu Khuzaimah 642: Musa bin Harun bin Abdullah Al Bazzaz mengabarkan kepada kami, Al Harist bin Abdullah Al Hamdani menceritakan kepadaku —ia dikenal dengan nama Ibnu Al Khazin— Hasyim menceritakan kepada kami, dari Ashim bin Kulaib dari Alqamah bin Wail dari Ayahnya: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika sujud, beliau merapatkan jari-jarinya.795 Shahih Ibnu Khuzaimah 643: Isa bin Ibrahim Al Ghafiqi Al Mishri mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab menceritakan kepada kami dari Al-Laits bin Sa’ad dari Yazid bin Muhammad Al Qurasyi, Yazid bin Abu Hubaib dari Muhammad bin Amr bin Halhalah dari Muhammad bin Amr bin Atha', bahwa saat ia sedang duduk bersama beberapa sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka lalu menyebutkan masalah tata cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Abu Hamid As-Sa'idi berkata, “Diantara kalian, aku adalah orang yang paling hafal tentang shalat Rasulullah SAW; Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melakukan takbir, beliau menjadikan kedua tangannya berada sejajar dengan kedua pundaknya. Apabila beliau ruku’, beliau menempelkan kedua tangannya pada kedua lututnya lalu membungkukkan punggungnya. Apabila beliau mengangkat kepala, maka beliau menegakkan tubuhnya hingga seluruh persendian (tulang pungung) kembali pada posisinya. Apabila sujud, beliau meletakkan kedua tangannya tanpa membentangkannya dan tanpa menggenggamnya, lalu menghadapkan ujung jemarinya ke arah qiblat. Apabila duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kaki kirinya. Apabila beliau duduk pada rakaat terakhir, kaki kiri beliau dikedepankan dan duduk dengan pantatnya." 796 Shahih Ibnu Khuzaimah 644: Muhammad bin Al A'la bin Kuraib dan Al Asyaj mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abu Khalid menceritakan kepada kami, Ha', Harun bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Hakam Ibnu Abu Ziad Al Qathawani menceritakan kepada kami, Ibnu Numair mengabarkan kepada kami, Ha', Salm bin Junadah Al Qurasyi menceritakan kepada kami, Waki' menceritakan kepada kami, Ha', dan Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, Jarir dan Waki' menceritakan kepada kami, seluruhnya dari Al Amasy dari Abu Sufyan dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian bersujud, maka luruskanlah dan hendaklah tidak menghamparkan kedua lengannya seperti binatang buas. ” 797 Shahih Ibnu Khuzaimah 645: Ubaidullah bin Sa'ad bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, pamanku menceritakan kepada kami, ayahku memberitahukan kepada kami dari Ibnu Ishaq, Mus’ir bin Kidam Al Hilali menceritakan kepadaku dari Adam bin Ali Al Bakri, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu menghamparkan kedua lenganmu sebagaimana binatang buas, rapatkanlah kedua telapak tanganmu, renggangkanlah kedua lengan atas ketiakmu. Maka sesungguhnya apabila engkau melakukan hal tersebut, masing-masing anggota tubuhmu telah melakukan sujud. “ Shahih Ibnu Khuzaimah 646: Abu Thahir memberitahukan kepada kami, Abu Bakar mengabarkan kepada kami, Ali bin Hujr mengabarkan kepada kami, Syarik mengabarkan kepada kami, dari Abu Ishaq, ia berkata, “Al Bara' bin Azib menceritakan tata cara sujud kepada kami. Ia meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan mengangkat bokongnya, lalu ia berkata, 'Beginilah aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya'.” 798 Shahih Ibnu Khuzaimah 647: Ahmad bin Sa'id Ad-Darimi, Ahmad bin Manshur dan Al Yasri bin Mazid mengabarkan kepada kami, mereka berkata, An-Nadhr menceritakan kepada kami —ia adalah Ibnu Syamil— Yunus bin Abu Ishaq mengabarkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Al Bara' bin Azib, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila shalat, beliau tidak jakha.” ia berkata, aku mendengar Al Yusari berkata: Ia berkata, “An-Nadhr berkata, 'adalah orang yang menghamparkan lengannya saat ruku dan sujud'.’' ia berkata, “Aku mendengar Ahmad bin Manshur Al Mamzi berkata, 'An-Nadhr berkata, 'Orang Arab mengatakan seseorang melakukan Jakha’. ” Shahih Ibnu Khuzaimah 648: Muhammad dan Sa'd —dua anak laki-laki Abdullah bin Abdul Hakam yang berasal dari Mesir— menceritakan kepada kami, keduanya berkata, ayahku menceritakan kepada kami, Bakar bin Mudhar mengabarkan kepada kami, dari ja’far —Ia adalah Ibnu Rabiah— dari Abdurrahman bin Hurmuz dari Abdullah bin Malik bin Buhainah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melaksanakan shalat, beliau merenggangkan kedua tangannya sampai kedua ketiak beliau kelihatan.” 799 Shahih Ibnu Khuzaimah 649: Muhammad bin Yahya, Muhammad bin Rafi dan Abdurrahman bin Bisyr mengabarkan kepada kami, mereka berkata, Abdur-Razzaq menceritakan kepada kami, Ma'mar mengabarkan kepada kami, dari Manshur, dari Salim bin Abdul Jabbar dari Jabir bin Abdullah: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila sujud, beliau merenggangkan kedua tangannya hingga warna putih kedua ketiak beliau terlihat. 800 Shahih Ibnu Khuzaimah 650: Yahya bin Hubaib Al Harits mengabarkan kepada kami, Al Mughirah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Inilah hadits yang aku baca pada Al Fudhail dari Abu Huraiz. Abu Huraiz menceritakan kepadaku; sesungguhnya Qais bin Abu Hazim menceritakan; sesungguhnya Adi bin Umairah Al Hadrami menceritakan kepadanya, ia berkata, 'Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melakukan sujud, maka warna putih kedua ketiak beliau terlihat'.” 801 Muhammad bin Abui A'la Ash-Shan’ani mengabarkan hadits kepada kami, Al Mu’tamir mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Aku pernah membaca hadits sejenis pada Al Fudhail dari Abu Huraiz dengan hadits sejenis dan ia berkata, “Warna putih pada ketiak beliau terlihat.” Shahih Ibnu Khuzaimah 651: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya bin Said Al Qathan secara Imla' mengabarkan kepada kami, Abu Humaid bin Ja’far menceritakan kepada kami, Muhammad bin Atha' menceritakan kepada kami dari Abu Humaid As-Sa'idi, ia berkata, “Aku mendengar dari sepuluh orang shabat Nabi, di antaranya; Abu Qatadah bin Rabi’, ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila hendak melakukan shalat, beliau berdiri tegak.' Lalu ia menyebutkan sebagian hadits, lalu ia berkata, 'Kemudian beliau turun ke tanah untuk sujud lalu mengucapkan, 'Allahu Akbar’ kemudian merenggangkan lengan atas menjauhi kedua ketiak beliau dan membuka jari-jari kedua kaki beliau’.’802 Shahih Ibnu Khuzaimah 652: Abu Zuhair Abdul Majid bin Ibrahim Al Mishri, Syuaib menceritakan kepada kami —Ibnu Yahya At-Tujibi- Yahya bin Ayub menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Abu Hubaib, sesungguhnya Ibnu Amr bin Halhalah menceritakan dari Muhammad bin Amr bin Atha': Sesungguhnya Muhammad bin Amr bin Atha' sedang duduk bersama beberapa shabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu mereka menyebutkan tata cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Abu Hamid As-Sa'idi berkata, “Diantara kalian, aku adalah orang yang paling hafal mengenai tata cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengucapkan takbir, beliau menjadikan kedua tangannya berada sejajar dengan kedua pundak beliau. Apabila ruku, maka beliau menempelkan kedua tangannya pada kedua lutut beliau kemudian membongkokkan tulang punggungnya. Apabila mengangkat kepala, beliau berdiri tegak hingga masing-masing persendian (tulang punggung) kembali pada posisinya. Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sujud, maka beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak menghamparkan dan tidak menggenggam keduanya dan beliau menghadapkan jari-jari kedua kakinya ke arah kiblat.” 803 Shahih Ibnu Khuzaimah 653: Said bin Abdullah bin Abdul Hakam mengabarkan kepada kami, Ayahku mengabarkan kepada kami, Al-Laits bin Sa'ad mengabarkan kepada kami dari Darraj Abu As-Samh, dari Ibnu Hujairah dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian melakukan sujud, hendaklah ia tidak mehamparkan kedua tangannya seperti anjing, dan rapatkanlah kedua pahanya.” 804 Shahih Ibnu Khuzaimah 654: Ahmad bin Abdullah bin Abdul Rahim Al Barqi dan Ismail bin Ishaq Al Kufi mengabarkan kepada kami —ia bertempat tinggal di kawasan Al Fustat—, keduanya berkata, Ibnu Abu Maryam menceritakan kepada kami, Yahya bin Ayub mengabarkan kepada kami, Umarah bin Ghaziah menceritakan kepadaku, ia berkata, aku mendengar Abu An-Nadhr berkata, aku mendengar Urwah bin Zubair berkata, Aisyah isteri Rasulullah berkata, “Aku kehilangan jejak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan aku masih berada di atas tempat tidurku. Aku mendapati beliau sedang melakukan sujud dengan merapatkan kedua tumit beliau dengan menghadapkan ujung jari-jari ke arah qiblat. Aku mendengar beliau mengucapkan kalimat, 'Aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemarahan-Mu, dengan maaf-Mu dari dengan-siksa-Mu, dengan-Mu dari-Mu, aku memuji-Mu aku belum menyampaikan segala sesuatu yang ada pada lisan-Mu.' Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kembali, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Aisyah syetanmu telah membawamu', Aisyah berkata, 'Apakah syetan juga ada pada dirimu?' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tidaklah pada diri anak adam kecuali terdapat syetan.' Lalu ‘aku katakan, Termasuk pada engkau juga wahai Rasulullah!' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ' Termasuk aku, akan tetapi aku telah berdoa kepada Allah dan aku telah diselamatkan darinya'. “805 Shahih Ibnu Khuzaimah 655: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi dan Ali bin Syuaib mengabarkan kepada kami, dan keduanya berkata: Abu Usamah menceritakan kepada kami, Ubaidullah mengabarkan kepada kami dari Muhammad bin Yahya bin Hiban dari Abdurrahman (82- alif). Pada suatu malam aku pernah kehilangan jejak Rasulullah SAW806, aku pun mencari beliau dengan kedua tanganku, kemudian kedua tanganku menyentuh telapak kedua kaki beliau; di mana keduanya dalam keadaan berdiri tegak, aku mendengar beliau mengucapkan, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dengan ridha dari kemarahan-Mu, aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung dengan-Mu dan dari-Mu. Aku tidak pernah menghitung-hitung untuk memuji kepada-Mu, sebagaimana engkau memuji pada diri-Mu sendiri.’ 807 Shahih Ibnu Khuzaimah 656: Muhammad bin Abu Shafwan Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, Abdur-Rahman —yaitu Ibnu Mahdi—, menceritakan kepada kami, Ubaidillah bin Iyad bin Laqith mengabarkan kepada kami dari ayahnya dari Al Bara' bin Azib, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau melakukan sujud, maka letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu.”808 Shahih Ibnu Khuzaimah 657: Said bin Abdurrahman Al Makhzumi dan Umar bin Hafash Asy-Syaibani mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Sufyan menceritakan kepada kami dari Ubaidullah bin Abdullah bin Saudara Yazid bin Al Asham dari bibi Maimunah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan sujud, maka seandainya anak kambing biri-biri lewat di bawah tangannya, niscaya anak kambing tersebut dapat melewati beliau begitu saja.” 809 Amr bin Hafash berkata, “Ubaidillah bin Abdullah bin Al Asham menceritakan kepada kami dan ia berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan sujud, maka beliau merenggangkan kedua tangannya, hingga apabila anak kambing biri-biri lewat di bawah tangannya, maka ia dapat melewati beliau begitu saja.” Shahih Ibnu Khuzaimah 658: Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Abdurrahman —yaitu Ibnu Mahdi— mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami dari Manshur dari Salim —ia adalah Ibnu Abui Ja'd— dari ayahnya dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidak seorangpun dari kalian kecuali telah diserahkan kepadanya Qarin berupa jin dan malaikat.” Mereka bertanya, “Apakah diberikan juga kepada engkau wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Juga kepadaku, akan tetapi Allah SWT telah menolongku sehingga aku telah diselamatkan, di mana ia tidak pernah memerintahkanku kecuali dengan kebajikan.”810 Shahih Ibnu Khuzaimah 659: Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad —yaitu Ibnu Ja'far— mengabarkan kepada kami, Syubah menceritakan kepada kami, Ha’, Salam bin Junadah menceritakan kepada kami, Waki' menceritakan kepada kami, dari Syubah, dari Al Hakam, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Al Barra' bin Al Azib, ia berkata, “Ruku Rasulullah, mengangkat kepala setelah ruku, sujud, serta duduk di antara dua sujud hampir sama (waktunya).” 811 Shahih Ibnu Khuzaimah 660: Muammal bin Hiysam Al Yaskuri dan Salam bin Junadah Al Qurasyi mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, Al A'masy menceritakan kepada kami, dari Sa'd bin Ubaidah dari Al Mustaurad bin Al Ahnaf dari Silah dari Khudaifah, ia berkata, “Aku pernah melaksanakan shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu malam, lalu ia menyebutkan hadits dan menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surah Al Baqarah dan An-Nisaa' dalam satu rakaat, kemudian beliau ruku dan lama waktu pelaksanaan rukunya sama seperti lama waktu berdirinya kemudian beliau melakukan sujud, di mana lama waktu sujudnya seperti lama waktu ruku'nya.’ 812 Shahih Ibnu Khuzaimah 661: Ubaidullah bin Abdullah Al Khuza’i, Yahya bin Adam mengabarkan kepada kami, dari Mus'ir, dari Al Hakam bin Uyainah, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Al Bara' bin Azib, ia berkata, “Posisi berdiri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ruku, sujud dan duduk beliau tidak diketahui mana yang lebih utama.”813 Abu Bakar berkata, “Yang dimaksud dengan yang lebih utama adalah yang lebih lama." Shahih Ibnu Khuzaimah 662: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya dan Abu Ashim mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abdul Hamid bin Ja'far menceritakan kepada kami, Ayahku menceritakan kepadaku, dari Tamim bin Muhammad dari Abdur-Rahman bin Syibl, Ha', Salm bin Junadah menceritakan kepada kami, Waqi' menceritakan kepada kami dari Abdul Hamid bin Ja'far dengan sanad ini, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang melakukan gerakan shalat yang cepat saat sujud seperti burung mematuk”, Salam bin Junadah berkata, “Di dalam shalat wajib.” Keduanya berkata, “Serta dilarang pula menghamparkan lengan seperti binatang buas, serta hendaklah menempatkan posisi kaki sebagaimana unta menempatkannya. 814 Shahih Ibnu Khuzaimah 663: Abu Yahya Muhammad bin Abdur- Rahman Al Bazzaz mengabarkan kepada kami, Al Hakam bin Musa Abu Shalih mengabarkan kepada kami (82-ba’), Al Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, dari Al Auza'i dari Yahya bin Abu Katsir dari Abdullah bin Qatadah dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Pencurian yang paling buruk adalah orang yang mencuri shalatnya”. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Bagaimana seseorang dikatakan mencuri shalatnya?” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan . sujudnya.’ 815 Shahih Ibnu Khuzaimah 664: Muhammad bin Al Ala' bin Kuraib mengabarkan kepada kami, Abu Khalid menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Sa id bin Abu Sa’id, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Ashar bersama kami, lalu setelah itu beliau melihat seorang laki-laki melaksanakan shalat kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Fulan bertakwalah kepada Allah, perbaikilah . Apakah kalian mengira bahwa aku tidak dapat melihat kalian, sesungguhnya aku pasti mengetahui orang yang berada di belakangku sebagaimana aku melihat orang yang berada dihadapanku, perbaikilah shalat kalian dan sempurnakanlah ruku dan sujud kalian'816 Shahih Ibnu Khuzaimah 665: Ismail bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Shafwan bin Shalih menceritakan kepada kami, Al Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, Syaibah bin Al Ahnaf Al Auza'i menceritakan kepada kami, Abu Salam Al Aswad menceritakan kepada kami, Abu Shalih Al Asyari mengabarkan kepada kami dari Abu Abdullah Al Asy’ari, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama dengan para sahabatnya kemudian beliau singgah pada suatu kelompok masyarakat, lalu seorang laki-laki masuk ke dalam masjid kemudian berdiri melaksanakan shalat. Orang tersebut ruku817 dan melakukan gerakan shalat dengan cepat saat sujud seperti mematuk. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Apakah kalian mengetahui hal ini. Barang siapa yang meninggal dunia dengan posisi sujud seperti ini, maka ia meninggal dunia bukan atas agama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Orang ini telah melakukan shalat dengan cepat (mematuk) dalam shalatnya sebagaimana seekor gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang melakukan ruku818 dan melakukan gerakan dengan cepat (mematuk) dalam sujudnya seperti orang yang lapar yang tidak memakan apa-apa kecuali satu atau dua butir kurma saja. Apakah kedua butir kurma tersebut cukup? Oleh karena itu sempurnakanlah wudhu kalian! Celakalah bagi tumit-tumit; yaitu ancaman api neraka. Oleh karena itu sempurnakanlah ruku dan sujud kalian'.” Abu Shaleh berkata, “Aku pernah berkata kepada Abdullah Al Asy’ari, ‘Siapakah yang menceritakan hadits ini kepadamu?’ la berkata, ’Pemimpin-pemimpin perang; Amr bin Ash, Khalid bin Al Walid, Yazid bin Abu Sufyan dan Syabil bin Hasanah. Mereka semua mendengarnya dari nabi Muhammad SAW’.“ 819 Shahih Ibnu Khuzaimah 666: Abdullah bin Said Al Asyaj mengabarkan kepada kami, Ibnu Idris dan Muhammad bin Fudhail mengabarkan kepada kami, Ha’, Salm bin Junadah menceritakan kepada kami, Waqi' menceritakan kepada kami, Ha’, Harun bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami, dari Al A’masy, Ha’, Said bin Abdurrahman Al Makhzumi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Al A’masy, Ha', Ad-Dauraqi menceritakan kepada kami, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, Al A'masy memberitahukan kepada kami, dari Umarah bin Umair dari Abu Ma'mar, dari Abu Mas'ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak sah shalat seseorang yang tidak meluruskan tulang rusuknya saat ruku dan sujud.” Shahih Ibnu Khuzaimah 667: Muhammad bin Al Mutsanna dan Ahmad bin Al Miqdam mengabarkan kepada kami, keduanya berkata Mulazim bin Amr menceritakan kepada kami, kakekku; Abdullah bin Badar, menceritakan kepadaku, dari Abdurrahman bin Ali, dari ayahnya Ali bin Syaiban —ia adalah salah satu delegasi— ia berkata, “Aku pernah melaksanakan shalat dibelakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau mengerdipkan ujung matanya kepada seseorang yang tidak meluruskan tulang rusuknya saat ruku dan sujud. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selesai melaksanakan shalat, beliau bersabda, 'Wahai segenap umat Islam, sesungguhnya tidak sah shalat seseorang yang tidak meluruskan tulang rusuknya saat ruku dan sujud'. ” Ini adalah hadits Ahmad bin Al Miqdam. 821 Shahih Ibnu Khuzaimah 668: Ya'kub bin Ibrahim, Muhammad bin Aban dan Salam bin Junadah yang mengabarkan kepada kami, mereka berkata, Hafsh menceritakan kepada kami —ia adalah Ibnu Ghiyats— Ibnu Abu Laila menceritakan kepada kami, dari Asy-Sya’bi dari Shilah dari Hudzaifah: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam ruku' mengucapkan, “Subhaana rabbiyal adziimi" tiga kali dan di dalam sujudnya, “Subhaana rabiyal 'alaa” tiga kali. 822 Shahih Ibnu Khuzaimah 669: Muammal bin Hisyam dan Salm bin Junadah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, Al A'masy menceritakan kepada kami, dari Sa'ad bin Al Ubaidah dari Al Mustaurad bin Al Ahnaf dari Shilah bin Ja'far dari Hudzaifah, ia berkata, “Aku pernah melaksanakan shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Lalu ia menyebutkan hadits, dan ia berkata. “Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sujud, lalu dalam sujud beliau mengucapkan, 'Subhatmu rabiyal ’alaa’” 823 Salam bin Janadah berkata dari Al A’rnasy. Shahih Ibnu Khuzaimah 670: Abu Musa mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Zaid mengabarkan kepada kami, Musa bin Ayub mengabarkan kepada kami, la berkata, aku mendengar pamanku; Iyas bin Amir, berkata, aku mendengar Uqbah (83-alif) bin Amir berkata, "Ketika turun ayat, 'Sucikanlah nama Tuhanmu Tang Maha Tinggi' (Qs. Al A’laa [87]: 1) Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada kami, 'Jadikanlah ia dalam sujud kalian'.” 824 Muhammad bin Isa mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Mubarak, dari Musa bin Ayub, dari pamannya; Uqbah bin Amir, dengan hadits sejenis dan ia tidak mengatakan kepada kami. Shahih Ibnu Khuzaimah 671: Yakub bin Ibrahim dan Ali bin Syuaib mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abu Usamah menceritakan kepada kami, Ubaidullah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Yahya bin Hayan dari Abdurrahman Al A'raj dari Abu Hurairah dari Aisyah, ia berkata, “Aku pernah kehilangan jejak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di suatu malam dan aku masih berada di atas tempat tidur. Aku mulai mencari beliau dengan tanganku, kemudian kedua tanganku menyentuh kedua telapak kaki beliau dan keduanya berdiri tegak lalu aku mendengar beliau mengucapkan, Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dengan ridha dari kemarahan-Mu, aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung dengan-Mu dan dari-Mu. Aku tidak pernah menghitung- hitung untuk memuji kepada-Mu sebagaimana engkau memuji pada diri-Mu sendiri'. 825 Inilah adalah hadits Ad-Duraqi. Shahih Ibnu Khuzaimah 672: Yunus bin Abdul A'la mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab memberitahukan kepada kami, Yahya bin Ayub menceritakan kepadaku dari Umarah bin Ghaziyah dari Suma; hamba sahaya dari Abu Bakar, dari Abu Shalih dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam sujudnya mengucapkan, ‘Ya Allah ampunilah dosaku seluruhnya, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang awal maupun yang akhir serta dosa yang terjadi secara terang-terangan dan tersembunyi.”826 Shahih Ibnu Khuzaimah 673: Ar-Rabi' bin Sulaiman dan Bahr bin Sashr mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Ibnu Wahab menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Az-Zinad mengabarkan kepada kami, dari Musa bin Uqbah, dari Abdullah bin Al Fadl, dari Abdurrahamn bin Al AVaj, dari Abdullah bin Abu Rafi’, dari Ali: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melaksanakan shalat wajib, maka beliau bertakbir. Kemudian ia menyebutkan hadits dan ia berkata, "Kemudian apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan sujud lalu beliau berkata di dalam sujudnya, "Ya Allah, kepada-Mu aku bersujud, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Engkau adalah Tuhanku Wajahku sujud kepada Dzat yang menciptakan dan memecah pendengaran serta penglihatan. Maha Berkah Allah sang Pencipta yang terbaik"827 Shahih Ibnu Khuzaimah 674: Ali bin Hujr mengabarkan kepada kami, Ismail bin Ja'far dan Sufyan bin Uyainah mengabarkan kepada kami, Abdul Jabbar bin Al A'la dan Sa'id bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Sufyan menceritakan kepada kami dari Sulaiman bin Suhaim dari Ibrahim bin Abdullah bin Ma’bad dari ayahnya dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyingkap kain penutup sementara orang-orang sedang berbaris di belakang Abu Bakar, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Adapun sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa di dalamnya, karena saat itu —doa kalian— sangat berpotensi dikabulkan'. 828 Shahih Ibnu Khuzaimah 675: Abu Thahir memberitahukan kepada kami, Abu Bakar mengabarkan kepada kami, Yakub Ad-Dauraqi dan Muhammad bin Abdul A'la mengabarkan kepada kami. Keduanya berkata: Bisyr bin Mufadhdhal mengabarkan kepada kami, Ghalib Al Qaththan mengabarkan kepada kami, dari Bakar bin Abdullah, dari Anas, ia berkata, “Kami melaksanakan shalat bersama Rasulullah di saat udara sangat panas. Apabila salah seorang dari kami ingin sujud, maka ia membentangkan bajunya karena cuaca yang sangat panas, lalu ia bersujud di atasnya.”829 As Shan'ani berkata, "Maka Apabila salah seorang dari kami tidak mampu menempelkan wajahnya di atas bumi, ia membentangkan bajunya, kemudian melakukan sujud di atasnya.” Shahih Ibnu Khuzaimah 676: Muhammad bin Ishaq Ash-Shan'ani mengabarkan kepada kami, Said bin Abu Maryam menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Ismail bin Abu Hubaibah menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Tsabit bin Shamit menceritakan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersujud di dalam masjid Bani Abdul Asyhal dan beliau memiliki pakaian tebal, lalu beliau meletakkan kedua tangannya di atasnya di mana pakaian tersebut dapat menjaganya dari pasir gurun yang dingin.830 Shahih Ibnu Khuzaimah 677: Abul Hasan Ali bin Al Muslim bin Muhammad As-Silmi mengabarkan kepada kami, Abu Muhammad Abdul Aziz bin Ahmad Al Kinani mengabarkan kepada kami, Al Ustadz Al Imam Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman Ash-Shabuni mengabarkan kepada kami dengan membaca kepadanya, ia berkata, Abu Thahir mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Al Fadl bin Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Rafi' menceritakan kepada kami, Abdul Malik bin Ash-Shabbah Al Misma'i menceritakan kepada kami, Abdul Humaid bin Ja'far Al Madani menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Amr bin Atha', ia berkata, Aku mendengar Abu Hamid As Saidi di antara sepuluh sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (83-ba') berkata, “Aku adalah orang yang paling tahu mengenai shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Mereka berkata, “Engkau tidak lebih dahulu bersahabat dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak lebih lama mengikutinya.” Ia berkata, “Ya.” Mereka berkata, “Kemukakanlah.” Ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berdiri untuk melakukan shalat, mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan kedua pundak beliau, kemudian mengucapkan takbir dan melakukan rtidal dengan posisi berdiri tegak, sehingga setiap persendian menempati posisinya dengan rtidal, lalu beliau membaca ayat-ayat Al Qur'an kemudian mengangkat kedua tangan beliau, membaca takbir dan melakukan ruku, lalu meletakkan kedua telapak tangan berada di atas kedua lutut beliau dan tidak menundukkan kepala serta mengangkatnya, lalu beliau mengucapkan, 'Sami’allaahu liman hamidah” dan beliau mengangkat kedua tangan berada sejajar dengan kedua pundak beliau dengan posisi rtidal hingga setiap persendian menempati posisinya dengan Itidal, lalu beliau mengucapkan takbir dan bersujud kemudian merenggangkan kedua tangannya dari kedua sisinya (pinggang), kemudian beliau mengangkat kepalanya lalu melipat dan menyilangkan —agar bisa diduduki— kaki kirinya, kemudian beliau duduk di atasnya dan membuka jari-jari kaki kanannya, kemudian beliau berdiri, lalu di dalam rakaat yang lainnya beliau melakukan hal seperti itu, setelah itu beliau bangun dari dua sujud dan melakukan gerakan seperti yang beliau lakukan saat memulai shalat.”831 Shahih Ibnu Khuzaimah 678: Abu Kuraib dan Abdullah bin Said Al Asyaj mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abu Khalid memberitahukan kepada kami, Harun bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami, Salam bin Junadah menceritakan kepada kami, Waki' menceritakan kepada kami dari Sufyan, semuanya berasal dari Yahya bin Said, ia berkata, Aku mendengar Al Qasim bin Muhammad berkata, ia berkata, Abdullah bin Abdullah bin Umar menceritakan kepada kami, dari ayahnya; Abdullah bin Umar, ia berkata, “Termasuk perbuatan sunnah dalam shalat adalah engkau membaringkan kaki kirimu —menyilangkan di bawah kaki kanan— dan menegakkan kaki kananmu apabila engkau duduk di dalam shalat.”832 Ini adalah hadits Ibnu Fudhail. Ulama lainnya berkata dari Qasim bin Muhammad, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya. Shahih Ibnu Khuzaimah 679: Said bin Abdurrahman Al Makhzumi mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Yahya bin Said, dari Al Qasim bin Muhammad, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, ia berkata, 'Termasuk perbuatan sunnah dalam shalat adalah engkau membaringkan kaki kirimu —dan menyilangkan di bawah kaki kanan— dan menegakkan kaki kananmu.” Ia berkata, “Nabi apabila duduk dalam shalat, maka beliau membaringkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan.”833 Abu Bakar berkata, “Redaksi tambahan yang ada di dalam hadits Ibnu Uyainah aku perkirakan tidak teijaga, maksudnya adalah redaksi; Dan, Nabi apabila duduk di dalan shalat, beliau membaringkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan’.” Shahih Ibnu Khuzaimah 680: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abdur-Razaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Abu Az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa ia mendengar Thawus berkata, “Kami pernah bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai al iq'a' di atas telapak kaki?” Ibnu Abbas menjawab, “Itu adalah sunnah. " Kami katakan, “Sesungguhnya kami melihat gerakan kaki tersebut menjadi tidak berguna.” Ibnu Abbas berkata, “Bahkan ia merupakan sunnah nabimu.” 834 Shahih Ibnu Khuzaimah 681: Ahmad bin Al Azhar mengabarkan kepada kami, aku menuliskannya dari naskah aslinya, Ya'kub bin Ibrahim bin Sa'd memberitahukan kepada kami, ayahku mengabarkan kepada kami, dari Ibnu lshaq, ia berkata, seseorang menceritakan kepadaku835 dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hal shalat ketika sujud. Al Abbas bin Sahi bin Sa'd Sa'id berkata, “Adalah aku saat itu sedang duduk-duduk di pasar kota Madinah, di waktu shalat dhuha, bersama Abu Asid Malik bin Rabiah dan Abu Hamid; sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, keduanya berasal dari kabilah Bani Saidah, serta bersama Qatadah Al Harits bin Rabi'i. Sebagian orang berkata kepada sebagian yang lain dan aku mendengar ungkapan, Diantara kalian, aku lebih mengetahui tata cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.' Masing-masing mengemukakan kepada temannya. Mereka berkata kepada salah seorang dari mereka juga, maka bangunlah kemudian shalatlah bersama kami hingga kami menyaksikan apakah sama dengan shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam atau tidak?. Salah seorang dari keduanya berdiri lalu menghadap kiblat kemudian membaca takbir lalu membaca sebagian ayat Al Qur'an, kemudian ruku dengan menempelkan kedua tangannya pada kedua lututnya hingga setiap persendian tenang, kemudian ia mengangkat kepalanya lalu I’tidal hingga setiap persendian kembali pada posisinya, kemudian ia mengucapkan kalimat, 'Samiallaahu liman hamidah' lalu turun dalam keadaan sujud di atas dahi, kedua telapak tangan (84-alif), kedua lutut dan bagian luar kedua kakinya dengan merenggangkan kedua tangan sampai aku melihat warna putih dari kedua ketiaknya yang berada di bawah bahunya lalu terdiam hingga setiap persendian tenang, kemudian ia mengangkat kepalanya dan pada posisi tegak lurus di atas kedua mata kaki dan bagian luar kedua telapak kakinya hingga setiap persendian kembali pada posisinya, lalu kembali kepada gerakan seperti itu, ia berkata, Lalu ia berdiri ruku' dengan gerakan yang sama.” Ia lalu berkata, “Kemudian ia mengucapkan salam lalu menghadap kepada kedua temannya dan berkata, 'Bagaimana engkau berdua melihatnya?' Keduanya berkata kepadanya, 'Apa Yang Engkau lalukan persis sama dengan shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikianlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan shalat.'" Shahih Ibnu Khuzaimah 682: Ahmad bin Abdah mengabarkan kepada kami, Hamad bin Zaid mengabarkan kepada kami, Tsabit Al Bunani mengabarkan kepada kami, ia berkata, Anas bin Malik berkata kepada kami, “Sesungguhnya aku tidak sembrono melaksanakan shalat bersama kalian sebagaimana aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama kami.” Tsabit berkata, “Anas melakukan sesuatu, di mana aku tidak pemah melihat kalian melakukannya, 'Apabila Anas mengangkat kepalanya dari sujud, maka ia duduk di antara dua sujud hingga seseorang berkata, 'Bahwa Anas telah lupa’.” 837 Shahih Ibnu Khuzaimah 683: Muhammad bin Basysyar mengabarkan kepada kami, Abu Ahmad —yaitu Az-Zubair— mengabarkan kepada kami, Mus’ir mengabarkan kepada kami dari Al Hakam dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Al Bara' bin Azib, ia berkata, “Sujud, ruku dan duduk di antara dua sujud Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hampir sama waktunya.” 838 Shahih Ibnu Khuzaimah 684: Salm bin Junadah mengabarkan kepada kami, Hafsh bin Ghiyats mengabarkan kepada kami, Al A'la bin Al Musayyib mengabarkan kepada kami dari Amr bin Murrah dari Thalhah dari Yazid dari Hudaifah dan Al A'masy dari Sa'ad bin Ubaidah dari Al Mustaurad bin Al Ahnaf dari Shilah bin Ja'far dari Hudaifah, ia berkata, "Adalah Rasulallah shallallahu 'alaihi wa sallam terbangun di waktu malam lalu melaksanakan shalat, kemudian aku datang dan berdiri di sisi beliau. Rasulullah memulai shalat dengan membaca surat Al Baqarah. Aku berkata (di dalam hati), 'Barangkali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan membaca seratus ayat' tetapi ternyata lebih, kemudian aku berkata (di dalam hati), 'Barangkali Rasulullah akan membaca dua ratus ayat' tetapi ternyata lebih. Aku berkata (di dalam hati), 'Barangkali Beliau akan menuntaskannya', tetapi ternyata beliau memang menuntaskannya, tetapi menyambungnya kembali dengan membaca surat An-Nisaa' (sampai tuntas) kemudian membaca surat Aali Imraan (sampai tuntas) kemudian melakukan ruku yang lama waktunya hampir sama dengan lamanya bacaan surat yang beliau baca, setelah membaca kemudian beliau bangun lalu mengucapkan, 'Samiallahu liman hamidah rabbana walakal hamdu' dan berdiri, yang lama waktunya hampir sama dengan lamanya beliau melakukan ruku, kemudian beliau melakukan sujud yang lama waktunya sama dengan lamanya beliau berdiri, setelah bangun dari ruku, kemudian beliau bangun dari sujud lalu beliau berkata, 'Rabbighfirli' yang lama waktunya sama dengan lamanya waktu sujud, kemudian beliau sujud, yang lama waktunya sama dengan saat duduk setelah bangun dari sujud, lalu berdiri melaksanakan rakaat kedua.” Al A'masy berkata, “Rasulallah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah membaca ayat-ayat yang menakut-nakuti kecuali beliau meminta perlindungan dan tidak membaca ayat-ayat yang memiliki arti kasih sayang kecuali beliau meminta kasih sayang serta beliau tidak membaca ayat-ayat tanzih kecuali beliau membaca tasbih. 839 Shahih Ibnu Khuzaimah 685: Bundar mengabarkan kepada kami Yahya bin Said mengabarkan kepada kami, Abdul Humaid bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Atha' mengabarkan kepada kami, dari Abu Humaid As-Sa'idi, ia berkata, “Aku mendengar dari sepuluh orang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, salah satunya adalah Abu Qatadah, ia berkata, 'Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melaksanakan shalat, beliau berdiri tegak... lalu ia menyebutkan sebagian hadits, dan ia berkata, 'Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam turun ke tanah melakukan sujud, lalu mengucapkan 'Allahu Akbar', kemudian beliau merenggangkan kedua lengannya dengan menjauhi kedua ketiaknya dan membuka jari-jari kedua kakinya lalu melipat dan menyilangkan kaki kiri beliau, kemudian duduk di atasnya dengan I'tidal hingga setiap persendian kembali pada posisinya, kemudian beliau turun untuk melakukan sujud dan mengucapkan, 'Allahu Akbar' lalu melipat dan menyilangkan kakinya setelah itu duduk dengan I'tidal hingga setiap persendian kembali pada Posisinya kemudian bangun. 840 Shahih Ibnu Khuzaimah 686: Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Husyaim menceritakan kepada kami dari Khalid Al Hadzdza' dari Abu Qilabah dari Malik bin Al Huwairits: Sesungguhnya ia pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan shalat, apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berada di dalam shalat witir, maka beliau tidak akan bangun hingga duduk sempurna. 841 Shahih Ibnu Khuzaimah 687: Muhammad bin Basysyar dan Abu Musa mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abdul Wahab menceritakan kepada kami, Khalid menceritakan kepada kami dari Abu Qilabah, ia berkata, “(84 -ba')Malik bin Al Huwairats pernah berada di antara kita, ia berkata, “Maukah kalian aku ceritakan mengenai shalat Rasulullah SAW; maka ia melaksanakan shalat bukan pada waktunya. Apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud kedua di rakaat pertama, maka beliau duduk dengan sempurna kemudian beliau berdiri dan menumpukan tangannya pada tanah.” 842 Abu Bakar berkata, “Hadits Ayub dari Abu Qilabah, aku meriwayatkan dalam Al Kabir Shahih Ibnu Khuzaimah 688: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahab menceritakan kepada kami, pamanku menceritakan kepadaku, Haiwah mengabarkan kepadaku, Khalid bin Yazid menceritakan kepadaku dari Ibnu Abu Hilal dari Nu'aim Al Mujmar, ia berkata, “Aku panah melaksanakan shalat dibelakang Abu Hurairah, ia membaca, 'Bismillahirrahmanirrahim' kemudian ia membaca umul Qur'an (Al Fatihah) sampai pada ayat waladhdhaalliin. Ia kemudian membaca, ‘ Amin’. Orang-orang pun mengucapkan, ‘Amin’. Ketika melakukan ruku, maka ia mengucapkan, 'Allahu Akbar’ ketika ia mengangkat kepalanya, ia mengucapkan, 'Samiallaahu liman hamidah'. Kemudian ia mengucapkan, 'Allaahu akbar', lalu melakukan sujud, ketika bangun, ia mengucapkan 'Allaahu akbar'. Ketika sujud, ia mengucapkan 'Allaahu akbar', kemudian ia menghadap ke arah qiblat sambil berdiri di disertai dengan takbir, ketika ia bangun dari rakaat kedua, ia mengucapkan, 'Allaahu akbar', saat mengucapkan salam, ia berkata, 'Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, sesungguhnya shalatku paling mirip dengan shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. 843 Shahih Ibnu Khuzaimah 689: Bundar dan Muhammad bin Rafi' mengabarkan kepada kami —ini adalah hadits Bundar— Abu Amir menceritakan kepada kami, Fulaih bin Sulaiman Al Madani memberitahukan kepada kami, Abbas bin Sahi As-Sa'idi menceritakan kepadaku, ia berkata, “Abu Humaid As-Sa'idi, Abu Asid As-Sa’idi, Sahi bin Sa'd dan Muhammad bin Maslamah telah berkumpul. Abu Hamid berkata, 'Diantara kalian, aku adalah orang yang paling tahu mengenai shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu ia menyebutkan hadits panjang lebar dan berkata, ’Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk lalu membaringkan dan menyilangkan kaki kirinya di bawah kaki kanan dan menghadapkan —jemari— telapak kaki kanan ke arah kiblat, meletakkan telapak tangan kanan pada lutut kaki kanan dan meletakkan tangan kiri pada lutut kaki kiri serta memberikan isyarat dengan jari telunjuk'.” 844 Shahih Ibnu Khuzaimah 690: Abdullah bin Said Al Asyaj mengabarkan kepada kami, Ibnu Idris mengabarkan kepada kami, Ashim bin Kulaib mengabarkan kepada kami, dari ayahnya, dari Wail bin Hajar, ia berkata, “Aku pernah datang di kota Madinah, lalu aku berkata (di dalam hati), 'Aku pasti melihat cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu ia menyebutkan hadits dan berkata, 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melipat dan menyilangkan kaki kirinya —agar bisa diduduki— dan menegakkan kaki kanan. 845 Shahih Ibnu Khuzaimah 691: Al Makhzumi mengabarkan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Ashim, dari Kulaib, dari ayahnya, dari Wa'il bin Hujr, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika duduk di dalam shalat, beliau membaringkan dan menyilangkan kaki kirinya —di bawah kaki kanan— dan menegakkan kaki kanannya.”846 Shahih Ibnu Khuzaimah 692: Muhammad bin Sahi bin Askar dan Al Husein bin Mahdi mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Abdur-Razaq menceritakan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Ismail bin Umayah, dari Naif, dari Ibnu Umar, ia berkata, “Nabi melarang apabila seseorang duduk di dalam shalat bertumpu di atas tangannya.” 847 Al Husein bin Mahdi berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki bertumpu di atas kedua tangannya di dalam shalat.” Shahih Ibnu Khuzaimah 693: Ash-Shan'ani menceritakan kepada kami, Al Mu’tamir memberitahukan kepada kami, ia berkata, aku mendengar Ubaidullah, dari Ibnu Syihab, dari Salim, dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau mengangkat kedua tangan apabila memulai shalat, apabila ingin melakukan ruku, apabila ingin mengangkat kepala dari ruku, apabila berdiri dari rakaat kedua, maka beliau mengangkat kedua tangan pada setiap gerakan itu berada sejajar dengan kedua pundak. 848 Shahih Ibnu Khuzaimah 694: Abu Zuhair Abdul Majid bin Ibrahim Al Mishri (85-alif) mengabarkan kepada kami, Syuaib -yaitu Ibnu Yahya At-Tujibi— mengabarkan kepada kami, Yahya bin Ayub mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij dari Ibnu Syihab dari Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al Haritz, sesungguhnya ia pernah mendengar Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila memulai shalat, beliau mengucapkan takbir kemudian menjadikan kedua tangannya berada sejajar dengan kedua pundaknya. Dan, apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan ruku', maka beliau melakukan hal seperti itu. Dan, apabila melakukan sujud, maka beliau melakukan hal seperti itu dan Nabi tidak melakukannya ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud. Apabila bangun dari rakaat kedua, maka beliau melakukan hal seperti itu juga. 849 Shahih Ibnu Khuzaimah 695: Utsman bin Al Hakim Al Judami meriwayatkan hadits, ia berkata, Ibnu Juraij memberitahukan kepada kami sesungguhnya Ibnu Syihab mengabarkan hadits kepadanya dengan sanad yang semisalnya. Dan, ia berkata, ''Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan takbir dan mengangkat kedua tangan berada sejajar dengan kedua pundaknya.” 850 Abu Al Yaman Yasin bin Zurarah Al Mishri Al Qitbani menceritakan hadits kepadaku dari Utsman bin Al Hakam Al Judzami. Abu Bakar berkata, “Aku mendengar Yunus berkata, 'Perawi yang pertama kali menginjakkan kakinya di Mesir melalui informasi Ibnu Juraij atau Malik, adalah Utsman bin Al Hakam Al Judzami'.” Abu Bakar berkata, Aku mendengar Ahmad bin Abdullah bin Abdur-Rahim Al Barqi berkata, 'Ibnu Abu Maryam menceritakan kepada kami, Utsman bin Al Hakam Al Judzami menceritakan kepada kami dan ia merupakan sosok pilihan'.” Shahih Ibnu Khuzaimah 696: Yusuf bin Musa Al Qaththan mengabarkan kepada kami, Al Ala' bin Abdul Jabar menceritakan kepada kami, Abdul Wahid bin Ziad menceritakan kepada kami, Utsman bin Hakim menceritakan kepada kami, Amir bin Abdullah bin Az-Zubair menceritakan kepada kami, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila duduk di dalam shalat, maka beliau menempatkan kaki kirinya berada di antara paha dan betis, meletakkan tangan kiri pada lutut kiri dan meletakkan tangan kanan pada paha kanan serta memberi isyarat dengan jari beliau.” 851 Abdul Wahid memberi isyarat dengan jari telunjuknya. Shahih Ibnu Khuzaimah 697: Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja'far mengabarkan kepada kami, SyuTjah mengabarkan kepada kami, dari Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Wail bin Hujr, ia berkata, “Aku pernah melaksanakan shalat bersama Nabi kemudian beliau mengucapkan takbir ketika memasuki shalat dan mengangkat kedua tangan. Ketika beliau ingin ruku', maka beliau mengangkat kedua tangan. [Ketika] beliau mengangkat kepala dari ruku’, maka beliau mengangkat kedua tangan dan meletakkan kedua telapak tangan serta merenggangkannya —yaitu di dalam sujud— beliau membaringkan paha kirinya dan memberi isyarat dengan jari telunjuknya. —yaitu saat duduk dalam tasyahud—.”852 Abu Bakar berkata, “Perkataannya, dan, beliau membaringkan paha kirinya', maksud yang diinginkan adalah untuk di letakkan di bawah paha kanan. Ia menolak membaringkan paha kiri agar dapat meletakkan paha kanan di atas paha kiri seperti hadits Adam bin Abu Iyas, bahwa ia meletakkan paha kanan di atas paha kiri.” Shahih Ibnu Khuzaimah 698: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Wahab bin Jarir mengabarkan kepada kami, Syu'bah mengabarkan kepada kami, dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa'il bin Hujr Al Hadrami; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya saat mengucapkan takbir, saat ruku, saat mengangkat kepala setelah ruku. Rasulullah juga saat melakukan sujud mengucapkan, "... Demikianlah. " Beliau merenggangkan kedua tangan dari kedua ketiak beliau dan meletakkan paha kanan di atas paha kiri. Ia berkata, “... Demikianlah." Beliau menengok dan menggerakan jari telunjuk dan menggenggam dengan jari tengah. Muhammad bin Yahya juga memberi isyarat dengan jari telunjuk, melingkarkan jari tengah dan jempol serta menggenggam dengan jari tengah. 853 Abu Bakar berkata, “Perkataannya, 'Dan, beliau meletakkan paha kanan di atas paha kiri', yang dimaksud adalah saat tasyahud.” Shahih Ibnu Khuzaimah 699: Ahmad bin Abdah menceritakan kepada kami, Yazid bin Zurai' mengabarkan kepada kami, Husein Al Mu'aitim menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Maisarah, dari Abu Al Jauza', dari Aisyah, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata saat pada dua rakaat (yakni; pada rakaat kedua), 'At Tahiyah', dan beliau membaringkan kaki kiri berada di bawah kaki kanan. 854 Shahih Ibnu Khuzaimah 700: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya bin Said mengabarkan kepada kami, Abdul Humaid bin Ja'far menceritakan kepada kami, Muhammad bin Atha menceritakan kepadaku dari Abu Humaid As-Sa'idi, ia berkata, “Aku mendengarnya dari sepuluh sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (85-ba') di antaranya adalah Abu Qatadah, ia berkata, 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila berada pada rakaat di mana shalat berakhir di dalamnya, Maka beliau membelakangkan kaki kirinya dan duduk tawaruk pada bagian dari kaki kirinya kemudian mengucapkan salam'.” Di dalam hadits Abu Ashim dikatakan, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membelakangkan kaki kirinya dan duduk tawaruk pada bagian yang mudah diduduki.” Di dalam hadits Muhammad bin Amar bin Halhalah dari Muhammad bin Amr bin Atha': Apabila Rasulullah duduk pada rakaat keempat, maka beliau membelakangkan kedua kakinya dan duduk di atas lantai dengan bokongnya. Ini dalam hadits Yahya bin Ayub dari Yazid bin Abu Hubaib. Al-Laits dalam haditsnya berkata: Dari Khalid dari Ibnu Abu Hilal dari Yazid bin Abu Hubaib serta Yazid bin Muhammad, “Apabila beliau duduk pada rakaat terakhir, maka beliau mengedapankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain serta duduk di atas —lantai dengan— bokongnya.” Abu Bakar berkata, “Hadits-hadits ini telah aku riwayatkan tidak ada pada bab ini.” Shahih Ibnu Khuzaimah 701: Ibrahim bin Said bin Al Jauhari mengabarkan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim bin Saad mengabarkan kepada kami, dari ayahnya, dari Ibnu Ishaq, dari Abdurrahman bin Al Aswad, dari ayahnya, dari Ibnu Mas'ud; Sesungguhnya rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk diakhir shalatnya di atas lantai dengan bokong bagian kiri.856 Shahih Ibnu Khuzaimah 702: Al Qutha'i Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abdul A'la mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ishaq mengabarkan kepada kami dari Abdurrahman bin Al Aswad dari ayahnya, Abdullah bin Mas'ud memberitahukan kepada kami: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan bacaan tasyahud dalam shalat, ia berkata, “Kami menghafalnya dari Abdullah bin Mas'ud sebagaimana kami menghafal huruf-huruf Al Qur'an wawu dan alif. Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di atas —lantai dengan— bokong beliau yang kiri, maka beliau mengucapkan, 'Penghormatan hanya milik Allah, juga segala Anugerah dan kebaikan. Keselamatan atasmu wahai nabi, rahmat Allah dan keberkahannya. Keselamatan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah’ lalu beliau berdoa untuk dirinya kemudian mengucapkan salam dan kembali.’857 Shahih Ibnu Khuzaimah 703: Bundar dan Yahya bin Hakim mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Yahya menceritakan kepada kami, Al Amasy menceritakan kepada kami Syaqiq menceritakan kepada kami, Abdullah menceritakan kepada kami, Ha’, Muhammad bin Al A'la bin Kuraib menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami, Ha’, Harun bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami, Ha', Salm bin Junadah menceritakan kepada kami, Waki' dan Ibnu Idris menceritakan kepada kami seluruhnya berasal dari Al A'masy, Ha', Abu Musa menceritakan kepada kami, Abu Muawiyah mengabarkan kepada kami, Abu Hashin bin Ahmad bin yunus menceritakan kepada kami, Abtsar menceritakan kepada kami, Al A'masy menceritakan kepada kami, dari Abu Wail, dari Abdullah, ia berkata, “Apabila kami duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam tasyahud, maka kami mengucapkan, 'Keselamatan atas Allah dari hamba-hamba-Nya. Keselamatan atas fulan dan fulan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Jangan kalian mengucapkan keselamatan atas Allah: Sesungguhnya Allah SWT Dzat pemberi keselamatan. Akan tetapi apabila salah seorang dari kalian duduk, maka ucapkanlah, 'Penghormatan hanya milik Allah, juga anugerah dan kebaikan. Keselamatan atasmu wahai nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Keselamatan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shaleh', sesungguhnya apabila kalian katakan hal tersebut, maka bacaan kalian menyentuh seluruh hamba Allah SWT yang shaleh di langit dan di bumi; 'Aku bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi sesungguhnya nabi Muhammad hamba dan rasul-Nya', kemudian hendaklah salah seorang dari kalian memilih doa yang ia kagumi lalu hendaklah ia berdoa” 858 . Ini adalah redaksi hadits Bundar. Hadits Ibnu Fudhail, Abtsar dan Ibnu Idris yang berakhir pada perkataannya, “Dan, rasul-Nya.” Mereka tidak mengatakan, “Kemudian hendaklah salah seorang dari kalian memilih doa hingga akhir redaksi.” Shahih Ibnu Khuzaimah 704: Abu Hashain mengabarkan kepada kami, Abtsar menceritakan kepada kami, Hashain mengabarkan kepada kami, Salm bin Junadah menceritakan kepada kami, Ibnu Idris menceritakan kepada kami, Hushein menceritakan kepada kami, Ha’, Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami dari Manshur, Ha’, Yusuf bin Musa juga menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami dari Al Mughirah, seluruhnya dari Abu Wa'il dari Abdullah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam tasyahud. Hadits Al Amasy hingga pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Dan rasul- Nya. ” Dan, ia menambahkan di dalam hadits Manshur dengan redaksi, “Kemudian hendaklah ia memilih doa yang ia kehendaki.”859 Shahih Ibnu Khuzaimah 705: Ar-Rabi’ bin Salman mengabarkan kepada kami, Syuaib —yaitu Ibnu Al-Laits— mengabarkan kepada kami, Al- Laits menceritakan kepada kami dari Abu Az-Zubair dari Said bin Jubair, Thawus dan Ibnu Abbas. Sesungguhnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan bacaan tasyahud kepada kami sebagaimana beliau mengajarkan Al Qur'an kepada kami. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan, 'Segala Peghormatan, keberkahan, anugerah dan kebaikan adalah milik Allah SWT, keselamatan atasmu wahai nabi, rahmat Allah dan keberkahannya. Keselamatan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan, kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah', ”860 Shahih Ibnu Khuzaimah 706: Abdullah bin Said Al Asyaj mengabarkan kepada kami, Yunus bin Bukair mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq dari Abdurahman bin Al Aswad dari ayahnya dari Abdullah, ia berkata, “Termasuk sunah melirihkan bacaan tasyahud.”861 Shahih Ibnu Khuzaimah 707: Salm bin Junadah menceritakan kepada kami, Hafash —ia adalah Ibnu Ghiyats— menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata, “Ayat ini diturunkan dalam masalah tasyahud, “Dan, janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya. ” (Qs. Al Isra' [17]: 110) 862 Shahih Ibnu Khuzaimah 708: Ahmad bin Al Azhar mengabarkan kepada kami —Aku menuliskannya dari naskah aslinya— ayahku menceritakan kepada kami dari Ibnu Ishaq, ia berkata, dan telah menceritakan kepadaku tentang bacaan tasyahud Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dipertengahan dan diakhir pelaksanaan shalat oleh [Abdurrahman bin Al Aswad bin Yarid An Nakha’i dari ayahnya], ia berkata, 'Kami menghafalnya dari Abdullah bin Mas’ud sebagaimana kami menghafal huruf-huruf Al Qur’an, saat ia mengabarkan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepadanya. la berkata, 'Apabila Rasulullah duduk di tengah dan akhir shalat di atas bagian bokong kiri beliau, maka beliau mengucapkan, “Segala penghormatan, keberkahan, anugerah dan kebaikan adalah milik Allah SWT, keselamatan atasmu wahai nabi. rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Keselamatan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. ia berkata. Kemudian apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berada di pertengahan waktu shalat, maka beliau bangun saat selesai membaca dua tasyahud. Dan, apabila ia berada diakhir waktu shalat, maka beliau berdoa setelah membaca doa tasyahud sesuai dengan doa yang diinginkan, kemudian mengucapkan salam."863 Abu Bakar berkata, "Ungkapan, 'Diakhir waktu shalat, di atas bagian bokong kiri beliau maksudnya adalah beliau duduk diakhir waktu shalat, bukan pada pertengahan shalat, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdul Ala dari Muhammad bin Ishaq dan Ibrahim bin Said Al Juhairi dari Ya’kub bin Ibrahim." Shahih Ibnu Khuzaimah 709: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb Al Qurasyi mengabarkan kepada kami, pamanku menceritakan kepada kami, Abu Hani' menceritakan kepadaku, bahwa Abu Ali Al Janbi menceritakannya, bahwa ia mendengar Fadhalah bin Ubaid berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki berdoa di dalam shalat, tetapi ia tidak memuji Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. beliau lalu bersabda, 'Engkau terburu-buru wahai orang yang melaksanakan shalat Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan mereka. Lalu beliau mendengar seorang lak-laki membaca shalawat pada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai orang yang melaksanakan shalat, berdoalah engkau pasti dikabulkan dan mintalah, pasti engkau diberi'. 864 Shahih Ibnu Khuzaimah 710: Bakar bin Idris bin Al Hajjaj bin Harun Al Muqri mengabarkan kepada kami, Abu Abdurrahman Al Muqri mengabarkan kepada kami dari Abu Hani' dari Abu Ali Amr bin Malik Al Janbi dari Fadhalah bin Ubaid Al Anshari: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melihat seorang laki-laki melaksanakan shalat, di mana ia tidak memuji Allah, tidak memberikan penghormatan kepada-Nya, serta tidak membaca shalawat kepada Nabi dan langsung pergi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Orang tersebut terburu-buru", lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil dan bersabda untuknya dan untuk orang lain, “Apabila salah seorang dari kalian melaksanakan shalat, maka mulailah dengan memberi penghormatan pada Tuhannya, memuji kepada-Nya dan membaca shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian berdoa sesuai dengan apa yang ia kehendaki.”865 Shahih Ibnu Khuzaimah 711: Abu Al Azhar mengabarkan kepada kami, dan aku menuliskannya dari naskah aslinya, Yakub mengabarkan kepada kami (86-ba’), Ayahku mengabarkan kepada kami dari ibnu Ishaq, ia berkata, Muhammad bin Ibrahim dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Abdur-Rabih telah menceritakan kepadaku tentang membaca shalawat atas Rasulullah apabila seorang muslim membaca shalawat kepada beliau dalam shalat; dari Abu Mas'ud Uqbah bin Amir, ia berkata, “Pernah ada seorang laki-laki yang ingin menghadap, dan ia duduk dihadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sementara kami berada di sisinya, kemudian ia berkata, 'Wahai Rasulullah adapun doa keselamatan, maka kami telah mengetahuinya, kemudian bagaimana kami membaca shalawat kepadamu, saat kami dalam keadaan shalat? Ia berkata, Kemudian aku terdiam hingga kami ingin laki-laki tersebut tidak bertanya kembali kepada beliau. Kemudian beliau bersabda, 'Apabila kalian membaca shalawat kepadaku, maka ucapkanlah, Ya Allah berilah anugerah kepada Muhammad yang buta huruf serta berilah anugerah kepada keluarga Muhammad sebagaimana engkau memberikan anugerah kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim dan berilah keberkahan kepada Muhammad yang buta huruf serta berilah anugerah kepada keluarga Muhammad sebagaimana engkau memberi keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Dzat yang terpuji dan Dzat yang terhormat'. ” 866 Shahih Ibnu Khuzaimah 712: Abdul Jabar bin Al Ala' mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, Yahya bin Sa'id menceritakan kepadaku dari Muslim, kemudian aku bertemu Muslim, lalu Muslim bin Abu Maiyam menceritakan kepadaku, Ali bin Abdurrahman Al Mu'awi menceritakan kepadaku, ia berkata, Aku pernah melaksanakan shalat Zhuhur di samping Ibnu Umar, Ha’, Abu Musa, Yahya bin Hakim dan Said bin Abdurrahman Al Makhzumi menceritakan kepada kami dari Muslim bin Abu Maryam dari Ali bin Abdurrahman Al Mu'awi. Yahya bin Hakim berkata, ia berkata: Aku mendengar Ali bin Abdurrahman Al Anshari berkata, “Aku pernah melaksanakan shalat disamping Ibnu Umar, kemudian aku membalik batu kerikil, kemudian ia berkata, 'Janganlah engkau membalik batu kerikil, akan tetapi lakukanlah sesuatu sebagaimana aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan.' Aku berkata, 'Dan, bagaimana kamu melihat beliau melakukan shalatnya?' Ia berkata, Demikian..., beliau meletakkan tangan kirinya di atas paha kiri dan tangan kanan di atas paha kanan dan mengangkat jari telunjuk'.“ 867 Ini adalah hadits Yahya bin Hakim. Yahya juga menambahkan. Ia berkata, “Sufyan menceritakan kepada kami, ia berkata, Yahya bin Said menceritakan kepada kami dengan hadits ini, dari Muslim bin Abu Maryam, lalu aku bertemu dengan Muslim, aku bertanya kepadanya, lalu ia menceritakan kepadaku dengan hadits tersebut'.” Al Makhzumi berkata di dalam haditsnya, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya di atas paha kanan dan menggabungkan dua jari serta melingkarkan jari-jari tengah serta memberikan isyarat dengan jari yang menyandingi jari jempol (telunjuk), lalu meletakkan tangan kiri di atas paha kiri.” Shahih Ibnu Khuzaimah 713: Harun bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Fudhail mengabarkan kepada kami, Ha’, Al Asyaj menceritakan kepada kami, Ibnu Idris mengabarkan kepada kami, Ha’, Ali bin Khasyram menceritakan kepada kami, Abdullah —ia adalah— Ibnu Idris mengabarkan kepada kami, Ha’, Abdul Jabar bin Al Ala' dan Sa’id bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami; seluruhnya dari Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Wa'il bin Hujr. Ini adalah redaksi hadits Ibnu Fudhail, ia berkata, “Aku termasuk orang yang mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian aku berkata, 'Aku pasti akan melihat cara shalat Rasulullah SAW; bagaimana beliau melaksanakan shalat; ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk, beliau membaringkan kaki kirinya lalu meletakkan tangan kiri di atas paha kiri kemudian meletakkan batas siku tangan kanan beliau di atas paha kanan kemudian menggabungkan —yaitu dua jari— lalu membuat lingkaran dan memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan berdoa'.”869 Ibnu Khasyram berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melingkarkan jari tengah, jari jempol dan mengangkat jari yang berada di antara keduanya kemudian berdoa dengannya- maksudnya dengan jari-jari telunjuk.” Shahih Ibnu Khuzaimah 714: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Muawiyah bin Amr mengabarkan kepada kami, Zaidah menceritakan kepada kami, Ashim bin Kulaib Al Jarmi mengabarkan kepada kami, Ayahku mengabarkan kepadaku, bahwa Wa'il bin Hujr mengabarkan kepadanya, ia berkata, Aku katakan, “Aku pasti akan melihat cara shalat Rasulullah SAW; bagaimana beliau melaksanakan shalat.” Aku berkata, “Aku melihat beliau melaksanakan shalat. Kemudian beliau membaca takbir.” Lalu ia menyebutkan sebagian hadits dan berkata, “Kemudian beliau duduk dengan membaringkan kaki kiri beliau dan meletakkan telapak tangan kiri di atas paha kiri serta lutut kiri beliau dan meletakkan batas siku tangan kanan beliau (87-alif) di atas paha kanan kemudian beliau menggenggam kedua jari dan membentuk lingkaran lalu mengangkat jari beliau. Aku melihat beliau menggerakkannya dan berdoa dengannya.” 870 Abu Bakar berkata, “Tidak ada redaksi lain dalam ungkapan “Beliau menggerakkan” kecuali dalam hadits ini; dalam bentuk tambahan. Shahih Ibnu Khuzaimah 715: Harun bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Bahz menceritakan kepada kami, dari Isham bin Qudamah dari Malik Al Khuza’i, dari ayahnya, ia berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam shalat meletakkan tangan kanan di atas paha kanan. Sementara beliau memberikan isyarat dengan jari beliau.” 871 Muhammad bin Rafi' mengabarkan kepada kami, Yahya bin Adam menceritakan kepada kami dari Isham, lalu ia menyebutkan hadits. Shahih Ibnu Khuzaimah 716: Abu Thahir memberitahukan kepada kami, Abu Bakar mengabarkan kepada kami, Abdul Ala bin Washil bin Abdul Ala mengabarkan kepada kami, Al Fadhl mengabarkan kepada kami, Isham bin Qudamah Al Jadali mengabarkan kepada kami, Malik bin Numair Al Khuza'i menceritakan kepadaku, dari penduduk Bashrah, bahwa ayahnya menceritakan hadits kepadanya, ia melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di dalam shalatnya meletakkan lengan kanan di atas paha kanannya dengan mengangkat jari telunjuknya. Beliau sungguh melengkungkannya 872 sedikit dan beliau berdoa. 873 Shahih Ibnu Khuzaimah 717: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abdur-Razaq mengabarkan kepada kami, Ma'mar mengabarkan kepada kami dari Ubaidullah bin Umar, dari Nafi', dari Ibnu Umar, “Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila duduk di dalam shalat, beliau meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya dan mengangkat jari yang menyandingi jempol kanan, kemudian berdoa dengannya, sementara tangan kiri beliau berada pada lututnya yang ia mekarkan.” 874 Shahih Ibnu Khuzaimah 718: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya bin Sa'id mengabarkan kepada kami, Ibnu Ajian mengabarkan kepada kami dari Amir bin Abdullah bin Az-Zubair dari ayahnya, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila membaca tasyahud, beliau meletakkan tangan kiri di atas paha kiri dan meletakkan tangan kanan di atas paha kanan dan memberikan isyarat dengan jari telunjuk beliau, pandangannya tidak melewati yang beliau isyaratkan. 875 Shahih Ibnu Khuzaimah 719: Ali bin Hujr mengabarkan kepada kami, Ismail —yaitu Ibnu Ja'far— mengabarkan kepada kami, Muslim bin Abu Maryam mengabarkan kepada kami, dari Ali bin Abdurrahman Al Mu'awi dari Abdullah bin Umar: Sesungguhnya Abdullah bin Umar melihat seorang laki-laki menggerakkan batu kerikil dengan tangannya, padahal ia dalam keadaan melaksanakan shalat. Ketika selesai, Abdullah berkata kepadanya, “Janganlah kamu menggerakkan batu kerikil sementara kamu sedang melaksanakan shalat, sebab sesungguhnya hal tersebut termasuk perbuatan syetan. Tetapi lakukanlah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya di atas paha dan memberikan isyarat dengan jari telunjuk dengan menyandingi jari jempol menghadap ke arah kiblat dan melemparkan pandangannya kepadanya atau sejajar dengannya (apa yang ditunjuk oleh jari telunjuk).” Kemudian ia berkata, “Demikianlah aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan.” 876 Shahih Ibnu Khuzaimah 720: Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami dari Abu Ishaq, ia berkata: Aku mendengar Abul Ahwash menceritakan hadits dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Ingatlah sesungguhnya kami tidak mengetahui apa yang kami akan ucapkan di dalam setiap dua rakaat kecuali kami bertasbih, bertakbir dan memuji Tuhan kami, dan sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui pembuka-pembuka kebaikan dan pengumpul-pengumpulnya. Lalu beliau bersabda,'Apabila kalian duduk di dalam setiap dua rakaat, maka ucapkanlah, 'Segala penghormatan milik Allah, dan anugerah yang baik Keselamatan atasmu wahai nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad hamba dan utusan Allah' lalu salah seorang dari kalian memilih doa yang dikagumi, kemudian berdoalah dengannya.”878 Shahih Ibnu Khuzaimah 721: Ali bin Khasyram mengabarkan kepada kami, Isa —yaitu Ibnu Yunus— mengabarkan kepada kami, Ha’, Muhammad bin Ismail Al Ahmasi mengabarkan kepada kami, Waki' mengabarkan kepada kami, Ha’, Harun bin Ishaq menceritakan kepada kami, Mukhlid bin Yazid Al Harrani menceritakan kepada kami, seluruhnya (87-ba’) dari Al Auzai dari Hasan bin Athiah dari Muhammad bin Abu Aisyah dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian membaca doa tasyahud, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari empat hal, ia berkata, 'Ya Allah aku berlindung kepadamu dari siksa neraka jahanam, dari siksa kubur, dari kejahatan fitnah Dajjal dan dari kejahatan fitnah orang yang masih hidup dan orang yang sudah meninggal dunia'. Ini adalah hadits Waki’.879 Dalam hadits Isa dikatakan, “Aku mendengar Abu Hurairah.” Muhammad bin Ismail Al Ahmasi mengabarkan kepada kami, Waki' mengabarkan kepada kami dari Al Auza'i dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salmah dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan hadits sejenis. Shahih Ibnu Khuzaimah 722: Al Hasan bin Muhammad Az-Za’farani mengabarkan kepada kami, Rauh mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Thawus Mengabarkan kepadaku dari ayahnya: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan —setelah tasyahud— kalimat-kalimat yang sangat beliau agungkan. Aku bertanya, “Apakah pada dua rakaat semuanya?” Ayahku berkata, "Hanya pada dua rakaat terakhir setelah tasyahud.” Aku bertanya kembali, “Apa itu?” Ayahku berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari siksa kubur, aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka jahanam, aku berlindung kepada Allah dari kejahatan Dajal, aku berlindung kepada Allah dari siksa kubur880 dan aku berlindung kepada Allah dari fitnah kehidupan dan kematian” Ia berkata, “Rasulullah mengagungkan kalimat-kalimat tersebut.” 881 Ibnu Juraij berkata, “Ia mengabarkan hadits kepadaku dari Aisyah dari nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.” Shahih Ibnu Khuzaimah 723: Bahr bin Nasr mengabarkan kepada kami, Yahya —yaitu Ibnu Hisan— mengabarkan kepada kami, Yusuf bin Ya’kub Al Majisyun mengabarkan kepada kami dari ayahnya dari Al A'raj dari Ubaidullah bin Abu Rafi’ dari Ali bin Abu Thalib; Sesungguhnya sesuatu yang paling akhir diucapkan nabi antara doa tasyahud dan salam adalah, “Ya Allah ampunilah aku terhadap apa yang kudahulukan dan yang ku akhirkan, yang kusembunyikan dan kutampakkan, dan sesuatu yang kuperbuat dengan berlebih-lebihan dan tidaklah engkau kecuali lebih mengetahui dari padaku. Engkau adalah Dzat Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir. Tidak ada Tuhan selain Engkau.” 882 Shahih Ibnu Khuzaimah 724: Abdul Warits bin Abdush-Shamad mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Husein Al Mualim883 menceritakan kepadaku kami, dari (1) Ibnu Buraidah. Handzalah bin Ali menceritakan kepadaku, sesungguhnya Mihjan bin Al Adra’ menceritakannya; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memasuki masjid dan tiba-tiba beliau bertemu dengan seorang laki- laki yang telah menyelesaikan shalatnya, di mana ia membaca tasyahud dan mengucapkan, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu atas nama Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tempat bergantung yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya dan agar Engkau mengampuni dosa-dosaku, sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Allah SWT telah mengampuninya, telah mengampuninya” dikatakan sebanyak tiga kali. 884 Shahih Ibnu Khuzaimah 725: Yusuf bin Musa mengabarkan kepada kami, Jarir mengabarkan kepada kami, dari Al A'masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada seorang laki-laki, “Apa yang kamu katakan dalam shalat?” ia berkata, “Aku bertasyahud. Kemudian aku mengucapkan, 'Ya Allah sesungguhnya aku memohon surga dan aku berlindung kepada-Mu dari api neraka.' Demi Allah betapa elok dandanah dan bukan juga dandanah Muadz.” [Nabi SAW] bersabda, “Disekitar keduanya kami mengalunkan.”885 Abu Bakar berkata, “Dandanah adalah ucapan yang bisa didengar namun tidak dapat dipahami.” Shahih Ibnu Khuzaimah 726: Bundar mengabarkan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Ja’far Az-Zuhri mengabarkan kepada kami, dari Ismail bin Muhammad, dari Amir bin Sa'ad, dari ayahnya; Sesungguhnya Nabi mengucapkan salam ke arah kanan hingga terlihat warna putih pipinya, serta ke arah kiri, hingga terlihat warna putih pipinya. 886 Shahih Ibnu Khuzaimah 727: Atabah bin Abdullah Al Yahmadi mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Al Mubarak mengabarkan kepada kami, Mash’ub bin Tsabit mengabarkan kepada kami, dari Ismail bin Muhammad, dari Amir bin Sa'ad bin Abu Waqash dari ayahnya, ia berkata, “Aku melihat Nabi mengucapkan salam ke arah kanan dan ke arah kiri hingga terlihat warna putih pipinya.” Az-Zuhri berkata, “Kami tidak mendengar ini dari hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Ismail berkata, “Apakah engkau mendengar seluruh hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut?” Ia berkata, “Tidak.” Ia berkata, “Tidak juga dua pertiganya?” Ia menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Tidak juga separuh?” Ia menjawab, ‘Tidak.” Ia berkata, “Ini termasuk separuh hadits yang belum engkau dengar.” 887 Shahih Ibnu Khuzaimah 728: Ishaq bin Ibrahim bin Hubaib bin Asy- Syahid dan Ziad bin Ayub, Ishaq berkata, Umar menceritakan kepada kami, Ziyad berkata, Umar bin Ubaid Ath-Thanafisi menceritakan kepadaku dari Abu Ishaq, dari Abu Al Ahwash Abdullah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan salam ke arah kanan hingga warna putih pipinya terlihat; Keselamatan atas kalian, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Dan ke arah kiri hingga nampak wama putih pipinya; keselamatan atas kalian, rahmat Allah dan keberkahan-Nya.888 Shahih Ibnu Khuzaimah 729: Muhammad bin Yahya, Muhammad bin Khalaf Al Asqalani dan Muhammad bin Mahdi Al Athar mengabarkan kepada kami, mereka berkata, Amr bin Abu Salmah menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhair bin Muhammad Al Makki dari Hiysam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah; Sesungguhnya nabi mengucapkan sekali salam saja di dalam shalat dengan menghadapkan wajahnya condong sedikit ke bagian kanan. 889 Ibnu Mahdi berkata: ia berkata, “Aku adalah Zuhair bin Muhammad Al Makki.” Shahih Ibnu Khuzaimah 730: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Mu'alla bin Asad Al Ammi mengabarkan kepada kami, Wuhaib menceritakan kepada kami dari Ubaidullah bin Umar dari Al Qasim dari Aisyah RA; Sesungguhnya ia mengucapkan sekali salam dengan menghadapkan wajahnya mengucapkan, “Assalaamu Alaikum” 890 Shahih Ibnu Khuzaimah 731: Muhammad menceritakan kepada kami, Mu'ala menceritakan kepada kami, Wuhaib menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari Ayahnya; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan satu kali salam, “Assalamu'alaikum ”.891 Shahih Ibnu Khuzaimah 732: Bundar menceritakan kepada kami, Yahya menceritakan kepada kami dari Ubaidullah dari Al Qasim, ia berkata, “Aku melihat Aisyah mengucapkan satu kali salam.” 892 Bundar mengabarkan kepada kami, Abdul Wahab mengabarkan kepada kami, Ubaidullah mengabarkan kepada kami dengan hadits sejenis: Ia menambahkan dan Aisyah tidak menoleh ke arah kanan dan ke arah kiri. Shahih Ibnu Khuzaimah 733: Bundar dan Al Hasan bin Muhammad mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, ia berkata, Mis’ar mengabarkan kepada kami, Ha’, Ali bin Khasyram mengabarkan kepada kami, Isa —ia adalah Ibnu Yunus— mengabarkan kepada kami dari Mis’ar bin Kaddam, Ha’, Al Husein bin Muhammad juga menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ubaid Ath-Thanafisi mengabarkan kepada kami, Mis’ar menceritakan kepada kami, Salm bin Junadah menceritakan kepada kami, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Mis’ar, dari Ubaidillah bin Al Qibtiyah, dari Jabir bin Samrah, ia berkata, “Apabila kami melaksanakan shalat di belakang nabi, maka kami mengucapkan kepada yang ada di sekitar, 'Asslamu’laikum' ke arah kanan dan ke arah kiri. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Mengapa aku melihat tangan kalian seperti ekor kuda yang terkena sengat sinar matahari. Salah seorang dari kalian hendaklah tenang di dalam shalat ' "893 Ini adalah hadits Bundar. Ulama lain berkata, “Cukup bagi salah seorang dari kalian meletakkan tangannya di atas pahanya kemudian mengucapkan salam ke arah kanan dan kiri.” Hanya saja Ibnu Khasyram berkata di dalam haditsnya, “Kemudian Rasulullah mengucapkan salam ke arah kanan dan kiri. Dalam hadits Waqi' dikatakan, “Mengucapkan salam atas saudaranya ke arah kanan dan kiri.” Al Hasan bin Muhammad dalam hadits Yazid berkata, “Apabila kami melaksanakan shalat dibelakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kami mengucapkan, “ Keselamatan atas Allah, keselamatan atas malaikat Jibril keselamatan atas malaikat Mikail. ” Abu Khalid memberi Isyarat —ia adalah Yazid bin Harun— dengan tangannya lalu ia melemparkan (menolehkan) wajahnya ke arah kanan dan kiri. Al Hasan bin Muhammad berkata, “Kemudian ia menyebutkan hadits yang sepadan, yaitu seperti hadits Muhammad bin Ubaid.” Shahih Ibnu Khuzaimah 734: Amr bin Ali Ash-Shairafi mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Yusuf Al Firyani mengabarkan kepada kami, Al Auzai menceritakan kepada kami, dari Qurrah bin Abdurrahman, dari Az-Zuhri, dari Abu Salmah, dari Abu Hurairah: Dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkata, “Menghilangkan salam adalah sunah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.”894 Shahih Ibnu Khuzaimah 735: Ali bin Sahi Ar-Ramli menceritakannya kepada kami, Umarah bin Bisyr Al Mishshishi menceritakan kepada kami dari Al Auzai, dengan sanad ini, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Menghilangkan salam adalah sunah hukumnya.895 Abu Bakar berkata, “Isa bin Yunus, Ibnu Al Mubarak dan Muhammad bin Yahya meriwayatkan hadits dari Al Firyani. Mereka berkata, “Dari Abu Hurairah, ia berkata, Menghilangkan salam adalah sunah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (88 -ba’)." Abu Amar menceritakan kepada kami, Isa bin Yunus menceritakan kepada kami, Ha’, Muhammad bin Shafwan Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, Abdurrahman menceritakan kepada kami, Ha’, Yahya bin Hakim menceritakan kepada kami, Hirmi bin Imarah menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Abdullah bin Al Mubarak mengabarkan kepada kami, Ha’, Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Muhammad bin Yusuf mengabarkan kepada kami seluruhnya dari Al Auza'i. Shahih Ibnu Khuzaimah 736: Ya’kub Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Abu Muawiyah mengabarkan kepada kami, dari Ashim Al Ahwal dari Ausajah bin Ar-Rammah dari Abdullah bin Abul Hudzail dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata. “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengucapkan salam di dalam shalat, beliau tidak duduk kecuali sekedar mengucapkan “Ya Allah, Engkau Dzat Yang Maha Pemberi Keselamatan dan dari-Mu lah keselamatan tersebut. Maha berkah Engkau wahai Dzat Yang Maha Agung dan Mulia.’”896 Shahih Ibnu Khuzaimah 737: Muhammad bin Miskin Al Yamami dan Al H asan bin Israil Al-Lu’lu'i Ar-Ramli mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Bisyr bin Bakr menceritakan kepada kami, Al-Lu’Lu'i berkata, ia berkata, seseorang menceritakan kepadaku, Al Yamami berkata, ia berkata, Al Auzai mengabarkan kepada kami, Abu Ammar menceritakan kepadaku, Abu Asma' Ar-Rahabi menceritakan kepadaku, Tsaubah —Maula Rasulullah SAW— menceritakan kepadaku, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila ingin berpaling dari shalatnya, beliau membaca istighfar tiga kali kemudian mengucapkan, 'Ya Allah engkau Dzat Yang Maha Memberi keselamatan dan dari-Mu-lah keselamatan itu, Maha berkah Engkau Dzat yang Maha agung dan Maha Mulia”897 Ahmad bin Yazid bin Alil Al Anazi Al Mishri menceritakan kepada kami, mereka berkata, Amr bin Abu Salmah menceritakan kepadaku dari Al Auza'i dengan sanad ini dan sanad sejenis yang sama.br>Amr bin Hiysam Al Bairuti meriwayatkan dari Al Auza'i, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan doa ini sebelum salam.” Shahih Ibnu Khuzaimah 738: Muhammad bin Maimun Al Makki mengabarkan kepada kami, Amr bin Hasyim Al Bairuti Mengabarkan kepada kami, Al Auza'i menceritakan kepadaku, Abu Ammar menceritakan kepadaku dari Abu Asma Ar-Rahabi dari Tsauban —hamba sahaya Rasulullah SAW—; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila ingin mengucapkan salam di dalam shalat, maka beliau membaca istighfar tiga kali kemudian mengucapkan, “Ya Allah engkau Dzat Yang Maha Memberi keselamatan dan dari-Mu- lah keselamatan itu. Maha Berkah Engkau Dzat Yang Maha Agung dan Mulia ” kemudian beliau mengucapkan salam.”898 Abu Bakar berkata, “Apabila Amr bin Hasyim atau Muhammad bin Maimun tidak salah dalam redaksi hadits ini, yang aku maksud dari perkataan, 'Sebelum salam', adalah sesungguhnya bab ini dikembalikan kepada doa sebelum salam.” Shahih Ibnu Khuzaimah 739: Ya’kub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Ismail bin Ulaiyah mengabarkan kepada kami. Al Hajaj bin Abu Utsman menceritakan kepadaku, Abu Zubair menceritakan kepada kami, ia berkata, aku mendengar Abdullah bin Zubair berpidato di atas mimbar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila mengucapkan salam di akhir shalat, beliau mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan kecuali Allah, kami tidak akan menyembah kecuali kepada-Nya pemilik kenikmatan. Anugerah dan pujian baik. Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Mereka ikhlas beragama sekalipun orang-orang kafir membencinya’.” 899 Shahih Ibnu Khuzaimah 740: Muhammad bin Khalaf Al Asqalani mengabarkan kepada kami, Adam —ia adalah Ibnu Abu Iyas— mengabarkan kepada kami Abu Umar Ash-Shan’ani —ia adalah Hafash bin Maisarah— mengabarkan kepada kami, dari Musa bin Uqbah dari Abu Az-Zubair Al Makki, dari Abdullah bin Zubair, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata saat shalatnya selesai sebelum beliau berdiri mengucapkan, “Tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan pujian. Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada kekuatan kecuali Allah dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya kenikmatan, anugerah dan pujian yang baik Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Mereka ikhlas beragama sekalipun orang-orang kafir membencinya.900 Shahih Ibnu Khuzaimah 741: Abdullah bin Muhammad Az-Zuhri Sufyan mengabarkan kepada kami, ia berkata, aku mendengarnya dari Abdah —ia adalah Ibnu Abu Lubanah— aku mendengarnya dari Warrad, sekretaris Al Mughirah, ia berkata, Muawiyah menulis kepada Al Mughirah. Ia mengabarkan kepadaku dengan hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (89-alif) apabila selesai shalat, Ha’, Al Hasan bin Muhammad menceritakan kepada kami, Asbath bin Muhammad mengabarkan kepada kami, Abdul Malik bin Umair mengabarkan kepada kami, Ha’, Abu Musa dan Yahya bin Hakim menceritakan kepada kami, Keduanya berkata, Abdurrahman menceritakan kepada kami, Sufyan dari Abdul Malik mengabarkan kepada kami, Ziyad bin Ayub menceritakan kepada kami, Hasyim menceritakan kepada kami, Abdul Malik mengabarkan kepada kami, ia berkata, aku mendengar Warrad menceritakannya. Dalam hadits Asbath dan Sufyan, dari Warrad, dari Al Mughirah bin Syu’bah; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan doa setelah shalat, “Tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau halangi. Tidak akan bermanfaat kekayaan dan kemuliaan karena kekayaan dan kemuliaan adalah dari-Mu.”901 Dalam hadits Abdurahman, Al Mughirah bin Syu’bah menuliskan hadits kepadaku dan aku menulis hadits kepada Muawiyah; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkannya setiap selesai melaksanakan shalat wajib. Adapun Abu Hasyim, maka ia menceritakan kepada kami dengan hadits Hasyim setelah hadits Mughirah dan Mujalid dari Asy-Sya’bi dari Warrad; Sesungguhnya Muawiyah menulis surat kepada Mughirah agar aku menulis sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah, ia berkata: Al Mughirah menulis kepadanya, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat berpaling dari shalat mengucapkan, “Tidak ada Tuhan selain Allah. Tuhan yang Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu"dibaca tiga kali" Ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mengucapkan sesuatu yang tidak jelas, banyak bertanya, menyia-nyiakan harta, melarang memberi sesuatu yang diperintah dan mengambil sesuatu yang bukan haknya, durhaka kepada ibu dan mengubur anak perempuan hidup-hidup.” Ad-Dauraqi dan Abu Hisyam mengabarkan kepada kami, tidak hanya satu ulama hadits yang mengabarkan kepada kami, di antaranya adalah Al Mughirah, Mujalid dan laki-laki ketiga, semuanya dari Asy-Sya’bi, kemudian Abu Hasyim mengabarkan kepada kami setelah hadits ini. Hasyim mengabarkan kepada kami, Abdul Maliki bin Umar mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Aku mendengar Warad menceritakan hadits ini dari Al Mughirah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam." Shahih Ibnu Khuzaimah 742: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Hajjaj bin Minhal dan Abu Shalih penulis hadits Imam Al-Laits, seluruhnya dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah dari pamannya Al Majisyun bin Abu Salamah dari Al A'raj —ia adalah Abdurrahman bin Hurmuz— dari Ubaidullah dari Abu Rafi’ dari Ali bin Abu Thalib, dari Rasulullah SAW; Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila selesai dari shalatnya, beliau mengucapkan salam, lalu beliau mengucapkan, "Ya Allah ampunilah aku terhadap apa yang kudahulukan dan kuakhirkan, yang kusembunyikan dan kutampahkan, dosa karena sikapku yang berlebihan dan tidaklah Engkau kecuali lebih mengetahui dari padaku tentangnya. Engkau adalah Dzat Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir. Tidak ada Tuhan selain Engkau.”902 Shahih Ibnu Khuzaimah 743: Muhammad bin Abbad bin Adam Al Bashri mengabarkan kepada kami, Marwan bin Muawiyah Al Fazari memberitahukan kepada kami, dari Abu Malik Al Asyja’i, dari ayahnya, ia berkata, “Kami pernah pergi di pagi hari menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu datang pula seorang laki-laki dan seorang wanita. Ia berkata, Wahai Rasulullah bagaimana yang aku ucapkan apabila aku melaksanakan shalat?' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Katakanlah: ya Allah! Ampunilah aku, berilah kasih sayang kepadaku, berilah aku petunjuk, maafkanlah aku, berilah aku rezeki.' Maka urusan dunia dan akhiratmu telah terkumpul.903 Shahih Ibnu Khuzaimah 744: Yunus bin Abdul A'la Ash-Shadafi mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, Hafash bin Maisarah mengabarkan kepadaku dari Musa bin Uqbah dari Atha' bin Abu Marwan dari ayahnya, “Sesungguhnya Ka'ab pernah bersumpah dengan Dzat yang telah memecah lautan untuk Nabi Musa sesungguhnya kami menjumpai di dalam kitab Taurat bahwa Daud nabiyullah apabila hendak berpaling dari shalatnya, ia mengatakan, 'Ya Allah perbaikilah agamaku yang Engkau jadikan ia sebagai tameng untukku dan perbaikilah urusan duniaku yang Engkau jadikan di dalamnya kehidupanku. Ya Allah Aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemarahan-Mu dan aku berlindung dengan maaf-Mu dari ancaman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dan perlindungan tersebut dari-Mu. Ya Allah tidak ada yang dapat mencegah terhadap apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau cegah. Kesungguhan tidak akan bermanfaat kekayaan dan kemuliaan sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari- Mu”. 904 Ia berkata, “Kaab menceritakan kepadaku, sesungguhnya Suhaib; sahabat nabi, menceritakan kepadanya bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan hal tersebut saat ingin berpaling dari shalat.” Shahih Ibnu Khuzaimah 745: Muhammad bin Utsman Al Ijli mengabarkan kepada kami, Ubaidullah bin Musa mengabarkan kepada kami dari Syaiban dari Abdul Malak bin Umair dari Mash’ab bin Saad (89 -ba') dan Amr bin Maimun Al Azdi, ia berkata, “Sa’ad mengajarkan anaknya mengenai kalimat-kalimat tersebut sebagaimana guru tulis mengajarkan anak-anak, ia berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca doa taawudz (memohon perlindungan) setelah shalat; yaitu: Ya Allah sesungguhnya aku berlindung Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikannya diriku kepada umur yang paling hina, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. 905 Shahih Ibnu Khuzaimah 746: Muhammad bin Ismail Al Ahmasi mengabarkan kepada kami, Waki’ mengabarkan kepada kami, dari Utsman Asy-Syahham dari Muslim bin Abu Bakar dari ayahnya; Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Mengucapkan doa diakhir shalat, “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kekujuran dan kefakiran serta siksa kubur.'906 Shahih Ibnu Khuzaimah 747: Abdul Jabar bin Al Ala' mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Bisyr bin Ashim dari ayahnya dari Abu Dzar, ia berkata, “Wahai Rasulullah! pemilik harta yang banyak telah pergi dengan membawa banyak pahala, mereka mengucapkan sebagaimana yang Engkau ucapkan, mereka mengeluarkan infak namun kami tidak mengeluarkannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Aku akan memberitahukanmu dengan suatu perbuatan yang apabila kamu amalkan, maka kamu akan bertemu dengan orang sebelum engkau dan orang setelahmu tidak dapat bertemu kecuali orang-orang yang mengucapkan seperti ucapanmu; Hendaklah kamu mengucapkan setelah shalat dengan membaca tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, membaca tahmid dan takbir seperti itu dan ketika kamu akan menuju tempat tidurmu'. 907 Shahih Ibnu Khuzaimah 748: Muhammad bin Abdul A'la Ash-Shaan’ani mengabarkan kepada kami, Al Mu’tamar mengabarkan kepada kami, ia berkata, aku mendengar Ubaidullah dari Sumai dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kaum Fakir miskin datang kepada Rasulullah, mereka berkata, Para pemilik harta telah pergi dengan membawa derajat yang tinggi dan nikmat yang abadi. Mereka melaksanakan shalat sebagaimana kami melaksanakan shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami melakukan puasa dan mereka memiliki banyak keistimewaan. Mereka melaksanakan ibadah haji dengan hartanya sekaligus ibadah umrah, mereka melakukan jihad dan bersedekah.’ Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ingatlah! aku akan memberitahukan kalian dengan sesuatu yang apabila kalian ambil, maka kalian kelak (di akhirat) dapat bertemu dengan pendahulu kalian dan tidak ada seorangpun sesudah kalian dapat bertemu dengan kalian. Dan kalian adalah orang-orang yang terbaik yang sempurna di hadapan Allah SWT kecuali terdapat orang lain yang mengamalkan seperti perbuatan kalian; di mana kalian bertasbih, membaca tahmid dan membaca takbir setelah shalat sebanyak tiga puluh tiga kali'. ” Ia berkata, “Terjadi perselisihan di antara kami, sebagian kami berkata, 'Kami bertasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, kami bertahmid tiga puluh tiga kali, dan kami membaca takbir tiga puluh empat kali', lalu aku kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ' Hendaklah engkau mengatakan, 'Maha Suci Allah. Segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar' sampai sempurna seluruhnya tiga puluh tiga kali.” Shahih Ibnu Khuzaimah 749: Abu Bisyr mengabarkan kepada kami, Khalid -—ia adalah Ibnu Abdillah— mengabarkan kepada kami dari Suhail dari Abu Ubaid dari Atha' bin Yazid Al-Laits dari Abu Hurairah: Dari nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barang siapa membaca tasbih setelah shalat sebanyak tiga puluh tiga kali dan membaca takbir sebanyak tiga puluh tiga kali serta bertahmid sebanyak tiga puluh tiga kali, maka hal tersebut menjadi sembilan puluh kali.” Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan untuk menyempurnakan seratus bacaan, “i>Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Tuhan yang Maha Esa tidak ada sekutu baginya. Bagi Allah kerajaan dan segala pujian. Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Kesalahan-kesalahan akan diampuni sekalipun kesalahan tersebut seperti buih yang ada di laut.’ 908 Shahih Ibnu Khuzaimah 750: Muhammad bin Mahdi Al Athar mengabarkan kepada kami, Al Muqri menceritakan kepada kami, Haiwah menceritakan kepada kami dari Uqbah bin Muslim dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Shunabihi dari Muadz bin Jabal, ia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyanding tanganku, lalu beliau bersabda kepadaku, 'Wahai Muadz, demi Allah sesungguhnya aku sangat mencintaimu.' Aku berkata, Demi ayahku, engkau dan ibuku, demi Allah sesungguhnya aku juga mencintaimu.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Muadz sesungguhnya aku berwasiat; janganlah engkau meninggalkan untuk mengucapkan setelah shalat doa, 'Ya Allah tolonglah aku agar dapat mengingatmu, bersyukur kepadamu dan menjadi hamba yang baik'.” Muadz juga memberikan wasiat yang sama kepada Ash- Shunabihi. Lalu Ash-Shunabihi memberikan wasiat yang sama kepada Abdurrahman Al Hubuli dan ia memberikan wasiat kepada Uqbah bin Muslim. Shahih Ibnu Khuzaimah 751: Abu Qudamah Ubaidullah bin Said mengabarkan kepada kami, Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, Hisyam bin Hasan mengabarkan kepada kami, Ha ', Al Husein bin Al Hasan menceritakan kepada kami Ats-Tsaqafi mengabarkan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Sirrin dari Katsir bin Aflah dari Zaid bin Tsabit, sesungguhnya ia berkata, “Kami diperintahkan untuk membaca tasbih setiap shalat sebanyak tiga puluh tiga kali dan bertahmid sebanyak tiga puluh tiga kali serta membaca takbir sebanyak tiga puluh empat kali. Seorang laki-laki dari kaum Anshar pernah didatangi seseorang dalam tidurnya, lalu dikatakan kepadanya, 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada kalian untuk membaca tasbih setiap selesai shalat sekian dan sekian?' Ia berkata, 'Ya!' Orang tersebut berkata, 'Jadikanlah masing-masing dua puluh lima dan jadikanlah bacaan la ilaha illallah berada di dalamnya ketika waktu pagi tiba, maka beliau mendatangi nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengabarkannya, lalu beliau bersabda,' Lakukanlah!”909 Ini adalah hadits Ats-Tsaqafi. Abu Qudamah berkata, “Seorang laki-laki datang di dalam tidurnya, kemudian dikatakan kepadanya, “Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan kalian agar membaca tasbih setiap selesai shalat tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali dan membaca takbir tiga puluh empat kali?' Ia berkata, 'Yah!' Lalu ia menyebutkan redaksi hadits yang tersisa Shahih Ibnu Khuzaimah 752: Abu Thahir memberitahukan kepada kami, Abu Bakar mengabarkan kepada kami, Yahya bin Hakim mengabarkan kepada kami, Sufyan bin Uyainah mengabarkan kepada kami, Ha’, Abdul Jabar bin Al Ala' menceritakan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami dan Muhammad bin Abdurrahman —ia adalah hamba sahaya keluarga Thalhah— dari Kuraib dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Huwairiyah binti Al Harits pernah berkata —nama aslinya adalah Barrah— kemudian nabi mengubah namanya, dan menamakannya Juwairiyah, sebab beliau tidak suka namanya berasal dari kata barrah (gandum) ia berkata, 'Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dan aku masih berada di tempat shalatku, lalu beliau kembali ketika matahari (waktu siang) mulai menyingsing dan aku berada di dalamnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Engkau masih berada di tempat shalatmu sejak aku keluar?’ Aku katakan, 'Ya!' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Aku telah mengucapkan empat kalimat tiga kali Seandainya seseorang dapat menimbang dengan sesuatu yang aku ucapkan, niscaya ia akan menyamai timbangannyaI Inilah ucapannya. 'Maha Suci Allah dan dengan segala pujian-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, sesuai keridhaan diri-Nya, seberat timbangan arsy-Nya dan sebanyak tinta kalimat-Nya”910 Ini adalah hadits Yahya bin Hakim. Abdul Jabar berkata, “Dari Ibnu Abbas; Sesungguhnya Nabi ketika keluar hendak melakukan shalat Subuh sementara Juwairiyah sedang duduk di masjid... Lalu ia menyebutkan hadits dan tidak menyebutkan ucapan apapun sebelum ini.” 911 Shahih Ibnu Khuzaimah 753: Ali bin Abdurrahman bin Al Mughirah Al Mishri mengabarkan kepada kami, Ibnu Abu Maryam menceritakan kepada kami, Yahya bin Ayub mengabarkan kepada kami, Ibnu Ajian menceritakan kepadaku dari Al Mash’ab bin Muhammad bin Syurahbil dari Muhammad bin Sa'ad bin Zurrah dari Abu Umamah Al Bahili; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berpapasan dengannya, sementara ia sedang menggerakkan kedua bibirnya, lalu beliau bertanya? “Apa yang engkau ucapkan wahai Abu Umamah?" Ia berkata, “Aku menyebut nama Tuhanku.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku ingin memberitahumu dengan sesuatu yang lebih banyak atau lebih utama dari dzikir yang engkau lakukan di malam sampai siang atau di waktu siang sampai malam? Hendaklah engkau mengucapkan, 'Maha suci Allah sebanyak bilangan sesuatu yang Dia ciptakan, Maha suci Allah sepenuh apa yang Dia ciptakan, Maha suci Allah sebanyak bilangan sesuatu yang ada di langit dan bumi, Maha suci Allah sepenuh apa yang di bumi dan di langit, Maha suci Allah sebanyak bilangan sesuatu yang telah dihitung oleh Maha suci Allah sebanyak bilangan segala sesuatu. Maha suci Allah sepenuh segala sesuatu' Dan, engkau mengucapkan ‘segala puji’ .. seperti itu. 911 Shahih Ibnu Khuzaimah 754: ia berkata, aku pernah membacakan hadits pada Muhammad Abdullah bin Abdul Hakam, kemudian ia mengabarkan kepadaku bahwa ayahnya telah mengabarkan kepada mereka, ia berkata, Al-Laits mengabarkan kepada kami, Al Hasan bin Muhammad menceritakan kepada kami, Ashim menceritakan kepada kami, —Ia adalah Ibnu Ali—, Laits menceritakan kepada kami dari Hunain Abu Hakim dari Ali bin Rabah. Dan, di dalam hadits Ibnu Abdul Hakam dari Ali bin Rabah dari Uqbah, ia berkata, “Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepadaku, 'Bacalah al muawadzatain pada setiap kali selesai melaksanakan shalat'.” Al Hasan bin Muhammad tidak mengatakan, "kepadaku". Shahih Ibnu Khuzaimah 755: Harun bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami, ', Isa bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab menceritakan kepada kami dari Hafsh bin Maisarah, keduanya dari Al Ala' bin Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila seseorang dari kalian melaksanakan shalat, kemudian ia duduk di tempat di mana shalat didirikan dalamnya, maka malaikat senantiasa berdoa untuknya, 'Ya Allah ampunilah ia, ya Allah kasih sayangilah ia', selagi ia belum berhadats.912 Ini adalah hadits Ibnu Fudhail. Dalam hadits Ibnu Wahab; sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “ Apabila seorang muslim melaksanakan shalat kemudian ia duduk di tempat shalatnya, (90-ba') maka malaikat senantiasa berdoa untuknya, 'Ya Allah ampunilah ia, Ya Allah kasih sayangilah ia', selagi ia belum berhadats atau belum bangun —dari tempat duduknya— Shahih Ibnu Khuzaimah 756: Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Ha’, Abu Musa menceritakan kepada kami, Abdurrahman menceritakan kepada kami, keduanya berkata Syu’bah menceritakan kepada kami dari Simak, Bahwa ia bertanya kepada Jabir bin Samrah mengenai apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila beliau telah melaksanakan shalat shubuh? Ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di tempat shalatnya apabila beliau melakukan shalat Subuh hingga matahari terbit. 913 Ini adalah redaksi hadits Bundar. Shahih Ibnu Khuzaimah 757: Abdul Jabar bin Al Ala' dan Sa'id bin Abdurrahman mengabarkan kepada kami, keduanya berkata, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Sa'id bin Al Musayyab, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Seorang laki-laki berdiri menghampiri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian ia berkata, 'Apakah salah seorang dari kami boleh melaksanakan shalat menggunakan satu pakaian?' beliau bersabda, 'Apakah masing-masing kalian memiliki dua pakaian?' Abu Hurairah menjawab kepada orang yang bertanya kepadanya? 'Apakah engkau mengetahui wahai Abu Hurairah? Ia adalah seseorang yang melaksanakan shalat dengan menggunakan satu pakaian dan pakaiannya diletakkan di atas gantungan. 914 Ini adalah hadits Sa'id bin Abdurrahman. Shahih Ibnu Khuzaimah 758: Bundar mengabarkan kepada kami, Yahya bin Sa'id menceritakan kepada kami, Yazid bin Kaisan menceritakan kepada kami, Abu Hazim menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah, ia berkata, “Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah berada pada genggaman tangan-Nya, engkau telah memperlihatkan kepadaku dan sesungguhnya aku melihat di dalam masjid seorang laki-laki melaksanakan shalat menggunakan dua pakaian dan kalian sekarang melaksanakan shalat menggunakan dua dan tiga pakaian.” 915 Shahih Ibnu Khuzaimah 759: Isa bin Ibrahim Al Ghafiqi menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab menceritakan kepada kami dari Makhramah dari ayahnya dari Sa'id bin Al Musayyib, “Ia pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang melaksanakan shalat menggunakan satu baju kurung dan tidak ada sarung baginya.” Said bin Al Musayyib berkata, “Hal tersebut tidak apa-apa apabila dapat menutupi aurat.” 916 Dan Amr bin Syu'aib pun berpendapat demikian. Bukair berkata, Sa'id bin Al Musayyib berkata, Ibnu Mas’ud berkata, “Kami pernah melaksanakan shalat menggunakan satu pakaian hingga Allah SWT mendatangkan beberapa pakaian kepada kami,” ia berkata, “Janganlah kalian melaksanakan shalat kecuali dengan dua pakaian.” Ubay bin Ka’ab berkata, “Hal tersebut tidak apa- apa. Kami melaksanakan shalat di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan satu pakaian, padahal kami memiliki dua pakaian.” Dan, pernah dipertanyakan kepada Umar bin Al Khaththab RA, “Apakah engkau tidak menetapkan hukum di antara keduanya —sementara ia bersama mereka—” Umar berkata, “Itu urusanku.” Shahih Ibnu Khuzaimah 760: Ahmad bin Abdah mengabarkan kepada kami, Hamad mengabarkan kepada kami —yaitu Ibnu Zaid—, Ha’, Bundar dan Yahya bin Hakim menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Yahya bin Said menceritakan kepada kami, Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami, Salam bin Junadah menceritakan kepada kami, Waki' mengabarkan kepada kami, seluruhnya berasal dari Hisyam bin Urwah, Ha’, Yahya bin Hakim menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Habib —ia adalah Ibnu Nadbah— mengabarkan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Umar bin Abu Salam ah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pemah melaksanakan shalat di kediaman Ummu Salamah menggunakan satu pakaian dan beliau membedakan kedua ujungnya.”917 Shahih Ibnu Khuzaimah 761: Yunus bin Abdul A’la mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Wahab mengabarkan kepada kami, Amr bin Al Harits dan Usamah bin Zaid Al-Laitsi mengabarkan kepadaku, dari Abu Zubair, dari Zubair bin Abdullah; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat dengan menggunakan satu pakaian, di mana beliau membedakan ujung keduanya yang dikalungkan pada kedua pundaknya, adapun bajunya berada di atas gantungan. 918 Shahih Ibnu Khuzaimah 762: Abu Qudamah mengabarkan kepada kami, Yahya mengabarkan kepada kami dari Sufyan, Abu Hazm menceritakan kepadaku dari Sahi bin Sa'ad, ia berkata, “Kaum laki-laki melaksanakan shalat bersama Nabi dengan mengikat sarung di atas bahu mereka seperti gerakan anak-anak. Dikatakan kepada kaum perempuan, 'Janganlah kalian mengangkat kepala kalian hingga kaum laki-laki duduk dengan sempurna'.” 919 Salam bin Junadah mengabarkan kepada kami dengan hadits sejenis, dan ia menambahkan redaksi, kemudian ia berkata, “Karena kain yang sempit.” Shahih Ibnu Khuzaimah 763: Harun bin Ishaq Al Hamdan menceritakan kepada kami, Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hazm, dan dari Abu Hurairah, ia berkata, “Aku bersama dengan tujuh puluh orang Ashabus Shuffah. Tidak ada seorangpun yang memiliki satu pakaian. Adakalanya selimut atau baju di mana mereka mengikatnya di atas leher mereka. Di antara mereka ada pakaian yang sampai pada betis dan ada juga pakaian yang mencapai kedua mata kaki, lalu pakaian disatukan dengan tangannya karena takut auratnya terlihat.” 920 Abu Bakar berkata, “Abu Hazim Madani namanya adalah Salamah bin Dinar yang meriwayatkan hadits dari Sahi bin Saad dan yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Salman Al Asyjai.” Shahih Ibnu Khuzaimah 764: Abdul Jabar bin Al Ala' dan Sa'id bin Abdurrahman keduanya mengabarkan kepada kami, kedunya berkata, Sufyan menceritakan kepada kami, Ha’, Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Az-Zinad menceritakan kepada kami, Salm bin Junadah menceritakan kepada kami, Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, seluruhnya dari Abu Az-Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah RA, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Janganlah salah seorang dari kalian melaksanakan shalat menggunakan satu pakaian yang tidak ada sesuatu apapun di atas lehernya.” Hanya saja Abdul Jabar berkata, “Hadits ini periwayatannya hanya sampai pada Abu Hurairah.” Shahih Ibnu Khuzaimah 765: Muhammad bin Abdullah bin Bazi' mengabarkan kepada kami. Abu Bahr Abdurrahman bin Utsman Al Bakrawi menceritakan kepada kami, Said bin Abu Arubah menceritakan kepada kami, Ayub menceritakan kepada kami dari Nafi', ia berkata, "Ibnu Umar melihatku sementara aku sedang melaksanakan shalat dengan menggunakan satu baju. Ibnu Umar berkata, 'Bukankah aku telah memberimu dua pakaian?' la berkata, 'Yah!' Ibnu Umar bertanya, 'Bagaimana pendapatmu seandainya aku mengutusmu untuk suatu kebutuhan apakah engkau akan berangkat dengan satu pakaian?' Aku katakan, Tidak.' Ia berkata, 'Allah lebih berhak untuk diberikan hiasan.' Lalu Umar berkata, 'Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Apabila salah seorang dari kalian hanya memiliki satu pakaian, maka ikatlah pinggangnya dan janganlah menyelimuti diri seperti orang Yahudi'." Abu Bakar berkata, “Hadits ini bersifat global tidak dijelaskan. Nabi menginginkan pakaian yang diperintahkan untuk diikat pada pinggangnya adalah pakaian yang sempit bukan yang longgar. Hal ini menjelaskan dua hadits ini.“ Shahih Ibnu Khuzaimah 766: Ia berkata, itu adalah apa yang telah Muhammad bin Rafi' ceritakan kepada kami, Syuraij menceritakan kepada kami dan An-Nu'man, Fulaih bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Said bin Al Harits; Jabir bin Abdullah datang, ia dan sekelompok orang sudah masyhur, ketika kami menemuinya, kami menjumpainya sedang melaksanakan shalat mengenakan satu baju yang diselimuti. Ia telah membedakan kedua ujungnya dan selendangnya dekat sekali dengannya. Apabila ia selesai, aku pasti akan menyampaikan kepadanya. Ia berkata, “Setelah ia mengucapkan salam, maka kami menanyakan mengenai shalatnya dengan satu pakaian.” Jabir berkata, “Aku melakukan hal ini agar orang yang dungu seperti kalian dapat melihatku.” Kemudian tersebar berita dari Jabir bahwa terdapat keringanan hukum yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnya aku pernah beberapa kali pergi bersama Rasulullah. Aku pernah mendatangi Rasulullah di malam hari untuk beberapa urusan. Aku menjumpai beliau sedang melaksanakan shalat dan aku hanya mengenakan satu pakaian yang menutupi kemudian aku melaksanakan shalat di sisi beliau, ketika selesai, beliau bertanya, 'Apa ada hal yang rahasia wahai jabir?’ Kemudian aku memberitahukan keperluanku, ketika selesai, Rasulullah bertanya, “Wahai jabir engkau menyelimuti tubuhmu seperti yang aku lihat ini?’ Aku menjawab, 'Ini adalah satu pakaian yang sempit. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Apabila engkau shalat dan engkau hanya memiliki satu pakaian, dan apabila ia longgar, maka selimutkanlah dan apabila sempit, maka berilah kancing'. ” 921 Shahih Ibnu Khuzaimah 767: Abdullah bin Jabar bin Al Ala' mengabarkan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Abu Ishaq Asy-Syaibani menceritakan kepada kami, ia mendengar hadits dari Abdullah bin Syaddad dari Maimunah, ia berkata, “Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat menggunakan satu pakaian dari wol sebagiannya ada padaku dan sebagian yang lain pada beliau, sementara aku dalam keadaan haid.” 922 Al Marath adalah pakaian wol. Shahih Ibnu Khuzaimah 768: Muhammad bin Abu Sufyan Ats-Tsaqafi mengabarkan kepada kami, Sa’id bin Amir menceritakan kepada kami, Sa'id mengabarkan kepada kami, Al Hasan bin Muhammad menceritakan kepada kami, Abdul Wahab bin Atha' menceritakan kepada kami dari Said dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian mengenakan satu pakaian, maka ikatlah di atas pinggangnya dan janganlah mengenakannya seperti orang Yahudi.” Ini adalah hadits Ibnu Abu Sufwan. Shahih Ibnu Khuzaimah 769: Abdul Jabar bin Al Ala' Al Aththar mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Umar bin Salamah, ia berkata, ''Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat di kediaman Ummi Salamah dengan mengenakan satu pakaian.” Shahih Ibnu Khuzaimah 770: Muhammad bin Al Ala' bin Kuraih mengabarkan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami dari Hisyam dari ayahnya, sesungguhnya Umar bin Abu Salamah mengabarkan hadits kepadanya, ia berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat menggunakan satu kain yang menselimuti dirinya di kediaman Ummu Salamah; dengan meletakkan kedua ujungnya pada kedua bahunya."925 Shahih Ibnu Khuzaimah 771: Muhammad bin Isa mengabarkan kepada kami, Abdullah —ia adalah Ibnu Al Mubarak— mengabarkan kepada kami dari Al Hasan bin Dzakwan dari Sulaiman Al Ahwal dari Atha' dari Abu Hurairah; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang menurunkan pakaiannya saat shalat dan melarang seorang laki-laki menutupi mulutnya.924 Shahih Ibnu Khuzaimah 772: Umar bin Hafsh Asy-Syaibani mengabarkan kepada kami, Abu Ashim menceritakan kepada kami, dari Abdul Hamid bin Ja'far, dari Yazid bin Abu Hubaib, dari Martsad bin Abdullah, dari Uqbah bin Amir, dari Umar, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat menggunakam pakaian dari sutera kemudian tidak lama beliau pun melepasnya”925 Demikianlah Asy-Syaibani menceritakan hadits kepada kami. Ia berkata, “Dari Umar dan ia masih meragukan.” Shahih Ibnu Khuzaimah 773: Abu Bakar berkata, Dengannya Bundar menceritakan kepada kami beserta Abu Musa, keduanya berkata, dari Uqbah bin Amir, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam...” Keduanya tidak menyebutkan Umar.” Ini adalah redaksi hadits yang shahih dan di dalam hadits ini terdapat perawi yang diragukan. Hadits yang shahih berasal dari Uqbah bin Amir yang tertulis, “Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.” Shahih Ibnu Khuzaimah 774: Hisyam bin Abdul Malik Abui Walid dan Al Hajjaj bin Al Minhal menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Hamad bin Salmah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Muhammad bin Sirrin, Dari Safiyah binti Al Harits dari Aisyah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Allah SWT tidak menerima shalat seorang wanita yang telah haid kecuali dengan mengenakan khimar."926 Bundar menceritakan kepada kami Yahya menceritakan kepada kami, Hamid bin Abdullah menceritakan kepada kami, Ibuku menceritakan kepadaku dari Aisyah, sesungguhnya Aisyah berkata, “Seorang wanita tidak diperkenankan shalat....”927 Abu Bakar berkata, “Hamid bin Abdullah adalah Pembohong.” Shahih Ibnu Khuzaimah 775: Yunus bin Abdul A'la mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, Amr dan Ibnu Luhi'ah serta Al-Laits bin Sa'd mengabarkan kepadaku, Ha’, Muhammad bin Abdullah bin Al Hakam menceritakan kepada kami, ayahku dan Syuaib mengabarkan kepada kami, keduanya berkata Al- Laits bin Sa'd mengabarkan kepada kami, Ha', Yahya bin Hakim menceritakan kepada kami, Abui Walid menceritakan kepada kami, Al-Laits bin Sa'd menceritakan kepada kami, Al Fadl bin Ya'kub Al Jazari menceritakan kepada kami, Abdul A'la menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, semuanya dari Yazid bin Abu Hubaib dari Suaid bin Qais dari Muawiyah bin Hudaiz, ia berkata, Aku mendengar Muawiyah bin Abu Sufyan berkata, “Aku bertanya kepada Ummu Habibah, 'Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat dengan mengenakan pakaian yang telah digunakan untuk berhubungan intim?” Ia menjawab, 'Ya! Apabila tidak terlihat kotoran di dalamnya'. ” Ibnu Al Hakam Al Fadl dan Yahya bin Hakim berkata, dari Muawiyah bin Abu Sufyan, dalam hadits Ibnu Ishaq, pada pembahasan tentang pakaian yang telah digunakan berhubungan intim (92-ba) Shahih Ibnu Khuzaimah 776: Nashr bin Ali mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad bin Ad-Darawardi mengabarkan kepada kami, dari Musa bin Ibrahim, ia berkata, aku mendengar Salamah bin Al Akwa' berkata: Aku katakan, “Wahai Rasulullah Aku sedang berburu kemudian tiba waktu shalat dan aku hanya memiliki baju kurung", Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah walaupun dengan duri.”928 Shahih Ibnu Khuzaimah 777: Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad Al Madani menceritakan kepada kami, Musa bin Ibrahim menceritakan kepadaku, dari Salamah bin Al Akwa', ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam , “Aku katakan, 'Aku sedang berburu dan aku tidak memiliki pakaian kecuali satu pakaian kurung atau satu jubah, apakah aku harus memberikan kancing.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ya! Walaupun dengan duri’.” 929 Murrah berkata: ia berkata, “Kancingilah, walaupun dengan duri.” Abu Bakar berkata, “Musa bin Ibrahim adalah Ibnu Abdurrahman bin Abdullah bin Abu Rabiah. Demikianlah nasabnya pada Athaf bin Khalid. Aku mengira ia adalah Ibnu Ibrahim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Ma'mar bin Abu Rabiah. Ayahnya adalah Ibrahim. Disebutkan oleh Syurahbil bin Sa'd bahwa ia dan Ibrahim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Ma'mar bin Abu Rabi'ah menemui Jabir bin Abdullah mengenai hadits yang panjang yang ia sebutkan. Shahih Ibnu Khuzaimah 778: Muhammad bin Yahya, mengabarkan kepada kami Sufyan bin Shalih Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, Al Walid bin Muslim mengabarkan kepada kami, Zuhair bin Muhammad menceritakan kepada kami, Zaid bin Aslam mengabarkan kepada kami, ia berkata, “Aku melihat Ibnu Umar melaksanakan shalat dengan pakaian terkancing. Aku bertanya kepadanya mengenai hal itu, ia berkata 'Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melakukannya'." Shahih Ibnu Khuzaimah 779: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Sulaiman bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, Al Walid menceritakan kepada kami dengan hadits yang semisalnya, hanya saja ia tidak mengatakan, “Aku bertanya kepadanya", tetapi ia mengatakan, “Aku melihat Rasulullah melaksanakan shalat dengan pakaian terkancing.” Shahih Ibnu Khuzaimah 780: Muhammad bin Khalaf Al Haddadi mengabarkan kepada kami, Muawiyah bin Hisyam mengabarkan kepada kami, Syaiban bin Abdurrahman mengabarkan kepada kami, dari Yahya bin Katsir, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Tsuaban, dari Abdullah bin Umar, Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berabda, “Allah SWT tidak melihat shalat seorang laki-laki yang menarik (menjulurkan) sarungnya secara sombong. ”930 Abu Bakar berkata, “Para Ulama berselisih pendapat mengenai sanad ini. Sebagian mereka berkata dari Abdullah bin Umar. Aku meriwayatkan masalah dalam bab ini pada pembahasan tentang pakaian.” Shahih Ibnu Khuzaimah 781: Bisyr bin Muadz Al Aqadi mengabarkan kepada kami, Abu Awanah mengabarkan kepada kami, dari Amr bin Dinar, dari Thawus, dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota badan dan aku tidak memasukkan rambut dan baju.'931 Shahih Ibnu Khuzaimah 782: Yahya bin Sa’id mengabarkan kepada kami, Ibnu Ajian memberitahukan kepada kami, dari Sa'id, dari Amr bin Salim, dari Abu Qatadah, dari Amir bin Abdullah bin Zubair, dari Amr bin Salim Abu Qatadah bin Rafi; Sesungguhnya Rasulullah pernah membawa anak perempuan Abu Al Ash di lehernya di saat beliau shalat. Apabila beliau sujud, maka beliau meletakkannya dan apabila beliau bangun, beliau membawanya. 932 Shahih Ibnu Khuzaimah 783: Abu Bakar berkata, Ad-Dauraqi menceritakan kepada kami dengan sanad ini, ia berkata, “Rasulullah membawa anak perempuan Zaenab di atas pundak beliau kemudian beliau mengimami orang-orang. Apabila beliau ruku, maka beliau meletakkannya dan apabila beliau bangun, maka beliau membawanya.” 933 Shahih Ibnu Khuzaimah 784: Bundar mengabarkan kepada kami, Muhammad menceritakan kepada kami —ia adalah Ibnu Ja'far—, Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Ishaq menceritakan hadits dari Amr bin Maimun dari Abdullah, ia berkata, “Di saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan sujud dan disekitamya terdapat kaum Quraisy tiba-tiba datang Uqbah bin Abu Muith dengan membawa kotoran unta, kemudian ia melemparkannya kepada Rasulullah dan beliau tidak mengangkat kepalanya. Kemudian Fathhnah datang dan mengambil kotoran tersebut dari punggung Rasulullah dan ia memanggil-manggil orang yang melakukan itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ya Allah Berilah malapetaka pada sekelompok orang Quraisy yaitu Abu Jahl bin Hisyam, Atabah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabiah, Uqbah bin Abu Muith, Umayah bin Khalaf atau Ubaiy bin Khalaf yaitu Syu'bah Asyak’ Ia berkata, 'Aku melihat mereka terbunuh saat perang badar dan jasadnya ditempatkan di sebuah sumur hanya saja Umayah atau Ubay tubuhnya terpotong- potong sehingga tidak dibuang ke sumur tersebut'.” 934 Shahih Ibnu Khuzaimah 785: Muhammad bin Uqail mengabarkan kepada kami, Hafsh mengabarkan kepada kami, Ibrahim menceritakan kepadaku, dari Abu Hajjaj, dari Abu Na'amah, dari Abu Nadrah, dari Abu Said Al Khudri, sesungguhnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat bersama kami di suatu hari, lalu beliau melepas kedua sandalnya dan meletakkannya di sisi kiri beliau. Kaum Quraisy ketika melihat Rasulullah telah melepas kedua sandalnya, mereka juga melepas sandal mereka. Ketika selesai shalat, Rasulullah bertanya kepada mereka, 'Mengapa kalian melepas sandal kalian?' Mereka menjawab, 'Wahai Rasulullah! kami melihat engkau melepas kedua sandal lalu kami juga melepas sandal kami.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tadi ada seseorang datang kepadaku memberitaku kepadaku bahwa terdapat kotoran pada sandalku lalu aku melepas keduanya. Apabila salah seorang dari kalian masuk di dalam masjid, maka lihatlah apabila ia melihat kotoran pada kedua sandalnya, maka usaplah dengan tanah kemudian shalatlah dengan mengenakan keduanya." 935